
Rena sudah selesai mandi dan memakai baju. Rena melihat ada 1 pesan dari Bagas dan nanti setelah Bagas pergi, Rena harus ke ATM untuk transfer uang ke rekening ayahnya. Bagas ternyata sudah di depan.
"Pagi Gas, maaf aku baru selesai mandi tadi". Rena memberitahu Bagas
"Heeh, ini dimakan buburnya Ren, keburu dingin ngga enak. Makan disini saja barengan sama aku, tadi aku beli 2 satu untuk kamu dan satu untuk aku. Makan yah, terus minum obat dan istirahat. Biar besok bisa masuk kerja".
"Katanya suruh cepat makan, tapi kamu ngomong terus beneran dingin ngga bisa di panasin ini bubur, gimana sih? "
Bagas hanya nyengir lihat Rena yang komplain.
Rena dan Bagas makan bubur, setelah itu Rena masuk ke kamar untuk minum obat. Bagas nasih menunggu di luar.
"Gas, kamu sudah mau pulang, maaf bukannya mau ngusir tapi katanya aku suruh istirahat, makasih banyak...
Belum selesai Rena bicara handphonenya berdering dan Rena mengangkat telpon yang ternyata dari kakaknya.
"Jangan lupa uang yang 10juta ditransfer hari ini, kata Ayah itu uang untuk pengobatan Ayah ke dokter kemarin sedangkan uang untuk ganti ngurusin kamu nanti. Ditunggu sekarang!" ujar Kakak dengan ketus.
"Iya Kak, ini aku baru mau jalan ke ATM, butuh waktu untuk ke ATM Kak, kalau sudah, nanti aku kabarin".
"Cepaaattt!!!! " Kakak berteriak
Belum sempat Rena membalas, telpon dari kakaknya sudah mati.
"Ren, kenapa?" Bagas sempat mendengar pembicaraan kakaknya Rena karena berbicara sambil teriak.
"Ngga papa Gas, eh kamu sudah mau pulang yah. Ya sudah hati-hati yah Gas".
"Aku antar kamu ke ATM, ayo". ajak Bagas
"Iya, aku ambil tas dulu, tunggu sebentar Gas".
"Sudah, ayo naik motor pelan-pelan, perut kamu masih sakitkan?"
__ADS_1
"Udah mendingan Gas".
Tidak sampai 10 menit mereka sudah sampai di ATM. Dan Rena mengambil kartu yang diberikan sama Om Bram dan saat melihat saldonya dia kaget. Ada uang dalam jumlah besar. Rena segera mentransfer uang yang diminta ayahnya, dan memberitahu kakaknya bahwa sudah ditransfer.
Saat Rena mau naik ke motor, ada 1 pesan dari kakaknya.
"Ternyata benar dugaanku kamu simpanan bos atau simpanan om-om kaya. Dasar pelacur!'
Rena berusaha menahan airmatanya agar Bagas tidak heran dan bertanya. Hatinya sakit membaca pesan dari kakaknya.
"Kenapa Ren?" tanya Bagas yang melihat Rena tidak jadi naik motor dan sedang membaca pesan di handphone Rena.
"Aku baca pesan dari kakakku Gas, tadi aku sudah info dia kalau aku sudah transfer?"
"Tapi muka kamu terlihat sedih Ren, ada apa sebenarnya Ren, ceritalah Ren, kalau aku bisa bantu, pasti aku bantu". Bagas berusaha membujuk Rena agar cerita apa masalahnya yang sedang dihadapi Rena sampai perutnya harus memar seperti itu.
"Gas, mampir sebentar ke warung yah, aku mau beli kopi dari kemarin aku belum ngopi?" Rena berusaha mengalihkan pembicaraan Bagas.
"Iya, makasih Gas?" Rena tidak mau berdebat dengan Bagas.
Aku harus menyimpan uang dari Om Bram, banyak sekali tabungan yang dikasih Om Bram ke aku. Tuhan kenapa malah orang seperti Om Bram dan Tante Silvani juga Novi yang sayang sama aku. Kenapa keluargaku malah sebaliknya? Tapi biar bagaimanapun Ayah dan Ibu juga Kakak dan adik-adikku adalah keluargaku. Sesakit apapun yang mereka berikan kepadaku tidak akan merubah rasa sayang dan cintaku kepada mereka.
"Ren, Renaaa, Renaaa, sudah sampai kostmu. Kamu kok melamun sih? Rena, please aku mohon kamu cerita sama aku".
"Eeh, iya Gas, nanti aku cerita. aku turun dulu. Oh iya ini uangnya aku titip beliin kopi yang sachet yah kopi hitam tapi".
"Iya, sudah sana masuk, nanti aku kesini lagi bawa kopi. Uangnya kamu simpan, pakai uang aku aja".
"Makasih Gas".
Bagas melihat Rena masuk ke dalam kost dan pergi untuk membeli kopi titipan Rena sekalian Bagas membeli cemilan. Bagas ingin menemani Rena hari ini. Bagas ingin melihat wajah Rena yang tidak menahan sakit seperti kemarin sampai membuat dirinya kuatir. Bagas ingin melihat Rena tersenyum seperti kemarin yang memang jarang sekali ditunjukkan oleh Rena. Kenapa kakaknya minta uang segitu besar sama Rena, dimana orang tua Rena tinggal dan kenapa harus ditransfer? Apakah keluarganya Rena tinggal di luar kota? Ayahnya Rena sakit, sebenarnya sakit apa? Kakaknya Rena kenapa galak sekali sama Rena? Aku hanya mendengar samar-samar tapi saat selesai menerima telpon dari kakaknya ada kesedihan yang mendalam dimuka Rena dan seperti terluka. Ada banyak pertanyaan yang muncul di kepala Bagas.
Handphone Rena berdering dan ia melihat nama Bagas
__ADS_1
"Rena, aku sudah di depan nih".
"Ok, Gas".
Rena membasuh mukanya supaya tidak terlalu kelihatan sama Bagas bahwa ia sedang menangis.
Rena keluar menemui Bagas diteras.
"Kamu habis nangis Ren? Ada apa sih Ren, ceritalah, supaya bebanmu berkurang, yah mungkin hanya sedikit biar kamu ngga stress. Kamu cantik, tinggi, tapi jarang senyum, orang jadi takut lihat kamu yang untuk senyum saja susah". Bagas berbicara seraya memberikan kopi yang Rena minta dan kantong plastik yang isinya gorengan dan biskuit.
"Loh kok sudah diseduh kan aku minta yang sachet?"
"Dilihat dulu di plastik yang isinya gorengan dan biskuit itu ada kopi sachet. Tadi aku mampir sebentar ke Dome, dan mereka baru buka, aku pesen kopi hitam buat kamu".
"Tuhkan jadi merepotkan kamu, makasih yah Gas. Aku masuk kedalam dulu ambil piring buat gorengan".
"Ngga usah, langsung saja dimakan, ngga perlu pakai piring". Bagas menahan Rena yang hendak masuk ke dalam.
Rena meminum kopinya dan Bagas memandangi muka Rena yang masih sembab.
"Ren, besok kamu yakin bisa masuk kerja? Kondisi kamu masih sakit gitu, kamu jalan saja masih meringis kesakitan. Kalau kamu belum sehat lebih baik ngga usah masuk kerja dulu".
"Aku tetap masuk kerja Gas, masa baru Terima gaji terus aku ngga masuk kerja. Aku akan hati-hati. Aku sudah biasa dari kecil badanku lebam ataupun memar aku tetap masuk sekolah dan sesakit apapun aku tetap sekolah dan bekerja karena kalau tidak aku pasti dimarahin Ayah dan dipukul ataupun ditendang dan bisa dilempar bangku plastik sama Ayah". Rena tidak sadar mengatakan hal tersebut kepada Bagas, sampai Bagas terkejut mendengar omongan Rena. Dan Rena masih asik dan menikmati kopinya.
"Maksud kamu Ren? Kamu dipukulin Ayahmu? Jadi yang buat perut kamu memar sampai merah itu Ayahmu?" Terlihat kemarahan dimuka Bagas saat bicara.
"Ups kok aku ngelantur ngomongnya. Enggak kok Gas, aku kemarin itu jatuh dan perut ku kena aspal, jadinya memar". Besok aku bisa kerja, Bagas. Sudah jangan terlalu kuatir sama aku". Rena berusaha menenangkan Bagas.
"Ren, aku tahu kamu masih menutupi dan belum mau cerita,, tapi karena hatimu terluka dengan siapapun itu, tanpa sadar kamu cerita. Aku tidak mau menduga-duga. Perbanyaklah sholat ataupun doa supaya luka bathinmu bisa sembuh. Aku memang bukan pacarmu, tapi kamu tahu bahwa aku sayang dan cinta sama kamu. Aku bisa merasakan kesedihan dan luka batinmu. Kapan pun Ren, kapan pun kamu mau cerita, aku siap mendengarkan".
"Iya Gas, terima kasih sudah sayang dan cinta sama aku, tapi aku belum bisa membalas perasaanmu. Biarlah berjalan seperti ini dulu yah Gas. Kamu ngga papakan?"
Bagas menganggukkan kepalanya dan tersenyum kepada Rena. Rena pun tersenyum walaupun dengan meringis karena menahan sakit.
__ADS_1