
"Hallo selamat siang Rena?"
"Hallo Bagas, siang juga."
"Rena, aku mau ketemu nanti after office hours bisakah?"
"Bisa, jam berapa enaknya?"
"Aku ngikut jadwalnya bu bos, Rena."
"Halah, kamu itu menelpon aku buat nyindir aku atau memang mau bertemu aku?"
"Tetap galaknya tidak berubah kamu, Rena."
"Ya sudah kalau tidak di jawab?
"Iya Rena, aku mau bertemu kamu. Jam 7 di union, ok kah?"
"Ok, so see you later ya. Aku masih ada meeting."
"Ok Rena, thank you, bye."
"Bye Bagas."
Rena meeting internal dengan para BOD dan manager. Bu Tita, Bu Elice dan Bu Asha akan keluar negri selama 2 Minggu karena salah satu anak Bu Elice menikah. Selama 2 Minggu segala hal yang berurusan dengan kantor diserahkan ke Rena.
Which is selama 2 Minggu ke depan pekerjaan dan tanggung jawab Rena akan semakin besar.
Selesai meeting, Rena harus menyelesaikan segala hal yang berkaitan dengan keuangan.
Jam 6 sore, Rena sudah keluar kantor dan pergi ke union untuk bertemu dengan Bagas.
Jam 7 lewat, Rena baru sampai. Teenyata Bagas sudah di union.
"Maaf aku telat."
"Ngga papa Rena. Aku masih setia nunggu kamu."
"Ada apa Gas, tumben ngajak ketemuan."
"Ya aku mau ketemu kamu. Aku boleh jujur?"
"Ya silakan saja."
"Aku kangen sama kamu Rena."
__ADS_1
"Ya sama. Aku juga kangen kamu Gas. Ngomong-ngomong gimana kabar Tanti dan anak?"
"Mereka baik. Tapi aku sudah cerai dengan Tanti."
"Loh kenapa bercerai? Kok bisa?"
"Ya, bisa. Pada akhirnya ketahuan semuanya. Tanti menikah sama aku dalam kondisi hamil. Dan termyata kehamilannya bukan sama aku melainkan sama pria lain. Dan Tanti mengakui bahwa ia ingin kamu hancur saat aku menikah dengan Tanti. Dan saat itu sebenarnya aku yang hancur karena aku kehilangan orang yang aku sayangi dari sejak SMEA."
"Oh ok. Maaf, aku tidak tahu kamu bercerai dengan Tanti. Sudah berapa lama kamu bercerai dengan Tanti?"
"Seminggu yang lalu. Dan aku yang meninggalkan rumah. Aku sekarang tinggal sama orang tuaku dulu. Aku masih bertanggung jawab untuk memberikan biaya buat anaknya Tanti."
"Ya baguslah. Setidaknya Tanti tahu, walaupun itu bukan anakmu tapi kamu mau bertanggung jawab untuk membiayai hidup anaknya."
"Ya, anak itu kan tidak salah. Anak itu juga tidak bisa memilih orang tuanya siapa. Mungkin sekarang Tuhan memberikan aku kesempatan untuk kembali kepada seaeorang yang aku sayangi dan cintai."
"Ya sudah, kejarlah cintamu itu. Setidaknya perempuan itu tahu bahwa kamu masih sayangi dan cintai sama dia. Dan dia harus tahu mengenai ceritamu agar ia tidak merasa habis manis sepah dibuang. Kesempatan tidak datang dua kali Gas."
"Iya, aku tahu. Masalahnya perempuan ini apakah mau denganku? Dengan status aku saat ini duda anak satu? Aku tidak yakin Dan pastilah banyak pertimbangan jika dia menerima aku? Itu yang aku bingung harus mulai dari mana?"
"Bagas, kamu tidak akan tahu sebelum kamu coba dan bicara jujur dengannya."
"Permasalahannya perempuan itu semakin sulit aku gapai. Dan posisi dia di perusahaan sudah tinggi. Aku selalu mengikuti dan mencari tahu tentang dirinya."
"Tidak ada kata sulit selama kamu mau berusaha. Dan kamu bilang posisi dia dj perusahaan sudah tinggi? Buat aku itu hanya posisi dan tanggung jawab pekerjaan. Kalau memang kami niat mendapatkan kembali perempuan itu yah kamu harus berjuang untuk meyakinkan dirinya bahwa kamu memang sayang dan cinta kepada perempuan itu. Tetapi sebelumnya kamu harus berdamai dengan dirimu dulu. Jangan sampai hanya pelampiasan sesaat, karena perempuan itu tidak tahu."
"Takut kenapa? Takut akan ditolak? Belum mencobakan? Kamu laki-laki dan pernah menikah. Jangan pernah takut untuk memperjuangkan apa yang kamu inginkan. Karena jika kamu tidak mencoba akan menjadi penyesalan seumur hidupmu. Aku bicara tidak untuk masalah hati tapi dalam segala hal. Don’t let mental blocks control you. Set yourself free. Confront your fear and turn the mental blocks into building blocks."
"Iya Rena. Aku memang harus mencobanya dan membuang semua ke kuatiranku."
"That's good. Bagas aku lapar hahahah. Aku mau pesan makan. Kamu mau pesan apa?
"Apa saja."
"Lah, kok apa saja? Ya kamu pilih sendiri makananmu."
Rena memesan makanan. Mereka masih menunggu makanannya.
"Rena, kamu mau tahu siapa perempuan itu?"
"Bagas, aku tidak perlu tahu siapa nama perempuan itu. Aku bukan tipe orang yang ingin tahu mengenai kehidupan orang lain."
"Kamu ngga penasaran, kan aku bilang dari sejak SMEA?"
"Ngga, karena itu urusan hati kamu. Kenapa memangnya? Kamu mau aku bertanya-tanya dan menduga-duga siapa perempuan itu dan aku jadi cemburu? Hahahhahaha, bukan masanya lagi Bagas? Urusanku saat ini adalah mengenai hidup ke depannya dan bekerja keras."
__ADS_1
"Memangnya kamu tidak ingin punya pacar, menikah, punya anak?"
"Aku ngga munafik, keinginan itu ada. Kondisinya yang akan jadi pasanganku nanti apakah ia mau menerima latar belakangku? Mungkin ia mau tapi apakah keluarganya mau? Belum tentu. Kenapa? Kamu mau balikin omonganku, kalau tidak dicoba tidak akan tahu?"
"Hahahhahaha, kamu selalu bisa menebak pikiranku Rena. Sepertinya kita satu frekuensi."
"Iya satu frekuensi karena dari sejak sekolah kita bisa dekat sampai akhirnya kamu sama Lulu dan berakhir dengan Tanti."
"Malam Bu Rena, apakah saya mengganggu kalian?"
"Malam Pak Ananta. Tidak mengganggu sepanjang hanya mengucapkan selamat malam."
"Oh ok, saya mau mengucapkan selanat kepada Bu Rena atas terpilihnya perusahaan Bu Rena untuk tender besar kemarin."
"Terima kasih Pak Ananta. Semesta lagi berpihak sama saya Pak. Karena yang sudah-sudah perusahaan Pak Ananta yang selalu mendapatkan tender. Bisa jadi nanti saya akan minta bantuan Pak Ananta karena Pak Ananta sudah terbiasa mendapatkan tender-tender besar sedangkan perusahaan dimana saya bekerja saat inj, baru pertama kali ini dapat tender besar"
"Ah, Bu Rena terlalu merendahkan diri. Mungkin next kita bisa jadi rekanan bisnis."
"Eh iya, silakan duduk Pak Ananta. Dan kenalkan inj teman saya."
"Terima kasih Bu Rena, saya sedang menunggu teman saya. Dan perkenalkan Pak Bagas, saya Ananta."
"Saya Bagas, Pak. Salam kenal."
"Bu Rena, saya permisi. Teman-teman saya sudah datang."
"Baik Pak Ananta."
Ananta meninggalkan Rena dan Bagas.
"Rena, kamu menang tender apa?"
"Tender untuk pengadaan barang."
"Hebat kamu Rena."
"Aku ngga hebat Bagas. Teamku di kantorlah yang hebat. Aku hanya menyampaikan pesan yang diberikan oleh teamku. Selanjutnya yang memproses yah klien. Jadi sukses tidaknya harus ingat ada team yang mensupport."
"Intinya hebat. Kamu hebat dan teammu juga hebat. Salut aku sama kamu Rena. Selalu bekerja dengan baik dan tidak setengah-setengah."
"Makasih Bagas."
Makanan mereka pun datang.
"Makan dulu Gas, aku habis ini langsung pulang."
__ADS_1
"Iya Rena."