
"Aaaa..hup." Jeritan kagetku terhenti saat sebuah tangan membekap mulutku
"Sayang, ini aku!"
Aku mendengar suara Kak Salman.
Sayang. Kak Salman memanggilku sayang.
"Maaf aku mengejutkanmu." bisik Kak Salman sambil mempererat pelukannya di pinggangku. Tangannya melingkari perutku dan dagunya ia taruh di pundakku. Aku menelan ludah saat mendengar ******* nafasnya. Tubuhku terasa kaku, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.
"Aku kangen. Kangen sekali."
"Kak, lepaskan." suaraku serak.
"Kenapa? Kita sudah suami istri kan? Sudah halal."
"Aku..aku belum mandi."
"Sama." Kak Salman mengangkat kepalanya. Ia lalu memutar tubuhku hingga menghadapnya. Tangannya menyentuh daguku dan menariknya ke atas hingga wajahku mendongak menatapnya.
"Cantiknya istriku." kata Kak Salman sambil tersenyum manis. Matanya berbinar bahagia.
"Kak." Aku memalingkan wajah tak kuasa menatap mata Kak Salman.
"Jangan berpaling." Kak Salman kembali memalingkan wajahku ke arahnya."Kau tahu? Lama sekali aku menantikan saat seperti ini. Mendekapmu dalam pelukanku. Kau tahu Ra, tiap malam aku selalu memohon yang terbaik. Meski aku tak menyebut namamu, tapi Dia tahu apa kata hatiku. Jadi tatap aku, jangan kau palingkan wajahmu!" ucap Kak Salman dengan lembut. Tangannya mengusap pipiku.
Aku menatap matanya kembali namun hanya sebentar karena aku tak kuat memandang mata elang Kak Salman. Aku memejamkan mata. Saat terpejam, aku merasakan sesuatu yang kenyal dan dingin menyentuh bibirku. Aku kaget dan spontan membuka mata. Ku lihat wajah Kak Salman sangat dekat, bahkan hidung mancungnya menyentuh hidungku.
__ADS_1
Dia menciumku.
Aku kembali memejamkan mata. Bibir Kak Salman mulai menekan dan memaksaku untuk membuka bibirku. Segera setelah bibirku terbuka, Kak Salman mengulumnya. Tangannya menekan tengkukku agar ciuman kami lebih mendalam. Entah sejak kapan, tanganku sudah melingkar di leher Kak Salman.
"Aku mencintaimu." Desah Kak Salman saat ciuman kami terjeda untuk menarik nafas. Kening kami beradu. Ibu jari Kak Salman mengusap bibirku. Lalu ia kembali memagut, mengulum dan menyesap bibirku. Lebih bergairah dari sebelumnya.
"Ra!" suara Kak Salman serak. Matanya sudah memancarkan hasratnya. Aku menelan ludah.
Apakah ia akan meminta haknya.
"Aa." pekikku kaget saat tiba-tiba aku merasa tubuhku melayang. Kak Salman menggendongku. Matanya masih memandang sendu dan lembut namun dipenuhi kabut *****.
Dengan kakinya, Kak Salman mendorong pintu kamarku. Ia meletakanku dengan perlahan di atas kasur. Saat tubuhku menyentuh kasur dan Kak Salman sedikit lengah, aku menggulingkan tubuhku ke samping dengan cepat lalu turun dari ranjang dan masuk ke kamar mandi.
"Ra!!" seru Kak Salman.
Aku berdiri bersandar pada pintu kamar mandi sambil memegang dadaku.
Huf.Jantungku berdegup kencang sekali. Apa yang harus aku lakukan?Aku benar-benar gugup.
"Ra! Sayang! Jangan lama-lama dong." Kak Salman mengetuk pintu kamar mandi.
"I..i..ya Kak." Aku semakin gelisah. Berkali kali aku menarik nafas. "Mandi saja. Dengan mandi aku pasti akan lebih tenang."
Perlahan aku melepas pakaianku. Ku nyalakan shower, aku berdiri di bawahnya membiarkan air dingin dari shower mengguyur tubuhku.
"Ra!" kembali Kak Salman mengetuk pintu kamar mandi.
__ADS_1
"Iya, kak. Sebentar lagi."
Cukup lama aku dikamar mandi. Hampir setengah jam, bahkan tubuhku sampai terasa dingin. Ku matikan shower dan celingukan mencari handuk.
"Astaghfirullah, aku lupa membawa handuk. Bagaimana ini. Masak harus minta tolong Kak Salman." gumamku lirih, "Terpaksa."
Ku buka pintu kamar mandi sedikit lalu kulongokan kepalaku.
"Kak!" panggilku.
"Ya!" Kak Salman tiba-tiba berdiri di depanku. Rupanya tadi ia berada disebelah kamar mandi.
"Handuk!" Kataku sambil menunjuk almari. Kak Salman menatapku. Ku gigit bibir bawahku menahan gugup. Kak Salman melangkah ke arah almari, membuka dan mencari handuk yang aku mau.
"Yang pink kak." kataku.
Kak Salman mengambil handuk pink dan membawanya ke arahku.
"Nih!" Ia menyodorkan handuknya. Aku berusaha meraihnya tapi tanganku tidak sampai.
"Kak, kejauhan."
"Ya kamu yang keluar dong!" kata Kak Salman. Bibirnya menyungging senyum menggoda. Ia menaikan alisnya.
"Kak, tolong!" rengekku memohon. Kak Salman lalu maju dengan tangan masih menyodorkan handukku.
Aku tersenyum lega saat tanganku bisa meraih handuk itu. Namun saat tanganku terulur, Kak Salman langsung menangkapnya dan menarikku keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
"Aaaa."