
"Pagi Pak Mistar, kita ke Perusahaan Ananta."
"Baik Bu."
Pak Mistar melakukan mobilnya ke Perusahaan Ananta. Mereka telah sampai.
"Bu, maaf saya bisa tinggal sebentar untuk beli bensin. Pom bensinnya ada di seberang. Mohon maaf sekali saya kelupaan isi bensin."
"Iya Pak Mistar. Silakan."
Rena masuk ke dalam gedung perkantoran.
"Pagi Pak, mau tanya Perusahaan Ananta lantai berapa?"
"Pagi Bu. Perusahaan Ananta di lantai 9. Ibu ada keperluan untuk bertemu dengan siapa?"
"Dengan saya." Tiba-tiba ada suara menyahut di belakang Rena.
"Pagi Pak Ananta, ibu ini mau ke Perusahaan Ananta."
Ananta menganggukkan kepalanya.
"Pagi Rena, yuk kita keatas. Ke kantorku."
"Mohon maaf Pak Ananta, saya tidak bisa lama. Karena saya ada meeting pagi ini. Saya kesini ingin mengembalikan paketan yang Pak Ananta kirimkan ke saya."
Ananta mengajak Rena menyingkir agak jauh dari meja front office gedung.
"Maksudnya apa?"
Rena melihat Pak Mistar dan mobilnya sudah di depan.
"Saya mengucapkan terima kasih atas kebaikan Pak Ananta telah mengirimi saya paket berupa perhiasan. Dan saya juga mau mengucapkan mohon maaf yang sebesar-besarnya karena saya tidak bisa menerima hadiah dari Pak Ananta. Ada surat di dalamnya untuk Pak Ananta. Silakan Pak Ananta baca. Dan saya harus pergi karena saya ada meeting pagi ini."
Rena meraih telapak tangan Ananta dan memberikan paketan yang ia kembalikan ke Ananta.
Setelah itu Rena segera berjalan cepat dan ja melihat jam, tinggal 15 menit lagi dan ia harus sampai tempat meeting.
"Bu Rena, tunggu. Bu Rena...".
Ananta sempat termangu saat Rena meraih tangannya dan memberikan paketan yang ia kirimkan hari Minggu kemarin. Ananta baru sadar Rena sudah cukup jauh dari ia berdiri. Rena sudah masuk ke dalam mobilnya dan pergi.
"Pak Mistar, bisakah kita ke gedung tugu dalam waktu 15 menit? Mohon maaf saya tadi lama sehingga saya kejar Pak Mistar untuk cepat."
"InsyaAllah bisa non."
__ADS_1
"Baik Pak Mistar, terima kasih."
Rena sampai gedung tugu, Rena segera berlari karena waktunya tinggal 5 menit lagi. Hari ini Rena meeting dengan klien baru.
Rena masuk ke perusahaan yang ia tuju. Kurang 3 menit lagi.
"Pagi Mbak, saya dengan Rena. Hari ini saya ada meeting dengan Pak Vito Maleachi."
"Baik Bu. Mari, Ibu sudah ditunggu."
"Iya Mbak. Terima kasih."
Mbak resepsionis mengetuk ruangan Pak Vito.
"Masuk."
"Pagi Pak Vito, saya mengantarkan Bu Rena."
"Iya Mbak."
"Silakan duduk Bu Rena."
"Terima kasih Pak Vito."
Vito menyelesaikan dokumen yang harus ia tanda tangani.
"Loh Rena? Kamu Rena saudaranya Novi, Tante Silvani dan Om Bram kan?"
"Iya benar. Maaf Pak Vito kenal saya? Maaf kalau saya lupa. Kita pernah bertemu dimana? "
"Aku teman kuliahnya Novi. Kita bertemu saat pernikahan Novi."
"Oh ok, Aku masih coba mengingat karena teman Novi banyak."
"Rena, kamu menyadarkan aku untuk segera menyelesaikan kuliahku dan membantu bisnis orang tuaku. Aku tidak tahu kalau hari ini aku akan meeting dengan kamu untuk event dari Parekraf. Jika kamu tidak keberatan, aku mau berterima kasih karena sejak itu, aku semangat menyelesaikan kuliahku. Aku baru 2 minggu yang lalu sampai Jakarta. Selesai meeting, aku ingin mengajak kamu makan siang. Jangan berpikir macam-macam. Untuk ucapan terima kasih ku sama kamu."
"Oh ok. Sekarang gini saja Pak Vito."
"Panggil Vito saja Rena."
"Ok, sekarang kita meeting dulu untuk event yang dari Parekraf itu, kalau ternyata selesai sebelum makan siang, mohon maaf, aku harus kembali ke kantor karena jam 1 aku ada meeting di tempat lain. Maybe next time, we can arrange for lunch."
"Siap, Bu Wakil Direktur."
Vito dan Rena mempelajarj event yang akan mereka kerjakan untuk Parekraf. Vito kagum dengan kepandaian yang dimiliki Rena. Menekan budget seminim mungkin tetapi bisa menghasilkan keuntungan untuk berbagai pihak. Mereka berdua deal. Vito terlihat puas dan yakin event ini akan berjalan lancar di tangan Rena.
__ADS_1
Hampir 2 jam mereka meeting. Rena melihat jam.
"Vito, untuk saat ini kita sudah selesai meeting dan aku tidak bisa makan siang dengan kamu. Karena aku harus cepat kembali ke kantor dan menyiapkan dokumen untuk meeting jam 1."
"Next saja ya. Gimana?"
"Ok Rena, as you want. Because you are busy woman."
"Ya, definitely I am a busy woman. Cause I am still employee not the owner even tough I have a big responsible more than another employee
"Hahahhaha, me too, same like you."
Rena dan Vito tertawa bareng. Mereka berdua memang mempunyai jabatan tetapi tetap saja mereka adalah pegawai.
"Ok deh Rena, next ya lunch bareng or dinner."
"Sip Vito, terima kasih karena memberikan kesempatan untuk bekerja sama."
"You're welcome Rena."
Rena segera bergegas keluar dari gedung tugu untuk ke kantor dan mengambil dokumen dan menanda tangani beberapa dokumen setelah itu pergi meeting keluar.
Rena, kamu benar-benar perempuan hebat dan taktis, dari semua yang kamu sampaikan untuk event ini saya tahu, akan bisa membuat nama budaya Indonesia dikenal oleh seluruh dunia. Tidak hanya Bali tetapi seluruh Indonesia.
Pantas saja, Tante Silvani dan Om Bram menyayangi Rena seperti anaknya sendiri. Ada mutiara terpendam dalam diri Rena yang belum keluar seluruhnya.
Vito memikirkan Rena yang membuat dirinya semakin kagum terhadap Rena.
Ananta hari ini kehilangan akal sehatnya. Ia menjadi temperamental sejak membaca surat Rena. Semua pekerjaan karyawannya dimata Ananta salah.
"Damn, pantas saja Budi tidak mau melepaskan Rena karena perempuan itu tidak menerima segala bentuk perhiasan. Aku tahu ia bisa dan mampu membeli perhiasan yang aku berikan. Tetapi aku yang bodoh, menganggap Rena seperti perempuan kebanyakan yang akan nurut saat diberikan perhiasan. Dan aku yang bodoh menyamaratakan Rena. Aaaaarrrrrgggghhh."
Pada saat yang bersamaan Budi masuk ke ruang kerja Ananta.
"Jing, masuk ruangan gue ketuk pintu dulu!"
"Gue udah ngetuk berkali-kali, Sampai Juli wakil loe bilang, loe hari ini jadi monster. Ada apa sih?"
Ananta lupa bahwa Budi adalah eks pacar Rena. Ia memberikan surat Rena untuk dibaca oleh Budi dan juga suratnya untuk Rena.
Budi yang membaca kedua surat tersebut membuat mukanya merah menahan amarah kepada Ananta.
"Maksud loe apa? Loe mau nikung gue untuk dapatin Rena! Tadinya gue kesini mau kembalikan mobil sport yang loe kasih. Karena gue tahu itu mobil sport kesayangan loe dan gue ngga pakai. Daripada jadi karatan lebih baik gue balikin mobil sport dan perusahaan loe! Jangan-jangan loe kasih gue mobil dan perusahaan supaya loe bisa pakai sebagai senjata untuk jelekin gue di depan Rena! Gitu maksud loe! Sorry Nas, permainan loe kotor!"
Budi melemparkan kunci mobil sport ke Anas dan melemoar semua dokumen perjanjian penyerahan perusahaan. Budi keluar ruangan Anas sambil membanting pintu kerja ruangan Anas.
__ADS_1
Anas semakin kalap dan marah sama dirinya sendiri dan atas kebodohannya memberikan surat tersebut untuk dibaca oleh Budi.