
"Rena, yuk kita pulang, Mama sudah selesai terus kita lanjutan untuk dinner dengan Mama Annelise".
"Ke kejar Ma waktu nya?"
"Ke kejarlah. Sekarang jam 3. Kita bisa langsung berangkat dan bisa pulang ganti baju. Kamu yang bawa mobilnya ya. Nanti Mama yang kasih petunjuk".
" Iya Ma".
Rena dan Ibunya balik pulang. Dan perjalanan lebih lama 30 memit, karena Rena setir mobilnya lambat, Rena sendiri belum terlalu mahir menyetir mobil.
Mereka sempat pulang dan ganti baju lalu pergi ke restoran yang sudah diinfokan Ancis.
Mama Annelise senang karena Rena dan Tante Silvani ternyata bisa datang. Mama Annelise sudah menyiapkan hadiah untuk Rena. Mama Annelise dan Ancis sudah menunggu di restoran.
Tidak berapa lama Rena dan Mama Silvani datang. Mereka masuk ke restoran dan lamgsung menuju ke meja makan.
"Malam dokter Silvani dan Rena. Oh my goodness, kamu cantik sekali Rena".
" Terima kasih Tante Annelise".
Dan satu per satu makanan yang dipesan Tante Annelise datang. Mereka makan dan mengobrol dengan santai. Ancis menikmati pemandangan di depan matanya yaitu Rena.
Sesekali mata Rena dan Ancis menatap dan hal itu di lihat oleh Mama Silvani dan Mama Annelise.
"Oh iya, kamu kapan berangkat ke Indonesia, Rena?"
"Besok malam Tante, jam 7. Besok Papa datang siang dari SF, jadi aku bisa ketemu sama Papa dulu."
"Oh ya berarti bareng yah dengan Ancis juga ke Indonesia, ada yang harus diurus di Jakarta.
" Wah bisa barengan ya. Setidaknya Rena ada teman ngobrol di pesawat, ya sayang".
__ADS_1
"Iya Ma, kalau sebangku kalau beda bangku dan kelas ya ngga bisa ngobrol."
"Kita bakalan berdekatan bangkunya Ren."
"Kok bisa? Kamu kan ngga tahu aku duduk dimana?"
"Kita lihat besok ya Ren."
"Ok."
"Rena, Tante mau tanya apakah kamu tidak ada keinginan seperti Novi, kakakmu yang sudah menikah?"
"Aduh, bingung Rena jawabnya Tante. Keinginan itu pasti ada Tante, hanya saja dengan siapa? Apakah para lelaki akan mau menikah dengan Rena setelah tahu bahwa Rena bukan anak kandung Mama Silvani dan Papa Bram? Gini, mungkin lakinya mau tapi bagaimana orang tuanya? Rena bisa bilang bahwa hampir semua orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya walaupun anaknya sudah dewasa dan menentukan jalan hidup nya sendiri. Tetapi banyak orang tua, yah memang tidak semuanya pasti akan mengacu kepada bibit, bebet dan bobotnya. Rena belum bisa lagi memulai hubungan dengan seorang laki-laki dengan kejadian-kejadian yang Rena alami. Saat ini Rena sedang menikmati hidup Rena. Jadi ya Rena santai saja Tante. jika Allah SWT menghendaki Rena menikah tidak perlu lama, pasti menikah. Rena masih banyak tugas hidup yang harus Rena kerjakan Tante."
"Ya, benar Rena, kamu harus lebih menikmati hidupmu".
"Iya Tante."
"Maaf Tante, aku tidak mau mendapat pemberian dari siapa pun. Bukan, bukan sombong Tante. Aku tidak mau menyusahkan Tante dengan memberikan berbagai macam hadiah. Dengan Tante ingin menjadikan Rena anak Tante, Rena mengucapkan Alhamdulillah, Rena diajarkan untuk menghormati dan menghargai orang yang lebih tua dari Rena, terlepas bahwa orang itu saudara, keluarga atau orang lain. Rena sayang semua orang. Jadi, dengan rasa syukur dan terima kasih, Tante menganggap Rena sebagai anak Tante". Rena bangkit berdiri, berjalan ke Tante Annelise, memeluk dan mencium Tante Annelise membuat Tante Annelise menangis karena terharu dan bahagia.
"Makasih anakku Rena cantik".
"Kembali kasih Tante. Jadi disimpan saja hadiahnya Tante."
"Iya sayang, Tante akan simpankan untuk kamu."
"Annelise, please don't be insist. Rena love you as you are her mother and one things, Rena love both of us.
"Ya I know Silvani. I am really happy because I have daughter now.
" Ya, ya." Tante Silvani tertawa senang dan terharu, bahwa banyak yang sayang dengan Rena walaupun trauma masa kecilnya terhadap orang tuanya sendiri meninggalkan luka yang dalam tetapi Rena bangkit berdiri dan menjadi wanita yang mempunyai style tersendiri.
__ADS_1
Mereka berempat makan bareng dengan obrolan dan terlihat senyum kebahagian yang natural.
Mereka tidak tahu bahwa Budi juga berada di restoran yang sama dengan orang tuanya. Mamanya Budi ingin menghampiri dan membuat malu Rena kembali tetapi dicegah oleh Papanya Budi.
"Jangan ganggu Rena, dia gadis yang baik terlihat dari bahasa tubuhnya. Hormati dan hargai orang lain. Jangan memaksa kehendak Mama kepada orang lain. Dan Papa ajak kalian makan disini karena kita jarang makan bersama. Kita masing-masing punya kesibukan sampai lupa bahwa kita keluarga. Dan Mama, jaga attitude kamu terlepas bahwa kamu adalah istri saya."
Mama Budi kesal dengan omongan suaminya. Tetapi ia tidak mau rencananya untuk menikahkan anak kandungnya dengan Budi. Bagusnya Mama tidak tahu pembicaraan antara Budi dan Papanya.
"Annelise, sudah malam. Kita pamit pulang dan terima kasih atas undangan makan malamnya. "
"Sama-sama Annelise dan Ancis".
" Tante, aku antar Tante dan Rena ya, Mama bisa pulang karena pakai supir."
"Sorry Ancis, ngga usah. Kamu lebih percaya Mama kamu diantar supir dan ini sudah malam. Hormati dan hargai orang tuamu. Ya, aku tahu ini bukan Indonesia, tapi berjaga-jaga lebih baik."
"Ok Rena. Siap."
"Hahahaha Frans di skak mat sama Rena. That's my daughter. Oh iya Rena, kalau bisa kamu ke rumah Tante besok ya. Dan biar Frans jemput kamu."
"Maaf Tante, bukannya Rena tidak mau tetapi Rena harus menyiapkan keberangkatan Rena besok. Next ya Tante, kalau Rena ke Amerika lagi."
"Ok my baby. Good night and take care both of you ya."
Tante Annelise memeluk dan mencium Rena dan Tante Silvani. Mereka meninggalkan restoran.
Budi yang melihat kebersamaan mereka merasa cemburu.
"Ancis, gue tahu loe suka sama Rena. Gue siap bersaing sama loe, Ncis untuk bisa balik ke posisi gue, jadi suami Rena. Loe ngga tahu Rena seperti apa". Budi membatin dalam hati dan mengepalkan tangannya.
Ancis merasa senang malam inj akhirnya bisa memgobrol dengan Rena walaupun ada Tante Silvani dan Mamanya.
__ADS_1
Ancis kagum dengan sifat Rena yang tidak mau menerima pemberian hadiah dari Mama Annelise yang berupa kalung berlian. Jika perempuan lain kemungkinannya akan langsung menerimanya dan menjadi drama queen di depan Mamanya. Tapi tidak dengan Rena. Terlihat ketulusan di matanya Rena.