
Rena tidak bisa tidur, Rena teringat kejadian masa kecilnya. Rena menangis lagi. Budi juga tidak bisa tidur. Pelan-pelan Budi jalan menuju kamar tamu dan dari pintu Budi samar-samar mendengar tangisan Rena. Budi mengetuk pintu kamar Rena.
"Rena, kamu kenapa? Kamu belum tidur?
Rena yang mendengar ketukan dj pintu bangkit dari kasurnya dan membuka pintu. Budi melihat Rena yang membuka pintu dalam keadaan menangis langsung memeluk Rena
"Rena sayang, menangislah selama itu bisa mengurangi kesedihan kamu. Aku siap mendengar kemarahanmu, kesedihanmu. Dan satu hal, sembahyang minta petunjuk kepada Allah. Supaya kamu diberikan kesembuhan batin untuk segala sakit yang kamu rasakan selama ini".
Mendengar kata-kata Budi, tangisan Rena semakin menjadi. Budi diam sambil tetap memeluk Rena, walaupun bajunya sudah basah oleh air mata Rena. Perlahan tangisan Rena berhenti.
"Budi, maaf bajumu jadi basah. Maafkan aku karena aku tidak bisa membalas rasa cintamu. Banyak perempuan lain yang lebih jelas daripada aku. Kamu sudah tahu mengenai diriku, kamu sudah tahu bahwa aku tidak diinginkan oleh orang tua kandungku. Aku anak yang dibuang, dan aku tidak tahu asal usul ku darimana. Aku yang tidak diterima oleh orang tua kandungku dan ayah, ibu juga kakakku. Entah sampai kapan mereka akan menerima ku lagi. Aku anak yang...
Rena tidak meneruskan kata-katanya, karena Budi mencium bibir Rena dengan lembut.
"Rena, aku menerima kamu, siapapun kamu, darimana asalmu, siapa orang tuamu, aku tidak peduli, aku menerima kamu untuk jadi kekasihku dan untuk jadi ibu dari anak-anak ku. Aku mau membahagiakan kamu tanpa ada pengecualian. Aku sayang dan cinta sama kamu. Jika memang boleh, ijinkan aku melamar kamu hari ini juga, dan aku akan minta ijin sama Tante Silvani dan Om Bram".
Rena memandang Budi tanpa ekspresi. Karena Rena merasa tidak pantas untuk Budi. Rena memeluk Budi dan menenggelamkan mukanya ke dada Budi. Budi mengelus punggung Rena dengan lembut. Rena melepaskan pelukannya.
"Budi, terima kasih, aku permisi tidur duluan yah. Aku sudah agak tenang". Rena menutup pintu kamarnya.
Rena, apapun jawabanmu, apapun pilihan kamu, aku akan selalu ada untuk kamu. Besok aku akan bawa Rena beli baju untuk ke pernikahan Tanti. Budi berjalan ke kamarnya.
" Pagi Budi, aku hari ini mau masuk kantor". Rena menghampiri Budi yang sedang minum kopi sebelum berangkat ke kantor.
"Kamu masuk kerja hari Senin. Nanti sore aku mau ajak kamu ke suatu tempat. Jadi istirahat, jangan mikir macam-macam dan ini, aku lupa kasih kamu hadiah tambahan".
"Iya Pak Bos. Hadiah tambahan untuk apa? Kan kamu sudah kasih aku hadiah ulang tahun boneka panda".
__ADS_1
"Bukalah?"
Rena membuka boks yang diberikan oleh Budi. Sebuah handphone baru dan satu kotak kecil.
"Maksudnya apa memberi aku handphone? Handphone aku masih bisa dipakai dan masih bagus kenapa kamu harus buang-buang uang untuk aku. Aku ngga suka. Dan kotak ini, isinya apa?"
"Buka saja"
Rena membuka kotak kecil itu, Rena melihat ada kalung dan cincin.
"Ini untuk apa Budi?"
"Untuk kamu". Budi bangkit berdiri dan mengambil kalung lalu memasangkannya di leher Rena yang jenjang dan mengambil cincin kemudian disematkan di jari Rena.
"Aku mencintaimu dan aku ingin membahagiakanmu". Budi mencium kepala Rena.
"Tidak ada tapi. Kamu tidak perlu menjawab apapun. Yang penting aku mau kamu bahagia, terlepas kamu menolak aku. Sudah siang, aku berangkat kerja dulu Rena sayang, love you".
"Love you too". Rena tidak sadar mengucapkan kalimat itu. Dan Budi mendengar Rena mengucapkan. ?pBudi segera balik badan dan merangkul Rena yang masih duduk dari belakang lalu mencium kedua pipi Rena.
"Makasih ya Rena sayang". Budi melangkahkan kaki dengan ringan. Karena ia mendengar Rena mengatakan I love you too.
"Budi, aku ikut, aku mau ke kost ku. Aku kangen kamarku. Aku ngga akan kemana-mana. Aku hanya ingin tidur di kamar kost ku". Rena mengejar Budi.
"Ok, nanti siang aku jemput untuk makan siang dan ingat jangan kemana-mana. Aku tidak mau kamu sakit lagi".
Rena senang akhirnya Budi mengijinkan ia pulang ke kostnya. Budi mengantarkan Rena sampai depan kostnya. Rena hendak keluar dari mobil tetapi tangan Rena di pegang oleh Budi.
__ADS_1
"Budi, ini sudah sampai, aku mau keluar, dan kamu harus segera berangkat ke kantor nanti tepat ini sudah jam 08.00. Lepasin tangan aku dan iya aku janji ngga kemana-mana, lagipula tasku dan dompetku masih ada di rumahmu. Dan aku hanya bawa handphone saja".
Budi mencondongkan badannya ke Rena dan mencium kening dan pipi Rena, lalu melepaskan tangan Rena.
Rena hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Budi.
Rena membuka kamar kostnya dan banyak surat ada dibawah pintu. Rena segera mengambil surat-surat tersebut. Ada surat dari Bagas dan juga undangan pernikahan Bagas. Rena memasukkan surat dari Bagas ke dalam laci meja, ia tidak mau membuka surat tersebut. Ada satu surat dari Erni tapi tanpa alamat pengiriman. Rena berusaha mengingat nama Erni tetapi ia tidak mempunyai teman ataupun saudara yang bernama Erni. Rena segera membuka surat tersebut.
...Rena, apa kabar? Sekarang namamu adalah Rena, dulu aku dan bapakmu memberimu nama Thelma, dan kamu lahir saat kami tidak mempunyai uang sama sekali. Akhirnya kami meminjam uang kepada Pak Agus dan Bu Ita sebagai ayah dan ibumu yang selama ini kamu kenal. Kamu adalah anak yang kami tunggu-tunggu setelah sekian lama. Karena kakak-kakakmu adalah laki-laki. ...
...Sejak kelahiranmu, bapak tidak mendapatkan pekerjaan sama sekali dan setiap mau usaha selalu gagal. Sedangkan kehidupan terus berjalan, akhirnya bapak dan ibu meminjan uang kembali kepada Pak Agus dan Bu Ita, tanpa Ibu ketahui ternyata bapakmu menjadikan dirimu jaminan apabila kami tidak dapat membayar hutang kami. Saat kami akan pindah ke luar kota, Pak Agus mengambil kamu dari gendongan Ibu, dan bilang bahwa kamu dijadikan jaminan. Ibu marah dan mengamuk sama bapakmu. Kamu anak perempuan satu-satunya yang kami harapkan tetapi bapak menganggap bahwa kelahiranmu membuat kami menderita. Ibu tidak rela harus meninggalkan kamu dengan Pak Agus dan Bu Ita. Akhirnya Ibu ikhlas untuk melepaskan kamu, mungkin memang takdir hidupmu yang seperti ini. ...
...Pak Agus dan Bu Ita selalu bilang bahwa kamu hidup sehat dan serba kecukupan, tetapi mereka lupa bahwa Bude Parti dan Pakde Katino memberitahu semua hal mengenai dirimu yang selalu di jadikan korban. ...
...Rena atau Thelma, Ibu hanya bisa menulis surat kepadamu dan Ibu mohon dibukakan pintu maaf. Ibu kirimkan juga photo-photomu saat kamu bayi sebelum akhirnya kamu diambil. Ibu dan Bapak melakukan kesalahan besar terhadap dirimu. Dan kamu dijadikan alasan karena bapak tidak mendapatkan pekerjaan. Ibu tahu, setelah kamu membaca surat ini, kamu akan semakin membenci Ibu dan bapakmu. Sejak kamu tidak tinggal bersama kami dan kami pindah ke luar kota, bapak mempunyai usaha yang maju dan kakak-kakakmu bisa sekolah sampai perguruan tinggi. Sedangkan kamu menderita sampai saat ini. Kamu bukan anak yang sengaja kami buang bukan, tetapi karena takdir yang mengharuskan kami terpisah dari kamu. ...
...Ibu minta maaf sama kamu, karena sudah membuat kamu menangis dan terluka dari kecil hingga saat ini. ...
...Ibu, bapak dan kakak-kakakmu sayang sama kamu, tetapi bapak tidak mau bertemu denganmu karena bapak merasa bersalah telah memberikan dirimu sebagai jaminan. ...
...Kesalahan kami terhadap dirimu membuat kami menanggung akibatnya. Sekali lagi maafkan bapak dan ibu. ...
Rena melipat surat tersebut dengan perasaan campur aduk. Rena tidak percaya jika apa yang ditulis dalam surat itu benar ibu kandungnya atau bukan. Saat Rena melihat photo sewaktu ia bayi, Rena menangis. Photo saat Rena dengan ayah, ibu, kakak dan adik juga ada. Rena hanya bisa menangis kembali. Handphone Rena berdering, ada telepon masuk dari Budi.
"Halo Rena, aku sudah di depan kost mu, ayo keluar kamar, aku tunggu".
Rena segera kekamar mandi dan mencuci mukanya supaya tidak terlalu kelihatan bahwa habis menangis
__ADS_1