Anak Terbuang

Anak Terbuang
Rena, Ancis, Budi


__ADS_3

Pagi-pagi Ancis sudah dibangunkan oleh Mamanya.


"Frans, wake up! You must to pick up Rena, You don't remember that?"


"Iya Ma, iya, I am waking up now. Aku ingat Mama, I wanna take a shower first. Then go to pick up Rena".


"Ok then. Don't be late ya."


"Iya Mama Annelise sayang."


Ancis segera bangun dari tempat tidurnya dan masuk ke kamar mandi karena Mama masih berdiri di kamar dan melotot melihat Ancis.


"I am take a shower Mama!"


Selesai berpakaian Ancis turun ke bawah, hanya ada Mama dan Papa sudah pergi ke kantor. Ancis menelpon Budi bahwa ia ada urusan dan akan sampai kantor after lunch.


Jam 08.00 Rena sedang di depan laptopnya di kamar dan melihat banyak email masuk. Novi, Alex masih di hotel. Mama baru saja pergi ke rumah sakit dan Papa sudah sejak tadi pagi berangkat ke kantor.


Rena keluar kamar dan berjalan menuju dapur dan membuat kopiAda pembantu yang hanya bertugas membersihkan rumah setelah selesaj pembantu itu pergi.


Bel rumah berbunyi, Rena membuka pintu, ternyata Ancis yang datang.


"Rena pagi, Mama meminta aku menjemput kamu untuk brunch".


"Pagi Ancis, iya aku ingat. Aku matikan laptop ku dulu karena tadi banyak email yang masuk."


"Rena bawa saja laptopnya dan nanti kerja di kantorku biar kamu dapat suasana baru. Selama disini kamu kan belum kemana-mana?"


"Harus gitu aku kemana-mana? Aku datang kesini untuk pesta pernikahan kakakku Novi dan minggu depan aku sudah balik ke kantor. Banyak kerjaan yang harus aku bereskan di Jakarta."


"Ok, ayo segera berangkat kalau telat Mama bisa teriak sama aku."


"Ya, tunggu sebentar."


Tidak menunggu lama Rena sudah keluar dari kamar, membawa laptop dan tasnya. Rena memoleskan tipis lipstick ke bibirnya.


"Ancis ayo, aku sudah siap. Ancis... halloooo Ancis..... kok malah bengong. Ancis!"


Rena mendekatkan mukanya ke Ancis dan tiba-tiba Ancis menciumi bibir Rena. Rena refleks menampar Ancis.


"Maaf Rena, jujur aku tadi takjub lihat kamu yang cantik, rasanya aku ingin mencium bibir kamu itu".

__ADS_1


"Jangan pernah cari kesempatan Ancis. Karena hari ini aku janji sama Mama mu bukan berarti kamu bisa seperti tadi. Aku bukan pacarmu. Ayo berangkat sebelum telat untuk brunch".


" Maaf Rena, Ayo. Kamu ngga jadi bawa laptopmu?"


"Ngga jadi, aku langsung pulang saja selesai brunch. Aku ngga mau nyusahin orang!"


"Ok Rena, sekali lagi aku minta maaf".


" Ayo jalan".


Rena tidak menggubris omongan Ancis. Rena kesal Ancis seperti itu. Ditambah iya masih kesal dengan kejadian semalam.


Sepanjang jalan Rena hanya diam. Membuat Ancis menjadi serba salah dengan Rena.


"Hallo Rena, you look beautiful and natural dear".


" Thank you Tante. Tante juga cantik sekali."


Mama Annelise mengajak Rena ke halaman belakang yang dipenuhi dengan pepohonan dan disana sudah ada kopi, teh, pillow bread dan cocciolini.


"Kita ngobrol disini saja, lebih sejuk ya".


"Iya Tante, terima kasih untuk undangan brunch ya".


"Kamis minggu depan sudah kembali ke Indonesia, Tante. Kerjaan sudah banyak tidak bisa ditinggal lama-lama".


" Rena, Ancis sudah cerita banyak tentang kamu. Mama dan Papamu juga sudah cerita juga tentang kamu. Tante ingin sekali bertemu dengan kamu. Akhirnya kemarin Tante bertemu dengan kamu, dan Tante senang karena itu Tante mengundang kamu untuk brunch".


"Tante, Rena tidak sehebat yang Mama, Papa dan Ancis ceritakan ke Tante. Rena masih dan harus banyak belajar Tante".


"No Rena, I can see that you are not only clever but you are smart. I can feel it. Even though you said you are nothing. But I can see from your eyes. You are beautiful, pretty and charming".


"Mama, Rena sampai merah mukanya".


"Iya merah lah Ancis, karena Mama mu ketnggian memuji Rena".


" No, definitely No. I tell the truth Rena".


"Ok Tante thank you so much".


" Rena kenapa kamu tidak tinggal di sini saja, dekat dengan Papa dan Mama mu".

__ADS_1


"Belum saatnya Tante, Rena masih punya tugas di Jakarta yang harus Rena kerjakan sampai selesai. Ada masanya nanti Rena akan tinggal di sini. Tapi tidak dalam waktu dekat".


Mereka bertiga ngobrol lumayan lama. Dan Rena pamit pulang. Tetapi Mama Annelise seperti menahan Rena. Sampai akhirnya Mama Annelise ikut mengantarkan Rena pulang.


Rena masuk ke rumah setelah Mama Annelise dan Ancis pergi. Rumah masih sepi. Rena masuk kamar dan merebahkan badannya di kasur. Rena tertidur.


"Ancis, Mama setuju jika kamu mempunyai hubungan dengan Rena".


" Ma, Rena bukan seperti perempuan yang diberikan kemewahan akan nempel. Rena tidak seperti itu".


"Ya I know, Ancis. Mama bisa bilang bahwa Rena anak pintar yang tidak mau memanfaatkan kesempatan walaupun kesempatan itu terbuka lebar. She have a lot of love and respect with others. Otherwise Rena respect with herself".


"Ya Ma. Mama mau kemana? Aku antar, aku mau ke kantor."


"I wanna go home Ancis".


" Ok Mama".


Tidak berapa lama Ancis dan Mama Annelise sampai di rumah. Ancis mengambil tasnya dan mencium pipi Mama.


"Ancis, open your mind and your heart, forget about Rena's past".


" Ya Mama. bye Mama".


Ancis sudah tiba di kantor dan ia tidak melihat Budi di ruangannya. Ancis masuk ke ruangannya dan duduk di kursi lalu membuka laptopnya.


Ancis teringat tadi pagi, Rena menampar mukanya karena ia mencium bibirnya. Sampai saat ini Ancis merasa bersalah dengan Reyna. Ancis teringat akan omongan Budi. Susah untuk menaklukkan hati Rena. Apa lagi dengan kejadian Mamanya Budi yang mempermalukan Rena saat pernikahan Novi. Jangan bilang Aku Francois Gerald jika tidak bisa menaklukkan hati Rena. Aku akan membuat Rena menjadi wanita terhormat, tapi saat ini pun Rena adalah seorang wanita terhormat yang mempunyai martabat dan harkat yang tidak diragukan. Posisi dia sudah tinggi walaopun bukan direktur dan tetap sederhana. Orang tidak akan menyangka dengan style Rena yang sederhana. Ancis berbicara sendiri.


Budi tiba-tiba masuk ruangannya dan mengagetkan Ancis.


"Ketok dulu pintunya, gue kaget tahu"


"Udah gue ketok, loe ngga dengar".


"Oh, ok. Budi sorry gue minta orang tua loe jangan usik Rena. Apa yang jadi keinginan orang tua loe terutama Mama loe sudah terpenuhi. Jujur gue marah sama Mama loe. Pengalaman hidup Mama loe lebih dari kita berdua dan Rena. Tapi Mama loe bukan orang yang berkelas. Kekayaan seseorang tidak menunjukkan kelas atau derajat hidupnya lebih tinggi. Akhirnya orang tua loe malu sendiri saat ada bukti Rena punya posisi dan itu bukan perusahaan Rena pribadi. Beda kalau dia yang punya perusahaan sendiri seperti loe sama gue saat ini, dari awal pasti dia udah jadi direktur atau komisaris. Tapi ini ngga, Rena jalanin semua prosesnya."


"Iya, gue. paham maksud loe. Gue aja belum tentu bisa dapat posisi jabatan seperti Rena. Gue salut sama Rena, kegigihannya ngga ada yang nandingi."


"Satu lagi Bud, kita sebagai anak memang harus taat, patuh dan menghormati juga menghargai orang tua kita. Jaman mereka muda sama jaman kita saat ini beda jauh. Ngga selamanya kan loe di ketek orang tua loe terus. Ada hal-hal yang harus bisa kita pilih dari nasehat atau perintah orang tua. yang baik loe ambil yang jelek loe simpan jangan loe buang at least loe bisa ingat orang tua gue ngga suka sama dia, atas dasar apa? Loe ngga maukan dicap jelek seumur hidup loe atas kesalahan orang tua loe di masa lalu yang loe sendirj ngga tahu? Mau seberapapun usaha loe tapi loe masih dipenjara sama mindset orang tua yang beda jaman ngga akan berkembang. Think out of the book tetap ingat aturan dari orang tua. Tepatnya ingat norma hidup yang diajarkan orang tua ".


" Iya Ncis. Mama gue pengen ketemu Rena dan minta maaf karena selama ini matanya ditutup sama omongan itu perempuan, tunangan gue. Tapi gue ngga yakin Rena mau".

__ADS_1


"Ya loe cobalah temuin Rena, gue rasa Rena pasti mau maafin Mama loe tapi mengenai dia balik lagi sama loe kemungkjnan susah. Tapi loe cobalah".


__ADS_2