
Rena semakin sibuk bekerja karena event festival membuat dirinya selalu pulang malam dari kantor. Lelah dan badannya yang capek tidak ia rasakan. Dan sudah hampir 2 minggu ini Bagas tidak menelpon ataupun menjemput dirinya. Rena baru merasakan kehilangan Bagas. Rena juga tidak mau ganggu Bagas yang baru mulai masuk kuliah. Besok sabtu dan Rena mau tidur untuk mengembalikan kondisi badannya yang lelah. Para Bos dan beberapa senior sudah berangkat dari hari Kamis kemarin. Dan hari ini walaupun tidak terlalu sibuk seperti minggu lalu. Rena harus menyiapkan dokumen yang sedianya harus diemail ke Bu Tita dan akan dipakai untuk meeting dengan klain yang baru hari Jumat minggu depan. Rena banyak belajar di kantor ini karena teman-temannya mendukung dan mau mengajari Rena hal-hal baru dan Rena tidak malu untuk bertanya sekiranya ia tidak mengerti. Impian Rena untuk membuat orang tuanya bangga masih menjadi targetnya. Rena tetap sayang kepada keluarganya. Setelah selesai mengirimkan email ke Bu Tita, Rena melihat jam ternyata sudah jam 12.20.
Tiba-tiba handphone Rena berdering ternyata dari Kakaknya.
"Ayah minta di transfer uang lagi. Hari ini, aku tunggu. Ayah minta 5 juta".
"Maaf Kak, Rena belum gajian dan Rena tidak punya uang sebanyak itu. Uang Rena tinggal 700ribu dan itu untuk pegangan Rena sampai gajian nanti".
"Ngga mau tahu, pokoknya harus transfer 5 juta, kan kamu bisa minta sama om-ommu. Kamu tinggal kasih tubuhmu ke mereka".
"Ya Tuhan, aku ngga seperti itu Kak. Aku bekerja dengan benar tidak menghalalkan seperti yang Kakak pikirkan. Dan gajian nanti pun aku ngga bisa kasih 5 juta, karena gajiku kecil Kak". Rena berusaha menjelaskan kepada Kakaknya
Dan ternyata kakaknya sudah menutup telponnya. Selang beberapa menit handphone berbunyi kembali. Rena berpikir bahwa yang menelpon adalah kakaknya.
"Kak, aku usahain akan transfer sisa uang yang aku punya. Aku hanya bisa transfer 500ribu nanti sore saat aku pulang kerja".
"Rena, ini aku Bagas".
"Maaf Gas, aku pikir kakakku".
"Ada masalah dengan kakakmu, dia minta ditransfer uang lagi?"
"Ngga kok Bagas. Eh kamu apa kabar? Gimana kuliahmu?" Rena berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Rena, maaf aku baru bisa telpon kamu karena aku baru masuk kuliah seminggu ini. Nanti sore aku jemput yah, kebetulan aku hari ini selesai jam 5 sore. Ngga boleh nolak".
"Iya Gas, makasih yah mau jemput aku nanti".
"Gas, sudah dulu yah, aku mau ke toilet".
"Ok, sampai nanti sore yah Rena".
" Ok".
__ADS_1
Rena menarik nafas, karena ternyata yang menelpon Bagas dan bukan kakaknya. Rena bingung harus bagaimana? Uang dari Om Bram masih ada, tapi Rena tidak mau memakai uang tersebut. Sampai ia benar-benar membutuhkan baru ia akan pakai uang tersebut. Sedangkan gajian masih 2 minggu lagi.
Rena melanjutkan pekerjaannya kembali. Bu Tita sedang di luar kota tidak membuat Rena melupakan tanggung jawabnya. Ia tetap bekerja seperti biasa.
Telpon internal di meja Rena berbunyi
"Rena, kamu ke ruangan saya sekarang ya", ucap Bu Tiwi
"Baik Bu".
Rena segera berjalan ke ruangan Bu Tiwi yang ada di lantai 4 dan mengetuk ruangan Bu Tiwi.
"Masuk"
Rena masuk ke ruangan Bu Tiwi dan ia melihat ada 1 orang sedang duduk di ruangan Bu Tiwi.
"Rena, silahkan duduk". Setelah Rena duduk, Bu Tiwi mengenalkan anak baru yang akan bekerja di sini. Anak itu bernama Tanti. Dan ternyata Tanti akan bekerja sebagai sekretaris Ibu Asha, berarti di ruangan yang sama dengan dirinya.
"Rena, tolong dibantu Tanti untuk pekerjaannya. Karena selama ini Ibu Tita lihat banyak kerjaan yang kamu pegang selain kerjaan dari Bu Tita, tapi kamu sudah membantu Bu Elice dan Bu Asha juga. Bu Tita minta kamu untuk membaca buku ini dimana nanti kamu bertugas untuk mengecek kata perkata dalam buku karangan Bu Tita. Bu Tita saat ini sedang membuat buku untuk dipublikasikan. Jadi kamu cek dan kamu lingkari apabila ada tulisan yang salah ketik dan dilihat setiap tanda bacanya. Sekalian ajak Tanti ke ruanganmu. Karena Tanti mulai kerja hari Senin. Untuk menunjukkan dimana mejanya".
"Bu, Rena permisi balik ke ruangan. Yuk Tanti, ikut aku". Rena mengajak Tanti ke lantai 5. Di sebelah meja Rena ada meja kosong yang ternyata untuk Tanti.
"Rena, kamu sudah berapa lama kerja disini", Tanti menatap Rena agak sinis, karena Tanti merasa bahwa dirinya lebih cantik dari Rena tetapi kenapa jadi Rena yang menjadi sekretaris Bu Tita, bukan dirinya sedangkan menurut salah satu temannya yang sudah kerja di perusahaan ini menyebutkan bahwa owner sedang membutuhkan sekretaris, tetapi kenapa malah bukan dirinya dan malah Rena. Apa karena Rena tinggi. Hari Senin aku akan pakai sepatu hak tinggi sehingga bisa menyaingi tingginya Rena dan aku harus bisa merebut posisi Rena. Belum mulai bekerja sudah ada rasa iri dan persaingan di diri Tanti terhadap Rena.
Rena sendiri melihat bahwa dirinya biasa saja, tidak ada kelebihan hanya niat dan bekerja dengan penuh tanggung jawab agar bisa membahagiakan kedua orang tuanya.
"Aku hampir 2 bulan kerja disini, Tanti? "
"Ini meja kamu dan besok Senin kita bisa bekerja bersama-sama yah", Rena tersenyum kepada Tanti
Sedangkan Tanti yang melihat Rena tersenyum melengos.
"Tinggi kamu berapa dan kok kamu bisa jadi sekretaris Bu Tita". Tanti bertanya ketus kepada Rena.
__ADS_1
"Oh, tinggi aku 174, memang kenapa Tanti, kok kamu menanyakan tinggiku? Ada masalahkah?"
"Kamu pake high heels berapa cm? Tanti masih bertanya dengan pandangan tidak suka?
"Aku ngga punya high heels, aku hanya pakai flat shoes saja biar lebih gampang bergerak.".
"Maaf Tanti, aku harus mengecek buku Bu Tita yang tadi diberikan oleh Bu Tiwi. kamu bisa lihat-lihat dulu ruangan ini.
"Ok, aku balik pulang saja. Gerah disini karena ada sekretaris yang sok pintar dan tidak mematuhi etika seorang sekretaris. Dan nanti aku pastikan posisimu akan digantikan sama aku".
Tanti segera pergi keluar ruangan dan menuju lift. Rena melihat kepergian Tanti dengan geleng-geleng kepala. Ada apa yah sama dia? Kenapa terlihat tidak suka sama aku. Padahal baru saja kenal. Rena mengangkat bahunya, terserahlah. Aku mau lihat buku ini dulu dan membacanya sambil aku cek seperti yang diminta Bu Tita.
Handphone Rena berbunyi, Bagas menelpon? Memang sudah jam berapa? Rena melirik jamnya ternyata 15 menit lagi sudah jam 6 sore.
"Hallo Bagas".
"Rena, aku sudah di depan kantormu".
"Ok, sebentar Gas, aku bereskan mejaku dulu dan turun".
Rena segera keluar dari ruangannya dan menuju ke lift. Saat sudah sampai luar, Rena melihat Bagas sedang berbicara dengan Tanti. Bagas temannya Tanti? Rena senang kalau ternyata Bagas adalah teman Tanti. Rena berjalan mendekati Bagas.
"Ren, kenalan ini teman waktu SMP namanya Tanti".
"Iya Gas, aku sudah kenal kok nanti dia satu kerjaan sama aku". Rena tersenyum melihat Tanti
"Bagas, kamu berteman dengan perempuan ini? Kamu pacaran sama dia? Apa bagusnya dia dibanding sama aku. Bagas kita pacaran lagi. Aku ngga bisa lepas dari kamu, Gas. Tanti merajuk Bagas.
"Maaf Tanti, aku ngga bisa balik sama kamu. Yuk Rena, aku antar pulang. Bagas segera mengajak Rena pulang.
Tiba-tiba Tanti sudah naik keatas motor Bagas dan minta diantar pulang.
"Bagas, anterin aku pulang saja. Aku kangen mau ngobrol sama kamu", Tanti memeluk pinggang Bagas dengan erat. Bagas berusaha melepaskan pelukan Tanti tetapi pelukan Tanti semakin erat.
__ADS_1
"Gas, sudah antar Tanti pulang, aku pulang sendiri saja, lagipula aku pulang tinggal jalan kaki. Next kamu bisa jemput aku lagi. Bye Bagas dan Tanti. Hati-hati dijalan, Rena melambaikan tangan ke mereka dan segera menyebrang jalan, pulang menuju kostnya.