Anak Terbuang

Anak Terbuang
Hari pertama kerja


__ADS_3

Rena sedang melakukan psikotes di 3 perusahaan yang berbeda dan meminta dirinya untuk dapat bekerja di salah satu perusahaan tersebut dari hasil psikotes nanti.


"Rena, gimana sudah selesai psikotesnya?" tanya Bagas yang melihat Rena baru keluar dari ruang psikotes.


"Sudah, aku dapat 3 perusahaan untuk psikotes, semoga bisa diterima kerja di salah satu perusahaan. Kamu sendiri gimana? Sudah selesaikan?


Bagas mengangguk, " Ren, aku mau bicara sama kamu bolehkah? Kamu ngga langsung pulangkan?"


"Kamu mau ngomong apa, Gas? Ngomong disini saja, aku mau pulang dan segera ke klinik Tante Silvani". ucap Rena.


"Kita duduk di kantin yuk sambil minum". ajak Bagas


Mereka berdua menuju kantin dan mencari bangku kosong. Hari ini kantin ramaj karena selain yang psikotes juga ada penerimaan murid baru.


"Bagas sayang, kok kamu ngga bilang kalau di kantin juga, aku cariin kamu tadi". Tiba-tiba Lulu menghampiri Bagas dan duduk di sebelah Bagas.


Lulu, teman sekelas Rena dan tidak suka dengan Rena dari sejak kelas 1 melihat kearah Rena dengan pandangan sinis.


" Eh, ngapain ada cleaning service disini. Biar kata kamu pintar dan juara 2 nasional, tetap aja kamu cleaning service. Sana pergi jangan dekat-dekat sama Bagas nanti yang ada bau karena dekat sama cleaning service". Lulu mengusir Rena.


Tina sahabat Lulu memanas-manasi Lulu, "Dia habis psikotes dan cuma dia yang dilihat sama 3 perusahaan. Mau 3 perusahaan tetap saja paling nanti kerjanya jadi cleaning service kayak di klinik yang mau itu kamu lihat, Lu. Tina dan teman-teman Lulu yang lain tertawa mengejek.


" Maaf, saya memang kerja sebagai cleaning service, tapi saya tidak pernah menyesal menjadi cleaning service, setidaknya saya bisa membayar uang spp saya sendiri. Bersyukurlah kalian yang masih dibiayai oleh orang tua kalian. Pekerjaan saya saat ini memang cleaning service tetapi kita semua punya derajat yang sama dimana harus bisa bertanggung jawab dan menjadi kebanggaan bagi keluarga. Terima kasih buat kalian semua, perkataan kalian membuat diri saya menjadi semangat untuk lebih baik lagi". Rena segera bangkit berdiri dan meninggalkan Bagas juga Lulu dan teman-temannya.


"Renaaa, tunggu.. Bagas berteriak memanggil Rena.


Tetapi Rena tetap melangkah pergi


" Lulu, kamu kenapa sih tidak suka sekali dengan Rena, dia ngga pernah nyakitin kamu, tidak pernah mengganggu kalian juga. Harusnya kalian bisa lebih dari Rena, dia bisa membagi waktu untuk sekolah dan bekerja dan tetap bisa membuktikan dengan hasil nilainya yang bagus. Harusnya kalian malu!". Bagas marah dengan sikap Lulu dan teman-temannya.


"Bagas, aku tuh suka sama kamu, aku cinta sama kamu. Aku mau kita pacaran". Lulu memegang lengan Bagas.


" Maaf, aku ngga bisa dan ngga mau". Bagas menepis tangan Lulu yang masih memegang lengannya dan segera pergi.


"Iiiiiihhh, awas kamu Bagas, aku pasti bisa dapatin kamu". Lulu menghentakkan kakinya.


Sudah 3 hari sejak psikotes, Rena menunggu kabar dengan harap-harap cemas. Walaupun Tante Silvani sudah bilang apabila tidak diterima kerja, Tante Silvani mau membiayai Rena kuliah tetapi Rena menolaknya secara halus.


Tiba-tiba handphonenya berdering. Bagas menelpon Rena tetapi Rena tidak mau angkat, dia membiarkan handphonenya tetap berdering sampai berhenti sendiri.


Rena segera membersihkan klinik Tante Silvani karena sudah jam 7 malam. Setelah rapi, Rena memberikan kunci kepada satpam, tetapi ia tidak segera pergi melainkan duduk di pos satpam.


"Pak Beni, Rena numpang duduk sebentar yah". Rena minta ijin sama Pak Beni, satpam di Klinik Tante Silvani.


Rena melamun, dia kangen sama Ayah, Ibu, kakak serta adiknya, tetapi Rena belum berani pulang ke rumah orangtuanya. Masih sakit jika mengingat kejadian masa kecilnya. Perlakuan ayahnya, sikap ibunya serta kakaknya yang membenci Rena. Tanpa sadar Rena menitikkan air mata dan bergumam, "aku sebenarnya anak ayah ibu bukan? Kenapa mereka tidak menyayangi aku sama sekali, kena aku selalu disalahkan atas semua kejadian yang tidak pernah aku perbuat. Tuhan Rena kangen ayah ibu".


Tanpa Rena sadari Bagas sudah di berdiri di depan Rena sedangkan Pak Beni duduk di sebelah Rena.

__ADS_1


" Sabar Rena, semua akan indah pada waktunya, kamu anak baik. Tuhan tidak tidur". Ucap Pak Beni yang mendengarkan gumaman Rena.


Bagas memperhatikan Rena dengan perasaan sedih karena ikut mendengarkan gumaman Rena.


"Aku sayang kamu Rena, aku akan buat kamu bahagia dan aku akan bantu kamu untuk bisa bertemu orang tuamu". Batin Bagas


Rena sadar bahwa ternyata ia tidak sendiri dan Pak Beni mendengarkan gumamannya. Lebih terkejut lagi ternyata Bagas sudah berdiri di depan Rena tanpa tahu kapan Bagas datang.


"Aduh, semoga tadi Bagas ngga dengar". Batin Rena


"Rena, aku jemput kamu, yuk pulang aku antar".


" Iya Pak Beni, iya Gas".


"Terima kasih Pak Beni. Rena pamit pulang yah".


" Hati-hati dijalan Rena, sampai besok lagi. semangat ". Ucap Pak Beni sambil tersenyum.


Jumat pagi, saat Tante Silvani dan Om Bram baru saja berangkat dan Novi siap-siap berangkat untuk mengurus dokumen-dokumen. Handphone Rena berdering, ia melihat no yang tidak ada di kontaknya, dari siapa yah? "


"Hallo selamat pagi", jawab Rena


" Pagi, ini dengan Mbak Rena?" saya dengan Tiwi dari perusahan Mahardika Prasetia.


"Saya mau memberitahukan, Perusahaan kami menunggu kehadiran Mbak Rena hari Senin jam 09.00 dan bertemu dengan HRD kami, Ibu Wiwin".


Salah satu perusahaan, dimana ia psikotes memanggilnya hari Senin. Rena segera berlari ke kamar Novi dan membuka pintu tanpa mengetuk langsung memeluk Novi.


"Renaaaa, ketuk pintu kenapa sih kalau mau masuk kamar, kamu tuh buat aku kaget. Ada apa sih? " tanya Novi


"Novi, hari Senin besok aku dipanggil sama perusahaan Mahardika Prasetia dan bertemu dengan HRD mereka, aku senang banget. Semoga aku diterima kerja yah Nov". Rena memeluk Novi dengan erat karena bahagia.


"Renaaa, kamu mau buat aku mati yah, sesak napas ini, badan kamu kecil tapi tenaga kamu kayak kingkong", Novi berusaha melepaskan pelukan Rena yang terlalu erat.


" Maaf Nov, aku saking senangnya dapat panggilan kerja". Rena meringis melihat Novi yang berusaha mengatur napas karena pelukannya.


"Telpon Mama, kasih tahu Mama, kabar gembira ini. Oh iya Rena, aku sekalian pamit mau berangkat ke Embassy Amerika untuk ngurus visa, Papa juga lagi pergi kesana dari kantornya. Selamat yah Rena, sukses buat kamu. Aku pergi dulu yah, bye Rena".


Senin pagi Rena sudah rapi dan menuju meja meja makan untuk sarapan bersama.


"Pagi Om, Tante, Novi".


" Pagi". jawab ketiganya.


"Oh iya Rena, nanti kamu diantar sama Pak Atmo yah, biar jangan terlambat karena biasanya hari Senin itu macet. Tante bisa berangkat bareng Om".


" Baik Tante, terima kasih".

__ADS_1


"Sukses buat kamu yah Rena, semoga diterima bekerja", ucap Om Bram.


" Iya Om, terima kasih ".


"Pulang dari interview, kamu ke rumah sakit yah Ren, Tante tunggu di sana, nanti kita bareng ke Klinik".


" Iya Tante".


Rena diantar Pak Atmo ke PT. Mahardika Prasetia.


"Pagi Mbak, saya dengan Rena, hari ini saya ada janji bertemu dengan Bu Tiwi bagian HRD".


" Pagi, baik. Ditunggu sebentar, saya infokan ke sekretaris Bu Tiwi, silahkan duduk dulu".


"Baik Mbak, terima kasih".


Tidak berapa lama menunggu.


"Mari Mbak Rena, saya antarkan ke ruang Bu Tiwi".


Rena menganggukkan kepalanya dan berjalan mengikuti Mbak Receptionist ke ruangan Bu Tiwi.


" Pagi Bu Tiwi, ini dengan Mbak Rena". Ucap Mbaknya setelah mengetuk dan dipersilahkan masuk.


"Pagi Bu, perkenalkan saya dengan Rena". Rena memberi salam sambil memperkenalkan diri kepada Bu Tiwi.


" Silahkan duduk". Ucap Bu Tiwi.


"Saya sudah melihat hasil psikotes kamu dan ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan kepada kamu untuk pekerjaan nantinya".


" Baik Bu". ucap Rena


Setelah interview yang cukup lama, dan Rena harus menunggu setelah jam makan siang. Rena hanya bisa duduk dan berdoa dengan Harap-harap cemas. Semoga aku diterima kerja, batin Rena.


"Mbak Rena, silahkan ke ruangan Bu Tiwi".


Sampai di ruangan Bu Tiwi, Rena merasakan debar jantungnya yang bergerak cepat.


"Rena, silahkan duduk". Saya sudah memberitahukan kepada atasan saya, dan atasan saya menerima kamu sebagai karyawan. Selamat bergabung di Perusahaan kami.


"Terima kasih Bu, terima kasih, terima kasih". Rena tidak berhenti mengucapkan terima kasih.


"Rabu besok kamu sudah mulai bekerja sebagai administrasi. Sekali lagi selamat Rena". Bu Tiwi memberikan selamat kepada Rena.


Di luar gedung, Rena melonjak kegirangan akhirnya fase kedua dalam hidupnya dijalani untuk bekerja. Sepanjang perjalanan ke rumah sakit tempat Tante Silvani, Rena senyum-senyum sendiri.


Hari Rabu, Rena sudah datang ke kantor saat suasana kantor masih sepi hanya 1-2 orang yang sudah datang. Lalu sekretaris Bu Tiwi menunjuk meja kerja Rena.

__ADS_1


"Selamat yah Mbak Rena, dan selamat bergabung". ucap sekretaris Bu Tiwi.


__ADS_2