Balada Istri Pertama

Balada Istri Pertama
Masa Lalu Part 2


__ADS_3

Salman sudah terbuai mimpi namun Fira masih terjaga. Berkali-kali Fira membolak balikan tubuhnya.


Ck. Dia tidur lagi. Aku masih penasaran bagaimana cerita selanjutnya. Apa dibangunin saja ya? Tapi kalau bangun terus minta isi daya lagi aku juga yang capek. Dia kan modusnya banyak banget. Akalnya selalu ada buat mencapai keinginannya.


"Ah, keluar sajalah. Haus juga" Fira menggumam. Ia lalu turun dan berjalan keluar menuju dapur. Fira berjalan dengan malas. Baru beberapa langkah berjalan, ia berjengkit kaget saat melihat seseorang meringkuk di sudut ruang tengah.


"Siapa?!" tanya Fira sedikit takut.


Tak ada jawaban. Fira menelan ludah untuk meredakan ketegangan hatinya.


Siapa dia? Ryan atau Ardi. Mana cahayanya remang-remang lagi.


"Ryan?!" Fira perlahan mendekat dengan sikap waspada.


"Hiks..hiks.."


Eh suara tangis.


"Ardi? Kamu Ardi?" Fira segera menghampiri tubuh yang meringkuk itu begitu ia bisa mengenalinya.


"Sayang, ada apa?" Fira berjongkok dan menyentuh pundak Ardi.


Ardi menepis tangan Fira. "Jauhi aku!"


Apa??Dia kembali menolakku.


Fira diam tercenung.


"Sudah aku bersihkan !" sebuah suara lain terdengar.


Fira menoleh dan ia melihat Ryan.


"Bunda." suara Ryan bergetar.


Ardi bangun dan langsung berlari ke kamarnya membuat Fira bingung.


Fira kembali menatap Ryan.


"Ryan, bisa kamu jelaskan ada apa!" suara Fira tegas.


Ryan menarik nafas.


"Bunda, Ryan minta maaf. Ryan sudah janji sama Ardi nggak akan cerita. Kalau Bunda mau tahu, Bunda bisa bertanya pada Ardi." jawab Ryan lalu memutar tubuhnya dan masuk ke kamar.


Ada apa ini? Kenapa sikap mereka aneh.


Fira memijit pelipisnya yang berdenyut karena memikirkan perubahan sikap Ardi. Ia kemudian meneruskan tujuan awalnya, ke dapur untuk minum.


Di kamar


Salman terjaga saat ia meraba tempat kosong di sebelahnya.


Kemana Fira.


Salman bangun dan duduk sebentat lali turun dan memeriksa kamar mandi mencari Fira.


Kemana dia.


Salman membuka pintu hendak keluar namun ia kaget saat Fira sudah berdiri di depan pintu kamar mereka.


"Mas mau kemana?"


"Eh, harusnya aku yang nanya. Kamu darimana?"


"Minum ke dapur. Ada apa?"


"Nggak papa."


Salman menarik tangan Fira masuk.


"Masuk! Temani aku tidur dan jangan ditinggal lagi!"


Fira masuk. Salman menutup lalu mengunci pintu.


Fira menghempaskan tubuhnya di kasur sambil menghembuskan nafas panjang.


"Ada apa?" Salman berbaring di sebelah Fira.


"Ardi."


"Ada apa dengan Ardi? Apa dia kembali berulah?" Salman memindahkan kepalanya ke pangkuan Fira.


"Tidak sih hanya sikapnya aneh. Ryan juga. Mereka berdua seperti menyembunyikan sesuatu dari kita." Fira mengusap lembut kepala Salman.


"Biarkan saja dulu. Nanti aku akan mencari tahu. Kalau dia tidak mau cerita jangan dipaksa. Kita amati saja." Salman menangkap tangan Fira lalu menggenggamnya.


"Ngantuk?" tanya Salman.

__ADS_1


Fira menggeleng.


Senyuman khas terbit di bibir Salman melihat jawaban Fira. Ia langsung bangun.


"Mau dibikin ngantuk?" Salman menaikturunkan alisnya.


"Enggak. Aku nggak bisa tidur karena penasaran dengan lanjutan cerita mas. Soal keberadaan Ardi. Ayo cerita lagi."


"Tapi sayang..."


"Jangan bilang lowbat dan minta charge lagi! Ini power banknya juga lowbat. Kalau minta charge terus, besok puasa seminggu. Aku harus isi daya sampai full. Mau?!" potong Fira sebelum Salman mengeluarkan modusnya.


Salman cemberut. Bibirnya mengatup rapat. Matanya menyorot tajam namun lama lama memelas.


"Sayang. Kejam amat. Lihat nih!" Salman menunjuk bagian tubuhnya yang sudah siap tanding.


"Bodo ah!" Fira langsung membaringkan tubuhnya dan menarik selimut sampai ke leher.


"Sayang." Salman merengek. Ia menggoyang-goyang bahu Fira.


Fira bergeming.


Salman kehabisan akal. Tak biasanya ia kalah.


Salmana ikut berbaring sambil memeluk Fira dari belakang. Ia menempelkan seluruh tubuhnya dan mengendus leher Fira.


Fira bertahan.


Aku harus bisa.


Fira menguatkan tekadnya.


Hmm. Seberapa mampu kau menahan seranganku sayang, sedangkan aku tahu titik-titik kelemahanmu.


Melihat Fira bergeming tanpa reaksi,Salman tak putus asa. Ia terus mengeksplor kelemahan Fira.


"Kau curang." lenguh Fira sambil menelentangkan tubuhnya menyambut Salman yang tersenyum penuh kemenangan.


"Setelah ini akan aku lanjutkan ceritaku. Jadi kamu juga tidak akan rugi sayang."


Fira mengerucutkan bibirnya sebal.Salman hanya tertawa menikmati kemenangannya.


Satu jam kemudian keduanya terbaring sambil berpelukan.


"Waktunya menepati janji." Fira mencubit perut Salman.


"Apa yang akan aku ceritakan adalah apa yang aku tahu. Kejadian detilnya hanya Elsa yang bisa menceritakannya."


"Setelah lulus S1, keluarga Elsa menagih janjiku. Aku enggan karena merasa aku tidak melakukannya. Akhirnya aku memutuskan untuk bertunangan saja dulu karena aku ingin melanjutkan S2. Elsa menyetujuinya meski keluarganya menentang."


"Karena keputusan menikah ada di tangan kami jadi mereka pada akhirnya menuruti kemauan kami. Aku lega karena bisa menunda waktu selama dua, tiga tahun lagi."


"Lulus S2 aku dikejutkan oleh berita yang membuat mimpiku hancur." Salman lalu diam tidak melanjutkan ceritanya. Tangannya mendekap erat tubuh Fira seolah takut kehilangan istrinya itu.


"Berita apa?" Fira bertanya karena sudah tidak sabar menunggu Salman kembali bercerita.


"Coba tebak berita tentang apa?" tanya Salman balik.


"Eh, mana aku tahu."


"Kamu tahu. Sangat tahu." Salman memiringkan tubuhnya. Ia mengangkat dagu Fira sehingga mata mereka bisa bertatapan.


"Coba kau hitung. Dari tahun kita lulus, lalu aku kuliah S1 selama empat tahun, terus melanjutkan S2 selama dua tahun. Jadi tahun keenam setelah kita lulus. ada peristiwa yang membuatku kembali terpuruk karena harapanku kandas untuk kedua kalinya."


"Tahun keenam." gumam Fira sambil berusaha mengingat.


Tahun keenam adalah tahun dimana aku menikah. Apakah pernikahanku yang dia maksud.


"Pernikahanku." tebak Fira dengan suara lirih.


"Kau benar. Pernikahanmu. Semula aku masih berharap bisa memilikimu saat aku tahu kalian tidak ada hubungan apa-apa."


"Aku berencana menyelesaikan permasalahanku dengan Elsa baru aku datang padamu."


"Tahun keenam, Mas belum.menikah dengan Elsa?"


Salman menggeleng.


"Tapi, aku mendapat kabar dari Elsa kalau kalian sudah menikah begitu lulus kuliah. Bahkan Elsa mengirim foto pernikahan kalian. Itulah mengapa aku menerima Mas Andre." Fira menjelaskan.


Salman mengecup kening Fira.


"Memang jalan kita harus berliku. Aku lanjutkan."


"Mendengar kamu menikah, harapanku pupus. Saat keluarga Elsa kembali datang, akupun mengiyakan. Akhirnya kami menikah."


Salman menarik nafas. Rasa sakit yang dulu pernah ia rasakan, menyeruak keluar. Salman mendekap erat Fira.

__ADS_1


"Jangan pergi lagi." bisik Salman.


"Mas, aku bisa pergi kemana? Dalam tubuhku ada buah cinta kita." balas Fira sambil melingkarkan tangannya memeluk Salman.


"Ardi?" Fira mengingatkan kalau Salman belum menceritakan perihal Ardi.


"Ardi. Ardi bisa ada karena kesalahanku juga. Aku tidak bisa memungkiri itu. Meski statusku sebagai suami Elsa, namun aku masih sulit melupakanmu. Malam pertama kami terjadi di bawah kesadaranku."


"Maksudnya? Mas mabuk?"


"Entahlah. Aku tidak minum tapi aku seperti hilang kesadaran. Aku tidak ingat apa yang aku lakukan. Samar. Yang aku tahu, setelah bangun dan sadar, aku lihat Elsa dalam pelukanku."


"Hari-hari berikutnya aku menyibukkan diri dengan pekerjaan. Membuka usaha baru. Karena kesibukan itu, sedikit banyak aku bisa mengalihkan perhatianku dari mengingatmu. Bahkan aku melalaikan Elsa. Aku pergi ke Inggris untuk membuka bisnis di sana."


"Elsa ikut?"


"Tidak. Tapi sekali waktu ia mengunjungiku. Di sanalah ia bertemu Raul. Saat perjamuan makan dengan rekan kerjaku."


"Setelah bertemu Raul, Elsa menjadi jarang menghubungiku. Aku tidak mempersalahkan itu. Bahkan aku merasa tenang. Sampai suatu hari, saat aku pulang, aku disambut dengan suka cita. Semua orang memberiku ucapan selamat."


"Aku bingung, meski begitu aku menyambut ucapan mereka. Malamnya, Elsa membuat pengakuan. Bahwa ia hamil anak Raul namun Raul tidak mau bertanggung jawab."


"Mas pasti sangat sakit." gumam Fira. Ia membayangkan sakit yang ia rasakan saat tahu Andre selingkuh.


"Lebih ke merasa dihinakan daripada sakit hati. Aku tidak punya perasaan pada Elsa, tapi aku adalah suami dan pria. Harga diriku seperti diinjak injak."


"Lalu?"


"Awalnya aku ingin menceraikannya namun saat ibunya memintaku mengantarnya periksa kandungan, aku diberitahu dokter kalau kehamilan Elsa tidak bisa diteruskan. Kandungannya harus digugurkan karena membahayakan nyawa Elsa."


"Oh!"


"Elsa kekeh mempertahankannya. Ia bilang kalau dirinya tidak akan melakukan dosa lagi dengan membunuh anaknya sendiri. Dia juga bilang ia rela mati demi nyawa bayinya."


"Melihat tekadnya itu, aku menahan tidak menceraikannya. Bagiku toh sama saja. Meski ceraipun, aku juga tidak akan bisa meraih mimpiku. Kamu. Jadi aku menerima Elsa dan anaknya."


"Selama hamil, Elsa sangat menderita. Ia berjuang melawan penyakitnya dan mempertahankan kandungannya. Sampai akhirnya Ardi lahir. Kondisi Elsa mulai tidak stabil. Dia haris menjalani pengobatan. Hidupnya tergantung pada obat-obatan."


"Aku terus mendampinginya sambil merawat Ardi. Orang luar yang melihat akan menilaiku sebagai suami yang setia dan sangat mencintai istrinya. Padahal kenyataannya hubungan kami tidak seperti itu."


"Saat bertemu kalian dulu, aku melihat kemesraan kalian." gumam Fira.


Salman tersenyum. "Kepura-puraan yang kami pertontonkan. Aku menyayangi Elsa tapi aku tidak mencintainya. Aku berjanji pada diriku untuk mendukungnya melewati masa-masa sulit. Hanya itu yang bisa kulakukan. Perselingkuhannya dengan Raul, juga karena sikap tak acuhku padanya."


"Hah..jadi begitulah ceritanya. Sudah puas?!"Salman menarik nafas lega.


Fira mengangguk.


"Mas, kenapa aku merasa bersalah pada Elsa ya? Aku juga merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Anita." gumam Fira lirih.


"Jangan menyalahkan dirimu. Kami yang salah. Aku dan Alan yang salah." Salman mengecup pucuk kepala Fira.


"Bukankah kau juga mengalami masa sulit saat bersama Andre?"


"Mas Salman tahu?" Fira mendongak.


"Tahu. Aku selalu memantau dirimu." ucap Salman diakhiri dengan kecupan di kening Fira.


"Kenapa aku lemas ya?" Salman menjatuhkan tubuhnya ke samping.


"Mas, kamu nggak papa?" tanya Fira cemas. Ia bangun dan memeriksa Salman.


Salman menatap Fira sayu, "Sayang tolong aku!" rintihnya sambil meringis.


"Mas. Mas kenapa? Apa yang bisa aku tolong?" Fira kian cemas karena Salman tampak semakin lemas.


Salman melirik wajah panik Fira.


Sayang, kenapa kau mudah sekali digoda. Membuatku kecanduan menggodamu.


"Tolong, nafasku sesak. Sepertinya jantungku bermasalah." ucap Salman terbata-bata. Tangannya meraba dada kirinya.


"Mas sakitkah? Apa perlu minum obat?"


Salman menggeleng. Ia lalu meraih tengkuk Fira dan menariknya hingga wajah mereka berdekatan.


"Aku nggak butuh obat. Akun hanya butuh nafas buatan."


Selesai berucap, Salman menekan tengkuk Fira hingga bibir mereka beradu. Mata Fira membola kesal karena lagi-lagi ia dikerjai Salman.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Author mohon maaf kalau upnya terlambat karena haris bagi waktu dengan kerjaan dunia nyata yang buanyaaak.


Semoga terhibur.


Jangan lupa kasih semangat ya!

__ADS_1


__ADS_2