
Bagas sudah sampai rumah dan makanan yang tadi mau diberikan oleh Rena diberikan kepada pemulung yang dilihatnya di jalan.
"Bagas, kamu kenapa? Pagi-pagi kok sudah kesal?"
"Ngga ada apa-apa Ma. Hanya kesal saja perempuan yang aku sayangi dan cintai dari sekolah sudah berubah banyak."
"Kok jadi nyalahin orang? Kamu sendiri juga sudah banyak berubah. Dengan semua masalah yang kamu alami. Perempuan yang kamu cintai dan sayangi pasti juga sudah berubah banyak dengan masalahnya yang kamu tidak ketahui. Jadi jangan pernah menyalahkan orang lain. Kamu sendiri gimana? Tanya sama dirimu sendiri?"
"Iya Ma, aku tadi ke rumahnya dan bawa makanan untuk kita sarapan bareng. Ternyata dia sudah makan dan dia tidak mengijinkan aku masuk karena dia bilang dia capek. Memang sih semalam aku sudah ketemu sama dia sampai jam 11 malam. Dan dia kelihatan capek sekali apa lagi.... "
"Nah... nah... kamu ngga usah jelasin. Dari situ harusnya kamu berpikir. Dia pulang kerja sudah capek, ketemuan sama kamu dan sampai rumah belum tentu dia langsung bisa tidur?
"Mama jadi bela dia sih? Apa salahnya keluar sebentar dan terima makanan yang aku bawa setelah itu dia mau buang atau di makan sama pembantunya juga tidak papa. Pakai bilang mubazir kalau di terima dan ia suruh aku kasih makanan itu sama orang yang aku temuin DJ jalan. Harusnya kan bisa dong hargai pemberian orang!"
"Bagas, logika kamu sudah mati ya? Dia sudah bilang capek dan dia bilang dia sudah makan, dan dja bilang mubazir. Dia minta sama kamu untuk berikan ke orang lain yang kamu temui di jalan. Dia perempuan yang cerdas, tidak serakah karena sudah mendapatkan haknya dan ia berbagi kepada sesama melalui kamu."
"Tapi Ma?"
"Sudah Bagas. Mama sudah bisa menilai bahwa logika kamu mati dan kamu tidak punya empati lagi terhadap sesama. Kamu maunya dimengerti tapi kamu tidak mau mengerti orang lain."
"Mama, ada apa sih Ma, masih pagi sudah marah-marah sama Bagas?"
"Tanya saja sama anak papa. Sejak urusan sama Tanti dan akhirnya bubar, Bagas balik lagi seperti anak kecil."
"Papa tadi sempat dengar. Perempuan yang kamu maksud itu Rena bukan? Kalau iya hahahaha, kamu terlalu menuntut dia."
"Maksudnua papa? Rena yang tinggal sama bosnya papa dulu? Pak Bram? Teman kerjanya Tanti?"
"Iya Ma, Rena sekarang punya posisi sebagai wakil direktur. Dan pekerjaannya banyak. Jadi wajar kalau Rena capek. Sabtu Minggu pasti dia ingin istirahat dari rutinitasnya. Kalau kata anak-anak muda "me time". Jadi kalau Bagas masih cinta dan sayang sama Rena. Bagas harus bisa menempatkan dirinya di posisi Rena."
"Tapi pa, harusnya Rena jangan begitu dong! Sombong dia kalau ternyata benar dia sudah jadi wakil direktur!"
"Hei, hei, kenapa kamu jadi pria egois. Ingat, kalau kamu mau dekat lagi dengan Rena. Kamu harus buktikan bahwa kamu bukan laki-laki aji mumpung. Laki-laki yang memanfaatkan posisi atau jabatan atau kedudukan wanita yang lebih tinggi."
"Maksud Mama?"
__ADS_1
"Ya kamu harus bekerja lebih baik lagi bukan sekedar cinta dan sayang. Karena tipe perempuan seperti Rena adalah tipe yang menginginkan suami yang bisa diajak bertukar pikiran, bisa support, bisa mengayomi dan bisa membimbing dan menerima dia sebagai dirinya sendiri bukan karena jabatan, posisi ataupun kedudukan dia di kantor. Rena tidak butuh laki-laki yang egois, laki-laki yang memanjakan dja dengan kemewahan. Laki-laki yang menuntut. Karena tanpa laki-laki pun dia bisa berdiri sendiri. Terdengar terlalu sempurna. Tapi itulah perempuan. minta diperhatikan bukan uang bukan harta tapi perbuatan. Bagi Rena, tidak ada uang tidak masalah, uang bisa dicari. Menerima dirinya dan memperhatikan sudah cukup."
"Begitu Ma?
"Ya coba saja. Rena perempuan yang apa ada nya. A ya bilang A, B ya bilang B. Dan dia menghargai dan menghormati pendapat orang lain"
"Ya benar yang Mama bilang. Karena papa tahu gimana Rena dalam bekerja. Papa sudah berapa kali bekerja sama dengan perusahaan Rena dan ia adalah PIC di perusahaannya selain Bu Tita, Bu Elice dan Bu Asha."
"Semakin berat."
"Tidak ada yang berat selagi kamu mau berusaha dan perbanyaklah doa, sholat yang rajin dan tahajud."
"Bagas, makanannya mana?"
"Udah Bagas kasih ke pemulung, Pa."
"Oh ya sudah, papa sudah makan kok. Hahahahha."
Rena tertisur sampai menjelang makan siang.
"Rena bangun. Rena. Rena. Mbok biasanya Rena kalau di bangunkan susah seperti ini?"
"Ngga tuan. Biasanya non Rena cepat bangunnya. Apa mungkin terlalu capek ya. Karena tadi pagi Mbok kasih tahu non Rena. Kemarin itu ada 2 perempuan yang datang. Mereka bilang nya kakak dan adiknya non Rena. Sebentar tuan. Tadi pagi non Rena taruh suratnya diatas meja telpon. Sebentar Mbok ambilkan."
"Ya Mbok terima kasih."
Mbok keluar ruangan. Ancis duduk di pinggir tempat tidur. Mbok memberikan suratnya kepada Ancis. Belum sempat Ancis membaca, Rena mengigau. Surat tersebut Ancis masukkan ke dalam saku celananya.
"Ampun ayah, Rena ngga ambil ice cream kakak. Rena lewat buang sampah tiba-tiba ice cream kakak jatuh. Sakit ayah, Rena jangan dipukul terus ayah. Sakit ayah.. sakit ayah... Rena lapar ayah. Rena mau makan. Sakit ayah...ampun ayah... ampun."
Ancis melihat air mata mengalir dari mata Rena yang tertutup. Ancis berusaha membangunkan Rena. Tetapi Rena tidak bangun. Mbok yang baru masuk langsung menangis melihat Rena.
"Non Rena, bangun non. ngga ada lagi yang akan mukulin non Rena. Non, bangun non."
Ancis segera memeluk Rena erat dan mencium pucuk kepala Rena. Rena tetap masih teriak kesakitan. Rena mengigau kembali setelah sekian lama."
__ADS_1
Ancis semakin mempererat pelukannya. Mbok keluar untuk mengambil kopi buat Rena.
Tidak berapa lama Rena terbangun karena Ancis mencium dan menggigit kecil bibir Rena.
Rena kaget dan berteriak kencang. Membuat Mbok dan Pak Mastar yang sedang makan berlari tergopoh-gopoh.
"Ancis! Mbok... Mbok....!"
Ancis melepaskan pelukannya.
"Non Rena. non Rena sudah bangun? Alhamdulillah ya Allah. Mbok takut non Rena sakit. Karena tadi non Rena ngigau."
"Mbok, kok Ancis disini?" Saya ngigau apa Mbok?"
"Ngigau seperti dulu waktu awal-awal non Rena tinggal di sini saat kelas 6 sd. Non ngga sakit kan?"
"Ngga Mbok. Mbok, saya minta kopi dingin boleh?"
"Iya non, sebentar mbok ambilkan."
"Pak Mastar, maaf yah sampai buat Pak Mastar ke kamar saya."
"Ngga papa non. Saya dan mbok takut non Rena sakit. Kalau gitu saya permisi keluar."
"Iya Pak Mastar, terima kasih."
"Sama-sama non Rena."
"Ancis, kamu kenapa disini? Dan apa yang tadi kamu lakukan ke aku?"
"Kamu ngigau Rena, aku dan mbok sudah berkali-kali membangunkan kamu. Tapi kamu tidak bangun-bangun. Aku peluk kamu, tapi kamu tetap ngigau, akhirnya aku cium bibir kamu dan aku gigit bibir kamu, alhamdulillah kamu bangun."
"Oh, jadi bangunkan aku harus dicium dan di gigit gitu? Kamu cari kesempatan?"
"Ngga, bukan gitu. Aku dan mbok kuatir sama kamu. Dan kamu juga menangis. Makanya aku peluk kamu."
__ADS_1
"Oh ok."