Anak Terbuang

Anak Terbuang
Terbang ke Indonesia


__ADS_3

Mami Silvani terbangun karena handphonenya berbunyi.


Masih terlalu pagi, siapa yang menelpon jam segini?


"Halo, maaf tante ini Ancis."


"Eh iya Ancis ada apa pagi-pagi menelpon tante? Ini masih pagi sekali."


"Rena tante, Rena. Rena pingsan di kantor tadi dan sekarang Rena di rumah sakit, kondisinya tidak sadar atau koma. Dokter sudah cek dan sedang menunggu hasil laboratorium."


"Iya Ancis, tante sama om segera berangkat ke Indonesia. 2 hari yang lalu baru saja Rena kirim pesan ingin ke sini lagi tapi kerjaannya masih banyak."


"Iya tante. Saya tunggu dan kabarin tante dan om berangkat kapan dan saya akan jemput ke bandara."


"Siapa ma?"


"Ancis pa. Katanya Rena tidak sadarkan diri."


"Pesan tiket. Kita berangkat baru bisa berangkat besok. Tidak bisa hari ini ma."


"Iya benar. Mama mau sholat buat kesembuhan Rena."


"Papa ikut."


Papa Bram dan Tante Silvani sholat.


"Pa, nanti Mama urus semua untuk tiket dan visa semoga bisa selesai hari ini semuanya dan besok kita berangkat."


"Iya, hari ini juga papa akan reschedule semua jadwal meeting. Mama feelingnya gimana mengenai Rena?"


"Feeling mama ngga terlalu bagus. Tapi kita berserah sama Allah, diberikan yang terbaik untuk Rena. Anak itu terlalu baik. Dia jarang mengeluh dia jarang marah. Semuanya hal yang baik dan jelek dia terima. Sejak pisah sama Budi, Rena menutup diri apalagi dengan omongan mamanya Budi mengenai bibit, bebet, bobot. Kasihan Rena dari kecil menderita mental dan psikisnya. Tapi ia bisa mengatasi."


"Iya Ma, dia berjuang untuk hidupnya sendiri. Dan ia tidak memanfaatkan kita selama ia hidup dengan kita dari kecil. Dia membiayai sekolahnya sendiri. Ia kuliah juga sendiri."


"Ya sudah ma, tidur lagi. Masih pagi ini."


"Ngga bisa tidur. Sebentar lagi sholat subuh."


Mama Silvani mengambil bajunya dan baju suaminya untuk dimasukkan ke dalam koper.


Vito tidak tidur. Pagi ini Vito akan ke rumah tante Silvani dan om Bram.


Mama Silvani sedang menyiapkan sarapan. Dan handphonenya berdering.


"Morning, tante Silvani. ini Vito."


"Morning Vito. Kamu balik ke Amerika."

__ADS_1


"Iya Tante ada urusan. Tante, pagi ini Vito bisa ke rumah tante?"


"Jam 8 Tante harus pergi. Kalau bisa sebelum jam 8. Sekarang juga tidak papa."


"Baik tante. Aku segera berangkat ke rumah tante."


"Ok, take care ya."


"Ya, tante."


Vito segera pergi ke rumah tante Silvani dan om Bram


"Pagi Tante."


"Masuk Vito. Silakan duduk. Ada apa? Tumben kamu ke sini? Novi dan Alex sudah tidak disini lagi."


"Saya ada keperluan sama tante dan om. Saya ingin minta restu sama tante dan om untuk menikah dengan Rena. Karena Rena pernah bilang kalau mau menikah dengannya harus bisa mendapatkan restu dari om dan tante. Entah gimana caranya. Karena kebetulan saya sudah bekerja di Indonesia, sudah back for good di Indonesia. Dan Rena bilang terserah bagaimana caranya untuk mendapat restu dan mengajak om dan tante untuk ke Jakarta. Karena itu saya mohon agar om dan tante mau ikut saya ke Jakarta. Saya sudah menyiapkan semuanya tinggal menunggu waktu om dan tante untuk berangkat ke Jakarta. Jika memang bisa hari ini juga, kita berangkat siang atau sore nanti. Semua dokumen dan tiket sudah saya siapkan untuk keberangkatan."


"Ya Allah, terima kasih doa kami di dengar. Sebenarnya kami memang mau pergi ke Jakarta. Karena kami mendapat telpon tadi jam 2 pagi bahwa Rena pingsan dan tidak sadarkan diri sampai saat ini. Rena sudah di rumah sakit."


"Astaghfirullah, saya kemarin berangkat ke sini Rena masih sehat tante."


"Jadi apakah benar kamu sudah siapkan semuanya?"


"Sudah tante, kita tinggal berangkat siang atau sore nanti."


"Sebentar Vito. Papa, ini ada Vito. Kesini pa."


"Baik om."


"Pa, Allah mendengar dan mengabulkan doa kita. Siang atau sore nanti kita bisa berangkat ke Jakarta."


"Kok bisa? Bukannya kita harus mengurus semua dokumen dulu ma."


Mama Silvani menjelaskan semua ke papa Bram.


"Ok, om dan tante belum bisa menjawab untuk merestui hubungan kalian. Yang urgent saat ini adalah kita bisa berangkat siang ini, tidak perlu sore. Bagaimana? Uang ticket nanti akan om ganti."


"Tidak usah om dan tante. Kita bertemu di bandara ya om dan tante."


"Iya Vito, terima kasih banyak ya."


"Kalau gitu saya permisi pulang untuk segera siap-siap."


"Ok Vito, hati-hati."


Vito meninggalkan rumah om Bram dan tante Silvani.

__ADS_1


Bu Tita sudah pulang dari sore dan malam ini Ancis menjaga Rena. Ancis menjaga Rena di ruang tunggu karena Rena masih di ICU.


Selama ini Rena tidak pernah mengeluh sakit kecuali saat keracunan makanan. Apa ia sebenarnya sakit tapi tidak pernah mau mengatakan kepada siapapun? Termasuk kepada tante Silvani dan om Bram?


Rena, kamu sebenarnya sakit apa? Dan kenapa hasil lab tidak bisa cepat? Rena kamu bangun dong sayang.


Handphone Ancis berdering.


"Halo Ancis, tante dan om berangkat siang ini yah."


"Oh iya tante."


"Gimana Rena?"


"Belum ada kemajuan tante semuanya sudah dipasang."


"Ya Allah. Ya sudah. Kamu jaga Rena tidak usah jemput tante dan om. Kami dari bandara langsung ke rumah sakit."


"Iya tante."


Mbok dan Pak Mistar datang.


"Tuan Ancis, mbok dan Pak Mistar akan menunggu non Rena. Tuan Ancis bisa pulang untuk istriahat."


"Ngga mbok. Saya akan tetap menunggu Rena disini. Mbok tahu kenapa Rena tiba-tiba sakit?"


"Ngga tuan. Tapi tadi non Rena baru bangun jam 11 siang. Katanya badannya sakit semua. Dan pagi Tuan Budi datang memberi undangan pernikahan. Setelah itu non Rena berangkat ke kantor."


Tadi mbok bilang Budi datang memberi undangan pernikahan. Siapa yang menikah? Apa Budi menikah? Tapi menikah dengan siapa? Karena hal ini Rena sampai pingsan dan tidak sadarkan diri? Bukannya Rena sudah tidak mau kembali lagi dengan Budi?


Banyak pertanyaan di kepala Ancis.


"Mbok, mbok bawa undangan yang diberikan Budi? "


"Ngga bawa tuan. Ada di rumah. Mbok cuma bawa buku kecil non Rena. Tapi mbok ngga berani buka."


"Buku kecil?"


"Iya buku diary kalau kata pak Mistar."


"Boleh saya lihat? Mungkin ada petunjuk Rena menyembunyikan penyakitnya."


"Jangan tuan. Non Rena hanya pesan jika sudah tiba waktunya dan Tuan Bram juga Nyonya Silvani datang, mbok diminta kasih ke mereka. Dan buku kecil ini ada gemboknya Tuan."


"Oh begitu. Tapi saya hanya mau lihat buku kecilnya seperti apa."


Mbok mengeluarkan sebuah buku kecil berwarna hitam doff dan ada gembok kecilnya.

__ADS_1


Aku tidak pernah lihat buku itu. Berarti Rena punya 2 buku diary. Apa yang tertulis di dalamnya ya.


Ancis penasaran dan baru besok malam Tante Silvani dan om Bram sampai Jakarta.


__ADS_2