
Kami melangkah memasuki rumah makan sederhana yang ada di dekat kantor pengadilan agama. Saat baru masuk beberapa langkah, aku berhenti menatap sepasang pria dan wanita yang tampak masih muda sedang duduk makan bersama.
“Alan” desisku membuat Kak Salman menoleh ke arahku lalu pendangannya beralih ke pasangan yang sedang ku lihat.
“Kau benar Ra. Itu Alan. Siapa gadis itu? Apa dia sepupu Alan? Setahuku Alan tidak punya sepupu yang seusia gadis itu. Kita sapa yuk!”
Kak Salman langsung melngkah mendekati meja Alan.
Ia menepuk bahu Alan. “Hei.”
Alan mendongak dan anehnya ia sama sekali tidak terkejut dengan kemunculan Kak Salman. Alan lalu menoleh dan melihatku. Aku tersenyum dan menyusul Kak Salman mendekati mereka.
Kak Salman menarik kursi dan mempersilahkan aku duduk. Ia lalu mengambil kursi yang lain dan duduk
disebelahku.
“Bagaimana sidangnya?” tanya Alan datar dan dingin.
“Lancar.” Jawabku pendek. Aku merasakan sikap Alan tidak seakrab biasanya. Apa ini karena gadis cantik yang duduk di hadapannya itu atau karena penolakanku kemarin?
“Hem.” Kak Salman berdehem membuat Alan memandang ke arahnya. Kak Salman menggerakkan matanya ke arah gadis yang duduk di depan Alan.
“Oh,kenalin. Ini Anita. Nit, ini Fira teman sekantorku, dan ini Salman, sahabat baikku.”
Gadis yang bernama Anita itu mengulurkan tangannya sambil tersenyum manis. Gadis yang sangat cantik.
“Anita.”
“Fira.” Aku menyambut uluran tangan Anita. Kak Salman hanya mengangguk pada Anita.
“Jadi ini Anita.” Gumam Kak Salman.
Aku sangat menyesali ucapan Kak Salman itu karena setelah Kak Salman selesai bicara, Alan langsung menatap penasaran pada Kak Salman
“Apa maksud ucapanmu barusan?Kau pernah dengan soal Anita dari siapa?” serbu Alan.
Kak Salman tersenyum tenang, “Dari Fira.” Jawabnya.
“Ra?!” Kini tatapan Alan menghujam ke arahku.
“Aku…aku yang cerita ke Kak Salman kalau Bu Riya ingin kamu menikahi Anita.” Jawabku lirih.
Ku lihat Alan menggenggam kuat sendok yang sedang ia pegang sampai tangan putihnya memerah. Tak berapa lama kemudian Alan kembali tenang.
“Fira benar,ibu menyuruhku menikahi Anita dan sepertinya aku harus menuruti keinginan ibu.” Jawab Alan sambil menatap lekat wajahku. Aku mengalihkan tatapanku ke Anita yang sepertinya bingung melihat kami. Aku ttersenyum saat gadis cantik itu memandangku.
“Ku dengar baru lulus kuliah, sekarang kerja dimana?” tanyaku basa-basi.
“Melanjutkan usaha keluarga, kak.” Jawab Anita sambil tersenyum ramah.
Gadis ini tampaknya sangat baik.
“Ra,katanya lapar. Mau makan apa?” tanya Kak Salman.
“Minum saja deh Kak. Rasa lapar Fira sudah hilang. Sekarang Fira haus.” Jawabku nyengir.
“Tsk.” Kak Salman tertawa lirih lalu berjalan ke meja pemesanan.
“Apa Andre datang?” tanya Alan.
Aku menggeleng.
“Baguslah.Kalau ia terus menerus tidak datang, prosesnya akan lebih cepat.”
__ADS_1
Aku menghela nafas.
“Maaf, mbak Fira mau cerai ya?” tanya Anita ragu-ragu.
Aku tersenyum masam dam mengangguk.
“Sabar ya mbak.” Anita mengulurkan tangannya membelai punggung tanganku. “Semoga dilancarkan dan Kak Fira diberi ganti yang lebih baik. Kak Salman itu seperti juga orang baik. Kalian sangat serasi.” Ucap Anita tulus.
“Uhuk!” Alan langsung tersedak saat mendengar ucapan Anita.
“Kak Alan kenapa? Minum kak!” Anita menyodorkan gelas minum Alan.
“Minuman datang.” Kak Salman tibu dengan membawa dua gelas minuman.
Ia meletakkan satu gelas ke hadapanku.
“Terima kasih Kak.” Kataku mengambil gelas. Aku hendak membuka sedotan dari bungkusnya, namun Kak Salman dengan cepat sudah membukakannya untukku. Ia juga memasukan sedotan itu ke minumanku.
“Dah siap.” Katanya sambil tersenyut.
“Co cweet.” Komen Anita yang menatap kami sambil menopang dagu dengan kedua tangannya.
Sedangkan Alan menyibukan diri dengan mengaduk aduk minumannya .
“Kapan ya ada pria yang memperhatikanku seperti Kak Salman memperhatikan Kak Fira?” rengek manja Anita.
“Nanti.Kalu semua wanita hamil di dunia ini lahiran bareng-bareng.” Jawab Alan ketus. Anita cemberut.
Kak Salman tergelak mendengar jawab Alan. Ia menepuk pundak Alan.”Jangan begitu bro. yang lembut dikit pada wanita apalagi gadis semuda Anita.”
Aku ikutan tersenyum.
Ya Allah semoga Alan benar-benar membuka hatinya untuk Anita agar Bu Riya tenang dan tidak lagi memandang penuh kewaspadaan tiap kali bertemu denganku.
“Man, aku ikut prihatin soal perceraianmu. Kamu jangan kaget. Elsa yang mengabariku. Dia juga yang meminta aku berhenti berharap karena sampai kapanpun aku tidak akan mendapatkan apa yang aku mau. Elsa menggunakan penyakitnya untuk membuatmu pergi. Aku justru sebaliknya, aku menggunakan penyakitku memaksanya tinggal di sisiku. Tapi dia tetaplah dia. Aku sampai sekarang tidak bisa memikatnya. Jadi, aku putuskan mundur.” Kata Alan. Matanya menatapku dan Kak Salman bergantian.
“Kalian ngomongin apa sih?” tanya Anita bingung.
“Anak kecil nggak usah ikut campur.” Hardik Alan membuat Anita kembali manyun. Aku tertawa geli melihat interaksi keduanya. Anita yang sepertinya polos dan Alan yang jutek.
“Kapan sidang berikutnya?” tanya Alan.
“Menunggu ada panggilan. Paling seminggu lagi.” Jawabku.
“Seminggu lagi.” Guman Kak Salman, “Sayangnya seminggu lagi aku harus ke LN. Jadi tidak bisa menemanimu.”
“Nggak papa Kak. Lagipula aku kan sudah dewasa,nggak perlu di temani.” Jawabku.
“Bukan begitu Ra, aku khawatir saja soal Andre. Kan kemarin dia hampir..” Kak Salman tidak melanjutkan ucapannya.
“Hampir apa?Apa yang Andre lakukan?” Alan menatpku dan Kak Salman bergantian.
“Dia hampir mencelaki Fira.” Jawab Kak Salman. Aku lega karena Kak Salman tidak menceritakan kejadian yang sebenarnya.
“Aku akan menemanimu.” Kata Alan.
“Aku juga.” Anita ikutan.
“Ngapain kamu ikut-ikutan.” Hardik Alan.
“Ya, makin banyak yang menemani kan makin baik. Jadi si Andre Andre itu nggak akan berani gangguan Kak Fira lagi. Benar nggak Kak?” Anita memandangku. Aku mengangguk dan tersenyum. Gadis ini menyenangkan.Semoga ini watak aslinya.
“Ya sudah. Kau temani saja Fira. Aku mau pulang.” Alan berdiri. “Man, Fir, aku cabut dulu.”
__ADS_1
Kak Salman dan aku mengangguk. Alan melangkah lebar keluar dari rumah makan.
“Kak tunggu!!” teriak Anita lalu berlari mengejar Alan.
“Tampaknya kau tidak perlu lagi mendekatkan mereka, Fir. Aku yakin, Anita tidak akan menyerah begitu saja untuk mendapatkan cinta Alan.” Kata Kak Salman.
“Semoga Kak. Alan memang pantas mendapatkan yang terbaik.” Doaku tulus. Ada perasaan lega saat melihat Alan mau membuka hati untuk Anita.
Semoga kalian bahagian.
***
Sidang kedua tiba. Kali ini aku berangkat sendirian tanpa siapapun menemaniku. Aku sengaja menolak tawaran Alan karena tidak mau melibatkannya lagi dalam urusan rumah tanggaku. Aku juga bersyukur Kak Salman harus bepergian, sehingga aku tidak perlu lagi merasa bersalah sama Elsa.
“Ra.” Kak Rani datang . Ia langsung duduk di sebelahku.
“Kak, kenapa datang?” tanyaku.
“Ingin bertemu dan melihat wajah pria yang tak bertanggung jawab itu.”
“Belum tentu ia datang kak.”
“Dasar pengecut.” Omel Kak Rani
Ponselku bergetar.
Aku membukanya dan melihat Kak Salman yang menelepon.
“Assalamualaikum, Kak.” Salamku.
“Waalaikumsalam. Belum mulai Ra?”
“Kalau sudah mulai aku nggak akan bisa menerima panggilanmu kak.” Jawabku
“Iya ya.” Kak Salman terkekeh. “Apa dia suah datang?”
“Belum kak. Seperinya dia tidak akan datang.”
“Yang kuat ya Ra. Kamu sama Alan?”
“Nggak Kak. Aku ditemani Kak Rani.”
“Salam deh buat Kak Rani. Sudah dulu ya Ra. Tamu yang aku tunggu sudah tiba. Wassalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Aku menutup kembali ponselku.
“Salman?” tanya Kak Rani dengan pandangan menggoda.
“Kaaak.” Rengekku.
“Perhatian banget dia. Sepertinya dia menyukaimu Fir.” Lanjut Kak Rani.
“Kaaak.”
“Iya, iya. Aku diem nih. Kututup mulutku.” Kak Rani manyun.
Aku tertawa melihatnya merajuk.
Aku berdiri saat namaku dipanggil.
“Kak, aku masuk dulu.” Pamitku. Kak Rani memelukku sebentar lalu mengangguk.
__ADS_1
“Yang kuat ya Ra.” Pesannya sambil menitikkan air mata.
Aku masuk ke ruang sidang. Sendirian. Tanpa Mas Andre karena ia kembali mangkir dari sidang perceraian kami.