Balada Istri Pertama

Balada Istri Pertama
Kau kenapa Mas


__ADS_3

Sore harinya saat aku pulang kerja, kulihat sepeda motor Mas Andre ada di depan.


Biasanya Ryan akan sangat senang jika melihat Mas Andre ada di rumah. Namun anak ini anteng anteng saja. Aku membuka pintu gerbang, Ryan langsung masuk.


"Yan..kenapa nggak mengucap salam?" aku menegur Ryan yang masuk rumah tanpa mengucap salam. Anak itu biasanya selalu mengucap salam baik ada ataupun tidak ada orang di rumah. Aku pasang telingaku, namun tak juga mendengar Ryan mengucap salam.


Setelah memarkirkan motorku, aku masuk. Kuucap salam dan nggak ada yang menyahut.


Pada kemana


Ku lihat pintu kamar Ryan tertutup rapat. Aku ingin masuk dan menegur sikapnya tadi sebelum menjadi kebiasaan, namun rasa lelah membuatku mengurungkan niatku itu. Aku lalu masuk ke kamarku. Ku lihat Mas Andre sedang berbaring sambil bermain dengan ponselnya. Hal biasa yang selalu kulihat tiap hari.


"Assalamualaikum, mas." sapaku.


"Hm..sudah pulang." Mas Andre terkaget. Rupanya ia sedang konsentrasi dan fokus pada ponselnya hingga tidak mendengar aku datang.


"Iya." jawabku pendek. Ada keinginan di hatiku bertanya kepentingan apa yang membuatnya selama dua hari tidak pulang. Tapi aku menepis jauh jauh keingginan itu. Bukankah aku sudah tahu selama dua hari ini ia bersama siapa. Jika aku bertanyapun, jawabannya pasti akan membuatku sakit. Daripada menggali luka, mending diam.


Aku lalu membuka almari mencari baju ganti. Ku lepas hijab yang menutupi kepalaku lalu mulai membuka baju kerjaku. Ku pikir Mas Andre masih fokus pada ponselnya, namun aku baru tahu aku salah saat tiba-tiba aku dikagetkan oleh pelukan eratnya di pinggangku.


"Dik, mas kangen." bisik Mas Andre sambil menciumi telinga dan leherku.


"Mas aku bau keringat." tolakku halus agar Mas Andre menghentikan niatnya.


"Aromamu ini yang membuat mas selalu kangen dik." Kini bukan hanya bibir Mas Andre yang menjelajahi leherku, tangannya pun mulai bergerilya di bagian tubuhku yang menjadi favoritnya. Aku berusaha menahan agar tidak mengeluarkan suara.


"Dik, aku ingin punya anak darimu." bisik Mas Andre di sela-sela ciumannya.


Mendengar kata anak, bayangan Mas Andre yang sedang menunggu di depan bidan tadi pagi melintas. Tiba-tiba dadaku sesak dan rasa sakit mulai menyeruak. Mataku panas dan bulir bulir bening pun menetes.


"Kamu nangis dik?Kenapa?Apa kamu sudah tidak mau mas sentuh lagi?" tanya Mas Andre dengan nada tidak suka.


"Bukan itu." kataku sambil menggeleng dan masih terisak.


"Lalu kenapa dik?" Mas Andre mengusap air mataku. Aku menatapnya. Mas Andre lalu mengecup kedua mataku, menyesap air mataku.

__ADS_1


"Jangan menangis dik!" bujuk Mas Andre. Ia kembali melanjutkan niatnya. Aku pasrah.


"Bunda!!!" Ryan mengetuk pintu dan berteriak memanggilku.


"Mas, Ryan!" kataku.


"Biarkan saja dik. Tanggung." jawab Mas Andre.


Setelah lama mengetuk dan tidak mendapat jawaban, Ryan sepertinya pergi dari depan kamarku. Hal itu membuatku lega karena dia tidak harus mendengar erangan Mas Andre saat ia mencapai pelepasannya.


"Terima kasih dik. Kau nikmat sekali." Mas Andre berkata sambil menciumi wajahku. Aku tersenyum kecut.


Jika aku masih bisa memuaskanmu, lalu kenapa harus ada wanita itu. Sebenarnya kamu kenapa Mas?


Setelah Mas Andre turun dari tubuhku, aku bermaksud membersihkan diri. Namun saat aku akan bangun, Mas Andre menahanku.


"Diam dulu beberapa menit, Dik. Jangan langsung bangun. Biarkan berproses. Bukankah sekarang masa suburmu?" Mas Andre menjelaskan.


Aku kembali merebahkan tubuhku dengan tangan Mas Andre memelukku.


"Dik ada yang ingin mas sampaikan." bisik Mas Andre. Aku menahan napas. Aku tahu apa yang akan ia sampaikan. Ya Allah apakah aku kuat mendengarnya. Bagaimana caraku agar Mas Andre tidak jadi bercerita.


"Hal apa dik? Buruk apa baik?" tanya mas Andre sambil mengusap perut datarku.


"Bagiku sih baik." jawabku.


"Katakanlah! Mas akan mendengarnya." Tangannya terus mengelus perutku dan semakin turun ke bawah.


"Maas!"


"Apa? Ceritalah! Jangan hiraukan apa yang mas lakukan. Mas kangen dik." kembali Mas Andre bilang kangen untuk yang kesekian kalinya.Matanya menatapku sendu penuh hasrat.


"Aku mendapat promosi jabatan dan besok lusa aku harus terbang ke ibu kota untuk mengikuti diklat." tuturku.


Tangan Mas Andre berhenti bergerak. Mas Andre menarik tangannya dari tubuhku dan mengubah posisi tidurnya yang semula miring menghadapku, menjadi terlentang menghadap langit-langit kamar.

__ADS_1


"Harus ya dik?" tanya Mas Andre.


"Sayangnya iya mas. Kenapa? Mas tidak ridlo?" tanyaku.


Mas Andre menghela nafas. Ia tidak menjawab pertanyaanku.


"Jika aku bilang aku tidak ridlo, apa kau akan membatalkannya?" Mas Andre malah balik bertanya.


"Aku tidak tahu mas. Bisa dibatalkan atau tidak. Dan apa pengaruhnya bagi pekerjaanku jika aku menolak berangkat."


Andai kau masih milikku sendiri dan tanpa ada wanita itu, aku akan dengan senang hati menolak promosi ini mas. Aku tahu, kamu akan semakin merasa tidak sebanding denganku jika karirku terus naik. Dari dulu aku selalu berusaha untuk tidak menjadi lebih tinggi . Tapi kali ini maaf ???mas. Aku harus membekali diriku. Aku harus siap jika suatu saat nanti kamu lebih memilih dia dan meninggalkan aku.


Ku lihat Mas Andre bangun lalu melangkah ke kamar mandi Aku mengucap syukur karena niatnya untuk ronde ke dua batal. Dan aku juga memohon ampun karena merasa senang tidak harus melayaninya lagi.


Aku ikut membersihkan tubuhku di kamar mandi yang ada di dekat dapur. Selesai mandi aku kembali ke kamar. Aku berpapasan dengan Mas Andre yang keluar kamar dengan pakaian rapi.


"Dik, mas keluar sebentar." kata Mas Andre sebelum berangkat. Aku tersenyum kecut. Tak ada lagi ciuman di kening tiap kali ia keluar. Tak seperti dulu. Entah mas Andre lupa atau memang rasa sayangnya sudah sirna.


Kegiatan malamku seperti biasa, menemani Ryan belajar. Selama PJJ akulah gurunya. Mas Andre sudah menyerahkan semuanya padaku tanpa mau ikut campur masalah pendidikan Ryan. Ia beralasan takut salah mengajari Ryan. Ku terima alasannya itu tanpa protes.


Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam dan Mas Andre belum juga datang. Aku menganggap ia tidak akan pulang lagi malam ini. Aku ke depan dan mengunci pintu gerbang. Setelahnya aku berangkat tidur. Karena capek dan penat yang mendera, akupun terlelap. Tidurku terganggu saat aku merasa benda berat menindihku. Aku terbangun dan terkejut karena melihat bayangan orang di atas tubuhku.Aku menjerit, namun sebuah tangan membekap mulutku.


"Dik, ini aku!" Suara Mas Andre.


"Mas...kau..." aku tidak lagi bisa berkata-kata karena bibir Mas Andre sudah menguasai bibirku. Dan malam itu Mas Andre kembali meminta haknya sebagai suami. Selama melayani Mas Andre, aku tidak menikmati kegiatan kami. Entah mengapa hatiku tersayat sayat. Sakit. Aku kembali menangis dalam diam. Karena kamar yang gelap, Mas Andre tidak melihatku menangis.


Aku merasa hambar. Tidak ada lagi rasa cinta. Yang ku lakukan tak lebih dari melaksanakan kewajiban. Tanpa rasa.


Mas Andre mengerang dan jatuh ke samping tubuhku. Nafasnya memburu susul menyusul.


"Kau luar biasa dik. Itulah kenapa Mas tidak bisa jauh darimu." kata Mas Andre.


Entah ada apa dengan diriku. Dulu aku sangat bahagia saat Mas Andre memujiku setelah melayaninya. Namun kali ini pujiannya justru menyakitkan.


"Mas." panggilku pelan.

__ADS_1


"Ya dik?" jawab Mas Andre.


"Kita pisah saja." dengan susah payah akhirnya terucap juga kalimat itu dari bibirku.


__ADS_2