Balada Istri Pertama

Balada Istri Pertama
Penyebab Ardi Sakit


__ADS_3

Elsa? Jadi dia sudah tiba. Ah..seharusnya aku sadar. Jika Bu Hera ada di sini, tanda Elsa juga sudah pulang.


"Hai, Sa." Salman membalas sapaan Elsa dengan santai.


"Masuk, Mas!"


Salman mengangguk dan langsung masuk.


"Ardi dimana?" Salman langsung ke tujuannya.


Dia sama sekali tidak menanyakan kabarku. Elsa..jangan terlalu berharap. Empat belas tahun bersama saja kamu tidak bisa mendapatkan hatinya.


"Sa!"


Elsa terbangun dari lamunannya saat suara Salman memanggilnya.


"Dia di kamar."


"Di mana kamarnya?"


"Mas Salman rupanya sudah lupa ruangan di rumah ini, ya?" Elsa tersenyum pahit. "Dia ada di kamar tempat kita dulu kalau kita menginap di sini."


Salman menghela napas lalu menuju kamar yang Elsa maksudkan tanpa banyak bicara.


"Aku nggak mau makan. Aku mau papa Salman." teriak Ardi.


"Nak,.papamu akan datang. Tapi dia pasti sedih kalau melihatmu sakit dan nggak mau makan. Makan ya!" Bu Hera dengan sabar membujuk Ardi.


"Nggak mau." Ardi kembali menjerit.


"Sayang. Nggak boleh berteriak pada nenek!" tegur Salman begitu masuk ke kamar.


Ardi menoleh dan matanya langsung berbinar. Ia mengembangkan kedua tangannya, "Papa!!"


Salman mendekat dan langsung memeluk Ardi.


"Papa kenapa lama nggak pulang? Ardi kangen papa. Ardi mau ikut sama papa. Ardi nggak mau tinggal di sini. Mereka semua membohongi Ardi. Masa mereka bilang kalai papa bukan papanya Ardi." kalimat keluhan meluncur bebas dari mulut kecil Ardi. Tangannya memeluk erat Salman.


Mata Salman menatap penuh tanya pada Bu Hera. Wanita paruh baya yang masih tampak cantik itu mengangguk sambil tersenyum sedih.


Salman menepuk punggung Ardi, "Maafin papa. Ardi makan ya! Biar cepat sembuh. Kalau sudah sembuh nanti ikut papa." bisik Salman lembut. Hati Salman sakit melihat kesedihan Ardi. Meski anak itu bukan darah dagingnya, namun ia tumbuh dalam asuhan Salman.


"Beneran, Pa?" Ardi menatap mata Salman.


"Ya." Salman mengangguk.


Kau pasti mau menerima Ardi.kan Fir? Kemarin aku menolak usulmu karena enggan memiliki hubungan dengan keluarga Elsa. Tapi melihat keadaan Ardi, aku nggak tega.


"Nek! Ardi mau makan. Ardi mau ikut papa."


"Baik sayang .Sini, nenek suapin!." Bu Hera bernafas lega. Ia mulai menyendok makanan untuk disuapkan pada Ardi.


"Ardi mau papa yang nyuapin Ardi." rengek Ardi manja.


"Baik. Ayo papa suapin!" Salman mengambil makanan dari tangan Bu Hera. Ia lalu menyuapin Ardi dengan telaten.


Selama makan, Ardi tak henti bercerita. Kebanyakan cerita yang menyedihkan.


"Kata teman-teman Ardi, papa pergi karena tahu Ardi bukan anak papa. Tapi Ardi bilang kalau papa sedang membangun perusahaan di kota lain. Mereka tidak percaya dan mentertawakan Ardi."


Salman diam tidak berkomentar. Ia tidak berani menanggapi cerita Ardi karena dia tidak tahu cerita yang sebenarnya.

__ADS_1


"Sendok terakhir, Aaa..." Salman memainkan sendok berisi makanan sebelum menyuapkan ke mulut Ardi.


"Pinter."


"Saatnya minum obat." Bu Hera datang sambil membawa obat Ardi.


"Sayang sama nenek dulu ya! Papa mau bicara dengan mama." Salman mengelus kepala Ardi lalu bangkit.


"Pa!" Ardi menahan tangan Salman.


"Ya, Nak."


"Papa nggak akan pergi, kan?" mata Ardi penuh kekhawatiran akan ditinggalkan Salman.


Salman menggeleng. "Tidak. Papa hanya ingin bicara dengan mamamu." Salman mengecup kening Ardi.


"Bu, Elsa dimana?"


"Dia ada di taman belakang."


"Malam-malam begini ngapain di taman?"


"Itu ada kebiasaannya setelah pulang dari Singapura. Dia akan berlama-lama duduk di taman. Tidak peduli siang atau malam. Dia sudah kehilangan semangat hidup." lirih sedih Bu Hera.


"Saya mau bicara dengannya dulu, Bu!"


"Bicaralah. Bangkitkan kembali semangatnya. Ibu yakin jika kamu yang bicara, dia akan mendengarkanmu."


"InshaAllah akan saya coba bu."


Salman meninggalkan kamar Ardi menuju taman belakang. Di sana ia melihat Elsa sedang menggambar dengan penuh konsentrasi dan serius. Saking konsentrasinya, Elsa tidak menyadari kedatangan Salman.


"Sejak kapan kamu suka menggambar?"


"Mas." ucapnya lirih sambil menutup buku sketsa gambarnya.


"Sejak dulu aku suka menggambar tapi aku tidak pernah melakukannya saat menjadi istrimu."


Kau mana ingat apa yang aku suka dan tidak, Mas. Sikap mesramu saja hanya jika ada orang lain dan hanya untuk menutupi kondisi sebenarnya hubungan kita.


"Sa, aku ingin bicara." Salman mengabaikan jawaban Elsa.


"Soal Ardi?" tebak Elsa sambil menyimpan peralatan menggambarnya.


"Ya. Kenapa Ardi bilang kalau aku bukan ayah kandungnya. Apa kalian sudah memberitahunya?" Salman mengambil kursi dan duduk.


"Bukan kami."


"Kalau bukan kalian lantas siapa?" alis Salman bertaut.


Elsa menarik nafas panjang. "Mas Salman kan tahu rencana kami bahwa kami akan memberitahu Ardi saat usianya dewasa dan bisa mencerna masalah ini dengan tenang dan bijak. Namun, rencana manusia kadang tidak sesuai dengan rencana yang di atas."


"Apa yang terjadi?" Salman memotong dengan tidak sabar.


"Raul datang dengan membawa surat pengesahan Ardi sebagai anak kandungnya."


Salman kaget. Ia tidak menyangka kalau ayah kandung Ardilah yang membongkar kebenaran.


"Kapan dia datang?"


"Seminggu yang lalu. Raul datang langsung ke sekolah Ardi. Ia menunjukkan surat itu kepada pihak sekolah dan meminta mengganti semua data orang tua Ardi. Ia juga menemui Ardi dan nilang kalau dirinyalah ayah kandungnya. Ardi yang tidak terima berteriak teriak menolak hingga teman-temannya mendengar dan mengetahui masalah ini. Sejak saat itu mereka sering mengolok-olok Ardi. Anak itu tertekan hingga sakit."

__ADS_1


Salman mengepalkan tangannya. Ia tahu betapa sengsaranya Ardi.


"Kenapa kau tidak memberitahuku?"


Elsa tersenyum miris.


"Aku tidak mau mengganggu kebahagiaanmu, Mas. Sudah cukup selama empat belas tahun aku merampas kebahagiaanmu." ucap Elsa sendu.


Salman menelan ludah. Jujur, ia juga enggan berkomunikasi lagi dengan Elsa setelah merasakan hidup bahagia dengan Fira. Bahkan ia sampai lupa pada Ardi saking tidak inginnya berhubungan lagi dengan Elsa.


Salman menyesali kesalahannya. Secara tidak langsung dia juga penyebab sakitnya Ardi.


"Lalu bagaimana dengan Raul? Mengapa baru sekarang ia muncul?"


"Karena ia tidak memiliki anak dengan pernikahannya. Dan sebuah kecelakaan membuatnya harus mengubur mimpinya memperoleh anak lagi. Maka, Ardilah satu-satunya pewaris keluarga Raul. Dia memaksa mengambil Ardi."


"Dan kau melawannya?"


Elsa memandang Salman sedih. Ia menggeleng.


"Aku serahkan pada Ardi. Kalau dia mau maka aku akan melepasnya. Bukan karena aku tidak sayang, tapi aku berharap bersama keluarga Raul, kehidupannya akan lebih baik. Mas Salman tahu sendiri, penyakitku tidak mengijinkan aku bisa merawat Ardi dengan baik."


"Oh ya. Bagaimana pengobatanmu?"


Baru kau tanya keadaanku, Mas.


"Baik. Tapi aku masih harus bolak-balik ke sana."


"Semoga pengobatanmu berhasil." doa tulus Salman tanpa menanyakan keadaan Elsa lebih jauh.


"Sa! Aku akan membawa Ardi."


Elsa kaget. Ia mengira kasih sayang Salman pada Ardi sudah hilang saat Salman menemukan kebahagiaannya bersama Fira.


"Apa Fira mau?"


Pertanyaan bodoh apa yang keluar dari mulutku. Jelas Fira mau. Ia wanita yang baik.


"Justru dia yang memintaku membawa Ardi. Rumah kami pasti ramai dengan kedatangan Ardi. Ryan akan punya teman dan anakku yang akan lahir, akan punya dua kakak laki-laki yang menjaganya." Salman tersenyum membayangkan kehidupan indah bersama Ardi dan keluarga kecilnya.


"Apa ..Fira hamil?" suara Elsa tersendat.


Salman mengangguk sambil tersenyum bahagia.


"Oh, selamat ya Mas. Pasti kalian sangat bahagia." Bibir Elsa mengurai senyum meski hatinya terkoyak koyak.


"Makasih, Sa. Aku yakin kau juga akan menemukan kebahagiaan."


Kebahagiaanku sudah aku lepaskan, Mas. Nggak mungkin kembali lagi.


"Aamiin." Elsa mengamini doa tulus Salman sementara hatinya menangis pilu.


...----------------...


Bonus visual Ryan dan Ardi



Ryan


__ADS_1


Ardi


__ADS_2