Anak Terbuang

Anak Terbuang
Bimbang


__ADS_3

Ancis sampai di rumah Rena.


"Rena, kamu kenapa tumben banget tidak masuk kantor. Ada masalah di kantor?"


"Ngga ada masalah di kantor. Kalaupun di kantor ada masalah masih bisa diatasi. Masalahnya ada seorang ibu yang mengaku sebagai ibu kandungku dan tadi pagi dia datang ke sini memaksa masuk tetapi tidak dibuka pacarnya oleh satpam. Sementara semalam kita janjian ketemu di menteng jam 3 sore ini."


"Kamu tahu dia ibu kandungmu dari mana?"


"Kemarin aku ada meeting di bandung. Budi telpon aku ngajak ketemu, katanya mau membicarakan hal penting karena dia menyinggung mengenai ibuku dan nanya apakah aku punya tanda lahir di dua tempat . Aku ketemu dan Budi memberika no telpon ibu itu ke aku. Terus aku coba telpon dan aku merasa ada yang aneh. Tiba-tiba tadi pagi dia datang ke sini Menurutku itu sangat aneh."


"Ren, sorry bukannya aku mau ikut campur masalahmu dengan Budi. Hanya saja kamu terlalu percaya semua omongan Budi. Terlepas dia sahabatku, teman sekantor atau apapun itu. Aku tidak percaya sama dia. Apalagi saat kejadian di Amerika kenapa dia tidak membela kamu di depan mamanya saat kamu dipermalukan. Kalau memang dia sayang dan cinta sama kamu. Sekali lagi aku tidak mau ikut campur urusanmu. Hanya saja aku melihat ada yang berusaha bermain dan kamu merasa akhirnya berhutang budi. Hati-hati sajalah.".


"Aku pun akhirnya tersadar pagi ini walaupun semalam sempat bertanya-tanya. Aku tidak dapat chemistry dengan ibu itu saat aku menelponnya."


"Ya makanya kamu hati-hati."


"Iya Ancis. Kira-kira kamu bisa temani aku untuk bertemu ibu itu nanti?


"Bisa, aku hari ini bisa temani kamu."


"Kamu sekarang mau ngapain?"


"Numpang tidur terus mandi terus temenin kamu terus makan malam sama kamu terus..."


"Terus apa?"


"Terus balik pulang besok kerja hehehehhe. Memang kamu maunya apa? Mau nikah ngga sama aku?"


"Kamu yakin mau nikah sama aku hahahah. Bercanda aja kamu. Sudah, aku mau lanjutin kerja dari rumah, terserah kamu bisa tidur di sofa, di kamar tamu ataupun di rumah kamu."


"Jadi ngusir nih ceritanya?"


"Kan aku bilang terserah. Gimana sih."


Ancis masuk ke kamar khusus tamu. Rena masuk ke kamar dan melanjutkan kerjanya.


Kalau dipikir-pikir benar juga apa yang Ancis katakan, tapi Budi tidak seperti itu. Tapi entahlah kalau saat ini.


Rena menepis pikiran negatif mengenai Budi dan kembali melanjutkan kerjanya.


Ancis tidak dapat tidur. Ia memikirkan omongan Rena mengenai seorang Ibu yang mengaku sebagai ibu kandungnya. Sedangkan Ancis sudah menyuruh orang untuk mencari keberadaan orang tuanya Rena. Tetapi hasilnya nihil. Yang Ancis tahu hanya ada 1 keluarga yang tahu pasti mengenai siapa Rena sebenarnya tapi Ancis tidak mau gegabah. Ancis tahu, keluarga itu memanfaatkan Rena untuk mendapatkan uang.

__ADS_1


"Hallo nanti ikutan ketemuan di menteng dan cari tahu perempuan yang akan bertemu dengan Rena. Apakah benar ibu kandungnya Rena atau bukan. Saya akan ada disana juga menemani Rena."


Ancis menutup telponnya. Kita lihat, siapa kamu sebenarnya. Aku tidak mau lagi ada yang ganggu dan memanfaatkan Rena.


Mbok mengetuk kamar Rena


"Non Rena, sudah waktunya makan siang."


"Iya Mbok, masuk saja."


"Non, makan siangnya sudah siap. Tuan Ancis bagaimana?"


"Tolong bangunin Ancis ya mbok. Eh iya, mbok masak apa hari ini?"


"Mbok masak sayur asem, ikan cue di goreng sama sambal dan tahu tempe goreng."


"Enak itu mbok, ya sudah bangunin Ancis. Saya sebentar lagi keluar. Terima kasih ya mbok."


"Iya non Rena, sama-sama."


Rena keluar dari kamar dan tidak berapa lama Ancis pun keluar kamar.


"Jadi, kenapa? Kamu tidak bisa menemani?"


"Ngga, aku bisa. Aku make sure lagi. Karena kerjaan kamu banyak."


"Aku bisa, aku mau bertemu dengan ibu itu. Walaupun hati kecilku bilang bahwa ibu itu bukan ibu kandungku."


"Ok, ok. Ya sudah makan yuk. Aku lapar dari baunya masakan ini enak."


Ancis makan dengan lahap. Dan Rena senang Ancis suka dengan masakan Mbok.


"Rena, ini enak banget. Aku baru kali ini makan sayur ini. Namanya apa?"


"Itu sayur basi." Rena senyum-senyum.


"Hah, jadi sayur ini sudah basi. Aduh perutku bisa sakit dong. Aku makan banyak banget."


Muka Ancis terlihat panik.


"Mbok, mbok, mbok! Sini mbok!"

__ADS_1


Mbok yang sedang makan sampai tersedak karena kaget dengan teriakan Ancis. Mbok berlari ke ruang makan.


"Mbok, ini kenapa sayur basi dikasih ke Rena dan saya? Kalau kita sakit perut bagaimana?"


"Sudah-sudah Mbok. Maaf, saya lagi iseng sama Ancis. Mohon maaf. Mbok lanjutkan makan siangnya saja."


"Ngga bisa Rena, Mbok harus tanggung jawab kalau kita sakit!"


"Hei, tenang. Sayur itu namanya sayur asem. Aku iseng ngerjain kamu, tapi reaksimu berlebihan. Sayur itu dimasak dengan asam yang termasuk bumbu."


"Aaaaahhh, kamu Rena. Aku sampai panik. Sudah tahu aku lagi menikmati makanan ini. Kasihan si Mbok, karena kamu si mbok sampai ketakutan gitu mukanya. Janganlah seperti itu. Aku baru kali ini makan sayur asem."


"Iya Ancis, aku minta maaf. Benar-benar minta maaf."


Ancis kembali menikmati makannya. Rena hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan Ancis.


"Rena, nanti berangkat jam berapa?"


"Oh iya sampai lupa. Aku coba telpon ibu itu ya. Sebentar."


Rena menelpon bu Nina.


"Hallo bu Nina. Ini Rena."


"Iya saya tahu kamu Rena. Tapi saya tidak jadi bertemu dengan kamu. Kamu sudah tega menyakiti saya tadi pagi. Saya ibu kamu. Ibu kandung kamu, yang telah melahirkan kamu. Tapi kamu tidak ijinkan saya masuk ke dalam rumahmu."


"Maaf Bu, Rena sudah pergi dari pagi. Hanya karena hal seperti ini terus ibu tidak mau bertemu dengan Rena? Jadi sebenarnya ibu bukan ibu kandung Rena. Karena kalau memang ibu adalah ibu kandung Rena. Harusnya ibu ngerti. Rumah yang tadi pagi ibu datangi itu bukan rumah Rena. Tetapi rumah orang tua angkat Rena. Ya sudah kalau tidak jadi Tidak papa."


"Kamu itu sombong. Kamu sudah jadi orang sukses sampai tidak mau mengakui saya sebagai ibu kandungmu. Ini balasan kamu sama ibu?"


"Sombong? Ibu sudah tahu no handphone Rena. Dan seharusnya jika ibu mau ke sini pagi, kasih tahu saya. Jadi saya bisa kasih tahu satpam dan orang rumah. Saya akan mengakui ibu sebagai ibu kandung saya apabila saya yakin. Tapi maaf sampai saat ini saya belum yakin dan percaya bahwa ibu adalah ibu kandung saya."


"Kamu memang anak durhaka! Seandainya saja waktu itu kamu tidak saya lahirkan, saya tidak perlu punya hutang."


"Maaf bu, Rena tidak pernah minta untuk dilahirkan jika ternyata sejak Rena kecil Rena tidak merasakan kasih sayang dari seorang ayah ataupun ibu. Terserah ibu mau bilang saya anak durhaka. Saya menghargai semua yang ibu bicarakan sama saya."


Handphone langsung dimatikan oleh Bu Nina. Rena mengangkat kedua bahunya.


"Jadi gimana Ren, tetap bertemu atau malah batal."


"Kita tetap jalan ke sana, karena yang menemui Bu Nina nanti Budi. Budi akan duluan datang, baru aku.

__ADS_1


__ADS_2