
"Rena, kamu yakin pulang sendiri. Kalau bisa tunggu aku sebentar saja. Kita pulang bareng."
"Tapi aku ada janji sama Budi. Aku naik travel saja. Bandung - Jakarta tidak terlalu jauh Vito. Lagipula aku bisa tidur hahahhaha."
"Rena, kalau kamu naik travel, kamu harus nunggu paling tidak sampai semua penumpang datang. Dan belum tentu aman. Apalagi kamu seorang Rena yang mempunyai posisi tinggi."
"Sorry Vito, posisi tinggi hanya dalam pekerjaan Aku masih sama seperti orang lain yang mungkin bekerja sebagai pemulung. Jangan terlalu mengkotak-kotakkan orang selama kamu hidup. Ada saatnya nanti Allah mengkotakkan kamu yaitu pada saat kamu meninggal.
"Bukan-bukan begitu maksud ku tapi aku tidak mau kamu kenapa-kenapa. Karena kondisimu sendiri terlihat tidak begitu fit. Dan itu terlihat jelas di mukamu. Lebih baik kamu ikut sama aku. Dan jangan berpikir bahwa kamu pulang bareng sama aku dan kamu tertidur lalu aku akan berbuat macam-macam. Kita profesional kerja. Dan satu team."
"Ya sudah, as you want, Vito. Tapi nanti aku turun di Union ya. Aku ada janji sama temanku."
"Ok Rena, as you want too."
Vito dan Rena masuk ke mobil dan mereka balik dari Bandung ke Jakarta.
"Rena, aku mau tanya, tapi maaf sebelumnya. Waktu di Amerika, saat pernikahan Novi kan ada insiden kecil. Kamu memangnya pernah pacaran dengan Budi? Maaf kalau aku bertanya."
"Iya memang aku sempat jalan sama Budi. Dan hampir mau menikah. Tetapi Allah berkehendak lain. Ya sudah jalani saja hidupku."
"Setahuku Budi saat ini ada di Jakarta dan mengurus perusahaan ayahnya." Kamu ngga ada niatan balik sama Budi lagi? Maaf kalau aku tanya lagi."
"Ngga ada niatan untuk balik sama Budi. Aku lagi menikmati hidupku. Aku ngga mau pusing masalah pacaran. Kalau ada yang mau sama aku ya ngga usah pakai pacaran. Langsung lamar aku di depan Papa dan Mama. Ya ngga boleh lewat telpon. Langsung bertemu tatap muka sama Papa dan Mama."
"Gimana caranya? Papa dan Mama kamu di Amerika, kamu di jakarta, kalau pria itu harus ke Amerika kan ngga mungkin?"
"Ya usaha gimana caranya. Laki loh? Yang nanti harus jadi kepala keluarga? Think out of the box lah. Jangan stuck. Kalau dia ngga usaha untuk bisa bertemu Papa dan Mama, bagaimana nanti dia hidupi aku dan anak-anak?
Menikah itu tidak hanya berdasarkan cinta. "Eh, aku cinta dan sayang sama kamu, kita nikah yuk, biar halal dan tidak zina." Nah kalau hanya berlandaskan cinta, sayang dan ***** saja, pada akhirnya akan berantakan. Sebelum memutuskan untuk menikah, dipikirkan baik-baik. Menikah itu tidak berdasarkan cinta, sayang dan *****. Ada tambahannya harus menerima pasangannya dengan segala kekurangan dan kelebihannya dan tidak egois."
"Iya aku setuju dengan pemikiranmu. Tapi belum tentu juga kalau ada yang sanggup untuk menikahi kamu. Yang ada minder semua." Maaf ya Rena."
__ADS_1
"Vito, dari percakapan kita ini kamu sudah 4 kali minta maaf. Memangnya kamu punya salah sama aku? Lagipula kenapa harus minder. Aku juga manusia biasa yang masih makan nasi, minum air, bisa marah, bisa nangis, bisa tertawa lepas. bukan orang yang kaku seperti kanebo. Dan dari omongan kamu itu terlihat kalau kamu masih memandang orang secara derajat kehidupan orang itu ya. Kalau minder dengan aku atau dengan orang lain, berarti orang itu tidak mau berusaha untuk fight dalam hidupnya. Buat apa minder. Hidup itu harus ada misi, visinya jangan stuck dan percaya diri. Orang lain bisa kenapa gue ngga bisa? Hal positif ya bukan negatif."
"Ya aku takut kalau kamu marah dengan pertanyaan aku. Makanya aku minta maaf."
"Nah, aku marah ngga? Aku juga masih banyak belajar Vito. Aku juga bukan manusia sempurna yang orang lain lihat. Wah, enak ya jadi Rena, pekerjaannya punya posisi tinggi. Uang ngga kekurangan, punya keluarga yang sayang dan cinta. Ngga pernah marah, selalu baik sama orang. Apakah kamu tahu, saat aku nangis? Apakah kamu tahu saat aku marah? Apakah kamu tahu rasanya tidak dihargai jerih payah kita. Apakah kamu tahu saat aku kelaparan ngga punya uang? Kadang orang lihat kita by cover. Tertawa terus seperti orang ngga punya masalah. Padahal masalah banyak. Doa, pasrah, ikhlas dan jalani juga bersyukur. Jangan banyak mengeluh."
"Kamu pengalaman hidupnya banyak ya. Sampai takjub aku dengar omonganmu."
"Hahahahha. Umur kamu sama umurku ngga beda jauh. Tapi mungkin pengalaman hidupku sama pengalaman hidupmu beda. Aku cuma jalani saja yang Allah kasih."
"Eh, ini kita sudah masuk Jakarta dan sudah mau jam 8 malam. Kamu tetap mau ke Union?"
"Iya, aku sudah janjian sama temanku."
"Aku temanin kamu boleh?"
"Silakan saja kalau kamu ngga capek."
"Maksudnya? Ringan bagaimana? Aku kan bicara biasa saja, tidak ada maksud menggurui atau menceramahi kamu? Bukan begitu bukan? "
"Ya, semua. Yang kita omongin itu membuat aku mendapat teman sharing yang asik,. Tidak ada main perasaan lebih banyak logikanya."
"Hahahah, kalau main perasaan yang ada dari tadi aku nangis. Hidup itu dinikmati, ada masalah ya cari jalan keluarnya. Ngga ada masalah ya jangan cari masalah. As simple like that. Iya aku tahu kamu pasti ngomong ya ngga simple juga. Tergantung cara pandang masing-masing oranglah."
"Hahahahah, kamu seperti cenayang yah, tahu apa yang aku pikirkan."
"Hahahah, bukan cenayang. Hidup itu harus dijalani. Amazing, love, caring, hope, unselfness, kindhearted,"
"Yup, benar. Eh udah mau sampai. Benaran ini aku ngikut ngga papa."
"Ngga papa Vito. Santai saja."
__ADS_1
Mereka sudah sampai dan berjalan ke Union.
Budi sudah menunggu Rena. Budi melihat Rena dengan seorang laki-laki. "Itu pacarnya Rena?"
"Hai Budi, sorry kalau aku telat. Oh iya kenalkan ini Vito, teman kuliahnya Novi dan sekarang back for good."
"Santai saja Rena. Hai Vito, aku Budi. Aku Vito."
Budi dan Vito berkenalan.
"Rena, kamu pasti lapar. Kamu mau makan apa. Dan kamu, Vito mau makan apa?"
"Aku mau red velvet cake sama ice coffe saja."
"Aku mau expresso double sama cheese cake."
Budi segera memesan cake dan kopi untuk dirinya, Rena dan juga Vito.
"Budi, ada apakah? Kamu bilang mau ketemu sama aku karena ada hal yang penting?"
"Santai saja dulu, ngobrol-ngobrol ringan dulu. Sambil nunggu pesanan datang."
"Ya ok."
"Vito, kamu kenal Rena dari kapan?"
"Waktu Rena ke Amerika dan kebetulan aku bantu Novi dan juga Alex waktu mereka menikah."
"Kok bisa barengan sama Rena?"
"Aku dan Rena lagi kerja bareng untuk event. Tadinya juga tidak tahu tapi saat bertemu ternyata jadi team kerja."
__ADS_1
Budi tersenyum. Ternyata bukan saingan hanya sebatas teman kerja saia dengan Rena. Bukan orang yang harus aku cemburui.