
Rena masih di rumah Budi dan melihat dokumen yang diberikan oleh kakaknya untuk mengurus surat kematian. Rena mengambil cuti dan nanti sore Rena akan kuliah karena kemarin ia tidak kuliah. Sedangkan Budi sudah berangkat kerja dari pagi.
Saat Rena membuka, ia melihat amplop coklat yang sudah usang dan masih dilem. Rena membuka amplop coklat yang sudah usang itu dan mengeluarkan kertas-kertas di dalamnya. Rena terkejut saat membaca salah satu kertas tersebut. Ternyata, Rena bukan anak kandung dari ayah dan ibu. Rena hanya anak yang dititipkan oleh orang tuanya kepada ayah dan ibu. Dan ada surat perjanjian bahwa Rena akan diambil saat hutang orang tua kandungnya lunas. Ternyata Rena di berikan untuk membayar hutang orang tuanya. Rena menangis histeris bahwa sebenarnya Rena anak yang di buang oleh orang tua kandungnya dan diberikan kepada ayah dan ibu sebagai jaminan. Dan dalam surat itu ada perjanjian bahwa Rena akan membayar hutang-hutang orang tuanya saat Rena sudah besar. Rena hanya bisa menangis dan menangis tanpa henti. Bibi yang melihat Rena terus menerus menangis histeris langsung menelpon tuanya untuk segera pulang.
"Rena, Rena kenapa? Ada apa? Budi melihat di kamar tamu berserakan kertas dan dokumen. Budi mengumpulkan dokumen-dokumen tersebut dan sempat membaca surat perjanjian yang membuat Rena menangis histeris.
Budi segera memeluk Rena. Rena tidak berusaha menghindar saat Budi memeluk dirinya.
"Rena, yang sabar yah, tenangin diri kamu Ada aku, keluarga Tante Silvani yang sayang sama kamu".
Rena capek menangjs, akhirnya ia tertidur. Tante Silvani, Om Bram, Novi dan Alex datang ke rumah Budi.
"Budi, terima kasih sudah menemani Rena. Maaf kamu jadi kerepotan. Sekarang mana Rena?"
"Ngga merasa direpotkan Tante. Rena sedang tidur. Karena tadi buka dokumen yang diberikan oleh kakaknya kemarin untuk mengurus surat kematian ayahnya. Dan Rena menemukan ini".
Budi menyerahkan seluruh dokumen kepada Tante Silvani. Dan Tante Silvani membaca satu persatu.
"Urusan surat kematian ayahnya Rena biar Tante yang urus. Dan untuk sementara biar Rena di rumah kamu saja. Kalaupun Rena mau ke rumah Tante, tetap pintu rumah Tante terbuka. Rena jangan balik ke kost dulu, biar Tante yang bicara sama Ibu kostnya Rena. Kasihan anak itu baru tahu saat ini, setelah semua penderitaan yang dialami dari kecil".
"Tante, saya coba bangunkan Rena".
" Ngga usah, biarkan Rena istirahat. Kalau ada apa-apa kabarin Tante atau Om Bram. Kebetulan lusa Novi dan Alex akan balik. Sedangkan Om dan Tante baru minggu depan. Tolong bantu Tante jaga Rena".
"Iya, Tante, pasti aku jagain. Dan ini total semua biaya yang dikeluarkan oleh Rena untuk pemakaman ayahnya". Budi memberikan semua kwitansi kepada Tante Silvani.
" Baik Budi, kami permisi pulang ya".
"Iya Tante".
Tidak berapa lama Rena terbangun setelah Tante Silvani dan keluarga pulang. Budi ada di dalam kamar tamu melihat Rena bangun segera menghampiri Rena.
" Budi, jam berapa sekarang?"
"Jam 4 sore, kenapa Ren?"
"Aku mau kuliah. Cuma aku mau pulang ke kost untuk ganti baju".
__ADS_1
" Hari ini kamu ngga usah kuliah dulu. Aku sudah urus ijin ke kampusmu. Kamu tenangin diri kamu dulu ya". Budi berjalan mendekati Rena dan mengelus kepala Rena dengan lembut.
"Hari Minggu, temenin aku ke pernikahan Tanti ya. Kamu istirahat dulu, biar besok bisa kuliah".
" Tapi aku mau pulang ke kostku".
"Ngga, kamu disini saja dulu sampai kamu tenang".
"Budi, aku mau makan, bolehkah? Budi menatap Rena dengan sedih. Kata-kata itu sempat keluar dari mulut Rena saat tertidur.
" Kamu memang harus makan supaya kondisi badanmu pulih. Kamu mau makan disini atau di meja makan?"
"Aku makan di meja makan saja". Rena bangkit berdiri dari kasur dan ternyata Rena tidak kuat.
Budi dengan sigap menggendong Rena. Rena terkejut dan berusaha melepaskan diri dari gendongan Budi.
" Sudah diam saja, daripada kamu jatuh nanti malah celaka".
Rena yang melihat muka Budi agak marah akhirnya diam. Mereka makan tanpa bersuara.
Selesai makan Budi hendak menggendong Rena untuk ke kamar tetapi Rena tidak mau, Rena memegang lengan Budi.
Budi memandang muka Rena, ada kesedihan yang mendalam di mata Rena. Budi memeluk Rena dan mencium pipi Rena.
"Rena, kamu di sini dulu saja. Besok Tante Silvani akan datang kesini".
"Iya" Rena masih kaget dengan perlakuan Budi yang memeluk dan mencium pipi Rena.
"Maaf kalau aku mencium dan memeluk kamu, Rena. Aku merasakan kesedihan yang kamu rasakan dan kamu tidak sendiri. Ada banyak orang yang mencintai dan menyayangimu. Jadi jangan pernah merasa bahwa kamu anak yang terbuang. Tidak ada. Aku mencintai dan menyayangi mu Rena. Jika boleh ijinkan aku menjadi kekasihmu. Aku menerima semua keputusanmu kapanmu kamu sudah siap untuk menjawabnya". Budi menggenggam tangan Rena.
"Terima kasih Budi". Rena menarik tangan Budi dan melepaskan genggaman tangan Budi dan memeluk Budi sambil menangis. Budi memeluk Rena dengan erat dan mencium kepala Rena.
" Budi, bolehkan aku minta sesuatu?"
"Tolong lepasin pelukanmu aku ngga bisa napas, dan aku mau ngopi".
Budi melonggarkan pelukannya dan memandang muka Rena yang hanya berjarak 5cn dengan mukanya. Budi mencium kening Rena dan Budi siap jika Rena menamparnya lagi. Rena membiarkan Budi mencium keningnya.
__ADS_1
Budi keluar kamar tamu dan pergi ke kamarnya. Setelah berganti baju, Budi mengetuk kamar Rena dan meminta Rena mengganti bajunya.
Budi ingin mengajak Rena minum kopi di Dome. Sepanjang jalan Budi melirik ke arah Rena berkali-kali. Tatapan Rena masih kosong dan sedih.
"Rena, sudah sampai, katanya mau ngopi".
Rena keluar dari mobil dan Budi menggandeng tangan Rena. Budi membawa Rena ke Dome dan memesan kopi yang Rena suka.
" Budi, terima kasih ngajak aku minum kopi di Dome, nanti uangnya yah. Besok Jumat aku gajian, aku ganti yah". Rena tersenyum
Budi mendekati kuping Rena dan berbisik
"Ngga usah sayang". Budi mencium pipi Rena.
Rena salah tingkah karena Budi mencium pipinya di depan banyak orang.
Budi melihat semburat merah di wajah Rena.
Novi dan Alex yang baru datang ke Dome menghampiri Rena dan Budi.
"Cie, pacaran neng". Novi meledek Rena
"Apaan sih Nov. Oh iya maaf, kemarin aku ngga nginap di rumahmu".
" Aku sudah tahu, sudah santai saja. Kamu tetap saudaraku Rena, jangan pernah merasa sendiri. Oh iya, Sabtu pagi aku sama Alex balik ya, karena harus kuliah".
"Loh kok cepat banget? Aku masih kangen sama kamu Nov?"
"Nanti kamu nyusul aku kok Ren heheheh".
Mereka berempat ngobrol bareng tanpa terasa sudah malam.
Rena senang hari ini ia bisa melupakan kesedihannya dan ada Budi yang tulus membantunya selama ini. Sampai di rumah. Rena segera masuk ke kamar tamu setelah mengucapkan terima kasih. Tetapi Budi menarik tangan Rena. Budi memeluk Rena dan mencium kepala Rena. Rena hanya diam saja. Melihat Rena yang diam, Budi segera mencium bibir Rena dengan lembut, Rena terdiam. Menyadari Rena yang diam. Budi melepaskan ciumannya.
"Maaf Budi, aku ngga bisa balas ciumanmu, aku ngga pernah ciuman". Muka Rena bersemu merah saat mengatakan hal itu.
" Ngga papa Rena, bagusnya kamu ngga nampar aku lagi".
__ADS_1
"Dasar, curi-curi kesempatan".