
"Hai jagoan papa! Sudah siap.belum? Kalau sudah, keluar yuk kita sarapan!" Salman masuk ke kamar Ryan. Ia mengelus kepala Ryan dan Ardi bergantian.
"Ardi, ingin kamar sendiri atau berdua saja sama Ryan?" tanya Salman sambil duduk di sebelah Ardi.
Laki-laki kecil itu diam.
"Kanapa?" Salnan menyenggol bahu Ardi.
Ryan yang melihat sepertinya Ardi butuh bicara dengan Salman memutuskan keluar dari kamar.
"Pa, Ryan keluar dulu. Ryan tunggu papa dan Ardi di meja makan ya!"
Salman mengangguk sambil.mengacungkan jempolnya. Ardi menatap kepergian Ryan.
"Hah, sekarang tinggal kita berdua. Ayo katakan apa yang ingin Ardi katakan!"
"Kenapa papa meninggalkan mama?" tanya Ardi dengan nada marah.
"Baiklah. Sudah saatnya papa cerita. Mamamu sakit. Dia harus berobat ke rumah sakit di Singapura."
"Ardi tahu itu."
"Dengarkan papa dulu. Jadi mamamu tidak mau berobat kalau papa dan Bunda Fira tidak menikah. Menurutmu apa yang harus papa lakukan?"
"Seharusnya papa membujuk mama dong, bukan mengikuti kemauan mama." jawab Ardi emosi.
"Sayang, papa, uti, oma bahkan bunda Fira sudah membujuk mamamu. Tapi mamamu tetap dengan pendiriannya. Bahkan mama memutuskan berpisah dengan papa. Jadi, bunda Fira tidak merebut atau membuat papa pisah dengan mamamu."
Ardi diam beberapa saat.
"Kenapa mama berbuat begitu?" gumamnya.
"Soal iti, nanti Ardi tanyakan pada mama, ya!" Salman mengacak rambut Ardi.
"Pa!"
"Ya?"
"Ardi bukan anak papa ya?"
Salman tersenyum, dirangkulnya pundak Ardi lalu dia berkata.
"Seorang anak tidak harus anak kandung baru bisa menjadi anak. Ardi anak papa. Sampai kapanpun Ardi anak papa, kecuali.." Salman menggantung ucapannya.
"Kecuali apa, pa?"
"Kecuali Ardi sudah tidak mau jadi anak papa." Salman menowel ujung hidung mbangir Ardi.
Ardi menggeleng. Ia memeluk Salman erat.
"Ardi hanya mau papa Salman. Nggak mau yang lain. Ardi akan tetap jadi anak papa Salman." Ucap Ardi dengan sedikit terisak.
"Hei, jagoan papa kenapa menangis?" Salman menarik tubuh Ardi agar bisa menatap wajahnya. Ia mengusap air mata yang membasahi pipi anak itu.
"Sudah. Jangan menangis. Hari ini Ardi harus bahagia. Cepat ganti baju lalu sarapan. Bunda sudah buatin masakan kesukaanmu tuh."
"Beneran, Pa? Tante...."
"Panggil bunda. Tante Fira sekarang bundanya Ardi juga." Salman membelai kepala Ardi.
Ardi mengangguk. "Bunda masakin kesukaan Ardi?"
"Ya. Semalam Bunda tanya sama papa,apa makanan kesukaanmu. Papa beritahu dan pagi ini bunda memasaknya khusus buatmu. Cepat ganti baju, papa tunggu di luar!"
__ADS_1
Ardi mengangguk sambil tersenyum. Salman bangkit dan keluar dari kamar Ryan.
"Ardi mana, Mas?" tanya Fira saat melihat Salman sendirian tanpa Ardi.
"Masih ganti baju." Jawab Salman lalu duduk di kursinya.
"Banyak banget menu pagi ini, sayang. Cepat sekali kau memasaknya."
"Kebetulan bahannya sudah tersedia semua, jadinya cepat." Fira lalu melayani Salman.
"Ruan sayang, makanan itu pedas. Jangan terlalu banyak!" Fira menegur Ruan saat anak itu akan mengambil ayam bumbu pedas kesukaan Salman.
Saat mereka bersiap untuk makan, Ardi datang.
"Hai sayang, ayo duduk sini!" Fira menarik kursi yang ada di sebelah Ryan untuk Ardi.
Ardi mendekat lalu duduk di kursi itu.
"Tan..eh Bunda. Maafkan sikap Ardi tadi."" ucapnya lirih.
Salman tersenyum mendengarnya. Begitupun Fira. Fira langsung membelai kepala Ardi.
"Nggak papa. Sudah bunda maafkan. Sekarang Ardi makan ya! Tuh ada makanan kesukaanmu. Mau ambil sendiri, atau bunda ambilkan nih?"
"Ambil sendiri saja, Bun. Ardi kan sudah besar." jawab Ardi sambil membuka piringnya.
"Anak pintar." Fira kembali mengusap kepala Ardi lalu ia berjalan dan duduk di sebelah Salman.
Ardi mengambil makanan kesukaannya. Awalnya ia hanya sedikit memasukkan makanan itu ke mulutnya, namun saat ia merasakan kalau makanan buatan Fira enak, ia pun makan dengan lahap.
Salman menyenggol Fira, dan dengan gerakan mata ia mengkode ke arah Ardi. Mereka lalu tersenyum bersama.
"Mas antarkan aku duku ya! Soalnya ada rapat pagi. Takut terlambat." kata Fira saat mereka berada di mobil.
"Siap Bu. Tapi nanti malam kasih bonus ya!" bisik Salman sambil.mencolek dagu Fira.
Salman hanya tertawa.
"Bonus apa, Pa?" Ardi yang tak sengaja mendengar obrolan mereka menjadi penasaran.
"Ha, bonus itu mm bonus.." Salman tergagap bingung harus menjawab apa.
"Bonus pijat, Ar. Bunda sama papa kalau malam suka saling minta bonus pijat. Kadang pijat, kadang kerikan. Macam-macam pokoknya" celutuk Ryan yang sedari tadi tampak cuek.
"Oh pijat to." komentar Ardi polos.
Salman menelan ludah. Ia melirik Fira yang sedang menahan senyum mendengar jawaban Ryan.
"Ryan, nanti kita juga main bonus yuk!"
"Bonus apa?"
"Mm gini, nanti yang kalah harus menggendong yang menang, bagaimana?"
"Jadi bonusnya gendong?" tanya Ryan mulai tertarik.
Ardi mengangguk.
"Ok, siapa takut. Mainnya tebak-tebakan saja. Tebakan pelajaran sekalian kita belajar."
"Boleh."
"Deal ya?"
__ADS_1
"Deal."
Ardi dan Ruan saling mengaitkan kelingking.
"Bonus gendong ya, papa juga mau nyoba ah." Salman menyahut sambil melirik Fira penuh arti. Ia bahkan menaik turinkan alisnya.
"Apaan sih? Ge je tahu." Fira melengos dengan wajah memerah. Ia tidak bisa membayangkan bonus gendong versi Salman.
...***...
"Rapat kali ini alot sekali ya? Nggak cepat menemukan kesepakatan antar bidang. Semua mengunggulkan pendapatnya masing-masing." omel Dewi saat mereka selesai menghadiri rapat.
Fira hanya tersenyum. Ia tidak memusingkan soal rapat namun kehadiran Alan di rapat tadi yang membuatnya heran.
Bukankah seharusnya masih cuti. Kenapa.malah sudah masuk kerja? Tapi kenapa nggak ke kantor.
"Bu!" panggil Dewi namun Fira tidak mendengarnya karena ia sibuk dengan pikirannya.
"Bu Fira!" Dewi mengulang dengan nada sedikit lebih kencang. Fira masih tidak menanggapi.
"FIRAAA." kali ini Dewi berteriak dengan keras.
Fira berjengkit kaget. "Apa-apaan sih kamu Wik. Teriak-teriak kayak preman terminal, tau nggak." Fira meniupkan udara ke genggaman tangannya lalu menaruhnya di telinga untuk menghilangkan rasa pekak karena suara keras Dewi.
"Hallo..aku juga tidak akan teriak kalau kamu menjawabku saat pertama kali aku memanggilmu, Bu."
"Emang kamu memanggilku?" Fira menyipitkan matanya.
"Enggak. Aku memanggil cicak di dinding tuh! Makanya pada muncul semua sekarang." jawab Dewi kesal.
Fira terkekeh.
"Apa sih yang kamu pikirkan? Sampai nggak mendengar panggilanku?" Dewi menatap penuh tanya.
"Nggak ada." balas Fira santai.
"Cih. Nggak ada tapi bengong. Kau pasti memikirkan bos Alan ya?" tebak Dewi.
Fira diam karena tebakan Dewi benar.
"Kau pasti heran kok Bos Alan muncul padahal masih cuti nikah. Lagi pula, rapat tadi juga tidak urgent banget. Kita saja sudah cukup. Apa terjadi sesuatu ya? Apa dia tidak bahagia dengan pernikahannya secara ia menikahi wanita yang tidak ia cintai?" Dewi terus menganalisa segala kemungkinan yang menyebabkan Alan ngantor meski seharusnya cuti.
Fira hanya diam Jika analisa Dewi benar, ia merasa sangat bersalah pafa Anita.
Bagaimana ya? Apa aku harus minta mutasi saja ya. Agar tidak bertemu Alan setiap hari. Jika ia tidak melihatku dan sering melihat Anita, siapa tahu benih cinta tumbuh di hatinya.
"Fira, apa menurutmu analisaku benar?" tanya Dewi.
Fira mengangkat bahu, "Benar atau salah bukan urusan kita, Wik."
"Iya juga sih."
Tok tok tok
Fira dan Dewi langsung melihat ke arah pintu saat mendengar bunyi ketukan.
"Bu, ada yang ingin bertemu ibu." seorang staf bagian resepsionis kantor muncul saat pintu terbuka.
"Bawa dia ke sini!" titah Fira.
Staf itu mengangguk lalu ke luar. Tak berapa lama kemudian dia kembali bersama seorang wanita.
"Fira." sapa wanita itu.
__ADS_1
Fira mendongak dan ia sangat kaget melihat siapa yang datang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...