
"Mas, kenapa beli rumah sih?" tanya Fira disela-sela waktu istirahat kami. Tahu kan istirahat dari apa?
"Kenapa ya?" aku malah bingung menjawabnya. Sejujurnya aku membeli rumah pus perabotnya adalah untuk membuang kenangan akan Andre. Jujur tiap kali menggunakan ranjang itu, bayangan Andre pernah tidur di situ sangat menggangguku.
"Mas." Ucap Fira menuntut jawaban.
"Begini, aku ingin semuanya dimulai dari awal. Jadi kita hapus semua kenangan lama dan hal-hal yang bisa memunculkan kenangan lama itu. Makanya aku beli rumah dan perabotnya sekalian baru semua. Biar nggak ada kenangan apapun dan kita membuat kenangan baru. Seperti sekarang. Kenangan di ranjang baru." Aku nyengir.
"Ck itu sih hobimu saja mas." semprotnya.
Kulihat ia mulai menggulung tubuhnya dengan selimut.
"Eh siapa yang nyuruh berselimut!" kutarik selimutnya.
"Mas dingin tahu." Dia cemberut imut membuatku kembali ingin menerkamnya
"Jangan cemberut!" Kujawil
bibirnya yang manyun seksi itu.
"Apa sih mas..rese deh."
Aku terkekeh melihatnya kesal. Semakin ia kesal aku semakin suka. Gemes lihay bibirnya yang cemberut.
"Ra, soal kado Alan..."
"Iya mas.Besok aku kembalikan." potongnya sambil merapikan selimut ditubuhnya.
"Kau tidak ingin tahu kenapa aku keberatan?"
"Hm..sudah tahu. Karena itu dari Alan." jawabnya malas sambil memejamkan mata berusaha tidur.
"Karena ada cerita dibalik cincin itu Ra." Kulihat matanya terbuka lagi. Rupanya ia tertarik dengan ucapanku.
"Apa?" Dia mulai kepo.
Kupandang wajahnya yang menyembul dibalik selimut. Lucu mirip kura-kura. Membuatku tertawa.
"Mas kok malah ketawa sih. Nyebelin deh. Ganggu orang mau tidur saja." Dia mengomel.
Kutarik selimutnya. Ia kembali protes.
"Diam. Aku hanya ingin masuk." Kumasukkan tubuhku ke bawah selimut yang sama.
"Mas modus ya?!" Ia mendelik.
"Modusin istri mah halal." jawabku asal sambil merapatkan tubuh kami.
"Mas, sezak nih." Fira meronta melepaskan tanganku.
"Mau tahu ceritanya apa nggak?"
"Ya mau lah."
"Makanya diam! Nurut!" Aku menahan senyum saat Fira diam dan membiarkan aku mendekap tubuhnya
"Jadi, dulu kami maksudku aku dan Alan pernah jalan bareng.Kamu tahu kalau kedua orang tua kami juga berteman? Saat itu kami berdua ikut orang tua ke Singapura." Aku berhenti bercerita. Tanganku mengelus punggung polos Fira.
"Lanjut nanti ya!" bisikku karena sesuatu di dalam tubuhku mulai bangkit kembali.
"Kok?! Nggak enak kalau cerita dipotong-potong. Sekarang saja." rengeknya.
"Tapi aku mau lanjut yang lain dulu." bisikku lalu menyecap lehernya.
"Nggak mau! Nggak selesai nggak ada lanjut-lanjut." Fira menarik tubuhnya dan kembali cemberut.
"Iya-iya. Aku lanjut. Tapi jangan jauh-jauh. Sini!" Ku rengkuh lagi tubuhnya.
"Ketika kami jalan, kami melihat toko perhiasan. Entah mengapa kami masuk. Dalam pikiranku waktu itu, aku ingin membeli oleh oleh untukmu. Rupanya Alan juga memiliki pemikiran yang sama. Kami sama-sama membeli cincin." Aku diam mengingat kejadian bertahun-tahun yang lalu itu.
"Lanjut mas!" pinta Fira.
"Ok. Lanjut ya." Aku tersenyum. Segera ide usil muncul di kepalaku. Tanganku yang semula mengelus punggungnya kini mulai berpindah. Menjamah tempat tempat yang aku suka.
"Mas! Ceritanya yang dilanjut. Gimana sih. Modus melulu." Semprot Fira. Tanganku dipukulnya dengan gemas.
Aku terkekeh, "Sori, sengaja. Kalau dengar kata lanjut, ingatnya ke situ terus sih." elakku.
"Itu karena otak mas penuh dengan kemesuman."Ia mencibir.
"Mesum yang nagih ya?" godaku
"Tau ah." Wajahnya memerah.
Kucubit hidungnya sebelum aku melanjutkan ceritaku.
"Jangan baper ya! Aku bertanya pada Alan untuk siapa cincin itu. Ia bilang ia akan memberikannya pada wanita yang paling ia cintai. Lalu ia juga nanya ke aku, untuk siapa aku membeli cincin. Jawabanku sama. Untuk wanita yang diam-diam aku cintai."
"Terus Mas kasih ke siapa cincin itu?" tanya menatapku. Kulihat ada sorot cemburu di matanya.
"Kubuang."
__ADS_1
"Kok dibuang?"
"Karena saat itu wanita yang aku cintai menerima hadiah dari pria lain." Mataku menatapnya intens. Ia diam seolah mengingat sesuatu.
"Kenapa nggak coba dikasih saja?" tanyanya lagi.
"Sudah aku coba. Aku mengiriminya surat dan menunggunya. Tapi ia tidak datang. Jadi aku buang." jawabku penuh penyesalan. Andai aku menyimpannya pasti saat ini aku bisa memberikannya. Sama seperti Alan.
Fira diam entah apa yang ia pikirkan.
"Aku mengirim surat padamu melalui Elsa, sahabatmu. Tapi kamu nggak datang."
"Aku nggak pernah menerima suratmu Mas."
"Iya, aku tahu. Sudahlah itu masa lalu. Toh sekarang kamu milikku."
Aku bergerak kebawah sedikit agar kepalaku sejajar dengan dadanya.
"Lanjut ya!" kataku lalu melakukan aktivitas yang paling kusukai.
"Mas, ceritanya bagaimana?" tanyanya sedikit terengah.
"Udah selesai."
"Gitu aja? Nggak menarik banget."
"Tentu saja. Karena yang ini yang lebih menarik." Aku mengungkungnya dan mulai menguasai tubuhnya.
Kami kembali bergelut sampai deringan ponselnya mengganggu kami.
"Mas, ponselku bunyi."
"Biarkan. Nanti saja dihubungi lagi." Ku ajak dia untuk terus mendaki hingga kami mencapai puncak bersama-sama. Berkali kali ponselnya bunyi tidak kami hiraukan.
"Siapa Ra?" Aku melihatnya memeriksa panggilan di ponselnya setelah aktivitas kami selesai.
"Adikku Mas. Ada apa ya? Tumben ia menghubungiku berkali-kali."
"Telpon balik saja!"
Fira mulai menghubungi adiknya.
"Nggak diangkat mas."
"Coba lagi." Aku bangkit dari rebahan dan menggeser tubuhku mendekat padanya. Ku taruh kepalaku di pundaknya sambil melihatnya berusaha menghubungi adiknya.
"Nggak diangkat lagi. Apa dia marah ya mas, karena tadi nggak aku angkat?"
"Mungkin ia sibuk atau tidak dengar."aku mencoba menenangkannya. Entah mengapa apa sebersit rasa bersalah di hatiku.
"Waalaikumsalam dik!"
Sepertinya panggilannya kali ini diangkat.
"Tadi menelpon ya? Maaf nggak bisa angkat tadi soalnya lagi.." Fira melirikku. Aku hanya tersenyum lalu membuat gerakan mencium dengan bibirku.
"Iya..sedikiy." jawab Fira lagi. Entah adiknya bilang apa.
"Apa?!" teriaknya mengagetkanku. Aku yang hampir lelap di bahunya, jadi bangun lagi
"Bagaimana sekarang?! Oo begitu. Ya sudah. Setelah ini kakak akan ke rumah sakit. Waalaikumsalam."
Rumah sakit? Siapa yang sakit?
Fira memutus panggilan.
"Ada apa?" tanyaku penasaran.
Fira malah menangis.
"Sayang kenapa?" Aku merengkuhnya.
"Arif Mas. Ia kecelakaan saat bekerja. Tadi adik telpon karena butuh bantuan."
"Terus sekarang bagaimana?"
"Sudah. Kebetulan tadi ketemu Alan di rumah sakit dan Alan menolongnya."
Alan? Tidak. Ini tidak boleh. Sekarang ada aku. Aku yang harus menolong Fira dan keluarganya.
"Kita ke rumah sakit sekarang!" Aku langsung bangkit lalu menggendong Fira.
"Mas!" teriaknya.
"Kita mandi bareng. Biar lebih cepat." elakku membungkamnya agar tidak protes lagi.
Fira berlari menyusuri lorong rumah sakit.
"Sayang jangan lari!" kuhentikan dia dengan menarik tangannya.
"Aku khawatir mas."
__ADS_1
"Iya. Tapi jalan saja. Kalau terpelest dan jatuh malah bahaya. Di mana suami adikmu di rawat?"
"Dia masih di ruang operasi. Kita ke sana saja."
Kami menuju ruanh operasi. Dari jauh aku melihat adik Fira duduk dan ditemani Alan.
"Dik!"
"Mbak."
Mereka berpelukan.
Aku mendekat ke Alan.
"Makasih." ucapku mewakili Fira.
Alan hanya melirikku dan entah mengapa wajahnya berubah. Ia seperti jengah dan menahan luka.
......................
"Terima kasih sudah menolong adik iparku." ucapku membuka pembicaraan saat aku dan Alan berada di kantin rumah sakit.
"Ck. Segitu menikmatinya sampai dihubungipun tak bisa." jawab Alan sinis
"Maksudmu apa?"
Alan hanya melirikku dan mendengus kesal. Dia mengambil ponselnya dan dengan cepat mengambil gambarku lalu mengirimnya.
Aku melihat foto yang Alan kirim. Tampak ada tanda merah di leherku. Aku teringat apa yang Fira lakukan tadi.
"Lain kali kalau ada panggilan diangkat. Kan bisa ngobrol sambil..." Alan tidak melanjutkan karena mukanya sudah memerah.
Aku terkekeh.
"Kamu belum tahu saja kalau saat sedang begituan nggak bisa mikirin yang lain. Nanti nikmatnya berkurang."
"Cih!" Alan melengos. Mukanya kian merah.
"Lan!" Aku mengeluarkan kotak cincin Fira dan menyorongnya ke depan Alan.
Alan memandanginya.
"Maaf Lan. Aku tidak rela istriku menerima ini karena aku tahu, ada cinta dalam cincin ini. Ku harap kau mengerti."
Alan melengos.
"Dan untuk biaya rumah sakit, aku akan menggantinya. Lan, kini aku suaminya. Biarkan aku menjalankan tanggung jawabku. Beri aku nomor rekeningmu. Akan aku transfer."
Alan diam.
"Lan, kalau kamu jadi aku, kamu pasti akan melakukan hal yang sama."
"Aku sudah merelakannya untukmu." jawab Alan.
"Iya. Tapi tahukah kamu, dari sekian laki-laki, aku paling khawatir terhadapmu. Karena selama ini kamulah yang selalu ada untuknya. Aku yakin jika ibumu menerimanya, pasti ia akan memilihmu daripada aku."
Alan tersenyum getir.
"Jadi untuk sekarang, biarkan aku yang melakukannya."
Kulihat Alan kembali membuka ponselnya.
Aku juga membuka ponselku saat ada notif pesan masuk. Rupanya Alan mengirim no rekeningnya.
"Jangan sampai kurang!" katanya
Aku hanya tersenyum sambil mentransfer uang ke rekeningnya.
"Dah. Periksa gih!"
Ia tidak melakukan apa yang aku bilang.
"Bagaimana Anita? Kapan kalian menikah? Jangan digantung anak orang!"
Kuamati wajah Alan. Ia malah sibuk mengaduk minuman.
"Cobalah membuka hatimu Lan!"
"Kau bicara seperti kau bisa melakukannya. Bukankah kau menikah dengan Elsa tapi hatimu juga tidak terbuka untuknya?"
Aku tertawa lirih. "Kau benar. Aku tidak pantas memberimu nasehat tentang sesuatu yang aku sendiri tidak bisa melakukannya. Tapi Lan, Anita gadis yang baik."
Alan diam. Ia lalu menarik nafas panjang.
"Kau benar. Meski bukan untukku setidaknya aku akan membuat ibuku senang." jawabnya putus asa.
Ku tepuk bahunya. "Yakinlah! Cintamu pasti akan datang juga."
"Maksudmu kau akan memberikan Fira padaku?" tanyanya tengil.
"Enak saja. Meski matipun aku tidak rela dia menjadi milikmu." semprotku kesal.
__ADS_1
Dia tertawa!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...