Anak Terbuang

Anak Terbuang
Perhatian Budi


__ADS_3

Rena dan Budi sudah tiba di kost Rena.


"Budi, terima kasih sudah bawain aku makanan, jadi merepotkan kamu".


"Sama-sama Rena, ayo makan, aku beli 2 pecel ayam".


Mereka makan tanpa banyak bicara. Budi sesekali melihat Rena yang sedang makan tetapi pandangannya kosong.


"Rena, boleh kita ngobrol-ngobrol sebentar?


"Ya, boleh".


"Aku mau kasih tahu mengenai biaya rumah sakit sudah dibayar oleh Tante Silvani, karena saat kamu pingsan Tante Silvani video call. Dan tadi aku terima transfer dari Tante Silvani dengan keterangan untuk biaya pengobatan Rena"


"Ok, nanti aku telepon Tante untuk bilang terima kasih".


"Rena, aku sebenarnya suka sama kamu. Aku mau kamu jadi pacarku. Maaf kalau aku mengutarakan perasaanku sama kamu".


"Untuk hal perasaan kamu, aku anggap kamu sebagai teman tidak lebih. Karena aku masih punya tugas banyak dan tanggung jawab ke keluargaku dan kamu sedikit banyaknya tahu mengenai masa kecilku".


"Ok, jadi sekarang kita berteman ya Ren. Terima kasih".


"Ya, kita berteman". Rena tersenyum


Melihat Rena tersenyum, Budi semakin mencintai Rena, tetapi untuk saat ini Budi tidak mau merusak pertemanannya dengan Rena yang baru saja terjalin.


"Besok kamu ada rencana kemana, Ren? Kamu sudah masuk kerja besok?


"Belum, mungkin baru Senin aku masuk kerja. Besok aku harus ke sekolah adik-adikku mengurus uang sekolah mereka".


"Besok aku antar".


"Ngga usah Budi, besok kan kamu kerja, jadi tidak perlu antar aku, lagipula aku terbiasa sendiri".


"Aku bisa atur jam kerjaku, karena aku kan marketing jadi aku tidak harus stay terus di kantor".


"Terserah kamu. Sudah malam aku mau istirahat, besok aku hubungi kamu, terima kasih buat makanannya".

__ADS_1


"Ya sampai besok Rena. Bye".


Rena sudah siap untuk pergi ke sekolah adiknya. Rena pergi sendiri, ia tidak menghubungi Budi untuk mengantarnya.


Hari ini Rena ingin santai tanpa ada gangguan dari siapapun. Rena sedang tiduran dj kasurnya. Rena teringat dengan Bagas, ada rasa kangen dengan Bagas, ingin ngobrol lagi dengan Bagas, tetapi Rena membuang jauh rasa kangennya dengan Bagas.


Rena tidak tahu bahwa Bagas membuat malu keluarganya yang telah menghamili Tanti. Keluarga Tanti datang dan meminta pertanggung jawaban Bagas dan harus segera menikahi Tanti. Karena Tanti sudah melakukannya dengan Bagas sebelum akhirnya berhubungan dengan Budi. Rencana Tanti berhasil untuk menjauhkan Bagas dengan Rena tetapi tidak terjadi dengan Budi.


Di tempat lain, Budi menunggu kabar dari Rena yang katanya hendak menghubunginya, tetapi sampai sore, Rena tidak menghubungi Budi.


Rena bangun dari tidur siangnya. Baru kali ini ja merasakan tidur siang sampai sore menjelang maghrib. Rena segera sembahyang.


Rena ingin keluar kamar kost karena ia lupa membeli roti. Rasa malas untuk keluar kamar lebih besar daripada rasa laparnya. Dari pagi sampai sore ini Rena belum makan. Kemarin malam setelah mentransfer uang ke kakaknya dan membayar uang sekolah adik-adiknya, Uangnya hanya tersisa 100ribu sedangkan gajiannya masih 2 minggu lagi Dan Rena hanya punya uang 20ribu di dompetnya.


Rena keluar kamar karena bosan. Rena duduk di teras, baru beberapa menit Rena duduk di teras, Budi datang.


"Rena, tumben kamu sudah duduk di teras".


"Iya, aku lagi bosan di kamar terus".


"Iya, kenapa?


"Kamu semalam bilang akan menghubungi aku untuk mengantar kamu. Karena kamu tidak hubungi aku makanya aku inisiatif ke kostmu".


"Ya ampun, aku lupa maaf".


"Kamu pasti belum makan, ikut aku yuk makan di luar?" Budi berharap Rena mau.


"Makasih Budi, aku ngga makan. Aku sudah kenyang".


"Ok, kalau gitu aku pergi ya". Tadinya aku mau ajak kamu makan di luar sekalian sama teman-temanku tapi kamu ngga mau".


"Ok, have fun yah".


Rena sebenarnya ingin ikut, tapi ia tahu diri. Rena tidak mau aji mumpung. Aku sudah terbiasa tidak makan, masa sekarang aku ngga bisa nahan lapar sampai besok pagi.


Rena masuk ke dalam kamarnya. Rena berbaring sambil menatap langit-langit kamarnya dan merasakan sepi, tanpa ada keluarganya, Rena ingin sekali merasakan kasih sayang dari orang tua yang selama ini Rena lihat dari teman-temannya saat sekolah dulu. Tidak sadar, Rena menangis. Rena tidak pernah merasakan sentuhan dan belaian dari Ibu. Saat Ayah marah, Ibu hanya melihat Rena. Tidak pernah Rena mendengar panggilan sayang dari ayah dan ibunya. Rena tidak pernah merasakan punya boneka, jangankan boneka ingin makan permen saja, ia tidak pernah. Ayah dan Ibunya hanya membelikan untuk kakak. semuanya untuk kakak. Rena semakin merasakan sakit dihatinya atas perlakuan yang berbeda dari kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Hallo, Rena bisa keluar?"


"Kenapa Budi, aku kan sudh bilang aku ngga mau ikut. Dan ini sudah jam 9 malam".


"Kamu keluar sebentar saja dari kamarmu. Please".


Rena segera keluar dari kamarnya, Rena tidak sadar bahwa ia baru saja menangis, matanya terlihat sembab.


"Rena, mata kamu kenapa? Kamu habis nangis?


"Iya, maaf aku lagi ingat masa kecilku. Ada apa?


"Ini aku bawain makanan buat kamu. Aku yakin kamu belum makan dari pagi".


"Makasih, buat besok saja makanannya, aku masih kenyang".


"Makan sekarang, aku ngga mau kamu tambah sakit. Jangan sampai....


"Iya aku tahu lanjutannya, kamu akan ngomong ke Tante Silvani". Rena kesal dan langsung memotong omongan Budi.


"Aku temenin makan".


Rena membuka makanan yang diberikan Budi Rena makan dengan lahap. Budi melihat Rena yang makan dengan lahap merasa yakin bahwa Rena belum makan dari pagi. Kemarin malam dia transfer ke kakaknya, hari ini dia bayar uang sekolah adiknya. Tidak ada perhiasan ataupun makeup di mukanya, semuanya natural. Handphone pun bukan yang bagus dan baru dengan posisi sebagai sekretaris? Rena hidup kamu keras, kamu jadi tulang punggung keluargamu sampai kamu tidak bisa membahagiakan dirimu sendiri.


"Aku akan membahagiakan kamu dan akan menjaga kamu. Aku sayang dan mencintai kamu, Rena" Budi berucap dalam hati.


"Kamu kok melamun Bud?"


"Aku sayang dan cinta sama kamu Rena" Budi terkejut dengan omongannya.


"Maaf Rena".


"Ngga papa, hak kamu untuk sayang dan cinta aku. Kita kan manusia, makhluk sosial yang harus menyayangi dan mencintai sesama. Jadi kenapa harus minta maaf".


"Iya heehhehhehe. Sudah kenyang sekarang? Besok-besok kalau aku bawain makanan jangan di tolak. Jangan menolak rejeki dari orang apapun itu".


"Ok, aku ngga pernah nolak rejeki kok, tapi aku ngga mau harus selalu dibeliin makanan sama kamu. Nanti gantian aku beliin makanan buat kamu tapi tunggu aku gajian yah, uangku sudah habis". Rena langsung menutup mulutnya dengan tangan. Aduh kenapa kelepasan gini sih. Rena merutuki dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2