
"Fir aku dengar dari Alan, Andre menceraikanmu ya?" tanya Bu Riya saat kami sedang berdua di kursi depan kamar Alan.
Aku menelan ludahku dengan susah payah lalu mengangguk.
"Dan semua terjadi karena Alan?"
Aku mendongak memberanikan diri menatap mata Bu Riya, "Itu tidak benar Bu."
"Tidak benar? Tapi menurut Alan, dirinyalah yang menjadi penyebab kamu diceraikan Andre." kata Bu Riya
Alan...apa maksudmu bilang seperti itu kepada Bu Riya.
"Ada atau tidak ada Alan, rumah tangga saya memang sudah bermasalah bu." kataku. "Jadi Alan tidak ada hubungannya dengan apa yang menimpa saya."
"Syukurlah. Ibu lega mendengarnya. Ibu turut prihatin atas apa yang menimpamu. Sebagai sesama perempuan, ibu bisa merasakan sakit yang kamu rasakan." kata Bu Riya menunjukkan simpatinya padaku. Entah tulus atau tidak.
"Terima kasih, Bu." jawabku.
"Tapi yang namanya hidup memang harus dijalani. Suka atau tidak suka. Rela atau terpaksa. Seperi sekarang, walau sebenarnya ibu tidak suka. Tapi ibu harus menerimanya demi Alan." kata Bu Riya.
"Maksud ibu?" tanyaku.
"Fira, sejak kalian SMA, ibu bukannya tidak tahu kalau Alan menyukaimu. Saat itu ibu pikir, cinta di hati Alan hanya cinta masa muda yang akan hilang seiring waktu. Namun siapa sangka cintanya padamu sangat kuat. Dan melihat keadaan Alan sekarang, mau tidak mau ibu akan merestui kalian."
DUARRR
Aku kaget mendengarucapan Bu Riya yang disampaikan dengan sikap dinginya.
"Maksud ibu?"
"Alan bilang, ia akan menikahimu setlah kamu resmi bercerai dari Andre. Dan karena penyakitnya itu, ia meminta ibu merestuinya. Walau jujur ibu berat. Maaf kalau menyinggungmu. Kau tahu kan, selain abdi negara, Alan adalah CEO di perusahaan ayahnya. Jadi ia butuh istri yang mampu membantunya. Sedangkan kamu, menurut ibu, tidak kan sanggup membantu kerjaan Alan ataupun kemajuan bisnisnya. Alan butuh dukungan dari seorang wanita yang memiliki latar belakang yang kuat. Terutama di bidang bisnis agar posisi Alan semakin kuat." Bu Riya lalu memandangku. "Fira, aku hanya punya Alan. Jadi tidak salahkan kalau aku meninginkan yang terbaik buat anakku satu-satunya itu."
"Tidak bu. Sama sekali tidak." jawabku. Kata-kata Bu Riya memang lembut, tapi dalem menghujam hatiku.
Bu Riya menghela nafas, "Jadi begini Fir. Ibu akan menikahkanmu dengan Alan seperti permintaan Alan. Tapi ibu minta kamu melakukan sesuatu buat Alan setelah kamu menjadi istrinya kelak, apa kamu bersedia?"
"Bu. Alan tidak akan kenapa-kenapa. Jadi ibu tidak perlu menikahkan kami." tolakku halus.
"Harapanku juga begitu. Tapi Alan mengancam tidak mau diobati sebelum menikahimu."
Kembali aku kaget.
__ADS_1
Alan apa yang kau lakukan. Kenapa kau mendorongku semakin masuk ke dalam penderitaan. Mungkin kau bisa menghujaniku dengan cintamu, tapi ibumu.
"Bu. Saya yang akan bicara dengan Alan."
"Percuma, Ra. Jadi turuti saja rencana ibu. Kau mau kan?"
"Rencana apa Bu?'
"Begini. Andre menceraikanmu kan karena kalian tidak bisa memiliki keturunan. Jadi setelah kamu menikah dengan Alan dan jika dalam waktu tiga bulan, kamu tidak juga hamil maka kamu harus meminta Alan menikahi Anita."
Aku menatap tak percaya pada Bu Riya.
Barusan ia bilang ia bisa merasakan sakiku. Lalu ini apa?
"Maaf Bu. Fira tidak bisa." jawabku tegas. Cukup. Cukup aku direndahkan. Cukup aku di hina hanya karena latar belakang keluargaku bukan orang berada. Aku punya harga diri.
"Ra, kamu jangan egois." kata Bu Riya dengan suara sedikit naik.
"Fira tidak egois bu. Fira justru memikirkan kebaikan ibu dan Pak Alan. Jadi maaf, Fira tidak bersedia menerima pernikahan ini." kataku dengan bergetar menahan sesak di dada. Rasanya aku ingin berteriak marah.
Ya Allah. Apa memang sudah takdirku untuk berpoligami. Kenapa aku selalu di lingkaran poligami. Mas Andre menduakan aku. Bu Riya ingin aku rela di madu. Dan Elsa, ia malah memintaku menjadi istri kedua suaminya, Kak Salman.
Aku menggeleng. "Fira tidak ingin hal buruk terjadi pada Pak Alan bu." jawabku tulus.
"Ra, bukankah Alan selalu menolongmu, membelamu. Lalu apa salahnya kini giliranmu berkorban untuknya. Asal kau mau menikah dengan Alan, ia akan mau berobat dan jika Alan sembuh, Kau tinggal mengatasnamakan cinta memintanya menikahi Anita. Beres kan? Tidak akan ada yang dirugikan. Ingat. Alan masih perjaka dan kau sudah janda. Jadi Alan berhak mendapatkan perawan. Pikirkan ucapan ibu. Belum tentu ada perjaka seperti Alan yang mau menikahimu." kata Bu riya semakin mengiris hatiku. "Aku beri waktu seminggu. Setelah itu beri jawaban padaku!"
Bu Riya lalu berdiri meninggalkanku. Beliau berjalan keluar dari rumah sakit.
Aku menyangga kepalaku yang terasa berat dengan kedua tanganku. Air mata mulai turun.
"Bunda!" Ryan yang semula ada di kamar Alan sudah berada di sebelahku. Segera kuhapus airmataku agar Ryan tidak melihatnya.
"Iya sayang?" tanyaku.
"Bunda menangis?" Ryan mengulurkan tangan mungilnya menyeka sisa air mataku. "Pipi bunda basah."
Aku tersenyum. "Bukan menangis. Hanya ada beberapa airmata Bunda jatuh. Mungkin karena bunda mengantuk." elakku.
"Ryan juga pernah. Saat Ryan mengantuk dan menguap, eh mata Ryan keluar airnya. Bunda tadi habis menguap ya? Huaaaammm. Gitu?'
Aku memeluk Ryan sebagai jawaban pertanyaannya.
__ADS_1
"Bunda. Pm Alan minta Bunda masuk." kata Ryan lagi.
"Oh ya? Yuk kita masuk!" Aku bangkit dan menggandeng Ryan masuk ke kamar Alan.
“Ibu sudah pulang Ra?” tanya Alan. Aku mengangguk lalu duduk di sofa yang ada di kamar Alan.
“Ra kemarilah!” pinta Alan.
“Aku disini saja, Lan. Aku capek.” Jawabku enggan menuruti permintaan Alan.
“Kamu kenapa?” tanya Alan. “Kemarilah atau aku yang ke situ?”
Aku menatap Alan kesal, Mau tidak mau aku beranjak dan duduk di kursi dekat ranjang Alan. Sementara Ryan tiduran di bed ekstra yang dipakai oleh keluarga pasien.
Aku duduk sambal menunduk. Pikiranku masih ke ucapan Bu Riya. Aku kaget saat jemari Alan mengusap pipiku.
“Kamu habis menangis ya? Ada apa? Apa ibuku melukaimu?” tanya Alan lembut.
“Tidak.” Aku marik wajahku menjauh.
"Apa ibu bicara tentang pernikahan kita?" tanya Alan.
Aku mengangguk.
"Maafkan aku Ra jika menggunakan sakitku untuk memaksa ibu menerimamu. Percayalah. Dengan seiring waktu dan jika beliau semakin mengenalmu, aku yakin beliau akan menyayangimu." kata Alan.
"Lan tolong! Jangan paksa Bu Riya untuk menerimaku. Pernikahan tanpa restu tidak akan baik."
Aku mulai terisak. "Biarkan aku hidup tenang Alan. Tolong." rintihku. Aku menjatuhkan kepalaku ke ranjang. Aku menangis. Ku rasakan tangan Alan mengusap kepalaku.
"Maafkan aku Ra. Untuk kali ini, percayalah padaku." kata Alan.
Aku sudah tidak peduli apapun. Aku hanya ingin menangis. Sejak tadi aku sudah menahan sesak di dadaku. Kini aku ingin melepaskan semuanya. Aku tidak peduli dengan Alan. Bahkan aku lupa di sana ada Ryan. Aku hanya ingin melepas himpitan ini.
__ADS_1