Anak Terbuang

Anak Terbuang
Tender


__ADS_3

Rena Dan Bu Tita sudah sampai di Manna Graha untuk tender pengadaan barang ke pemerintah. Bu Tita mempercayakan semuanya ke Rena. Dan Bu Tita agak pesimis bisa mendapatkan tender itu. Dan yang selalu mendapatkan tender pengadaan barang adalah Bapak Ananta, anak muda seumuran dengan Rena.


3 Perusahaan mengikuti tender. Rena dan Bu Tita. Pak Ananta dan Bu Juli, Bp Raymond dan Bp. Riki.


"Bu Tita, anda tidak pernah lelah yah, selalu ikut tender ini dan bisa dipastikan kami lagi yang akan memenangkan tender ini." Bu Juli tersenyum sinis kepada Bu Tita.


Rena hanya memandang Bu Juli dan Pak Ananta dan ia tidak peduli dengan omongan Bu Juli.


"Ini bukannya perempuan yang semalam eksnya Budi? Ngapain dia disini? Apa bisa dia menyaingi ide saya untuk pengadaan barang ini? Seorang wakil direktur baru menjabat sudah berani mengikuti tender yang tidak pernah di dapat oleh perusahaannya. Ananta atau Anas membatin Di kalangan kantor dikenal dengan nama Ananta, di kalangan teman-temannya ia dipanggil Anas.


Tender di mulai, Perusahaan Ananta memberikan proposal secara professional dan perhitungan yang menghasilkan keuntungan besar. Perusahaan Pak Raymond lebih bagus lagi tetapi keuntungan yang didapat tidak sebesar yang diberikan oleh perusahaan Ananta. Baik Perusahaan Ananta dan Raymond membutuhkan waktu 1 jam untuk presentasi.


Saat mulai perusahaan Rena, baik Ananta dan Raymond hanya menyimak sambil lalu. Ananta sudah yakin bahwa proposalnya yang akan disetujui.


Rena mempresentasikan proposalnya dengan santai dan ada perhitungan untung rugi. Tetapi yang akan didapat bukan keuntungan saat proyek itu selesai tetapi akan berlanjut untuk pengadaan barang yang lain. Ananta hanya tersenyum.


"Juli, lihat anak baru itu, menurut kamu gimana?"


"Ngga usah dipikirkan pak? Dia tidak tahu sistem yang sebenarnya di penerintahan."


"Itu saja presentasi yang bisa saya berikan, kita tidak melihat keuntungan sesaat tetapi keuntungan yang continue dan akan ada pembaharuan kontrak untuk pengadaan barang yang lain. Terima kasih."


"Hah, 15 menit? Presentasi apa seperti itu? Gimana mereka ngerti. Hahahahhaha, Budi, Budi, dia tidak sepintar yang kamu kira."


Tender hari ini selesai dan siapa yang akan terpilih, mereka akan infokan.


Rena dan Bu Tita sudah sampai kantor.


"Rena, good job. Presentasimu singkat padat dan jelas sampai orang yang tidak mengerti saat baca proposalmu langsung dapat intinya. Semoga kita bisa dapat tendernya."


"Amin Bu Tita. jika Allah menghendaki, kita pasti dapat tender itu Bu."


"Insya Allah, Rena."


"Amin Bu, Amin."


"Kamu ada meeting lagikah? Kalau tidak ada, kamu bisa pulang cepat. Kelihatan mata kamu sayu. Jet lag belum hilang-hilangkan?"

__ADS_1


"Iya Bu Tita. Masih ada 1 meeting lagi. Selesai meeting mungkin saya langsung pulang, Bu."


"Ok Rena, good luck ya."


"Siap Bu Tita, terima kasih."


"Budi, gue tadi habis tender dan salah satu rival adalah perusahaan eks pacar loe."


"Oh ya terus gimana? Siapa yang dapat?"


"Masih nunggu, mereka mau pelajari dulu tiap proposal. Itu cewe yang kata loe pintar hahahahah, ngga tuh. Dia presentasi cuma 15 menit."


"Ya Anas, Anas, kebiasaan jelek loe tuh ngga ilang yah sukanya meng-under estimate orang. Loe ngga sadar kalau dia pintar karena rival buat loe untuk dapat tender. Rena memang seperti itu ngga basa basi orang, tegas dan semuanya dapat. Loe butuh 1 jam, dia bisa tuh cuma 10-15 menit"


"Karena loe masih cinta sama tuh cewe makanya loe ngomong kayak gini. Sekarang gue berani taruhan. Itu tender dari pemerintah bakalan gue yang dapat."


"Ok, jadi deal ya. Gentlemen agreement nih.


"Ok, deal. Kalau semisal tuh kantor si cewe yang dapat gue kasih mobil sport gue sama gue kasih satu perusahaan gue Tapi kalau gue yang dapat, perusahaan babe loe gue akusisi."


"Ok, deal. Gue ngga takut karena gue tahu banget sepak terjangnya Rena."


"Hahahah, santai saja Anas. Gue tahu secara logika perusahaan tempat gue dulu untuk proyekan dipegang perusahaan Rena dan yang biasanya ngedeal itu Rena. Bu Tita tinggal checking saja."


"Ha,hhahah, ok deh. Gue mau lanjut kerja. Siap-siap tanda tangan ya Bud, gue akusisi heheheheh."


Budi tidak takut taruhan dengan Anas. Budi yakin bahwa perusahaan Rena yang akan dapat.


"Budi... Budi... gegara cinta sampai berani taruhan perusahaan yang bakalan gue akusisi. Teman-teman, bisnis is bisnis." Ananta tersenyum sendiri karena sebentar lagi akan mendapatkan proyek pengadaan barang dan perusahaan dari Budi.


Pulang dari meeting, Rena tidak langsung pulang, jam 4 sore, ia melewati rumah orang tuanya. Tampak rumah orang tuanya yang tidak terawat dan ada 3 anak kecil perempuan yang sedang bermain, salah satunya sedang menangis Ibunya sedang duduk di depan.


"Pak berhenti." Rena meminta supirnya untuk berhenti.


Rena mengambil amplop coklat yang berisi uang.


"Pak Mistar tolong berikan amplop coklat ini sama ibu yang di depan itu. Bilang saja ini dari keluarga almarhum suaminya. Jangan bilang dari saya dan jangan bilang ada saya di mobil. Pak Mistar bilang saja ada titipan.

__ADS_1


"Baik non Rena."


Pak Mistar keluar dari mobilnya dan menyerahkan uang tersebut kepada ibunya Rena.


Pak Mistar sudah masuk ke dalam mobil.


"Sudah non Rena."


"Kita pulang pak."


Ibu yang menerima amplop coklat dari pak Mistar hanya memandang mobil hitam yang berjalan.


Ibu memanggil cucunya untuk masuk ke dalam. Anak-anaknya sedang pergi. Ia hanya di rumah dengan cucu-cucunya.


"Siapa bapak tadi dan ia kasih amplop dan bilangnya dari keluarga suaminya." Si ibu berusaha mengingat keluarga suaminya karena sejak suaminya meninggal tidak ada. satupun yang datang."


Ibu membuka amplop tersebut dan ada 2 tumpuk uang. 1 tumpuk berjumlah 10juta. Ibu segera menyimpan uang tersebut. Ia tidak ingin anak-anaknya tahu kalau ia punya uang.


Rena sampai rumah menelpon salah seorang kontraktor untuk merenovasi rumah ibunya. Dan ia minta agar ibunya dipindahkan sementara agar dapat direnovasi.


Rena duduk terdiam di ruang tamu. Perasaan sedih mengingat kejadian masa kecilnya terulang. Air mata Rena menetes. Ancis yang datang dan memanggil Rena tidak didengar. Ancis melihat Rena yang sedang menangis.


"Rena, kamu kenapa? Ada masalah apa sampai menangis?" Ancis membatin. Ia memberikan Rena ruang untuk menumpahkan kesedihannya dalam tangisan.


Rena mengusap air matanya dengan tissue. Rena tersadar bahwa di depannya ada Ancis.


"Dari kapan disini? Kok ngga kasih tahu?"


"Aku sudah telpon kamu, terus aku datang yang buka pintu si mbok, terus aku panggil nama kamu berulang kali, kamu diam saja dan menangis. Jadi ya sudah aku tunggu sampai kamu berhenti nangis. Ada apa Rena? Kamu sedih begitu?"


"Ngga ada apa-apa Ancis.".


" Kamu ada apa kesini?"


"Memangnya aku ngga boleh kesini. Kan kamu anaknya mama Annelise. Mau ajak kamu makan di luar."


"Ngga bisa, aku mau makan di rumah saja. Mbok sudah masak. Kamu kalau mau makan sama-sama di rumah."

__ADS_1


"Ok Rena."


__ADS_2