Anak Terbuang

Anak Terbuang
Bu Nina


__ADS_3

Ibu dan Mia sudah di kantor polisi. Budi melihat kedatangan Mia dan ibunya.


"Pak, saya mau bicara sama Bapak. Hanya saya dan bapak saja."


"Baik. Ibu mau bicara dimana?"


"Sebelah sana." Ibu menunjuk ke jalan masuk kantor polisi. Setidaknya ibu bisa melihat jika Mia mendekat dan ingin mendengarkan pembicaraannya dengan Budi.


Budi mengikuti ibu yang sudah berjalan terlebih dahulu.


"Apa yang mau ibu bicarakan?"


"Mengenai Rena. Sebenarnya yang tahu mengenai Rena hanya saya dan suami. Tapi karena dendam saya kepada ibunya Rena, saya mendidik anak saya yang paling tua untuk membenci Rena. Dan apa yang almarhum suami saya lakukan kepada Rena karena desakan dan ancaman saya kepada suami."


"Gini saja, mohon bicara lebih singkat agar saya bisa memutuskan apakah laporan saya mengenai anak ibu, buisa saya cabut atau saya lanjutkan untuk ditahan. Saya tidak suka bertele-tele dan berbasa-basi."


"Rena adalah anak almarhum suami dari pembantu saya. Dan saya mengancam suami saya apabila tidak menuruti saya untuk membalaskan dendam saya ke ibunya Rena melalui Rena yang masih kecil. Saya mengajari dan menanamkan kebencian saya ke anak saya yang paling tua. Akhirnya adik-adiknya mengikuti kakaknya. Beberapa bulan yang lalu Ibunya Rena datang untuk menjemput Rena. Dan saat ibunya Rena saya usir dari rumah. Ternyata ibunya tidak bisa membayar pinjaman uang saat melahirkan Rena. Setelah mengetahui bahwa suami saya berselingkuh, semua uang saya yang pegang supaya ia tidak memberikan uang kepada ibunya Rena.


"Ibu tahu dimana rumah ibunya Rena? Jadi bisa dibilang kakak dan adiknya Rena tetap bersaudara karena dari satu bapak yang membedakan hanya ibunya saja."


"Iya Pak, tetapi saya tidak mau menerima Rena. Dan saya tidak tahu dimana rumah ibunya Rena. Tapi saya ada no handphone ibunya Rena. Namanya Nina. Sebenarnya Ibunya Rena saat datang sudah memberikan uang 10 kali lipat dari yang dulu ia pinjam untuk melahirkan. Dan uang itu masih saya simpan. Saya memang egois Pak. Sebagai ibu saya tidak mengajarkan hal-hal yang baik kepada anak-anak saya dan saya membiarkan mereka semua membenci Rena. Demi Allah pak, semua yang saya katakan benar. Saya tidak bohong. Saya mohon untuk membebaskan anak saya. Dan saya janji akan memberitahukan semua ini kepada anak saya yang paling tua. Agar ia tidak mengusik Rena lagi. Karena ibunya Rena juga memberi ancaman kepada saya. Ini no handohone ibunya Rena."


"Ok, saya akan minta polisi untuk menghukum anak ibu selama 2 x 24 jam, untuk memberikan efek jera. Karena saya tidak main-main"


"Baik Pak, saya mengikuti apa yang bapak mau. Dan saya janji akan memberitahukan semuanya kepada anak-anak."


"Saya tidak mau ikut campur urusan jbu dengan anak-anak, tapi saya tidak mau Rena diganggu terus menerus. Karena saya juga pernah memberikan uang kepada ibu."


"Iya Pak, saya masih ingat. Dan tolong berikan kalung dan gelang ini kepada Rena. Ini adalah kalung dan gelang Rena semasa kecil sebelum ibunya saya usir dari rumah. Dan juga photo ini."


"Ok tapi saya belum percaya sepenuhnya sama cerita ibu. Anak ibu tetap akan ditahan 2 x 24 jam. Saya akan menelpon ibunya Rena untuk bertemu dengan saya. Dan perhiasan ini akan saya tunjukkan kepada ibunya Rena. Karena bukan apa-apa, jangan ini hanya alibi ibu agar anak ibu dibebaskan."


"Tidak Pak, saya berani sumpah Demi Allah, apa yang saya ceritakan sama bapak benar adanya."

__ADS_1


"Baik. Saya akan kembali untuk mendengar hasil pemeriksaan anak ibu dengan polisi."


"Iya Pak."


Budi berjalan masuk ke kantor polisi. Ia akan meminta polisi untuk tetap menghukum kakaknya Rena. selama 1 x 24 jam atau 2 x 24 jam.


"Siang Pak polisi, jadi gimana mengenai perempuan yang saya laporkan itu? Apakah tetap ditahan atau dibebaskan?"


"Siang Pak. Beberapa jawaban yang diberikan tidak sesuai. Karena itu kamu akan tetap menghukumnya. Agar dikemudian hari ia tidak lagi melakukan hal yang sama. Dan hukumannya selama 1 bulan."


"Pak Polisi, saya ibunya, apakah tidak bisa dikurangi untuk hukumannya. Apakah tidak bisa besok atau lusa pulang?"


"Maaf bu, tidak bisa. Semua berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku di Indonesia."


"Pak, tadi bapak bilang 1 x 24 jam atau 2 x 24 jam. Tapi kenapa bisa jadi 1 bulan?


"Ini semua di luar kewenangan saya. Untuk ke depannya, sebelum ibu melampiaskan semua dendam ibu. Ada baiknya ibu pikirkan terlebih dahulu dampak buruknya."


"Pak Polisi, saya permisi. Terima kasih atas kerjasamanya pak polisi


Budi segera meninggalkan kantor polisi. Ia masuk ke dalam mobil dan pergi. Budi menuju kantornya.


Budi mengambil sobekan kertas dari saku celananya. Budi menelpon no handphone yang diberikan tadi.


"Selamat siang, apakah benar ini dengan ibu Nina."


"Siang, iya benar ini dengan Nina. Bapak siapa dan ada keperluan apa?"


"Apakah benar ibu Nina adalah ibunya Rena?"


"Rena, Rena siapa ya?"


Nino menceritakan secara detail kepada Bu Nina.

__ADS_1


"Jadi namanya Rena, padahal saya sama ayahnya memberi namanya bukan Rena. Perempuan itu sudah mengganti nama anak saya dengan semena-mena. Kapan saya bisa bertemu Rena?"


"Saya belum bisa mempertemukan ibu dengan Rena saat ini. Karena Rena sedang keluar kota urusan pekerjaan. Dan saya pelan-pelan akan memberitahu Rena supaya dia jangan syok.


"Iya nak. Memang butuh waktu dan saya tahu pasti nanti Rena akan menolak saya. Gini saja. Saya akan kirim pesan ke nak Budi bahwa ada 2 tanda lahir dan saya tahu dimana tempatnya 2 tanda lahir itu dibadan Rena. Nanti kamu tanya sama Rena. Benar tidak ada 2 tanda lahir itu. Saya sendiri juga masih ada di luar kota. Lusa saya sudah di Jakarta."


"Baik Bu Nina. Nanti saya tanya sama Rena mengenai 2 tanda lahir. Kalau begitu terima kasih Bu Nina, saya mau melanjutkan bekerja."


"Iya nak Budi, Terima kasih sudah menelpon ibu."


Bu Nina sudah mengirimkan pesan dan mengirimkan beberapa photo waktu Rena bayi dan memang di rumah itu. Rumah yang sama saat Budi melihat Rena dianiaya dulu.


Budi menelpon Rena.


"Hallo Rena, kamu lagi sibuk?"


"Hallo Budi, baru selesai meeting dan mau balik pulang ke Jakarta. Ada apakah?"


"Apakah malam ini kita bisa bertemu? Ada hal penting yang mau aku sampaikan."


"Sepertinya malam ini tidak bisa. Ada apa Bud? Mungkin bisa kamu sampaikan by phone saat ini saja kalau memang penting."


"Gimana ya aku ngomongnya. Aku sudah tahu siapa ibumu?"


"ahahahhahaha kamu kenapa bercanda sih urusan orang tuaku? Aku tidak suka!"


"Aku tidak bercanda. Gini. Aku mau tanya. apakah kamu punya tanda lahir di bawah pusarmu? 3 jari dibawah pusar dan warnanya agak kecoklatan? Terus sama tanda lahir di paha bagian dalam maaf dekat selangkanganmu?"


"Kenapa memangnya, ada masalah dengan tanda lahirku?"


"Jangan marah Rena, Aku diminta untuk bertanya sama kamu oleh ibumu. Supaya aku yakin bahwa dia ibu kandungmu."


"Gini saja, kalau aku sudah sampai jakarta, kita ketemu di Union ya."

__ADS_1


"Ya Rena, sampai bertemu nanti di union."


__ADS_2