Balada Istri Pertama

Balada Istri Pertama
Mengajak Ardi Pulang


__ADS_3

Malam harinya, Salman terpaksa menginap di rumah Elsa. Ini karena Ardi tidak mau lepas darinya.


"Mas, kau bisa tidur bersama Ardi. Dia akan sangat senang kalau kau tidur dengannya. Aku akan tidur di kamar tamu."


"Makasih, Sa." Salman menyetujui usul Elsa. Tujuannya ke Jakarta memang untuk Ardi. Jadi lebih baik kalau ia menemani Ardi.


"Pa!" Ardi berbinar melihat Salman masuk ke kamarnya.


"Sayang, malam ini kita akan tidur bersama." Salman merebahkan tubuhnya di sebelah Ardi.


Ardi tersenyum lebar.


"Ardi masih ingat Ryan?"


"Iya, Pa. Masih."


"Ardi suka enggak sama Ryan?" pancing Salman.


"Suka. Ryan baik."


"Kalau Ardi ikut papa bagaimana? Ardi nanti pindah sekolah dan bisa satu sekolah sama Ryan. Tidak akan ada lagi teman-teman yang mengolok-olok Ardi."


"Beneran, Pa?" Ardi antusias.


"Bener. Bahkan nanti Ardi dan Ryan bisa tinggal serumah. Main bareng. Belajar bareng. Pasti seru kan?"


"Mau, Pa. Ardi mau. Ardi sudah nggak mau bersekolah di situ lagi. Teman-teman Ardi jahat."


Salman lega.


Tinggal menjelaskan tentang Fira. Pelan-pelan saja. Yang penting ia mau pindah dulu.


"Sekarang tidur. Besok kita berangkat. Ardi sudah sehat kan?"


"Sudah, Pa. Sudah nggak pusing lagi. Dan nenek bilang badan Ardi juga sudah nggak panas."


"Alhamdulillah." Salman melingkarkan tangannya pada tubuh Ardi. Tangn yang lain mengelus kepala Ardi. Anak itu tidak menderita penyakit. Ia hanya tertekan dan stress hingga demam.


"Sekarang tidur ya, biar besok segar." bisik Salman lembut.


Ardi mengangguk lalu memejamkan mata. Tak butuh waktu lama bagi anak itu untuk masuk alam.mimpinya.


Dia sudah tidur, aku akan menelpon Fira dulu.


Perlahan Salman bangun. Ia keluar dar kamar Ardi dan berjalan ke arah teras. Salman tidak menyadari  jika Elsa melihatnya.


Sesampainya di teras, Salman segera menelpon Fira.


"Assalamualaikum. Belum tidur Mas?"  Fira mengangkat telepon dari Salman.


"Waalaikumsalam. Nggak bisa tidur soalnya gulingku tertinggaldi sana." jawab Salman manja.


Elsa yang tadi menyusul Salman menghentikan langkahnya begitu tahu Salman sedang menelepon Fira. Ia menutup mulut menahan rasa sakit saat mendengar jawaban Salman.


"Sayang, besok aku akan pulang dan aku mengajak Ardi.Kamu nggak papa kan?"


"Tentu saja nggak papa. Bukankah aku pernah memintamu membawa Ardi, Mas."

__ADS_1


"Aku tahu. Istriku memang yang terbaik. Mmm malam ini kamu memakai lingerie warna apa?" goda Salman sambil membayangkan tubuh Fira dalam balutan lingerie.


"Buat apa aku memakai lingerie Mas, wong kamunya nggak ada."


Salman tertawa, "Bagus. Jangan memakai lingerie saat aku nggak ada. Aku takut cicak yang ada di kamar kita tergoda olehmu nanti."


Semesra itukah mereka? Dulu kau tidak pernah peduli meski aku memakai lingerie seseksi apapun Mas.


Mata Elsa berkaca-kaca. Ia memutuskan untuk meninggalkan tempatnya berdiri. Semakin lama mendengarkan pembicaraan dan rayuan Salman pada Fira, membuat dadanya semakin sakit.


Salman yang tidak mengetahui kehadiran Elsa tetap asik dengan kegiatannya. Bahkan sekarang ia mengubah mode panggilan ke video call.


"Cantiknya istriku, bikin bangun nih."seloroh Salman yang diakhiri dengan desisan. Wajah Fira langsung merona.


'Sayang tunjukin mainanku dong!" pinta Salman memelas.


"Apa sih Mas? Jangan aneh- aneh!" tolak Fira.Ia merasa malu jika harus memenuhi keinginan Salman.


"Ayolah sayang. Tega kau pada suamimu ini. Aku bakalan nggak tidur semalaman kalau tidak melihatnya."


"Mas, ih mesum banget deh."


"Dosa lo menolak suami." Salman mulai mengeluarkan senjatanya.


"Iya ih. Tapi sebentar ya!"


"Iya."


Tangan Fira mulai membuka kancing bajunya.


"Mas, harus ya? Aku malu nih."


"Iya ish sabar." Fira mengarahkan kamera ponselnya ke dadanya.


"Sudah lihat kan!" Ia memindah kamera ke wajahnya lagi.


"Eh curang. Aku belum puas menatapnya."


"Mas, sudah ah aku ngantuk. Cepat pulang dan kamu bisa melihatnya dengan puas. Dah Mas Salman."


Fira mengucap salam lalu memutus panggilan.


"Eh dimatiin. Awas kau besok ya." Salman menggerutu lalu ia tersenyum mengingat wajah malu Fira tadi.


Sedangkan Fira yang merasa malu atas permintaan aneh suaminya, meraba wajahnya yang memanas.


"Dasar suami mesum." Ia cemberut namun lama kelamaan ia tersenyum malu. Fira menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya sampai ke wajah seolah menyembunyikan diri saking malunya.


Keesokan harinya, Fira bersiap hendak berangkat kerja.


"Bunda,kita naik taksi online lagi?" tanya Ryan sambil memakai sepatunya.


"Tidak sayang. Kita akan dijemput oleh Om Juna. Anak buah papa." Fira melihat arloji di tangannya. Ia sedikit gelisah pasalnya Juna tidak juga datang padahal waktu sudah mulai siang.


"On Juna kok lama sih Bunda? Ryan bisa terlambat." keluh Ryan yang juga ikut gelisah.


"Bunda telepon papa dulu ya, biar papa yang menghubungi Om Juna. Soalnya Bunda tidak tahu nomornya Om Juna."

__ADS_1


Fira mengeluarkan ponselnya. Belum sempat ia menekan nomor Salman, ia mendengar sebuah mobil berhenti di depan rumah mereka.


"Itu pasti Om Juna." Ryan mengambil tas sekolahnya dan berlari keluar.


Fira mengikuti Ryan. Ia mengunci pintu rumah lalu menyusul Ryan ke halaman depan.


"Maaf Bu. Tadi masih isi bensin." Juna memberikan alasan kenapa terlambat.


"Iya. Tapi agak cepat ya. Saya ada meeting pagi." Fira masuk dan duduk di sebelah Ryan.


"Baik, Bu."


Juna lalu melajukan kendaraannya dengan cepat. Fira sebenarnya takut dengan kecepatan namun ia lebih merasa tidak enak jika harus terlambat meeting menggantikan Alan yang hari ini sedang melangsungkan pernikahannya.


Mereka mengantarkan Ryan terlebih dahulu baru ke kantor Fira. Fira merasalega karena ia tidak terlambat memulai meeting.


Selesai meeting, Fira kembali ke ruangannya.


"Bu. Hari ini ibu harus menggantikan bapak menghadiri kegiatan di kelurahan Karya Bakti." Dewi datang sambil menujukan undangan dari bapak lurah.


Fira membacanya.


"Saya sudah menyiapkan bahan untuk sambutan ibu nanti." Dewi memberikan map berisi sambutan yang sudah ia susun."


Fira bisa mencium bau parfum Dewi saat mendekatinya. Ia merasa mual.


"Wik, kamu ganti parfum ya?" tanya Fira sambil menutup hidungnya.


Dewi langsung menciumi ketiaknya sendiri. "Tidak bu. Ini parfum yang biasa saya pakai. Kenapa?"


"Ebtahlah. Baunya membuatku mual."  Fira berusaha menahan rasa mualnya.


"Oek." Fira tidak tahan. Ia bergegas ke wastafel yang ada di bagian belakang ruanganya.


Dewi mengikuti Fira bermaksud menolongnya.


"Jangan mendekat! Nanti aku semakin mual."


Akhirnya Dewi hanya memandangi Fira dari kejauhan.


"Kau tidak apa-apa, Fir?" Dewi bertanya khawatir.


"Perlu ke dokterkah?"


Fira menggeleng. "Aku nggak papa. Biasanya aku jarang mula, hari ini kok aneh, kenapa aku mual hanya karena bau parfumu. Apa anakku tidak menyukaimu ya?" canda Fira.


"Sialan kau Fir. Aku benar-benar khawatir, kau malah bercanda. Ya nggak mungkinlah anak itu tidak menyukai ontynya ini. Secara ontynya ini cakep kan?' ucap Dewi percaya diri.


Fira tertawa. Tiba-tiba bayang Salman berkelebat dalam benaknya.


Apa anakku kangen papanya ya.


Fira tersenyum geli dengan pemikirannya.


Tanpa Fira ketahui, Dewi sempat memfoto Fira yang sedang muntah dan mengirimnya pada Salman. Namun sayangnya, pesan dari Dewi hanya centang satu karena saat itu Salman sudah berada di pesawat untuk pulang.


...----------------...

__ADS_1


Mamanya kali yang kangen Fir. Sabar ya, besok author temuin deh kalian.


__ADS_2