Balada Istri Pertama

Balada Istri Pertama
Bertemu Kak Salman


__ADS_3

Jadwal keberangkatanku ke ibu kota akhirnya tiba. Atas saran Alan, aku membawa serta Ryan karena tidak ada yang bisa aku titipi Ryan di rumah. Sejak ucapanku yang memutuskan berpisah, Mas Andre tidak pernah pulang. Ia juga tidak menghubungiku sama sekali. Dari bajunya di almari yang semakin lama semakin berkurang, aku tahu kalau saat aku kerja, ia datang untuk mengambil baju sedikit demi sedikit. Mungkin ia menghindari kecurigaan para tetangga.


Kakak iparku yang biasa aku titipi Ryan, ternyata sangat sibuk. Pun adikku malah pulang kampung ke rumah suaminya. Sebenarnya ia ingin mengajak Ryan, tapi aku yang tidak enak jika Ryan menjadi bebannya nanti.


"Lan, benat nggak papa Ryan ikut serta?" tanyaku saat perjalanan menunju bandara.


"Iya. Sudah kau tenang saja. Aku sudah mengaturnya." jawab Alan santai.


"Mengatur? Maksudmu nanti Ryan juga bisa tinggal sekamar denganku?" tanyaku berharap.


"Ya enggaklah. Memang ini liburan keluarga?" jawab Alan.


"Lalu?Bagaimana Ryan nanti?" aku maaih penasaran dengan maksud sudah diatur itu.


"Kau ingat Salman?" tanya Alan. Entah mengaoa mendengar nama Salman, ada desiran halus di hatiku. Aku segera beritighfar. Salman. Sosok tinggi, ganteng dan berlesung pipi melintas dalam benakku. Salman, kakak kelasku ayang juga sahabat Alan. Salman, yang akhirnya menikah dengan Elsa teman dekatku.


"Salman suami Elsa?" tanyaku pura-pura mencoba mengingat.


"Iya. Salman bersedia menjaga Ryan selama kamu diklat. Ia punya anak seumuran Ryan, pasti Ryan suka."


"Elsa?" tanyaku. "Apa dia setuju?"


"Justru Elsa yang antusias merawat Ryan. Ia sangat ingin bertemu denganmu. Ia bilang ada yang ingin ia akui padamu."


"Mengakui apa?" tanyaku sambil.menoleh ke kursi belakang melihat Ryan yang pulas tertidur.


"Tanyakan padanya jangan padaku." balas Alan. Aku tersenyum tipis karena merasa lucu dengan jawab dan ekspresi Alan saat mengucapkannya.


"Kenapa malah senyum, aneh." gerutu Alan.


"Nggak papa aneh, yang penting cantik," aku membela diri.


"Sayangnya begitu. Kamu aneh tapi cantik. Baik lagi." Alan melirikku. Aku salah tingkah, menyesali ucapanku. Ku palingkan wajahku ke arah luar. Dari sudut mataku masih bisa kutangkap senyum tipis di bibir Alan.


"Kamu lucu Ra." katanya lirih.


Aku hanya diam tidak berkomentar karena takut salah bicara.


"Bangunkan Ryan! Kita sudah akan masuk ke bandara." kata Alan.


Benar saja, kami sudah memasuk portal.masuk ke area parkir bandara. Alan menghentikan mobilnya di depan pos jaga. Ia membuka jendela mobil dan menerima secarik kertas. Kemudian ia kembali menjalankan mobik mencari tempat untuk parkir. Setelah beberapa putaran, kurasakan mobil.berhenti.aq


Aku membangunkan Ryan. Karena aku duduk di kursi depan, aku memutar tubuhku lewat celah antara kursiku dan kursi Alan sehingga posisiku mendekat ke tubuh Alan.


"Yan, bangun nak! Kita sudah sampai." kataku sambil menjulurkan tanganku menggoyang tubuh Ryan.


"Yan bangun!" suara Alan ikut membangunkan Ryan.

__ADS_1


Ku lihat Ryan menggeliat dan mengerjab. Ia lalu membuka mata dan bertanya, "Kita sudah sampai ya Om?"


Aku heran kenapa ia malah bertanya pada Alan.


"Iya, kita sudah sampai."


Kudengar suara Alan begitu dekat. Aku menoleh dan ternyata Alan memang berada sangat dekat. Ia ikut memutar tubuhnya untuk membangunkan Ryan.


Wajah kami sangat dekat. Aku menjadi grogi. Segera ku tarim tubuhku untuk kembali duduk di kursiku. Namun yang terjadi, kepalaku justru berbenturan dengan wajah tampan Alan.


"Aw..sakit Ra!" seru Alan sambil.memegangi hidungnya.


"Maaf..maaf. Kamu sih." kataku gugup.


Ryan cekikian melihat hidung Alan terbentur kepalaku.


"Kepala bunda keras ya Om?" tanyanya sambil tertawa.


"Iya nih Yan. Kepala bundamu keras banget. Penyok hidung om nih." gurau Alan.


"Tapi pipi bunda empuk om. Hidung Ryan nggak pernah sakit kalau nyium pipi bunda." kata Ryan lagi. Mataku membola.


"Oh ya?! Kapan kapan om akan mencobanya." balas Alan. Ku tatap Alan dengan pandangan tajam, ia hanya mengangkat bahunya tanpa rasa bersalah. Senyum manis masih menghiasi bibirnya.


"Ayo turun!" ajak Alan. Ia lalu membuka pintu mobil dan turun. Aku ikut turun dan membuka pintu belakang untuk membantu Ryan. Alan menurunkan barang-barang kami dari bagasi.


Setelah melakukan check in dan mendapatkan boarding pass, kami masuk ke gate yang menuju ke pesawat kami.


Tidak perlu lama menunggu, panggilan boarding untuk menuju pesawat berkumandang beberapa saat setelah kami check in. Kami lalu masuk ke pesawat.


Aku sedikiy terkejut saat tahu kami bertiga duduk dalam satu kursi.


"Ruan mau yang di dekat jendela." kata Ruan langsung menempati tempat di dekat jendela. Aku di tengah dan Alan di pinggir.


Ruan begitu senang karena ini adalah pengalaman pertamanya naik pesawat. Sebenarnya ini juga pengalaman pertamaku. Jujur ada rasa takut masuk ke dalam hatiku. Apalagi mengingat berita-berita tentang kecelakaan pesawat.


Aku menghela nafas panjang untuk mengusir rasa takutku.


"Kenapa?" tanya Alan. Aku meliriknya dan tersenyum hambar. Tanpa ku sadari, Ruan juha sedang memperhatikan aku.


"Bunda jangan takut. Sini Ryan pegang tangan bunda." Ruan memegang tangan kiriku. "Om, pegangin tangan bunda yang sebelah sana, biar bunda tidak takut."


"Yan!" seruku menegur Ryan. Pada saat yang sama aku merasakan tangan Alan menggenggam erat telapak tanganku. Aku menoleh dan melihat Alan sedang menatapku dengan sorot mata yang lembut dan ah...penuh perasaan.


"Lan." aku berusaha menarik tanganku namun genggaman Alan sangat erat.


"Ssst!" hardiknya.

__ADS_1


"Bunda sudah tidak takut lagi kan?" tanya Ryan. Aku mengangguk. Kurasakan pesawat mulai bergerak. Rasa takutku kian bertambah. Tanpa sadar aku meremas tangan Ryan dan juga Alan.


Ryan menepuk tanganku yang ada dalam genggamannya. Sedangkan Alan, ia mengangkat tanganku dan menciumnya.


"Jangan takut. Ada aku." bisiknya sangat lembut. Aku memejamkan mata bukan karena merasakan kelembutan Alan. Tapi karena rasa takut saat pesawat mulai lepas landas dan semakin lama semakin tinggi. Saat pesawat sudah mulai stab dan terasa tenang, kutarik tanganku dari genggaman Alan. Namun usahaku sia sia. Alan masih menggenggamnya dengan erat.


"Lan! Lepaskan!" kata lirih. Namun Alan tidak mengindahkan permintaanku. Ia memejamkan mata seolah tidur.


Ya Allah ampuni hamba. Jika seperti ini, apa bedanya aku dengan Mas Andre. batinku sedih.


Aku terus berusaha menarik tanganku. Tapi dasar Alan, semakin kuat aku menarik tanganku, semakin erat pula ia menggenggamnya. Sebuah ide muncul dalam otakku.


"Aw sakit!" desisku.


Benar saja, Alan bereaksi. Bukan hanya Alan, Ryan juga


"Bunda kenapa?"


"Kamu kenapa, Ra?"


Alan dan Ryan bersamaan bertanya. Entah karena rasa cemasnya, pegangan Alan mengendor. Secepat kilat aku menarik lepas tanganku dan tersenyum penuh kemenangan saat berhasil. Lalu kugunakan tangan kananku untuk mengacak rambut Ryan sambil berkata. "Bunda nggak papa."


"Ck!" kudengar Alan berdecik. Aku tersenyum namun tidak berani melihatnya.


Empat puluh lima menit kemudian, pesawat mulai mendarat. Aku merasakan getaran namun tidak setakut saat lepas landas. Dan ketika pesawat berhenti, aku mengucap syukur dan bernapas lega.


Kami keluar dari pesawat mengambil barang kami dan menuju pintu kedatangan.


"Itu Salma." kata Alan sambil melambaikan tangannya. Ku lihat di kejauhan, seorang pria dengan kaos putih dan celana jens membalas lambaian Alan. Semakin dekat, semakin jelas wajah pria yang dulu biasa aku panggil Kak Salman itu. Dadaku kian bergemuruh saat wajah tampan dan senyumnya tampak jelas. Ia semakin tampan oleh kedewasaannya. Aku menunduk tak berani lagi melihatnya.


"Apa kabar." kata Kak Salman sambil memeluk Alan.


"Apa kabar, Ra?" ia menyapaku setelah mereka selesai berpelukan.


"Alhamdulillah baik, Kak." jawabku grogi. Mata itu dan tatapannya masih sama. Menenangkan.


"Kak?! Kau masih memanggil pria ini, Kak?!" komentar Alan mendengar jawabanku. Ku lihat ke dua pria itu menatapku.


Aku salah tingkah. Aku hanya bisa tersenyum saja menanggapi protes Alan.


"Ini pasti Ryan. Hai jagoan." Kak Salman menyapa Ryan dan menjulurkan tangannya untuk tos. Ryan membalas tos Kak Salman.


"Elsa?" tanyaku.


"Dia ada di rumah menunggu kalian. Ayo!"


Kami berempat meninggalkan bandara.

__ADS_1


__ADS_2