Anak Terbuang

Anak Terbuang
Transfer lagi


__ADS_3

Rena sudah sampai kost dan sudah mandi. Rena lapar dan ingin pergi keluar untuk beli makanan.


"Sudah hampir jam 9 malam, aku pengen makan pecel ayam" batin Rena


Rena segera berganti baju dan keluar dari kamarnya. Rena berjalan sambil merasakan perutnya yang masih terasa ngilu. Keluar dari kompleks kostnya, Rena berpapasan dengan Bagas. Rena menghentikan langkahnya karena motor Bagas berhenti di depannya.


"Rena, kamu mau kemana? Aku baru saja mau ke kostmu".


"Aku mau beli pecel ayam Gas, agak jauh memang tempatnya dari kost. Aku pengen makan disana?"


"Naik Ren, kita kesana".


"Ngga usah Gas, aku jalan saja".


"Naik, ini sudah malam".


Akhirnya Rena mengalah dan naik ke motor. Tidak perlu waktu lama, mereka sampai di depan pecel lele. Untung tidak terlalu ramai, jadi tidak perlu menunggu kelamaan, batin Rena. Setelah memesan mereka duduk di meja dan ada beberapa orang yang sedang makan di meja yang sama. Pesanan pun datang, Bagas melihat Rena makan dengan lahap dan tidak terlihat kemerahan di wajah Rena karena sambalnya. Malah Rena beberapa kali minta tambah sambal. Rena ternyata suka makan pedas. Dan baru kali ini aku lihat Rena makan dengan lahap seperti orang baru ketemu makanan.


"Rena, kamu ngga kepedesan! " Bagas bertanya kepada Rena, karena mengingat perut Rena yang memar.


"Ngga, aku suka makan pedas". Rena meringis.

__ADS_1


"Nanti aku mau minta ijin sama ibu kostmu, untuk mengajak kamu keluar sebentar saja, karena ngga enak kalo ngobrol di kostmu, ada jam malamnya".


"Besok saja Gas, kebetulan besok aku ngga kemana-mana. Sekarang kita pulang yuk".


"Aku bayar pecelnya dulu Ren".


"Udah dibayar, aku masih ada uang kok, masa kamu terus yang bayarin".


Bagas hanya tersenyum mendengar omongan Rena,


"Bagas, aku minta tolong anterin aku ke ATM yah, aku lupa mau transfer. Baru keinget sekarang".


Rena baru ingat kalau dia harus transfer uang ke Kakaknya. karena tadi dia lihat kakaknya mengirim pesan dengan kata-kata yang menyakitkan. Rena segera membalas pesan kakaknya dan memberitahu bahwa dia sudah transfer.


"Gas, yuk udah, amterin aku pulang yah? "


"Rena, kakakmu minta uang lagi?" Kamu masih punya uang? Bukannya baru 2 minggu yang lalu kakakmu minta 10 juta?


Rena hanya menganggukkan kepalanya.


"Yuk Gas, udah malam, aku ngga enak sama Ibu kost kalo kemalaman".

__ADS_1


Bagas segera melajukan motornya ke kost Rena. Dan pamit pulang. Perjalanan pulang Bagas masih memikirkan Rena, kenapa kakaknya selalu meminta uang? Dan hari Bagas kesal karena tadi ternyata dia harus bertemu dengan Tanti. Dan Tanti satu kantor dengan Rena. Bagas tahu bahwa Tanti adalah perempuan yang sangat egois. Tanti akan melakukan segala cara agar keinginannya berhasil. Bagas kuatir dengan Rena apabila ternyata Tanti satu divisi dengan Rena. Bagas tidak tahu bahwa sebenarnya Tanti dan Rena satu divisi dan juga satu ruangan.


Sampai di kamar Rena melihat balasan kakaknya yang mengatakan bahwa Rena harus bertanggung jawab untuk membiayai sekolah adiknya yang 3 orang dan mereka semua sekolah di sekolah swasta yang mempunyai nama. Rena hanya bisa menghela nafas panjang. Ia baru bekerja, selama tinggal sama Tante Silvani, ia juga membayar uang sekolahnya sendiri, Tante Silvani ingin membayar uang sekolahnya Rena, tapi Rena menolak, dengan ia diperbolehkan tinggal di rumah Tante Silvani sudah merupakan hadiah yang terbesar dari Tuhan. Dan ia tidak mau menyusahkan Tante Silvani, Om Bram dan Novi, karena itu ia minta ijin untuk bekerja agar bisa membayar uang sekolahnya sendiri, dan Tante Silvani memberikan pekerjaan sebagai cleaning service. Ia tidak malu karena ia bekerja sebagai cleaning service. Karenanya ia belajar dengan sungguh-sungguh agar setelah lulus sekolah ia bisa langsung bekerja. Uang dari hasil bekerja sebagai cleaning service ia tabung setelah membayar uang sekolahnya setiap bulan sehingga ia masih punya tabungan. Uang yang dari Om Bram sebelum mereka pergi sudah terpakai oleh ayahnya. Dan ternyata Ayah dan kakaknya mau ia membiayai sekolah adiknya padahal ada keinginan di dalam diri Rena agar ia bisa kuliah. Tetapi karena permintaan ayah dan kakaknya akhirnya ia terima untuk membiayai sekolah adik-adiknya. Rena akhirnya membalas pesan kakaknya dan mengatakan setuju untuk membiayai sekolah adik-adiknya. Hidup Rena terasa berat bukan karena harus membiayai tetapi karena ia tidak diterima oleh keluarganya sendiri. Rentetan kejadian selama Rena kecil kembali terbayang membuat Rena menangis. Kenapa hidupnya penuh dengan derita yang tiada akhir yang diberikan oleh keluarganya sendiri.


Rena tidak bisa tidur semalaman, selesai subuhan, ia baru bisa tidur. Rena terbangun saat handphonenya berdering dan ternyata dari Bagas. Rena melirik jam di meja dan kaget ternyata sudah jam 12 siang.


"Hallo siang Rena, kamu kenapa? Aku telpon dari pagi tidak diangkat. Kamu ada di kost atau di luar?"


"Aku baru bangun, kesiangan heheheheh".


"Tumben kamu baru bangun? Aku ke kostmu sekalian bawain makan siang buat kamu".


Bagas mau ke kost, aku baru bangun. Rena bangun dan berdiri melangkahkan kakinya ke kamar mandi. 30 menit kemudian Bagas sudah tiba di kostnya, Rena segera keluar kamar dan menemui Bagas di teras. Setelah mengucapkan terima kasih Rena langsung makan makanan yang dibawa Bagas.


"Rena, boleh aku tanya kenapa kamu seperti menutup diri. Apakah aku tidak punya kesempatan untuk menjadi pacarmu. Apa aku hanya sebatas sahabat buat kamu? Aku ingin tahu jawabanmu Rena? Banyak pertanyaan Bagas yang diajukan ke Rena.


"Gas, kamu tidak tahu mengenai aku dan tidak mengenal siapa aku sebenarnya. Kamu tahu bahwa aku tinggal sama Tante Silvani dan Om Bram yang merupakan bos ayahmu. Aku takut saat aku kasih tahu ke kamu mengenai diriku, kamu tidak mau lagi mengenalku. Aku masih butuh waktu untuk menjelaskan semuanya kepadamu. Orang tuaku bukan Tante Silvani dan Om Bram. Aku masih punya orang tua dan mereka tinggal di kota yang sama. Mereka tidak mengharapkan aku ada. Alangkah baiknya apabila kita tetap seperti ini dulu Gas. Jika suatu saat ada perempuan yang kamu suka selain aku, silakan Gas. Hanya itu yang bisa aku jawab dari pertanyaanmu".


Bagas tidak mau bertanya lagi, dan Bagas sepakat akan menjalani seperti yang Rena minta. Handphone Bagas berbunyi, ternyata dari Lulu. Bagas menerima telpon dari Lulu, ternyata hari ini ada kelas. Bagas segera pamit sama Rena karena ada kelas.


Bagas pergi dan Rena kembali masuk ke kamarnya. Bagas, aku sebenarnya mulai mencintaimu tapi aku takut untuk bilang mengenai keluargaku. Aku ngga mau tersakiti atau kamu akan tersakiti karena keluargaku. Aku tahu banyak yang suka dan berharap kamu jadi pacar mereka. Lebih baik aku mundur pelan-pelan agar kamu bisa membuka hatimu dengan perempuan lain.

__ADS_1


__ADS_2