
Jam 09.00, polisi sudah datang ke rumah orang tua angkat Rena. Ibu pingsan melihat polisi yang membawa kakaknya Rena.
Ibu yang akhirnya siuman minta tolong agar Mia mau mengantarkannya bertemu dengan Rena.
Mia mengajak ibunya ke rumah Rena.
"Pak satpam buka pintu, saya mau ketemu Rena, kakak saya! Cepat!"
"Mbaknya siapa? Adiknya non Rena? Setahu saya non Rena tidak punya adik. Dan lagipula buat apa saya harus buka pagar. Mbaknya ngga punya sopan santun. Non Rena saja santun, baik dan tidak pernah marah-marah. Non Rena sedang keluar kota, tadi pagi baru berangkat!"
Pak Mastar yang sedang menyiram tanaman mendengar keributan dan menghampiri pak Satpam.
"Ada apa Din? Pagi-pagi sudah teriak-teriak!"
"Inilah Pak Mastar, ada mbak-mbak ngaku adiknya non Rena, sedangkan non Rena ngga punya adik. Gimana saya mau percaya sama si mbak. Datang-datang merintah saya seenaknya saja."
Pak Mastar mendekati pagar.
"Mbaknya mau ketemu siapa dan apa keperluannya."
"Hei kacung, cepat buka pintu. Saya adiknya Rena, kakaknya Rena masuk penjara karena semalam dikasih cek sama Rena dan katanya penipuan. Jadi yang harusnya ditangkap itu Rena bukan kakak saya."
"Maaf mbak, Pak Mistar sudah cerita sama saya dan Mbok. Saya tahu kesalahan bukan di non Rena. Sesadis-sadisnya menyiksa non Rena, non tidak akan melaporkan kalian ke polisi. Tetapi kalian sudah keterlaluab."
__ADS_1
"Bilang sama Rena, jangan mentang-mentang orang kaya dan bisa bayar polisi, seenaknya nangkap orang yang tidak bersalah."
Mbok yang mendengar keributan segera berlari keluar.
"Mbak Mia kan? Tolong tunggu saja di rumah. Tidak usah minta uang sama non Rena terus. Kalau mau hidupnya seperti non Rena harus bekerja keras. Tidak perlu non Rena yang telpon polisi tetapi kami semua bisa telpon polisi sekarang juga untuk menangkap mbak karena sudah membuat keributan di rumah orang."
Ibu yang dari tadi diam akhirnya bicara.
"Maaf atas sikap anak saya yang tidak sopan. sekiranya bisa saya mau ketemu dengan Rena. Saya ibunya Rena, walaupun bukan ibu kandung tapi saya yang merawat Rena dari kecil. Jadi tolong ijinkan saya bertemu dengan Rena."
"Ibu, non Rena tinggal sama majikan saya disini dari SD. Saya tahu gimana kondisi non Rena saat itu. Dan juga selama disini, ibu dan keluarga pernah datang untuk sekedar menjenguk non Rena. Ibu bilang ibu merawat non Rena dari kecil. Seekor singa yang buas saja, jika melihat ada seekor anak singa tanpa ada orang tua aslinya, dia akan merawat anak singa itu dengan penuh kasih sayang sama seperti anak kandungnya. Tidak akan dibedakan. Tetapi ibu? Saya memang bukan orang pintar seperti non Rena, ibu maupun anak ibu yang lain tapi saya juga seorang ibu."
"Iya Mbok, saya hanya ingin bertemu Rena agar anak saya jangan dipenjarakan dan kami janji untuk tidak mengganggu Rena lagi."
"Non Rena sudah pergi dari pagi keluar kota, dan mengenai kapan pulangnya saya kurang tahu karena non Rena banyak pekerjaannya."
"Halah bilang aja ngga mau kasih tahu Rena dimana? Kacung saja sok."
"Mbak, jaga omongan ya. Walaupun kami hanya kacung seperti yang mbak bilang, tapi kami bekerja bukan hanya menadahkan tangan kepada orang tanpa bekerja meminta belas kasihan. Allah tahu mana yang berusaha dan mana yang tidak. Jangan merendahkan orang, dan menganggap diri sendiri lebih tinggi. Ada saatnya nanti Allah akan merendahkan mbak. Karma itu ada loh Mbak? Lebih baik tobat dan doa minta petunjuk sama Allah untuk dipermudah segala urusannya."
Mbok pergi dari hadapan Mia dan ibunya.
"Mia, ayo pulang, kamu sudah membuat ibu malu dengan sikapmu yang seperti itu!"
__ADS_1
"Tapi bu, kita kesinikan karena ibu yang minta untuk bertemu Rena dan mau minta tolong agar kakak dibebaskan."
"Apa semua orang kaya seperti itu ya Bu? Karena punya uang bisa seenaknya saja nangkap orang yang tidak bersalah."
Ibu tidak mau jawab pertanyaan Mia. Ia tahu, ia telah salah mendidik anaknya dan juga tidak pernah merawat, mencintai dan menyayangi Rena seperti anak-anaknya. Kejadian tadi pagi adalah kesalahan dirinya yang egois dan juga almarhum suaminya yang selalu menuruti maunya.
Anak-anaknya tidak ada yang tahu termasuk Rena Bahwa sebenarnya Rena adalah anak dari almarhum suaminya dan perempuan lain yaitu penbantunya. Untuk pembantunya diperbolehkan tinggal sampai Rena berumur 3-4 tahun. Dan ia melampiaskan semua kemarahan terhadap perempuan itu melalui Rena dan suaminya yang harus melakukan. Ia tidak pernah mau menyentuh Rena. Rahasia ini hanya dia yang tahu dan almarhum suaminya juga bude Parti tetangganya yang masih saudara dengan dirinya.
Budi sudah di kantor polisi untuk mendengarkan keputusan apakah nanti kakaknya Rena akan ditahan atau bagaimana?
"Pak Polisi, perempuan ini sudah mengganggu hidup seseorang yang tidak ada hubungannya. Saya tahu semuanya dan saya ada bukti-buktinya."
Pak polisi menerima semua bukti yang diberikan oleh Budi.
"Tapi pak polisi, Rena itu adik saya dan saya berhak minta uang dan kehidupan yang lebih baik sama dia."
"Sebentar bu. Ibu jangan berbicara sebelum saya minta untuk berbicara. Karena dalam laporan yang saya terima, ibu memeras seseorang untuk mendapatkan semua keinginan ibu Dan orang tersebut memberikan tapi kalau terus menerus, wajar jika dia merasa seperti diperas dan diperalat dan itu ada pasalnya."
"Tapi pak, tidak seharusnya saya ditangkap. Saya tidak mencuri saya tidak merampas, saya hanya meminta hak saya!"
"Sekali lagi bu. Bisa diam. Kami akan memberikan pertanyaan sama ibu dan tolong dijawab dengan benar. Apabila ibu menjawab pertanyaan kami dengan berbohong, bisa dipastikan kami akan memasukkan ibu ke dalam sel untuk ditahan."
Rena sedang meeting dengan Vito dan beberapa orang untuk event yang akan di selenggarakan. Banyak hal yang harus ia pelajari dan amati karena beban event kali ini akan membawa nama Indonesia lebih luas lagi.
__ADS_1
Rena tidak tahu apa yang terjadi dengan kakaknya yang ditangkap polisi. Budi berusaha agar Rena tidak tahu. Dan Budi sudah minta sama Pak Mistar untuk tidak berbicara dengan Rena mengenai kejadian semalam.
Budi ingin Rena tidak terlalu berbaik hati dengan keluarga yang menganggap Rena ada dan tidak ada. Ada saat mereka membutuhkan uang dan tidak ada saat mereka tidak membutuhkan uang. Dan Budi masih belum bisa menemukan apa maunya Rena mengapa sampai sekarang masih berbaik hati membantu mereka yang telah membuat dirinya trauma dan selalu merasa sebagai anak yang dibuang oleh orang tuanya.