
Rena sedang mandi. Ancis duduk di ruang tamu.
Ternyata Rena masih trauma dengan kejadian masa kecilnya. Luka batin yang tidak akan hilang. Gimana caranya menyembuhkan luka batin Rena. Di balik kecantikan, keanggunan, kepintaran dan ketegasannya ternyata dirinya rapuh apabila sendiri.
Ancis membatin mengenai Rena. Apa yang harus aku perbuat untuk mengobati luka batinnya?
"Ancis, kenapa dahi kamu berkerut-kerut? Apa yang kamu pikirkan?"
"Lagi berpikir gimana caranya agar Rena mau menerima aku sebagai suaminya."
"Hah, kamu sehat Ancis?"
"Eh, iya aku sehat Rena. Kamu buat aku kaget."
"Kaget ya? Apa yang kamu pikirkan? Tumben amat kamu kaget?"
"Ngga, ngga ada apa-apa?"
"Yakin, kamu mau punya istri seperti aku? Aku bukan dari keluarga yang mempunyai bibit ok tidak mempunyai bobot untuk bisa bersanding dengan kamu secara aku kurus, tidak mempunyai bebet yang membuat keluargamu jadi terpandang."
"Yakin, sekarang pun kalau kamu mau, kita menikah saat ini, detik ini juga. Gimana?"
"Hahahaha, kamu pikirkan baik-baik ya Ancis. Di agama Islam, apabila ada seorang anak perempuan yang akan menikah, harus ada ayah kandung yang wajib hadir. Sedangkan aku? Kamu pasti sudah tahulah hidup aku bagaimana? Karena itu aku tidak terlalu memikirkan untuk menikah. Dari pada nant menyakiti orang banyak setelah tahu statusku."
"Aku, Mama Annelise dan papa sudah tahu asal usulmu Rena. Dan kami khususnya aku tidak masalah. Masa lalumu biarlah jadi masa lalu. Kamu harus hidup di masa sekarang dan masa depan. Tidak perlu hidup di masa lalumu. Kamu harus berdamai dengan dirimu sendiri."
"Sorry Ancis, jangan mengajariku untuk berdamai dengan diriku. Aku tahu diriku, aku mengenal diriku. Dan aku tahu apa tujuan hidup ku. Lebih baik kamu pulang. Hari ini aku sebenarnya tidak mau terima tamu. Aku mau istirahat. Aku mau rehat sehari dua hari dari rutinitasku."
"Rena, aku hari ini mau mengajak kamu pergi ke pantai. At least kamu bisa refreshing. Aku janji tidak akan mengungkit masalah pacar, hidupmu ataupun masa lalumu. Aku mau kamu refreshing menghilangkan kepenatanmu selama ini. Biar kamu merasa lebih fresh. Bagaimana? Setuju?
"Ok boleh. Kita mau ke pantai mana? Ancol?"
"Ikut sajalah dulu, aku yakin kamu pasti suka."
"Ok, aku siap-siap dulu.
Ancis senang Rena mau pergi ke pantai. Ancis sendiri bingung akan pergi ke pantai Ancol atau ke mana. Ia tadi refleks mengajak Rena ke pantai.
Sambil menunggu Rena, Ancis menelpon pembantunya untuk menyiapkan baju Dan ditaruh di pos satpam.
Ancis sudah tahu akan mengajak Rena kemana.
"Ancis, aku sudah siap. Kita berangkat sekarang?"
"Non, makan dulu. Non belum makan siang. Mbok sudah masak telur balado dan sambal terong."
"Iya Mbok, aku mau. Ancis, kamu mau makan juga?"
"Maulah, aku lapar."
__ADS_1
"Iya Tuan, ini resep non Rena cuma mbok yang masak."
"Ok mbok, pasti enak ya."
"Udah makan saja."
"Mbok sini makan bareng, Pak Mistar, Pak Mastar sama pak satpam sekalian."
"Sudah pada makan semua non. Ini sudah jam 2 siang."
"Ok"
Ancis dan Rena makan. Setelah itu mereka pergi ke pantai.
"Rena, ada yang mau aku ambil di rumah, mampir sebentar ya."
"Ok."
Tiba di depan rumah. Ancis langsung membuka bagasi mobil dan memasukkan tasnya.
"Ancis, kita mau kemana? Kamu bilang ke pantai. Kok kamu bawa tas yang buat ngegym?"
"Aku cuma bawa 1 tas kecil ini."
"Kenapa jadi pusing urusan tas. Kita mau bersenang - senang di pantai."
Ancis mengendarai mobilnya di pantai marina dan ia mengajak Rena naik kapal ke pulau bidadari.
"Belum, baru kali ini."
"Semoga kamu suka dan sebentar lagi kita sampai."
"Ok."
Mereka turun dari kapal. Rena langsung berlari dan terlihat sangat menikmati. Rena membuka kaos dan celana pendeknya. Rena mengenakan bikini dan berlari ketepian pantai. Ancis hanya melihat saja. Untungnya tadi Ancis sudah menitipkan barangnya ke kamar Rena dan dirinya.
Ancis termangu melihat keindahan bentuk badan Rena yang selama ini hanya terlihat dengan baju kantor dan kaos besar dan celana pendeknya sedengkul.
Ternyata di balik baju kantor dan kaos ada keindahan tersendiri. Kulit tubuhnya halus bahkan jika ada lalat menempel pun akan tergelincir. dan semuanya terlihat indah dan pas dengan proposi badannya Rena yang berisi dan tinggi dan perutnya yang rata tetapi terlihat kencang.
Rena, kamu cantik sekali. Beberapa pengunjung yang melihat badan Rena ikutan terpana seperti Ancis.
"Gilaaaa, itu perempuan badannya bagus banget dan terawat. Putih banget."
"Ya ada uang, ada perawatan. Pacar loe juga bisa seindah itu asal uangnya kencang."
"Mesti gue deketin itu perempuan. Seru banget."
Ancis mendengarkan omongan-omongan itu segera mendekati Rena. Ia tidak mau terjadi apa-apa dengan Rena.
__ADS_1
"Rena, kamu senang?"
"Iya Ancis, aku senang. Terima kasih yah sudah mengajak aku kesini." Tanpa Ancis sadari Rena mencium pipi Ancis."
Ancis senang karena Rena terlihat tertawa bahagia dan lepas tanpa beban. Dan terlihat semakin cantik. Rena berenang dengan Ancis dan bermain kayaking.
Tanpa mereka sadari hari sudah menjelang malam.
"Ancis, kita pulang atau gimana?"
"Kamu sendiri maunya pulang atau menginap?"
"Menginap tapi aku ngga bawa baju ganti, masa aku telanjang?"
"Tenang, tadi saat kita makan, aku minta sama Mbok untuk packing baju kamu dan taruh di mobil."
"Oh ok. Makasih yah Ancis."
Rena mendekati Ancis hendak mencium pipi Ancis dan tanpa di sadari oleh mereka berdua, muka Ancis berplaing ke Rena sehingga mencium bibir Ancis dan langsung Ancis membalas ciuman ke bibir Rena dengan lembut. Rena kaget.
"Maaf Ancis, bukan maksud aku mau cium bibir kamu."
"Ngga papa Rena, aku senang kok kamu cium. Tapi tadi aku refleks melihat kamu akhirnya kita ciuman bibir deh."
"Ya sudah, aku mau mandi dan ganti baju."
Mereka pergi ke floating cottage dan masuk.
"Hanya 1 kamar dan 2 beds. Which means kita tidur sekamar?"
"Iya Rena, kamu ngga mau? Tidak akan terjadi apa-apa. Trust me."
"Ok."
Rena masuk ke kamar mandi. Setelah selesai Ancis masuk kamar mandi. Mereka makan di dalam cottage. Setelah makan Rena duduk DJ kursi panjang. Dan terlihat Rena menikmati malam yang tenang tanpa ada kebisingan.
"Ancis, makasih yah. Aku benar-benar menikmati disini. Dan aku baru pertama kali kesini."
"Iya Rena. At least kamu bisa membuang hal-hal yang membuat kamu marah, jengkel, kesal. Walaupun sampai he's ok ."
"Ngga papa Ancis. Aku benar-benar merasa fresh dan relax."
Ancis mendekati Rena dan mencium bibir Rena dengan lembut.
Rena mendorong Ancis.
"Ancis!"
"Iya, aku minta maaf karena lancang mencium bibir kamu." Ancis bangun dari samping Rena. Dengan sigap Rena menangkap tangan Ancis.
__ADS_1
"Ngga papa Ancis. Maaf, aku ngga bisa balas ciuman kamu."