Anak Terbuang

Anak Terbuang
Tanti hamil


__ADS_3

Rena sudah di kost dan Mbak Esther sudah balik ke kantor. Rena mendapat ijin tidak masuk kantor selama 2 hari.


Sementara Budi dan Tanti masih di rumah sakit. Budi membawa Tanti ke dokter kandungan untuk memastikan apakah Tanti hamil atau tidak?


"Dokter, mohon dicek apakah benar dia hamil?


"Baik, silakan saya cek dulu". Dokter mempersilahkan Tanti untuk diperiksa. Dan dokter mengecek kandungan Tanti.


"Bagaimana Dok? ucap Budi ingin segera mengetahui hasilnya.


"Selamat Pak, Istri bapak hamil dan usia kehamilannya 14 minggu, ini saya kasih obat dan vitamin untuk penguat kandungannya".


"Maaf dokter, dia bukan istri saya!" Budi bernafas lega, karena kejadian dia dan Tanti di hotel baru sebulan yang lalu. Berarti sebenarnya Tanti sudah hamil duluan.


Budi meninggalkan Tanti dan ia berniat segera ke kamar Rena, dan ternyata sudah kosong. Rena sudah pulang.


"Tanti, kamu dengar yah, anak yang sekarang kamu kandung bukan anak aku! Ok kita melakukannya, tetapi kamu juga melakukan dengan laki-laki lain! Kehamilan itu ada hitungannya. Jangan paksa aku untuk bertanggung jawab dengan kehamilanmu yang kamu lakukan dengan laki lain. Paham kamu! Dan jangan pernah ganggu hidup aku lagi!"


"Mas Budi, dokter itu pasti salah hitung, aku baru tes kemarin dengan test pack, dan hasilnya positif. Aku melakukan itu sama kamu, bukan dengan laki-laki lain" Anak ini perlu ayah dan butuh ayah, apa jadinya jika anak ini lahir dan mencari siapa ayahnya". Tanti menangis agar Budi merasa kasihan dan mau bertanggung jawab atas kehamilannya walaupun Tanti tahu bahwa bukan Budi yang melakukannya. Tanti memang melakukan dengan laki-laki lain.


Budi meninggalkan Tanti yang masih menangis di kamar rumah sakit tempat Rena di rawat. Ia tidak peduli lagi dengan Tanti. Budi segera pergi ke kost Rena.


Rena sedang duduk di teras saat Budi datang. Melihat kedatangan Budi, Rena segera masuk ke dalam rumah tetapi Budi cepat menahan Rena agar tidak masuk.


Budi minta Rena mendengarkan perkataan dokter yang sempat direkamnya.


"Jadi, bukan aku ayah dari bayi yang dikandung Tanti. Aku memang salah karena mengikuti nafsuku, aku mohon kamu mau memaafkanku dan menerima aku sebagai temanmu".

__ADS_1


"Budi, aku bukan Allah yang bisa menghukum manusia, lagipula kamu tidak salah sama aku hanya waktu dan tempat yang salah karena aku tidak mau ikut terlibat dengan urusan kalian berdua. Aku sendiri punya masalah yang harus aku selesaikan".


"Rena, aku sudah tahu mengenai hidupmu".


"Ya aku tahu, tapi hidupku bukan untuk konsumsi umum dan aku tidak minta dikasihani. Anyway, terima kasih atas pertolonganmu dan berapa biaya saat aku di rumah sakit".


"Ngga usah dipikirin mengenai biaya rumah sakit. Aku ikhlas membantu kamu".


"Terlepas dari kamu sudah membantu dan menolong aku, dan kamu ikhlas, tetapi aku tidak. Aku akan bayar".


Budi menarik nafas


"Rena, kali ini aku minta sama kamu, jangan memikirkan masalah biaya, kamu sendiri saat ini sedang menata hidupmu yang masih..."


"Ya masih berantakan, iya memang hidupku berantakan, aku tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tuaku. Kamu tahu rasanya dari kecil dipukul, ditendang, dilempar bangku sampai bangku banyak yang hancur sampai diusir dari rumah berkali-kali dan akhirnya di bantu sama Novi dan Dian, dan ditampung oleh Tante Silvani dan Om Bram, orang tua dari Novi, dengan mereka aku bisa mendapatkan kasih sayang tetapi tidak menutup mataku bahwa mereka bukan orang tuaku. Aku tetap merindukan kasih sayang dari ayah dan ibuku yang tidak pernah aku dapatkan sampai saat ini yang ada hanya hinaan dan cacian bahwa aku tidak pantas untuk menjadi anak dari orang tuaku. Seburuk apapun aku diperlakukan oleh orang tuaku, mereka tetap ayah dan ibuku, kakak dan adik-adikku. Air mataku sudah habis untuk menangis, tapi kamu membuat aku menangis lagi. Puas kamu!"


"Maafin aku Rena, bukan maksud aku untuk mengungkit kembali masa kecilmu. Maafin aku".


Rena melepaskan diri dari pelukan Budi.


"Budi, silakan kamu pulang, aku mau istirahat dan tidur. Kepalaku sakit". Rena meninggalkan Budi di teras dan masuk ke dalam kamarnya.


Ada panggilan video call dari Novi, Rena langsung mengangkatnya dan ternyata ada Dian.


"Renaaaaa, udah sembuh? ucap mereka berbarengan.


"Udah, makasih yah, aku kangen kalian berdua".

__ADS_1


"Eh katanya sakit, tapi kok bisa pasang layar tancep di jidat". Dian meledek Rena yang masih memakai perban dikepalanya.


"Iya, kemarin coba ikutan debus eh ngga lolos, lolosnya harus pakai diobras jidatnya".


"Rena, bulan depan mama mau ke Jakarta, pasti pacar kamu yang namanya Budi sudah kasih tahu kamu?


"Pacar? Aku ngga punya pacar. Budi? Hahahah, itu teman, lagipula sebentar lagi dia mau nikah kok sama Tanti, pacarnya". Rena memberitahu mengenai status Budi sama Novi dan Dian.


"Hihihi, kita ternyata salah Dian. Iya kirain mau nyusul Dian, Dian sebentar lagi tunangan.


"Ah, kamu Nov, ini karena urusan orang tua aja secara kalian berdua kan tahu gimana papi sama mami aku" ucap Dian dengan cemberut.


"Gini, intinya kita bertiga masih akur dan tetap setia dan tetap keep in touch walaupun sekarang kita ada di ujung barat, ujung timur, ujung selatan, bukan begitu bukan? ucap Rena sambil tertawa.


"Rena, mungkin lusa Mama telpon kamu ya. sudah dulu, aku ada kuliah, bye Dian, bye Rena". ucap Novi dan menutup sambungan telepon.


Rena merasa lapar, sudah jam 8 malam ternyata, Rena segera mengambil kartu ATM karena ia harus ambil uang dulu baru bisa beli makan. Rena keluar dari kamarnya, hari ini kost masih sepi karena semua penghuni kost belum pulang dari kantor. Rena segera keluar dari rumah, Rena terkejut karena melihat Budi sudah duduk di bangku teras.


"Rena, ini aku bawain makanan. Aku dari jam 6.30 sudah datang, aku coba telpon tetapi handphone kamu sibuk terus. Jadi aku tunggu disini dan ibu kost juga sempat temanin ngobrol sebentar. Maaf kalau tadi buat kamu kaget".


"Ngga papa, makasih yah sudah dibawain makanan, tapi aku mau ke ATM sebentar, aku ngga pegang uang sama sekali. Kamu kalau mau pergi ngga papa, atau kalau mau nunggu silakan".


"Aku temenin kamu ke ATM, kondisi kamu belum fit benar. Makasih Budi, aku sudah sehat kok, aku ngga mau ganggu pacar orang".


"Rena, aku antar, karena aku bertugas untuk menjaga dan melindungi kamu. Ini permintaan dari Tante Silvani.


" Ya sudahlah. Aku minta tolong temenin ke ATM" Rena pasrah saat Budi bilang permintaan dari Tante Silvani

__ADS_1


__ADS_2