Anak Terbuang

Anak Terbuang
Ketahuan bohong


__ADS_3

Rena dan Ancis dalam perjalanan ke menteng ke tempat yang sudah diinfokan Budi. Dan Budi sudah menelpon bahwa saat ini ia sudah bertemu dengan Bu Nina.


"Kamu gimana? Maksud aku perasaanmu gimana mau bertemu dengan ibumu?"


"Ancis, jangan bilang ibuku. Karena aku tidak yakin bahwa dia ibuku atau bukan?


"Ok, ok. Tapi kamu harus kepala dingin menghadapi ibu itu. Karena aku lihat muka kamu senewen."


"Ya memang, karena apa? Dia mengaku sebagai ibu kandungku. Selama ini kalau dia tahu aku masih hidup, harusnya dia cari. Dan kenapa baru sekarang?"


"Ya, iya sih. Tapi kita ketemu dulu dan cari tahu apa maksud dan tujuannya. Sekarang sudah jam 15.45, sebentar lagi kita sampai."


Tidak berapa lama mereka sampai. Ancis melihat ke sekeliling. Sudah ada orang yang dia telpon tadi.


Budi melambaikan tangan. Rena dan Ancis menuju ke meja Budi.


"Renaaaaa, anakku."


Bu Nina bangkit berdiri dan mau memeluk Rena. Tetapi Rena meraih tangan bu Nina dan menyalaminya.


"Kamu kenapa tidak mau aku peluk? Aku ibumu."


'Bukan maksud saya tidak mau dipeluk oleh Bu Nina. Saya masih bimbang dan lebih tepatnya tidak percaya kalau bu Nina adalah ibu kandung saya."


"Ibu paham kamu tidak percaya sama ibu. Tapi aku benar-benar ibumu. Dan ibu tahu ada tanda lahir di badanmu."


"Maaf mengenai tanda lahir yang ibu beritahukan kepada Budi, teman saya itu tidak ada sama sekali. Saya tidak punya tanda lahir."


"Ini kalung, gelang yang kamu pakai waktu kamu kecil."


"Maaf Bu, kalung dan gelang ini terlihat baru dan ini ada di pasaran. Saya belum mengecek keasliannya karena memang dari kecil seingat saya, tidak pernah memakai kalung ataupun gelang."


"Sebenarnya apa yang ibu minta dari saya? Selama saya bisa berikan, saya akan berikan tetapi jika saya tidak bisa berikan, mohon maaf sekali saya tidak bisa."


"Kenapa kamu seperti itu sama ibu Rena?"


"Gini saja Bu. Untuk lebih menyakinkan saya. Kita sama-sama ke klinik yang tidak jauh dari sini untuk memastikan bahwa golongan darah ibu dan saya sama. Kita berangkat sekarang."

__ADS_1


"Tidak perlu. Buat apa saya harus cek darah. Saya sehat."


"Begitu pula saya, kondisi saya juga sehat. Saya hanya ingin memastikan. Karena jika golongan darah ibu dan saya sama, maka ibu adalah ibu saya. Tetapi jika golongan darah ibu dan saya berbeda, berarti ibu bukan ibu saya."


"Kamu benar-benar kurang ajar sama saya. Saya ini ibumu!"


"Silakan ibu berteriak sepuas hati ibu, agar orang yang ada di sini mendengar. Ibu berhak mendapatkan simpati dan empati dari mereka Tetapi tidak dari saya. Bahkan kedua teman saya juga bersimpati kepada ibu."


Tiba-tiba handphone Ancis berdering.


"Halo, iya sebentar. Rena ikut sebentar dari Mama Annelise."


Rena dan Ancis keluar dari ruangan dan masuk ke mobil. Budi sedang menenangkan Bu Nina yang menangis. Ancis memperbesar speakernya.


"Jadi gimana?"


"Laporan, kalau orang yang saat ini bos temui dengan Bu Rena, itu bukan ibu kandung Bu Rena tetapi orang suruhan dari kakaknya Bu Rena. Mereka berharap apabila Bu Rena mempercayai omongannya dan dalam waktu beberapa hari ia akan meminta uang kepada Bu Rena dengan alasan untuk balik menyusul suaminya di Singapore. Bu Nina itu adalah tante mereka."


"Jadi maksudnya, ini semua permainan mereka?"


"Iya Bu Rena. Bu Nina akan minta uang tiap bulan dengan dalih untuk biaya hidup selama di Singapore."


"Sama-sama bu Rena."


Ancis mematikan handphonenya.


"Gimana, tetap dilanjutkan atau sudahi saja."


"Aku lanjutkan."


Rena dan Ancis keluar dari mobil dan mereka kembali masuk ke dalam


"Bu Nina, maaf saya tidak punya banyak waktu. Jika ibu mau, mari ikut saya ke klinik seberang jalan itu. Biar sama-sama enak. Jadi tidak ada yang dirugikan."


"Saya tidak mau. Lagipula buat apa cek golongan darah. Tidak selamanya seorang ibu golongan darahnya sama dengan anaknya."


"Ya memang tetapi akan ketahuan mengenai rhesusnya, tidak melulu harus sama dengan ibu bisa juga sama dengan ayahnya. Akan terlihat siapa yang lebih dominan. Dan mungkin dengan golongan darah, ibu tidak mau. Kita cek dna."

__ADS_1


"Sudah saya tidak mau berdebat lagi dengan kamu. Kamu boleh menganggap saya ibu kandungmu ataupun tidak. Itu hak kamu. Karma itu ada. Kamu akan dapat akibatnya."


"Saya percaya dengan karma Bu. Tetapi saya percaya dengan takdir Tuhan. Jika ibu butuh uang. Berapa yang ibu minta? Saya akan tulis di cek dan saya berikan kepada ibu. Dan saya juga pastikan kakak saya akan ditahan karena melakukan pemerasan kepada saya dan ibu juga akan saya laporkan ke polisi atas tindakan pencemaran dan juga pemerasan. Ibu tidak perlu bersusah payah menghindar. Saya tahu maksud dan tujuan ibu dan keluarga saya. Ibu adalah adik dari ibu angkat saya. Ibu butuh berapa?"


"Kamu memang anak durhaka, Kakak saya sudah mengasuh kamu dari kecil tapi apa balasan kamu? Mereka memberi kamu tumpangan dan makanan juga menyekolahkan kamu. Mana balas budi kamu kepada kakak saya?"


"Maaf Bu, saya akan ralat. Saya memang diberikan tumpangan dan dibesarkan kakak ibu sampai kelas 6 SD, setelah itu saya diusir. Dan saya hampir tidak pernah diberikan makan oleh ayah dan ibu saya. Jadi jika ibu mau menuntut saya untuk membalas budi. Membalas apa? Membalas dengan memberikan uang berapapun yang kalian minta. Kalau memang begitu, tolong sampaikan kepada ibu atau pun kakaknya ibu Nina, kita akan bertemu di pengadilan."


Rena mengeluarkan cek dari dalam tasnya dan menuliskan uang 10juta.


"Silakan ibu ambil uang ini dan sampai bertemu di pengadilan."


"Jangan kamu pikir saya takut dengan gertakan kamu. Baik kita bertemu di pengadilan."


"Baik Bu Nina. Saya minta KTP ibu untuk Saya photo. Atau Saya antar ibu ke rumah ibu agar orang pengadilan bisa menjemput ibu."


Rena menelpon temannya yang merupakan orang pengadilan.


"Mas Wawan, halo, ini Rena, Mas, malam ini saya mau bertemu bisa? Untuk masalah perdata dan pidana. Dan mohon nanti semuanya segera diurus secepatnya. Jika bisa, besok surat panggilannya dikirimkan.


"Hallo Rena, masalah apa? Sampai harus pidana dan perdata? Kita ketemu malam ini dan besok saya akan kirim surat panggilannya."


"Baik Mas Wawan. Saya akan ceritakan semuanya. Terima kasih."


Rena menutup telponnya.


"Nah Bu Nina, saya bukan gertak sambal. Mana KTP ibu? Kalau ibu tidak mau memberikan KTP ibu, saya tahu bahwa ibu takut. Tapi saya akan tetap memproses ini."


"Tidak perlu, saya tidak butuh uang di dalam cek ini. Kamu benar-benar tidak tahu di untung! Permisi."


Bu Nina menaruh cek yang berjumlah 10 juta dj meja.


"Silahkan Bu Nina, pintu terbuka lebar."


Bu Nina pergi dan keluar ruangan.


"Budi, lain kali kalau mau buat drama cek dulu siapa sutradaranya jangan main asal buat. Belum launching saja dramanya sudah end. Dan sorry Budi, aku tahu maksud kamu. Kamu berharap aku akan balik dengan kamu. Sorry, aku dan Ancis, kami sudah berpacaran sejak kami ke pulang dari pantai. Terima kasih."

__ADS_1


Rena segera bangkit berdiri di ikuti oleh Ancis dan mereka pergi.


Budi merasa kata-kata Rena sangat pedas. Dan ia kesal karena percaya dengan omongan ibu angkatnya Rena.


__ADS_2