
Rena keluar dari kamar dan melihat Budi yang sedang memegang handphonenya. Rena duduk didepan Budi.
"Budi, kamu masih sibuk".
"Ngga kok Rena. Kamu mau bicara mengenai kita? Maksudnya?" Budi meletakkan handphone nya
"Budi, kamu tahu mengenai masa kecilku dari Tante Silvani, kejadian waktu aku jatuh ditendang dan saat pemakaman ayahku sampai akhirnya kamu tahu bahwa aku bukan anak mereka, aku anak yang dibuang oleh orang tuaku karena mereka tidak bisa membayar hutang".
"Terus masalahnya buatku dengan masa lalumu. Aku sudah bilang berkali-kali, aku tidak peduli dengan masa lalumu. Aku cinta dan sayang sama kamu, siapapun dan darimana asalmu, aku tidak peduli".
"Aku ingin memastikan bahwa dirimu jangan sampai salah pilih. Selama aku disini, aku tidak melihat keberadaan orang tuamu? Aku takut nanti pada saat orang tuamu datang dan melihat aku disini, mereka akan berpikir bahwa aku sudah memperalat kamu dengan alasan atas nama cinta. Aku tidak mau hal itu terjadi.
"Orang tuaku sudah tahu mengenai kamu, Rena. Aku sudah cerita banyak sama mereka dan mereka tidak mempersalahkan tentang status kamu. Mereka memang tidak tinggal disini. Mereka masih bertugas di luar negeri. Sebenarnya ada apa Rena. Bolehkan langsung intinya saja".
Rena menghela nafas panjang
"Intinya, aku mau jadi pacarmu, jadi kekasihmu tapi aku belum berpikir untuk jadi istri dan ibu dari anak-anakmu nantinya. Masih banyak hal yang ingin aku kejar. Dan aku butuh laki-laki yang menghormati aku, menghargai aku dan mensupport aku untuk aku bisa mencapai mimpiku terlepas dari masa laluku yang abu-abu dan kelam. Untuk hal jadi istri dan ibu, aku mau kita jalani saja. Jika di tengah jalan dirimu tidak merasa nyaman dengan hubungan inj, lebih baik bicara jangan ditutupi begitupun sebaliknya dengan diriku. Bagaimana?" Rena menatap Budi yang memperhatikan dirinya berbicara.
"Ok, aku setuju, terima kasih sudah menerima aku. Aku mau minta satu hal?
"Apa?
Budi bangkit berdiri dan mendekati Rena. Budi dan Rena berhadap-hadapan.
"Aku tidak peduli siapa pun kamu, aku mau membahagiakan kamu dan memberikan cinta dan kasih sayangku sama kamu. Ijinkan aku... ". Budi tidak melanjutkan kata-katanya membuat Rena penasaran.
"Budi, ijinkan kamu untuk apa? Budi mencium bibir Rena dengan lembut dan Rena hanya terdiam tidak dapat membalas ciuman Budi.
Lalu Budi memeluk Rena.
"Sudah malam, tidurlah, kamu kelihatan capek sayang. Aku ngga mau kamu jatuh sakit".
Rena mengangguk dan Budi melepaskan pelukannya.
"Selamat tidur, Renaku sayang".
"Malam Budi, selamat tidur yah".
Rena masuk ke kamar dan menutup pintu.
__ADS_1
Budi tersenyum dan hatinya berbunga-bunga karena akhirnya Rena mau menerima dirinya. Rena apapun akan aku lakukan untukmu. Dan kamu tidak perlu kuatir mengenai orang tuaku, karena mereka sudah mengetahui siapa diri kamu yang sebenarnya dan mereka tidak. mempermasalahkan dirimu. Budi menuju kamarnya dengan langkah yang ringan.
Budi mengirimkan pesan kepada Rena. Tidak berapa lama Rena membalas pesan Budi. Akhirnya Budi menelpon Rena.
"Kenapa belum tidur Rena?
"Ngga bisa tidur. Aku baru ingat harusnya tadi kita ketemuan dengan Novi dan Alex?
"Iya, Novi minta kita datang besok pagi ke rumahnya. Maaf aku lupa kasih tahu kamu".
"Terus kenapa sekarang Novi dan Tante Silvani hubungi kamu bukan hubungi aku lagi?"
"Kamu cemburu? Akhirnya Rena ku cemburu juga".
"Bukan cemburu hanya saja aku bingung kenapa yang semua hal yang berurusan sama aku harus lewat kamu?
"Sudah larut malam, tidur Rena".
"Aku mau sholat tahajjud dulu".
Jam 06.00 pagi, Rena tidak tidur dari semalam karena siang kemarin ia tidur cukup lama. Rena keluar dari kamar dan membantu bibi memasak.
"Pagi Non, ngga usah Non, biar bibi saja, karena Tuan kalau hari Sabtu hanya kopi dan roti atau pisang goreng".
"Aku mau buat nasi goreng Bi, boleh yah?"
"Biar bibi yang buatin Non".
" Ngga aku mau buat sendiri karena sudah lama aku ngga makan nasi goreng buatanku".
"Iya Non, ini bumbunya" Bibi memberikan tempat bumbu kepada Rena.
Rena segera membuat nasi goreng yang ia ingin kan karena jika beli ada saja yang kurang.
Setelah selesai, Rena memberikan 1 piring kepada Bibi dan 1 piring lagi untuk dirinya. Masih ada sisa nasi goreng, ia akan makan nanti.
Rena berjalan ke meja makan, menaruh nasi gorengnya dan berjalan ke kamar untuk mengambil handphone.
Budi yang baru saja keluar dari kamar dan melewati meja makan melihat ada nasi goreng. Budi mengira bahwa nasi goreng itu untuk nya. Ia segera makan nasi goreng sampai habis lalu ke dapur.
__ADS_1
"Bi, nasi gorengnya enak, lihat resep dimana? Masih ada lagi?
"Bukan bibi yang buat Tuan, tapi Non Rena. Masih ada Tuan, nanti Bibi ambilkan".
Sementara itu Rena yang melihat bahwa nasi gorengnya tidak ada segera ke dapur.
"Bi, nasi goreng Rena dibawa kemana? Rena belum makan".
Bibi menunjuk ke arah kompor. Rena melihat Budi sedang mengambil nasi goreng di wajan.
"Pagi Budi, ngapain kamu disitu? Lihat nasi goreng ku di meja makan ngga?
"Pagi Rena, heheheh nasi goreng yang di meja makan sudah aku habisin dan aku mau makan lagi. Masih ada di wajan".
"Ya ampun, itu tinggal dikit terus, aku makan apa? Aku lagi mau makan nasi goreng?
"Makan sama aku dan aku suapin yah". Budi mengambil sisa nasi goreng di wajan dan mengajak Rena ke ruang makan. Bibi yang melihat kelakuan Tuan dan Rena hanya tertawa.
Rena melihat Budi makan nasi gorengnya dengan lahap dan sesekali Budi menyuapi Rena.
"Rena, ini enak sekali baru kali ini aku makan nasi goreng yang rasanya seperti".
"Iya nanti dibuatin lagi".
"Budi, jam berapa kita berangkat ke rumah Tante Silvani?"
"Nanti jam 09.00"
"Ya sudah, aku mau buat kopi".
"Sekalian buatin kopi untuk aku, boleh tidak?
"Baik Tuan. Ada lagi request lainnya?
" Ini piring kotornya sekalian dibawa ke dapur ya". Budi menahan tawa, melihat perubahan muka Rena yang sebal. Rena mengambil piring nasi goreng. Budi langsung memegang tangan Rena dan meletakkan piring di meja lalu memeluk Rena dan mencium kening Rena.
"Budiii, kamu tuh selalu seperti ini, buat aku kaget dan aku ngga suka selalu dikagetkan seperti ini".
"Maaf Rena, bukan maksud aku mau buat kamu kaget. Tapi aku memang tidak bisa menahan diriku untuk tidak mencium kamu".
__ADS_1
Rena tidak mempedulikan omongan Budi, ia segera ke dapur untuk membuat kopi hitam untuk dirinya dan Budi".