Anak Terbuang

Anak Terbuang
Rumah Sakit


__ADS_3

"Pagi Ester, Rena sudah datang belum?


"Pagi Bu Tita, belum datang Bu, saya coba telpon Rena Bu, nanti saya kabarin ke Ibu."


"Ok Ester, terima kasih."


"Sama-sama Bu Tita."


Ester menelpon Rena beberapa kali tapi tidak diangkat. Tumben banget Rena ngga angkat telpon. Ada apa yah? Kemana itu anak?


Ester memberitahu Bu Tita bahwa di telpon ke handphone Rena dan tidak diangkat.


" Ya sudah, kamu ikut Saya meeting dengan Pak Francois nanti jam 10. Semoga sebelum jam 10, Rena sudah sampai kantor jadi kamu bisa handel kerjaan yang lainnya.


"Baik Bu Tita".


Ester segera ke meja Rena dan mencari dokumen yang dibutuhkan untuk meeting dengan Pak Francois.


"Untung Rena kerja dengan rapi, jadi tidak sulit menemukan dokumen untuk meeting. Semuanya tercatat. Salut sama kerja Rena, dan tidak diragukan lagi". Ester memuji cara kerja Rena.


Selesai menyiapkan dokumen, Ester melihat jam. Sudah jam 09.30, kemana itu anak? Tidak ada kabar sama sekali".


Ester mencoba menelpon Rena kembalj dan kali ini diangkat.


"Halo Rena, kamu dimana? Kamu ditunggu sama Bu Tita untuk meeting nanti jam 10.00."


"Maaf Mbak Ester, saya Budi. Rena untuk beberapa minggu mungkin belum bisa masuk kerja. Kemarin Rena kecelakaan tabrak lari di depan kampusnya. Dan ini baru saja keluar dari kamar operasi. Tulang belakangnya patah. Dari kemarin Rena belum sadarkan diri. "


"Astagfirullahal adziim, di rumah sakit mana? Biar saya bisa kasih tahu ke Bu Tita."


" Di rumah sakit Thamrin, Mbak. Saat inj Rena masih di ruang pemulihan pasca operasi belum ke ruang perawatan."


"Ya sudah, titip Rena yah Budi. Ada apa-apa tolong kabarin."

__ADS_1


"Baik Mbak Ester, terima kasih."


Ester segera membawa dokumen untuk meeting dan memberitahu Bu Tita jika Rena kecelakaan kemarin sore di depan kampus.


"Jangan-jangan yang kemarin kecelakaan itu Rena. Ester selesai meeting dengan Pak Francois, kita langsung ke rumah sakit".


Hari ini Budi tidak masuk kantor karena ia tidak mau meninggalkan Rena sendiri. Budi menyalahkan dirinya karena telat bangun dan tidak mengantarkan Rena ke kampus. Seandainya ia tidak telat bangun dan mengantarkan juga menjemput Rena mungkin kecelakaan ini tidak terjadi. Budi hanya bisa sembahyang minta kepada Allah SWT untuk menyembuhkan Rena. Budi tidak bisa membayangkan dirinya tanpa Rena.


"Terima kasih Bu Tita atas waktunya, semoga kita bisa bekerja sama dengan baik agar event ini dapat berjalan dengan lancar".


" Saya yang harusnya bilang terima kasih ke Pak Francois karena diberikan kepercayaan untuk menghandel event ini. Semua sudah dipersiapkan oleh Rena dan Ester sekretaris saya".


"Sama-sama Bu Tita. Minggu depan kita sudah bisa bergerak untuk persiapan event inj".


" Baik Pak, untuk saat ini Saya dibantu oleh Ester dikarenakan Rena kecelakaan dan saya baru menerima informasinya tadi jam 9an".


Aku sampai lupa kalau Rena kecelakaan dan tidak kasih kabar ke Bu Tita. Padahal aku dari semalam menemani Budi menunggu Rena di rumah sakit. Ancis benar-benar lupa.


"Tidak papa Pak, sekarang saya dan Ester mau menengok Rena."


"Baik Bu, sekalian saya antar karena saya mau bawa makanan untuk Budi."


"Ok, terima kasih Pak. Mari Pak, kita berangkat sekarang".


Bu Tita, Ancis dan Ester berangkat ke rumah sakit.


" Budi, gimana Rena? Oh iya ini Bu Tita, bosnya Rena".


"Kondisinya masih belum stabil tadi sempat drop. Jadi masuk ke ruang ICU. Terima kasih Bu Tita sudah datang tapi Rena masih belum bisa dijenguk".


" Pak Budi, ternyata Pak Budi pacarnya Rena? Dan Pak Ancis sahabat Pak Budi". Iya tidak papa Pak, Saya terima kasih Pak Budi menjaga Rena dari kemarin. Saya sedih saat mendengar dari Ester kalau Rena kecelakaan. Rena Dan Ester adalah sekretaris saya yang handal. Rena anak yang baik dan rajin. Saya sangat bersyukur punya sekretaris seperti Rena. Mengenai biaya pengobatan Rena, jadi tanggung jawab perusahaan saya, Pak Budi".


"Terima kasih Bu Tita, untuk seluruh biaya pengobatan Rena sudah di tanggung oleh Tante Silvani dan Om Bram, orang tua angkat Rena. Mereka tidak bisa datang karena mereka tinggal di luar negeri".

__ADS_1


" Maksudnya Pak Budi apa? Orang tua angkat memang orang tua kandungnya Rena kemana? Kamu tahu mengenai inj Ester?"


"Maaf Bu Tita, Ester tidak tahu, yang Ester tahu Rena ngekost yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kantor.


" Ceritanya panjang Bu Tita, nanti pasti saya kasih tahu Ibu."


"Baik Pak Budi, yang jelas Pak Budi harus kuat dan sabar menghadapi Rena nanti saat keluar dari rumah sakit karena penyembuhan untuk yang mengalami patah tulang belakang membuat patah semangat orangnya. Saya tahu karena salah satu adik saya pernah mengalami juga".


"Iya Bu, memang saya harus sabar menghadapi Rena yang sebenarnya mentalnya tertekan dan rapuh. Mungkin Bu Tita melihat Rena adalah sosok yang mandiri, ya memang karena masa kecil dari keluarganya yang membentuk Rena dan dipaksakan untuk bekerja dari dia SMP untuk membayar uang sekolahnya sendiri, singkat ceritanya Rena dibuang oleh orang tua kandungnya, diserahkan ke keluarga lain dan diusir kemudian diasuh oleh Tante Silvani dan Om Bram. Perjalanan yang tidak mudah untuk Rena dari kecil. Budi tidak dapat melanjutkan ceritanya, Ia menangis setiap mengingat kejadian-kejadian yang menimpa Rena dan pernah dilihatnya langsung."


"Pak Budi, saya mengerti dan jadi mengerti sosok Rena. Karena selama di kantor, Rena anak yang sopan, tanggung jawab dan tidak pernah mengeluh sama sekali. Saya benar-benar appreciate dengan Rena. Di balik kecantikan Rena, buat saya pribadi, saya sayang sama Rena dan Ester, dan saya menganggap mereka bukan sekedar sekretaris tetapi anak buat saya".


"Terima kasih Bu Tita".


" Kalau begitu Saya permisi pulang, Jika nanti Rena sudah masuk ke kamar perawatan mohon saya di infokan ya Pak Budi."


"Baik Bu Tita, terima kasih".


"Budi, gue balik yah, itu ada makanan buat loe, djmakan jangan sampai sakit. Semangat dan sholat ya".


" Thank you Ncis".


"Nanti sore atau malam gue ke sini lagi sekalian bawain loe baju ganti".


Budi menganggukkan kepalanya.


Ancis, Bu Tita dan Ester sudah di dalam mobil, mereka terdiam dan bermain dengan pikirannya sendiri.


Ternyata hidup kamu struggle Rena, hampir 8 tahun kamu bekerja dengan penuh dedikasi. Semoga kamu cepat sembuh Rena. Tanpa di sadari Bu Tita meneteskan air mata.


Rena, cepat sembuh sayang, selama beberapa minggu ini ruangan akan sepi, tidak ada lagi tawa canda.


Aku semakin ingin memilikimu Rena, mendengar kisahmu dari Budi. Kamu, wanita yang sempurna seperti yang Budi ceritakan sama aku. Dan aku jadi tahu kenapa Novi bisa bilang bahwa kamu adalah adiknya. Banyak yang sayang dengan dirimu. Rena yang cantik, anggun dan pintar. Aku akan memberikan kebahagiaan untukmu.

__ADS_1


__ADS_2