
Rena sampai Indonesia. Ancis mengantarkan Rena sampai rumahnya. Karena sudah ada yang menjemput Ancis saat di bandara Soekarno Hatta.
"Thank you ya Ancis, see you next time."
"Kok see you next time? Kan kita bisa bertemu besok? Atau lusa?"
"Sorry Ancis, aku sampai Jakarta banyak yang harus aku kerjakan dan selesaikan. Aku tidak berani janji hari apa? Bisa besok, lusa atau minggu depan. We never know. Kalau aku ada waktu, aku hubungi kamu atau kalau kamu ada waktu, kamu hubungi aku. No handphoneku tidak pernah berubah dari dulu."
"Ok Rena, so see you next time."
Rena masuk ke dalam. Sedangkan Ancis masih menunggu di luar berharap Rena akan keluar dan menyuruhnya masuk. Tetapi Ancis 5 menit, Rena tidak keluar. Ancis masuk ke dalam mobilnya.
"Sudah di pesawat di isi tidur saja, sampai Indonesia, masih pengen ngobrol eh di tinggal masuk. Susah sekali ya untuk dapat perhatian dari kamu. Perempuan lain pasti akan memanfaatkan untuk ngobrol di pesawat tapi ini tidak?" Ancis terlihat kesal.
Rena segera mandi dan mengambil beberapa dokumen. Rena mengecek satu-satu. Karena besok ia harus ke kantor. Rena segera menelpon Mama Silvani dan Papa Bram.
"Halo Mama, Rena sudah sampai yah. Ini sudah di rumah."
"Ok sayang, Mama sama Papa mau pergi ya. Kamu jet lag tidak?"
"Belum sih Ma heheheh. Yah sudah hati-hati ya Mama. Salam buat Papa juga. Love both of you."
"Iya sayang, kamu juga hati-hati. Love you too Rena."
Rena baru saja menutup handphonenya tiba-tiba ada nomer masuk dan tidak ada di kontak listnya
"Halo, ini siapa?"
"Assalamualaikum Rena cantik. Kamu pasti lupa sama aku?"
"Wa'alaikumussalam, anda salah kata kalau bilang saya lupa, saya tidak tahu siapa anda. Siapa nama anda?"
"Rena, Rena kamu tetap sama seperti yang dulu, tetap galak."
"Galak? Sepertinya anda salah orang. Saya tidak pernah galak sama orang dan apa susahnya sebutkan nama anda. Anda laki-laki harusnya berani menyebutkan nama bukan mengalihkan pertanyaan saya dengan pernyataan anda. Maaf anda sudah membuang waktu saya."
Rena hanya geleng-geleng kepala saja. Masih saja ada orang yang menelpon tanpa menyebutkan nama.
Baru saja Rena hendak keluar kamar. Hand phone bunyi lagi dan ternyata pesan masuk dari yang tadi menelponnya.
"Rena, kamu dari dulu tidak berubah. Dari dulu sekolah lalu kerja, tetap saja galak dan tegas. Kamu semakin cantik, anggun dan berwibawa. Aku pikir kamu masih ingat aku ternyata kamu sudah lupa sama aku. Aku Bagas."
"Yah ampun ternyata tadi Bagas. Sudah terlalu lama dan aku tidak mau merusak rumah tangga Bagas dan Tanti. Memang kemarin aku kangen sama Bagas entah kenapa." Rena berbicara dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
Tapi Rena tidak membalas pesan dari Bagas ataupun menelpon Bagas kembali. Rena tidak mau membuat keributan dengan Tanti.
"Kenapa aku seperti dalam lingkaran setan yah? Inikah karmaku? Tapi apa yang aku perbuat?" Lagi-lagi Rena berbicara dengan dirinya sendiri.
Rena berjalan keluar kamar dan ke dapur mencari si Mbok.
"Mbok, makan apa malam ini?"
"Ini tadi saja ada kiriman makanan dari Tuan Ancis dan Tuan Bagas. Mbok baru mau kasih tahu non Rena."
"Barengan gitu datangnya?"
"Ngga terpaut jauh waktunya non Rena."
Rena membuka box makanan dari Bagas, ternyata nasi goreng yang ada di depan kantor nya dan ada 3 bungkus. Kemudian Rena membuka makanan dari Ancis, sate 20 tusuk dan lontong.
"Mbok, di rumah ini ada berapa orang?"
"Ada 5 orang non Rena termasuk non Rena."
"Ok gini aja. Aku ambil nasi gorengnya 1 bungkus. Dan yang lainnya, aku minta tolong dibagi sama rata seperti sate masing-masing 10 tusuk ya. Mbok mau yang mana silakan pilih."
"Tapi non Rena."
"Baik non Rena, terima kasih banyak."
Non Rena dari dulu ngga berubah, selalu baik dan tidak pernah membedakan semua orang. Si mbok membatin.
Rena sedang makan dan tiba-tiba Bagas menelponnya. Rena memang tidak mau save handphone Bagas.
"Halo Rena, kok pesanku ngga dibalas?"
"Halo Bagas, bukan ngga mau balas, tapi aku masih sibuk menyiapkan dokumen dan sekarang aku lagi makan. Oh iya terima kasih buat nasi gorengnya."
"Benar-benar kamu tidak berubah. Rena, ngga tahu kenapa aku kangen banget sama kamu."
"Bagas, aku lagi makan. Bolehkah aku selesaikan makanku dulu?"
"Ok Rena, selamat makan."
"Terima kasih Bagas."
Rena melanjutkan makannya yang tertunda. Baru saja selesai makan. Handphonenya sudah berdering kembali. Rena mengangkatnya tanpa melihat siapa yang menelponnya.
__ADS_1
"Halo Bagas, bisa tidak jangan ganggu aku dulu. Aku baru saja selesai makan. Kamu tahu rasanya lagi makan di telpon hanya untuk dengar omongan kamu. Lagi pula kamu sudah menikah dengan Tanti. Please jangan ganggu lagi."
"Rena... Rena... ini Ancis bukan Bagas."
"Hah, Astagfirullah. Sorry Ancis, soalnya dari tadi ada yang telpon aku dan namanya Bagas. "
"Hahaha, iya Rena. Oh iya tadi aku kirim sate buat kamu. Kamu sudah terima?"
"Sudah Ancis, ini baru selesai di makan. Terima kasih Ancis."
"Sama-sama Rena. Oh iya besok aku bisa ketemu sama kamu?"
"Maaf Ancis besok aku full?"
"Tapi kan besok kamu masih libur?"
"Ngga Ancis, besok aku ada meeting internal. Jadi aku harus datang."
"Aku jemout bagaimana?"
"Aku ada supir."
"Rena, ngga adakah kesempatan buat aku dekat sama kamu?"
"Maksudnya? Bukankah kita sudah dekat? Kemarin di pesawat kita sudah bersebelahan. Terus selama di Amerika kita juga ketemu. Bukankah itu sudah dekat ya?
"Oh iya ya, kita sudah dekat. Maksud aku dekat yang lebih."
"Dekat yang lebih itu sepertj apa? Aku kan sudah jadi anaknya Mama Annelise. Mama kamu juga. Artinya kita saudaraan. Dan pastinya kita dekat dan sudah dekat. Benar tidak?"
"Iya benar, kamu sudah jadi anaknya Mama Annelise yang notabene adalah Mamaku. Maksud aku lebih dari sekedar teman, sekedar saudara. Maksud aku jadi pacar kamu, jadi suami kamu kelak."
"Hahahahah, ngga bisa dong Ancis, aku sudah jadi saudara kamu. Kalau kita pacaran masa saudaraan pacaran bah kan sampai menikah bisa-bisa nanti incest. Kasihan nanti anak-anaknya."
"Aduuuuuhhhh, ampun deh susah sekali sih ngomong sama kamu."
"Loh aku ngga mukul kamu kenapa sampai kamu bilang aduh! Dan buktinya aku masih ngomong sama kamu. Coba susahnya dimana ngomong sama aku?"
"Ya sudah Rena, selamat malam, selamat iatirahat ya."
"Ok Ancis, kamu juga yah."
Ancis menutup telponnya dan kesal sekali. "Aaaaarrrrgggghhhh Rena aaaa"
__ADS_1