
Rena segera ke kamar mandi dan dia melihat perutnya yang kemerahan karena ditendang ayahnya. Rena merasakan sakit dibagian perutnya saat mengusap sabun mandi. Selesai mandi, Rena mengusapkan minyak gosok ke perutnya dan memakai baju. Air matanya tidak bisa berhenti, Rena merasakan hatinya sakit atas perkataan Ayah dan Kakaknya sedangkan Ibunya hanya diam seperti waktu Rena kecil, ditambah dengan perutnya yang memar, Sebenarnya Rena sempat senang saat Ibunya berkata ke Ayah dan meredakan emosi Ayah. Rena berpikir bahwa Ibunya membuka hati untuk Rena tetapi ternyata tidak. Rena minum teh yang tadi dibuat oleh Ibu Kost dan meminumnya. Setelahnya agak tenang dan dapat mengontrol air matanya supaya tidak menangis lagi, Rena keluar kamar dan menemuu Bagas.
Bagas ternyata sudah sendirian, mungkin Ibu kost sudah masuk ke rumah utama.
"Gas, maaf nunggu lama, aku ngga tahu kalo kamu telpon dan datang kesini". Rena berusaha duduk pelan-pelan dan meringis kesakitan karena perutnya memar.
"Ren, kamu kemana? Dari tadi pagi aku telponin kamu tetapi ngga diangkat, aku kirim pesan ke kamu tidak dibalas. Habis dari kampus dan melihat hasil, aku diterima kuliah. Terus aku coba telpon kamu lagi ternyata tetap tidak diangkat, makanya aku kesini".
"Iya maaf Gas, aku tadi ada urusan pribadi. Makanya aku ngga bisa angkat telpon ataupun balas pesan kamu karena handphonenya didalam tas". Muka Rena menahan sakit saat bicara.
"Ren, kamu kenapa sih. Ke dokter yuk, kamu kelihatan kesakitan ditambah kamu tadi pulang jalan kamu tertatih-tatih gitu dan bajumu kotor semua. Kalau aku boleh tahu, ada urusan apa Ren? Mungkin aku bisa bantu. Aku sedih lihat kamu seperti ini. Aku sayang sama kamu Rena". Bagas menggenggam tangan Rena.
"Nanti aku pasti cerita sama kamu Gas, cuma belum saatnya. Biar aku selesaikan urusanku dulu yah. Percaya sama aku, aku ngga papa kok, mungkin karena aku lagi dapat tamu bulanan Gas, kan kamu tahu kalo perempuan ada yang sakit saat datang tamu bulanan ada yang ngga". Rena berusaha tersenyum di depan Bagas, supaya Bagas tidak terlalu kuatir dengan dirinya.
"Eh iya, selamat yah Gas, akhirnya kamu kuliah. Kamu harus kuliah yang rajin, buat orang tuamu bangga, mereka menyekolahkan kamu biar kamu nanti menjadi orang sukses dan besar. Gas, maaf bukannya aku ngusir, aku mau istirahat, mungkin besok kamu bisa main lagi kesini, kan besok hari Minggu. Gimana?"
"Ren, aku kuatir sama kamu, sebentar Ren". Bagas berjalan ke belakang ke rumah utama yang ditempati Ibu Kost. Tidak berapa lama Bagas datang dengan Ibu kost.
"Rena, Ibu mau bawa kamu ke dokter sama Bagas, Ibu juga kuatir sama kondisimu. Dan jangan menolak yah?".
Rena melihat kearah Ibu kost dan Bagas yang akhirnya ia menyetujui diajak ke dokter.
Untungnya tidak banyak pasien setelah antri selama setengah jam, Rena dan Ibu kost juga Bagas masuk ke ruang periksa.
__ADS_1
Saat dokter memeriksa Rena dan menekan perutnya, Rena teriak kesakitan sampai menangis. Dokter mohon ijin membuka kaos Rena dan dokter kaget melihat perut Rena memar merah kebiruan, segera dia minta suster mengambil alat untuk USG dan menaruh kan gel di perut Rena. Dokter memeriksa dalam perut Rena dan memastikan tidak ada luka.
Dokter memberitahu ke Ibu kost dan Bagas bahwa perut Rena memar. Bagas bertanya apakah Rena sedang datang bulan. Dokter bilang tidak. Dokter memberikan resep untuk mengobati memar diperut Rena. Ibu kost penasaran dengan memar diperut Rena, Ibu Kost membuka kaos Rena dan menjerit melihat perut Rena, Bagas juga sempat melihat merah kebiruan diperut Rena.
Bagas berusaha menggendong Rena, tetapi Rena menolaknya. Mereka pulang dengan pikiran masing-masing. Sesampainya dirumah Rena langsung minta ijin masuk ke kamar. Dan Bagas pamit pulang ke rumah.
Sepanjang perjalanan pulang, Bagas memikirkan kondisi Rena. Rena tadi kemana sebenarnya dan ada urusan apa? Urusan pribadi apa? Kenapa kamu tidak mau cerita sama aku sih Ren. Aku sayang dan cinta sama kamu tetapi kenapa kamu masih menutup hati kamu. Apa yang mesti aku perbuat biar kamu membuka hatimu, Rena. Aaaarrrrgggghhh!!!!' Bagas kesal sendiri dan mengacak rambutnya.
Sementara dikamarnya Rena baru saja minum obat dan mengoleskan perutnya dengan salep yang diberikan dokter. Rena berusaha merebahkan dirinya pelan-pelan. Rena masih ingat ucapan ayahnya bahwa ia adalah anak yang dititipkan kepada Ayah dan Ibunya. Jadi aku bukan anak Ayah dan Ibu, lalu aku anak siapa? Siapa orang tuaku? Apakah karena aku bukan anak kandung mereka, aku harus menderita seperti ini dari kecil? Rena menangis dan hanya menangis sepanjang malam mengingat kejadian-kejadian semasa kecilnya yang membuatnya selalu ketakutan dan menahan rasa lapar. Karena kalau ketahuan Rena mengambil makanan tanpa ijin Ayah atau Ibunya dipastikan Rena akan dipukul. Dan ada 2 anak kecil di rumahnya, berarti saat aku pergi dari rumah, Ibu melahirkan 2 orang adik. Adikku ada 3 tapi apakah mereka adikku? Adik-adikku tidak ada yang tahu mengenai kejadian aku masih kecil. Dan mereka tidak mengenal aku. Mungkin Marta tidak mengingat, karena saat aku diusir dari rumah, Marta masih kecil baru mau masuk Tk. Dan nama anak Ayah dan Ibu dimulai dari huruf M, sedangkan namaku hanya Rena saja. Mirna Elisa, Marta Jelita, Mia dan anak laki-laki itu siapa namanya, aku tidak tahu. Rena masih memikirkan kejadian tadi siang, handphonenya berdering
"Iya Gas, ada apa?"
"Rena, sudah malam, tidur dan istirahat biar besok bangun lebih segar. Kejadian yang menimpa kamu, aku tidak tahu. Aku akan menunggu kapanpun kamu bisa dan siap untuk menceritakan sama aku. Aku benar-benar sayang dan cinta sama kamu, Rena. Besok pagi aku bawakan sarapan buat kamu. Kamu ngga boleh nolak sarapan yang aku bawa. Dokter tadi bilang untuk sementara kamu makan bubur. Jadi besok aku bawain bubur. Kamu harus makan jangan suka menunda makan. Ren, kamu cantik, tapi kalau melihat kamu sedih dan kesakitan seperti tadi, aku nangis Ren. Karena selama aku kenal kamu, ekspresi muka kamu datar. Ya sudah kamu tidur, jangan mikir apapun, istirahat ".
"Iya Gas, ini juga mau tidur dan kamu telpon, gimana aku mau tidur? Omonganmu panjang kali lebar kali tinggi. Makasih sudah berkali-kali bilang bahwa kamu sayang dan cinta sama aku. Aku tutup handphonenya yah Gas, aku tidur dulu. Malam. Bye Bagas".
Jam 6 pagi handphone Rena berbunyi dan ada 1 pesan masuk dari Bagas yang memberi tahu bahwa dia akan sampai kost jam 7. Rena membalas pesan Bagas.
Rena berusaha bangkit dari tidurnya dan ia masih merasakan perutnya yang sakit. Saat akan berdiri menuju kamar mandi, ada pesan masuk dan nomer tidak diketahui. Rena membuka pesan itu.
"Anak ****, ini uang yang harus kamu berikan sama Ayah dan ditunggu sampai nanti siang. Uangnya ditransfer saja, gara-gara kamu datang. Ayah masuk harus ke dokter kena serangan jantung. Dan Mia adikku harus benjol kepalanya semua gara-gara kamu. Jadi hari ini juga harus ditransfer uang sebesar 10juta dan ini rekening Ayah. Jangan pernah lagi injak kaki kotormu ke rumah Orang tuaku!!"
Hati Rena sakit membaca pesan dari Kakaknya. Tadi subuh dia sudah sembahyang dan minta di berikan kemudahan untuk masalahnya.
__ADS_1
Baru beberapa langkah menuju kamar mandi, handphone Rena berdering. Dia melihat nomer telpon yang dimulai dari +1 dan itu panggilan video call, siapa ini yah?
"Hallo Rena, kita kangen sama kamu sayang".
Rena melihat Om Bram, Tante Silvani dan Novi, Rena menitikkan airmata melihat mereka,
"Rena juga kangen Om, Tante, Novi".
"Kamu baik-baik saja kan disana? Kamu lagi sakit yah Ren, mukamu pucat dan mata kamu sembab. Maafin Om dan Tante juga Novi karena baru sekarang hubungin kamu. Karena masih banyak yang harus diurus".
"Rennn, kamu sakit nih, Mama Rena sakit tahu Ma, pasti belum makan, kan udah akhir bulan kamu udah gajian masa tetap susah makan sih Ren". Novi langsung ngomong padahal Rena baru saja mau bicara ke Tante Silvani".
"Iiih apaan sih Novi, ngga Tante, Rena ngga sakit, lagi datang bulan jadi begini, kan Tante tahu sendiri. Dan baru aja bangun tidur mau mandi ini?"
"Rena bohong Ma, kelihatan mukanya habis nangis semalaman pasti". Novi ngga mau kalah.
"Ngapain bohong, kalau muka sembab iya, aku habis nangis semalam karena kangen sama Tante, Om dan juga kamu Nov, biasanya kita ngobrol sampai malam kalau malam minggu".
ucap Rena
"Rena sayang, ini no handphone Tante, kamu bisa hubungi Tante di nomer ini. Nanti Tante kirim no handphone Om Bram dan Novi".
"Ya sudah kamu baik-baik saja yah, Ingat ada apa-apa kasih tahu Tante. Oh iya, Tante lupa kasih tahu, kost kamu sudah Tante bayar sampai 1 tahun lagi. Tante berharap kamu ngga pindah kost karena Tante lihat di kostmu itu tempatnya bagus dan khusus perempuan semua. Jadi tidak bisa buat macam-macam yang negatif. Sana kamu mandi. Nanti Tante hubungi kamu lagi yah sayang, Bye Rena, we miss u and take care, love u, Rena".
__ADS_1
"Iya Tante, terima kasih, miss u and love both of u".
Rena menangis sejadi-jadinya antara bahagia dan sedih, karena Rena masih punya keluarga yang sudah menerima dia dari SMP sedangkan keluarganya yang dari dia kecil masih belum mau menerima dirinya dan tetap mengusirnya.