
Rena bangun jam 4 pagi untuk sholat. Ia mengambil sajadah dan mukenanya di tas. Sebelum wudhu, Rena membangun Ancis untuk sholat. Kemudian Rena mengambil wudhu lalu Ancis. Merela sholat subuh bareng.
"Rena, kamu mau pulang jam berapa?"
"Setelah sholat maghrib bisa?"
"Bisa. Kalau gitu aku lanjutan tidur ya."
"Ok."
Jam 6 pagi, Rena keluar menikmati udara pagi. Ia melihat pantai dan membuat dirinya merasa happy dan tiada beban.
"Nanti malam aku balik lagi ke kehidupan nyata dengan segala rutinitas dan cinta. Hah cinta, apa aku terlahir dari cinta kedua orang tuaku? Apa mereka berusaha mencari aku? Kenapa mereka menukar aku dengan hutang? Haruskah aku yang mendapatkan karma kedua orang tuaku? Tapi, aku mencintai mereka, apapun yang mereka lakukan, aku tetap mencintai orang tuaku yang aku lupa bentuk wajahnya mereka? Ayah dan ibu, keluarga yang membesarkan aku tanpa cinta dan kasih sayang yang aku harapkan seperti anak-anak yang lain? Allah kasih aku keluarga, Om Bram, Tante Silvani, Novi, Dian, mereka ada dan selalu ada untuk aku. Tapi bolehkah aku mendapatkan perhatian, kasih sayang dan cinta dari kedua orang tuaku? Bagas, sudah aku kubur rasa cintaku yang dulu sempat ada. Digantikan Budi, aku berusaha untuk mencintai Budi, pada saat cintaku tumbuh dan berkembang ternyata dihempaskan karena bibit, bebet dan bobot. Ingin rasanya mempunyai seseorang yang sayang, cinta sama aku tanpa memandang aku ini apa dan siapa? Tetapi tidak ada, semuanya pada akhirnya hanya akan memandang aku inj apa? aku ini siapa?"
Life must go on Rena. Lihat ke depan. Dan jangan menengok ke belakang lagi. Kalau lihat ke depan ngga nengok-nengok , bisa jatuh, bisa kejeduk. Hahahaha, konyol kamu Rena. Aku mau bangunin Ancis, aku mau berenang lagi. Rena menarik napas dalam-dalam
Rena berbicara dengan dirinya sendiri dan Ancis mendengar semuanya tanpa Ren sadari. Saat Rena menarik napas, Ancis segera berlari ke tempat tidurnya.
Ancis mengucek-ngucek matanya.
"Ancis ayo bangun, matanya jangan dikucek-kucek nanti perih."
"Hoaaammmm, kenapa teriak-teriak sih. Ini masih pagi Rena, aku masih ngantuk." Ancis berpura-pura.
Rena duduk diatas kasurnya dan mengambil handphone.
"Ngapain megang handphone?"
"Lagi cek email, takutnya ada kerjaan yang terlewat untuk besok?"
"Bisa ngga jangan pegang handphone dan kerjaan dulu. Kamu masih liburan. Nikmati dulu liburanmu. Nanti malam sampai rumah baru cek email, cek kerjaan. Biar ngga stress."
"Makanya, ayo renang. Diajakin renang ngga mau malah tidur-tiduran."
Ancis segera loncat dari tempat tidurnya dan langsung mencium pucuk kepala Rena.
"Yaaaaa, rambutku bau deh. Kamu belum mandi, belum sikat gigi. Hadeuuuh."
"Ayo." Ancis menarik tangan Rena dan berlari keluar. Mereka akhirnya berenang.
"Ancis, aku lapar."
"Ayo kita keluar dari pantai, mandi dan makan."
"Iya, berarti bukan sarapan tapi brunch baru jam 9 pagi.
"Tunggu dulu. Siapa yang cepat sampai kamar, dia duluan yang mandi."
__ADS_1
"Caranya?"
"Dengan lari." Dan Ancis sudah berlari duluan.
"Ancis, kamu curang!"
Rena berlari mengejar Ancis. Dan yang sampai duluan Ancis, segera masuk kamar mandi.
Rena menunggu Ancis selesai mandi. Kemudian Rena mandi. Setelah itu mereka memesan makanan.
"Ancis, aku ngantuk. Aku tidur dulu yah."
"Iya sama."
Habis berenang, makan dan tidak berapa lama Rena sudah tertidur.
Ancis memandang Rena yang sudah tertidur. Ancis masih mengingat perkataan Rena tadi pagi. Rena berbicara dengan dirinya sendiri. Rena tidak tahu bahwa Ancis sudah bangun. Setidaknya Ancis tahu apa keinginan Rena walaupun Ancis tidak yakin.
Ancis menitikkan air matanya saat mengingat semua omongan Rena tadi dan tulisan Rena di buku kecil milik Rena.
"Rena, aku janji akan mencari keberadaan orang tua kandungmu. Jika mereka sudah meninggal, aku akan cari dimana kuburannya. Biar kamu merasa lega dan tidak mempunyai beban hidup masa lalumu." Ancis membatin.
Ancis menelpon seseorang dan memberikan perintah kepada orang itu. Ia mengirimkan photo dan alamat keluarga angkat Rena.
Ancis berharap orang suruhannya dapat segera menemukan orang tua kandung Rena.
"Iya Ancis. Aku bangun. Aku bangun."
"Ayo cepat bangun, kita makan di tempat lain. Bosan menunya yang biasa kita makan."
"Memang mau makan apa?"
"Ngga tahu juga sih. Kamu sendiri gimana?"
"Baru bangun di tanya mau makan apa? Nyawa aja belum ketangkap semuanya?"
"Emang kamu punya berapa banyak nyawa? Nyawa belum ketangkap semuanya. Ada-ada saja."
"Ada 9 dibagi 15"
"Maksudnya?"
"Nyawa kucingkan 9. Nah 1 tahun kucing itu 15 tahun manusia."
"Terus hubungannya apa manusia sama kucing?"
"Hubungannya ngga ada, kecuali kalau manusia suka memelihara kucing baru ada hubungannya."
__ADS_1
"Hubungannya apa?"
"Ya, rasa sayang, perhatian, cinta, merawat, memelihara, memberikan tempat tinggal."
"Sewanya per bulan berapa?
" Ya tergantung, kalau mau all in seumur hidup, kalau seperti teh celup 5000."
Ancis tertawa mendengar jawaban Rena. Sedangkan Rena tertidur kembali. Ancis iseng bertanya kembali dengan Rena dan berharap Rena akan menjawabnya.
"Jadi kamu mau suami yang seperti teh celup atau all you can eat?
"Paketan aja lebih enak."
"Jadi maunya paketan? Paketan murah atau mahal?"
"Sedang-sedang aja jangan regular. Biar lama habisnya?"
"Apanya yang habis?"
"Whiskas. Dicampur sama sop dan nasi. Jadinya kenyang kucingnya."
"huahahahhahahaha... Renaaaa bangun. Udah siang ini." Ancis tertawa dan berteriak di telinga Rena membuat Rena lompat karena kaget dan jatuh dari tempat tidur.
"Auuuwwww, sakit Ancis! Kamu kenapa teriak di telingaku! Aku sampai kaget. Bangunin orang ngga seperti itu caranya.
Ancis yang melihat Rena melompat kaget dan jatuh dari tempat tidur makin puas tertawa. Dan mendekati Rena yang jatuh kemudian menggendong Rena.
"Hei lepasin, lepasin aku! Kalau ngga aku teriak nih."
"Teriak saja. Cottage yang lainnya sudah kosong, jadi ngga ada yang dengar kamu teriak. "
"Lepasin Ancis, turunin aku! To.... "
Belum sempat berteriak minta tolong Ancis mencium bibir Rena dengan lembut."
Rena meronta dan memukul dada Ancis. Akhirnya Ancis menurunkan Rena dari gendongannya.
"Rena, maaf aku tadi gemas lihat bibir kamu. Aku ngga tahan mau cium bibir kamu. Maaf Rena. Maafin aku."
"Iya. Ancis kita pulang sekarang saja. ngga jadi habis maghrib. Aku lupa nanti jam 5 aku ada janji ketemu sama Bu Tita."
"Kok tiba-tiba pulang? Kamu marah sama aku karena aku cium bibir kamu?"
"Apa sih? Ini ada pesan masuk dari Bu Tita tadi pagi aku lupa kasih tahu. Kalau tidak percaya baca saja."
Ancis mengambil handphone Rena dan ada pesan masuk tadi jam 7 pagi dari Bu Tita
__ADS_1
Akhirnya mereka berdua check out dari cottage dan balik pulang.