
Akhirnya Rena bisa pulang dari rumah sakit setelah hampir satu bulan lamanya terbaring di rumah sakit. Dan Rena tinggal di rumah Tante Silvani.
Tante Silvani dan Om Bram memutuskan balik ke Amerika setelah kondisi Rena pulih. Novi sudah balik ke Amerika karena harus masuk kuliah kembali sedangkan Dian masih ada di Jakarta.
"Rena, kamu lebih baik tinggal di rumah sendiri, tidak usah lagi tinggal di rumah Budi. Nanti ada pembantu dan sopir buat kamu. Mama ngga mau kamu kenapa-napa lagi. Mama dan Papa jauh dari kamu. Dan Novi selesai kuliah juga akan menikah dan ikut suaminya ke Jerman. Mama dan Papa maunya kamu ikut ke Amerika dan tidak usah bekerja lagi".
"Mama dan Papa, bukannya Rena tidak mau ikut ke Amerika, tapi Rena masih ingin bekerja dengan kemampuan yang Rena punya. Rena tidak mau menyusahkan Mama Silvani dan Papa Bram yang sudah menjadikan Rena sebagai anak. Rena akan menempati rumah ini, sampai nanti Rena akan menyusul Mama dan Papa ke Amerika dengan biaya Rena sendiri. Itu menjadi kebanggaan untuk diri Rena".
"Ok sayang, Papa ngerti. Kami akan tetap menunggu kamu datang ke Amerika untuk tinggal bersama kami lagi seperti dulu. Dan ini hadiah dari Papa dan Mama buat kamu".
Om Bram memberikan Rena kunci mobil.
" Ma, Pa, te.. terima kasih atas semua kebaikan, perhatian, cinta dan kasih sayang yang Mama, Papa dan Novi berikan kepada Rena. Rena tidak akan pernah mengecewakan Mama, Papa dan juga Novi". Rena menangis bahagia karena Allah memberikan keluarga yang sangat baik kepada dirinya.
"Mobil kamu akan datang sebentar lagi dan kamu tidak boleh menyetir sendiri sampai kondisi kamu benar-benar baik. Setelah itu kamu harus pergi terapi dan nanti diantar oleh Budi".
" Iya Pa".
Mobil sedan berwarna hitam baru saja datang. Dan Rena tidak percaya bahwa begitu besar berkah yang di berikan oleh Allah.
Papa mengenalkan sopir untuk Rena dan mulai besok sopir itu harus datang untuk mengantar Rena menjalani terapi.
"Pagi Om dan Tante".
" Hei Budi, pagi. Rena sudah nunggu kamu untuk antar terapi. Karena ini hari Sabtu, Om dan Tante mengijinkan kamu untuk mengantar Rena dan mengajak jalan Rena tapi jangan pulang terlalu malam".
"Baik Om dan Tante. Wah, Om dan Tante back to Jakarta lagi nih? Mobil baru."
"Bukan, ini mobil buat Rena dan Rena akan tinggal disini. Sesekali kamu datang tengokin Rena. Akhir bulan Om dan Tante akan balik ke Amerika".
" Baik Om."
Budi masih mengobrol dengan Om Bram dan tidak lama Rena datang. Budi melihat Rena yang semakin terlihat cantik walopun masih harus menggunakan kursi roda.
"Om dan Tante, Budi antar Rena terapi dulu. Ayo Rena kita jalan sekarang biar tidak kesiangan".
__ADS_1
Budi mendorong kursi roda Rena dan mereka masuk ke mobil dan pergi untuk terapi Rena.
" Budi, terima kasih ya kamu mau antar aku terapi."
"Sama-sama Rena, aku akan selalu ada buat kamu Rena".
" Mulai deh gonbalnya".
"Aku serius Rena sayang. Dan kamu semakin terlihat cantik".
" Terima kasih".
"Kemungkinan minggu depan aku sudah masuk kerja, Sebulan lebih aku tidak masuk kerja. Aku kangen suasana kantor."
"Kamu ngga kangen aku, Rena?"
"Gimana mau kangen, kamu hampir tiap hari datang".
" Kita sudah sampai. Sebentar aku keluarin kursi rodanya."
"Mulai deh, keras kepalanya. Kamu masih pemulihan Rena dan belum balik check up lagi ke dokter. Dan aku belum bisa gendong kamu."
"Ya ok."
Budi mengeluarkan kursi roda dan membantu Rena keluar dari mobil dan Rena duduk di kursi roda.
Dari seberang jalan Ancis melihat Budi dan Rena. Ancis melihat Rena yang semakin cantik seperti yang Budi lihat. Aduh Rena, kamu semakin cantik. Aku benar-benar jatuh hati sama kamu dari awal bertemu di kantor. Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Tapi sahabatku mencintai kamu.
"Ma, akhir bulan kita baru balik ke Amerika sepertinya tidak mungkin. Mjnggu depan papa ada meeting dengan klien besar. Atau papa pulang duluan? Gimana menurut Mama? "
"Ya, minggu depan kita balik, tadi Mama dapat email dari suster ada seorang Ibu yang akan operasi myom minggu depan. Dan dia maunya Mama yang kerjakan tidak mau di kerjakan oleh dokter Michelle".
"Ok. Biarkan hari ini Rena dan Budi pergi lebih lama dan tadi papa sudah minta sama Budi jangan pulang terlalu malam".
" Seandaimya saja Rena mau ikut kita ke Amerika tapi sepertinya ia belum mau".
__ADS_1
"Biarkan saja Ma, Yang pasti pintu rumah kita selalu terbuka untuk Rena. Dan selama ini Rena tidak pernah menyusahkan kita. Pengalaman hidupnya yang keras membuat Rena jadi pribadi yang kuat dan tangguh. Tidak banyak perempuan yang bisa seperti Rena".
"Mengenai hubungannya dengan Budi gimana Pa? 2 bulan lalu Mamanya Budi mau menikahkan Budi dengan perempuan lain. Dan sepertinya Mamanya Budi kurang berkenan dengan Rena dan latar belakang hidup Rena".
" Kita lihat saja dulu Ma, karena sepertinya Rena belum mau menikah dalam waktu dekat. Rena sedang menikmati karir dan kuliahnya. Lagi pula Rena mendapatkan seorang bos yang baik juga".
Rena dan Budi baru sampai rumah.
"Sore Om dan Tante".
" Sore, loh jam segini sudah pulang?"
"Iya Om dan Tante, Rena cape dan mau istirahat karena tadi terapinya lumayan lama".
"Papa, Mama, Rena istirahat dulu ya. Rena mau rebahan. Penat rasanya. Budi terima kasih yah sudah bantu jaga aku selama ini. Lebih baik kamu turutin kata-kata Mamamu, biar jalan hidupmu lebih baik lagi. Aku tidak akan ganggu kamu lagi. Bye, Budi. Semoga pertunangan kalian berjalan lancar yah".
Rena segera mengayuh kursi rodanya sendiri ke kamar.
"Budi, ada apa? Kok tiba-tiba Rena bicara seperti itu? Kalian bertengkar?"
"Maaf sebelumnya Om dan Tante. Tadi Mama telpon aku dan aku diminta datang ke Amerika ada hal penting katanya. Dan tanya aku sedang sama siapa? Aku kasih tahu bahwa aku sama Rena. Lalu Mama mau bicara dengan Rena dan di loud speaker". Budi terdiam sejenak, mukanya terlihat sedih dan bingung.
"Lalu Mama kamu bilang apa?"
"Mama bilang sama Rena untuk tidak usah lagi menjalin hubungan dengan aku. Mama melihat bibit, bebet dan bobot". Dan Mama bilang bahwa ternyata Rena bukan anak kandungnya Om dan Tante. Aku diminta untuk balik dan tunangan dengan mantan pacar aku yang sekarang tinggal di Amerika. Karena Mama dan Papa kenal sama mantan aku. Mama tidak mau merestui hubungan aku sama Rena. Dan ada kata yang membuat Rena sakit hati bahwa Rena bisa jadi anak *******. Makanya Rena tidak diakui anak oleh orang tuanya dan dibuang. Dan aku tidak punya pilihan harus menuruti apa kata Mama dan papa. Aku bingung Om dan Tante. Seandaimya aku boleh memilih, aku akan dan pasti memilih Rena".
"Budi, gini saja. Sekarang kamu pulang, biarkan Tante dan Om yang akan bicara sama Rena. Katena kondisi Rena belum stabil dan mungkin selama beberapa hari, kamu jangan temui Rena dulu ya. Biar Rena lebih tenang, kasih waktu ya".
" Baik Tante, kalau begitu Budi pamit pulang Tante dan Om. Terima kasih".
"Ya, sama-sama dan jangan ngebut".
Kepergian Budi dari hadapan Tante Silvani dan Om Bram membuat mereka saling berpandangan.
" Biarkan Rena yang menjelaskan Ma jangan kita yang mulai bertanya".
__ADS_1
"Ya, Pa".