
Pagi-pagi Rena sudah mendapatkan 5 pesan dan 10 panggilan masuk dari Bu Nina.
Rena semalaman berpikir siapa Bu Nina dan apa maksudnya bilang sebagai ibu kandungku. Dan tanda lahir. Tanda lahir itu tidak ada di tubuhku. Hanya orang yang benar-benar tahu mengenai diriku.
Rena bersiap-siap berangkat ke kantor.
"Non Rena, pagi."
"Non Rena ada tamu. Namanya Nina."
"Hah, Nina? Satpam belum membuka gerbang. Katanya ia mau ketemu dengan non Rena."
"Mbok, pagi ini saya ada meeting. Saya tidak bisa temui dia. Mbok bisa bantu saya. Pak Satpam sudah bilang bahwa saya ada di rumah?"
"Ngga non, satpam bilang baru saja ganti shift. Jadi tidak tahu apakah non masih di rumah atau tidak? Satpam bilang mau tanya dulu sama Mbok."
"Nah, saya minta tolong yah bilang sama dia kalau saya sudah pergi dari pagi."
"Iya non."
Mbok segera pergi ke dapur dan keluar melalui pintu samping.
"Mbok, ini ibu Nina, dia bilang ibu kandungnya non Rena."
"Iya."
Mbok berjalan ke pintu gerbang.
"Pagi bi, saya dengan Nina. Saya orang tua kandung dari Rena. Saya mau bertemu dengan Rena."
Maaf Bu Nina. Non Rena sudah berangkat dari pagi. Tadi dijemput oleh teman kantornya."
"Gini ya bi. Saya ini ibu kandungnya Rena. Majikan kamu. Saya baru saja datang dari luar kota langsung ke sini. Saya minta tolong buka gerbang ini, karena saya mau istirahat di dalam."
"Mohon maaf Bu Nina, tidak bisa. Saya tidak berani dan punya kuasa untuk mempersilahkan ibu masuk. Saya harus menelpon non Rena terlebih dahulu."
"Saya akan tunggu di depan rumah ini sampai Rena datang. Kamu cuma pembantu saja berlagak sok seperti yang punya rumah. Saya ini ibunya Rena dan saya akan pastikan kamu dipecat sama Rena."
"Tidak papa, ibu bebas bicara sama non Rena dan saya yakin ibu berbohong. Karena sifat ibu dan non Rena bertolak belakang."
"Ya itu hasil didikan saya saat Rena masih kecil dan kemudian kami berpisah. Setelah 20 tahun akhirnya saya bisa bertemu dengan anak saya"
"20 tahun? Memangnya kalau boleh tahu, ibu ninggalin non Rena umur berapa?"
"Umur 4 tahun. Rena saya titipkan ke ayahnya."
"Oh umur 4 tahun ditambah 20 tahun sama dengan 24 tahun ya bu."
"Iya Rena sekarang umur 24 tahun. Cepat buka gerbangnya, saya mau masuk. Saya mau istirahat."
"Maaf Bu, sepertinya ibu salah orang. Karena umur non Rena sudah 30 tahun. Jadi kalau ibu mau berbohong harusnya hitungannya dibenarkan. Jangan bilang ibu lupa. Permisi Bu, saya harus masuk ke dalam. Saya masih banyak pekerjaan."
"Hei kamu, satpam buka pintunya."
"Maaf Bu, saya tidak bisa buka karena tidak ada perintah dari non Rena."
__ADS_1
"Huh, awas saja kalian. Aku ini ibunya Rena. Ibu kandungnya Rena."
Mbok masuk ke rumah dan menemui Rena.
"Non Rena, kalau mbok lihat. Ibu itu berbohong."
"Iya Mbok, saya tadi dengar kok. Dan buat saya aneh saja. Masalah kok ngga ada habisnya."
"Ya non, kalau masalah hidup sudah habis, berarti sudah meninggal. Selama hidup mah masalah ada aja, non. Gimana kita aja menghadapi masalah itu."
"Iya mbok, masalah hidup adalah masalah yang harus kita hadapi dan tetap percaya sama Allah, ikhlas dan pasrah. Allah tidak akan kasih cobaan sama kita kalau kita tidak mampu menghadapinya."
"Iya non. Mbok lanjutan ya non. Mau nyuci baju dan bebenah."
"Iya Mbok. Terima kasih ya Mbok."
"Sama-sama non Rena."
Rena menelpon sekretarisnya. Hari ini ia tidak masuk kerja dan minta di reschedule semua jadwal meetingnya.
Budi menelpon Rena.
Rena masuk ke kamar dan menerima telpon dari Budi.
"Pagi Rena, kamu dimana sekarang?"
"Pagi Budi, aku masih di rumah. Kenapa?"
"Nanti siang aku jemput ke kantor ya Kita jalan sama-sama bertemu dengan Bu Nina."
"Ok, bisa. Sampai bertemu nanti ya Rena."
"Ok Budi, Terima kasih."
Rena baru menutup telpon dari Budi. Handphonenya berbunyi lagi dan ternyata dari Ancis.
"Renaaaa, apa kabar. Long time no see."
"Hai Ancis, aku baik. Kamu sendiri gimana?"
"Baik, aku baru sampai Indonesia lagi."
"Maksud kamu? Memang kamu darimana?"
"Dari Amerika, Mama sakit. Tapi sudah membaik dan menyuruh aku segera balik ke Jakarta."
"Kok Mama Annelise sakit, kamu ngga kasih tahu aku?"
"Mama yang minta ngga usah kasih tahu kamu. Biar kamu ngga kepikiran. Mama tahu kerjaan kamu banyak."
"Bisa aku ketemu kamu hari ini?"
"Ya bisa, datang saja ke rumah. Aku hari ini tidak ke kantor."
"Tumben seorang Rena tidak ke kantor. Biasanya kamu tidak ke kantor karena ada meeting di luar sampai sore. Kalau tidak kamu sakit. Tapi kamu tidak sakit kan Rena?"
__ADS_1
"Ngga. Aku kan sudah bilang, aku baik-baik saja."
"Heheheh, ya sudah. Aku sekarang ke rumahmu ya. Aku dari bandara langsung dan tidak bawa mobil. Aku naik taksi."
"Ok Ancis. Take care yah."
"Bu, ibu ada apa sama tante Nina?"
"Ngga ada apa-apa?"
"Oh, ya sudah. Mia berangkat kerja ya Bu."
"Iya hati-hati."
"Bu, ada uang?"
"Ngga ada. Memang uang gajimu sudah habis Mia?"
"Sudah. Cuma bisa buat ongkos naik bis. Buat makan siang ngga ada."
"Haduh jangan boros-boros. Ibu ngga ada yang lagi."
"Makanya Bu, harusnya ibu bisa ngomong sama Rena yang kaya itu. Untuk kasih sedekah sama kita. Setidaknya kalau kakak ngga masuk penjara pasti dia bisa maksa Rena untuk kasih uang. Ya sudah minta 50 ribu untuk makan siang nanti."
"Kamu itu sama saja seperti kakakmu. Belum lagi adik-adikmu yang lain. Cari kerja tuh yang benar biar kayak Rena."
"Udah deh, aku minta 50 ribu buat beli makan siang. Masih sukur aku kerja walaupun di toko. Ya sudah ibu ngomong saja sama Rena minta uang, selesaikan? Lagi pula belum tentu Rena mau kasih uang ke ibu."
"Sudah sana berangkat, keburu telat. Ibu cuma ada 20ribu. Nih."
"Yah kok 20ribu Bu? Makan apa coba 20ribu."
"Terserah kamu mau makan apa. Atau bawa bekal saja dari rumah."
"Ngga mau cuma ada sayur toge sama tempe goreng."
"Terserah"
Mia berangkat kerja dengan menggerutu.
"Pagi Mia, mau kemana?"
"Berangkat kerja bude Parti. Yuk bude."
"Ya hati-hati."
Bude Parti melihat Mia yang sudah jalan.
"Siapa Bu?"
"Mia, pak. Baru berangkat kerja dia. Biasanya kan diantar kakaknya."
"Gimana mau diantar, kakaknya masuk penjara kok."
"Iya kasihan."
__ADS_1