Anak Terbuang

Anak Terbuang
Surat dari Erni


__ADS_3

"Kamu kenapa lagi Ren? Jangan bohong, kamu habis nangis? Kakakmu telpon lagi?!"


"Ngga papa, kangen sama kamu", Rena berusaha membuat Budi melupakan pertanyaannya.


"Aku juga kangen sama kamu. Ya sudah kita makan siang yah sekalian ada yang harus kita beli untuk besok dan jangan lupa nanti malam kita ketemuan sama Novi dan Alex".


Rena menganggukkan kepalanya.


"Budi, aku pengen makan gado-gado di jalan empang 3, kamu mau kan?"


"Ok Renaku sayang". Rena, perempuan yang tidak banyak menuntut dan untuk urusan makan tidak ribet, suka nasi goreng, mie ayam, gado-gado, ketoprak ataupun asinan betawi. Budi senang bahwa cintanya mendapat sambutan walaupun dirinya belum yakin bahwa Rena mulai mencintainya.


Mereka sudah selesai makan Gado-gado di empang 3 dan keringat membasahi muka Budi karena udara yang panas sedangkan Rena terlihat biasa saja.


"Budi, bolehkah aku balik ke kost ku? Maksudnya aku tidur di kost ku? Aku tidak mau merepotkan kamu terus. Aku ingin menyendiri di kamar kost ku".


"Rena, bukannya aku tidak mengijinkan tapi lebih kepada kondisi kamu yang masih belum stabil, seperti tadi kamu menangis. Dan kamu mengalihkan pertanyaanku. Cerita lah ada apa sebenarnya? Kalau kamu masih ragu bahwa aku menerima kamu dengan latar belakangmu kamu salah. Aku sayang dan cinta sama kamu, apapun dan siapapun dirimu. Aku tahu masih ada keraguan dalam dirimu. Kita jalani saja dan aku tidak akan melakukan macam-macam sama kamu. Sekarang kita pergi belanja, aku tahu kamu tidak punya baju untuk ke pesta pernikahan Tanti. Tidak ada penolakan dan bukan aji mumpung".


Rena mengangkat bahunya. Rena masih memikirkan surat dari Erni yang mengatakan bahwa Erni adalah ibu kandungnya. Rena ingin mengetahui yang sebenarnya. Tetapi ia bingung harus mulai dari mana.


"Rena"


"Renaa, Renaa, kamu kenapa kok melamun? Kita sudah sampai ayo keluar". Rena kaget ternyata Budi sudah membuka pintu mobil dan berdiri di sampingnya. Rena segera keluar dari mobil.


"Kok kita kesini, disini kan mahal semua bajunya? Aku ngga ada uang untuk beli baju disini? Dan aku belum cek apakah gajiku sudah masuk atau belum?

__ADS_1


Budi tidak mengindahkan omongan Rena, Budi menggandeng tangan Rena. Dan Rena terpaksa mengikuti Budi yang sudah menggandeng tangannya.


Tiba-tiba ada yang menepuk pundak Rena dan ternyata Tanti bersama dengan seorang cowok blasteran.


"Hebat kamu Rena, jadi juga mel**** sama Budi. Nanti habis manis sepah di buang loh. Oh iya Budi, Rena sama kayak aku, bukan gadis ting-ting lagi heheheheh".


Budi terlihat kesal dengan perkataan Tanti.


"Jangan samakan Rena dengan kamu, besok kamu sudah menikah tetapi kamu malah pergi dengan laki-laki lain. Jangan pernah ganggu Rena lagi, karena dia calon istriku! Paham kamu!"


Budi segera pergi menggandeng Rena. Bukannya besok Tanti akan menikah dengan Bagas dan kenapa hari ini ia jalan dengan laki-laki lain? Ah entahlah urusan Tanti. Budi membawa Rena ke sebuah boutique di dalam pertokoan itu. Rena melongo melihat baju-baju yang sangat bagus.


"Budi, kenapa harus kesini? Gaji ku dengan harga baju ini mahalan baju ini. Aku ngga mau dan aku ngga suka dengan modelnya yang terlalu glamour. Lagipula buat apa beli baju mahal jika hanya sekali pakai, uangnya bisa dipakai untuk disumbangkan ke panti asuhan atau membantu orang lain. Maaf, lebih baik kita pergi dari sini. Bukan masalah kamu yang akan membayar tetapi lebih kepada fungsinya dan tidak sesuai, itu saja". Rena berbalik arah dan keluar dari boutique tersebut diikuti oleh Budi.


"Budi, kita pulang saja yah, ok aku nginap lagi dirumahmu dan aku ngga mau beli baju. Aku pakai baju yang aku punya saja semuanya nasih bagus".


Budi mengantarkan Rena pulang ke rumah Budi dan mengikuti Rena masuk ke dalam kamarnya.


"Loh, kenapa kamu ngikutin aku masuk ke kamar? Kamu ngga balik kantor lagi?


"Aku mau kasih kamu ini, dan jangan di tolak".


"Maaf Budi, aku tidak perlu kartumu, aku masih punya uang simpanan walaupun tidak banyak tapi aku masih bisa hidup dengan uang itu. Aku menolaknya, karena aku bukan istrimu dan belum menjadi istrimu, saat aku menjadi istrimu, aku tidak bisa menolak apapun yang kamu berikan".


"Ok, aku berangkat lagi. Jangan nangis lagi, banyak banget yah stock air mata kamu. Istirahat karena nanti malam kita ada acara sama Novi dan Alex".

__ADS_1


"Iyaaaaaa".


Rena merasa capek sekali hari ini lebih kepada capek otaknya. Life must go on, aku tidak boleh terus menerus memikirkan tentang masa laluku. Sampai kapan aku harus terkungkung dan meratapi masa laluku. Aku hidup untuk diriku. Iya aku memang haus akan kasih sayang orang tua yang tidak pernah aku dapatkan. Allah sudah memberikan orang-orang baik dan sayang kepada diriku walaupun aku bukan keluarga mereka tetapi mereka menerima aku, menyayangi dan mencintaiku aku. Ya Allah, terima kasih untuk semua cobaan yang Engkau berikan. Dan sekarang ada Budi yang mencintaiku tetapi aku takut karena aku bukan siapa dan apa. Aku adalah Rena dan aku bukan Thelma. Siapapun orang tuaku yang tidak menginginkan keberadaan ku, aku tetap mendoakan dan menyayangi mereka. Rena bertekad dalam hati sampai akhirnya ia tertidur.


Jam 8 00 Budi baru sampai rumah. Bibi membuka pintu untuk Tuannya.


"Bi, Rena mana?"


"Masih tidur Tuan, kelihatan capek sekali. Tadi bibi coba membangunkan Non Rena tapi tidak bangun".


"Ya sudah biar saya saja yang membangunkan Rena, saya mau mandi dan ganti baju dulu, tolong disiapkan makan ya Bi, terima kasih".


Budi segera ke kamarnya, dan mandi. Selesai mandi dan berpakaian, Budi segera kekamar Rena, Budi mengetuk pintu kamar beberapa kali tidak ada jawaban. Budi membuka pintu dan melihat Rena masih tertidur. Budi mendekati Rena dan mengecup kening dan pipi Rena. Ingin rasanya Budi mencium bibir Rena, tapi ia tidak mau mengganggu tidur Rena. Budi bangkit berdiri, dan tangannya dipegang Rena.


"Budi, baru pulang? Maaf aku ketiduran. Jam berapa sekarang?


"Sudah jam 9.00. Kamu belum mandi, ayo bangun dan mandi. Biar kelihatan segar dan tidak seperti bunga yang layu. Bibi sudah menyiapkan makan malam, jangan kelamaan mandinya nanti makanannya dingin. Aku tunggu di meja makan".


Budi segera keluar dari kamar Rena dan menunggu Rena dj meja makan. Tidak berapa lama Rena menyusul Budi yang sudah menunggunya. Mereka makan dengan diam.


"Budi, habis ini aku bisa bicara sama kamu? Ada yang ingin aku sampaikan sama kamu mengenai kita".


"Ok, mau bicara dimana? Di ruang tamu, di kamarmu, di teras atau kita keluar?


"Di teras saja, tapi aku minta waktu setengah jam. Aku mau ke kamar dulu".

__ADS_1


" Ok, aku tunggu ".


Rena masuk ke kamarnya. Ia berusaha menenangkan hatinya untuk mengatakan kepada Budi. Rena tidak dapat berandai-andai dengan jawaban Budi nantinya. Life must go on.


__ADS_2