
Semua yang ada di dunia ini pasti ada kesudahannya.
Termasuk orang-orang dalam hidup kita.
Mereka akan pergi, tapi bukan berarti hidup kita akan berakhir.
Merekalah yang berakhir dalam cerita hidup kita.
Dan kita akan baik baik saja.
Aku memejamkan mata mendengar Arifandy mengucapkan kata-kata itu. Yah, dia benar. Hidupku akan baik-baik saja. Karena hidupku tidak tergantung pada orang-orang di sekitarku.Karena Allah sudah menjaminnya.
“Ra.” Suara cempreng Dewi mengagetkanku. Aku mendongak dan menutup ig Arifandy yang sedang ku lihat.
“Apa?” jawabku.
“Sudah dengar berita apa belum?” tanya Dewi sambil duduk di kursi depan mejaku.
“Berita apa?Pagi-pagi jangan ngegosip.” Aku menyalakan komputer untuk mulai bekerja.
“Bos Alan tunangan.” Kata Dewi.
Deg.
Aku langsung menatap Dewi, “Benarkah?!” tanyaku tak percaya.
Dewi mengangguk. “Bos Alan tidak memberitahumu?”
Aku menggeleng. Ada rasa sedih bukan karena Alan akan menikahi wanita lain, tapi lebih karena aku akan kehilangan teman. Alan sudah mulai menjaga jarak. Bahkan soal pertunangannyapun, ia tidak memberitahu aku.
“Mungkin ia patah hati, Ra. Jadi memutuskan menerima wanita itu.” Gumam Dewi.
“Patah hati sama siapa?”
“Ya sama kamu lah. Kau pikir aku tidak tahu kalau Pak Alan mengejarmu? Dari tatapan matanya saja aku bisa merasakan cintanya padamu.” Dewi menggebu-gebu.
“Kami beda Wik. Nggak mungkin bersama.” Jawabku santai.
“Hanya karena itu?Atau karena Tuan Salman?” Dewi menatapku dalam-dalam.
Aku meliriknya lalu tersenyum tanpa mengomentari ucapan Dewi.
Kak Salman, aku jadi ingat Kak Salman saat Dewi menyebutkan namanya. Kemarin saat sidang kedua ia masih menghubungiku. Tapi ini sudah hampir lima hari nggak ada kabar darinya.
Tok tok tok
“Masuk!”
“Bu Fira, dipanggil pak Alan.” Kata anak magang di kantorku.
“Iya. Terima kasih.” Jawabku lalu berdiri.
“Paling ia akan memberitahumu masalah pertunangannya,” tebak Dewi.
__ADS_1
Aku hanya tersenyum dan terus melanjutkan langkah kakiku menuju ruangan Alan.
“Assalamualaikum Pak!” salamku.
“Duduklah Fir!” perintah Alan.
Aku duduk di kursi tamu ruangan Alan. Alan menghampiriku sambil membawa amplop berwarna coklat. Ia menyerahkannya kepadaku.
“Ini apa?”
“Buka saja!” Alan duduk.
Aku membuka amplop itu yang ternyata undangan pelantikan.
“Pelantikan?” Aku menatap Alan tidak mengerti.
“Iya. Kau naik jabatan.” Jawab Alan tersenyum.
“Benarkah?Tapi nggak di sebutkan di sini.” Aku membolak balik surat itu.
“Aw!!” pekikku karena Alan menjitak keningku. “Sakit Lan.” Omelku sambil meraba bekas jitakan Alan.
“Nanti saat pelantikan kamu baru akan tahu.” Jawab Alan sambil menyandarkan punggungnya di sofa.
Aku tersenyum. “Makasih Pak. Saya kembali ke ruangan saya dulu.” Pamitku lalu berdiri.
“Ra!” panggilan Alan menghentikan langkahku.
“Ya?” aku berbalik.
“Pak!” tegurku karena Alan tak juga mengatakan apapun.
“Aku kangen.” Kata Alan sendu.
Aku menunduk, “Lan, antara kita sudah jelas. Terimalah Anita. Dia gadis baik.” Jawabku lalu berbalik meninggalkan ruangan Alan.
Di luar pintu, aku berdiri menarik nafas panjang sambil memejamkan mata. Maafkan aku Lan.
***
Sidang ketiga dan merupakan sidang terakhir. Aku berharap Mas Andre kali ini datang. Karena aku ingin semuanya berakhir baik tanpa ada saling bermusuhan. Dan jika nanti kami berpapasan di jalanpun, kami bisa saling menyapa dengan baik.
Aku duduk menunggu dengan gelisah. Inilah akhirnya. Akhir dari pernikahanku, yang kuimpikan akan kujalani selamanya harus kandas karena penghianatan suamiku.
“Apa kabar calon jandaku.” Sapa sebuah suara yang sudah lama tidak aku dengar. Aku menoleh dan ku lihat Mas Andre berdiri dengan digandeng mesra seorang wanita yang menatapku dengan senyum penuh kemenangan.
Aku memalingkan wajahku tanpa menggubris sapaan Mas Andre. Jika seperti ini, bisakah kami berpisah baik-baik.
“Kemana para priamu?Apa mereka sudah meninggalkanmu setelah mencicipi tubuhmu?” tanya Mas Andre yang membuat darahku mendidih. Aku menghela nafas mengusir amarah agar tidak lepas kontrol. Karena jika terjadi keributan, akulah yang akan rugi. Nama baikku akan tercoreng.
Aku lega saat nama kami dipanggil. Setidaknya aku tidak akan mendengar cemoohan Mas Andre lagi.
Sidang berlangsung cukup alot. Mas Andre menuntut harta gono gini dan hak asuh Ryan. Aku meradang. Selama ini ia tidak memperhatikan Ryan, buat apa ia menuntut hak asuh atas dirinya.
__ADS_1
Aku mempertahankan Ryan, dan alhamdulillah tanpa perlu menghadirkan anak itu, hakim langsung memberi keputusan hak asuh Ryan jatuh di tanganku. Bahkan harta gono gini juga, Mas Andre tidak mendapatkan apa yang ia tuntut. Karena rumah, akulah yang membelinya.
Akhirnya hakim mengetuk palu dan sah, kami bercerai. Kami masing-masing menerima surat putusan cerai untuk dipergunakan mengurus akta cerai.
Aku keluar dari ruang sidang dengan lega sekaligus sedih. Tak terasa air mata menentes. Aku terus berjalan tanpa melihat orang-orang yang ada di kantor pengadilan.
Bruk
Aku menubruk seseorang hingga aku terhuyung. Beruntung orang itu segera menangkap tubuhku.
“Ra, kamu nggak papa?” Suara Kak Salman.
Aku mendongak dan memandang wajah dan tatapan teduh Kak Salman. Pertahananku jebol. Aku membenamkan wajahku ke dadanya dan menangis menumpahkan himpitan kesedihan dalam hatiku.
“Menangislah biar kau lega.” Bisik Kak Salman membiarkan dadanya basah oleh air mataku.
“Cie yang sudah menjanda. Sudah nggak tahan ya, main peluk saja. Nggak lihat tempat.” Cerca Mas Andre yang tiba di tempatku dan Kak Salman.
Aku menahan tubuh Kak Salman saat aku merasakan pergerakan tubuh itu. Aku tahu ia ingin menghajar Mas Andre. “Sudahlah Kak, tidak perlu ditanggapi.” Kataku sambil menyeka air mataku.
“Ra, Man.” Alan dan Anita tiba.
“Yah,datang yang satunya. Mau pesta bertiga ya. Salome…satu lubang rame-rame hahaha.” Ejek Mas Andre memanaskan telinga. Kak Salman kembali hendak menghajar Mas Andre dan aku kembali menahan tubuhnya. Namun Alan tidak bisa ku cegah.
Bug
Sekali hantam tubuh Mas Andre tersungkur ke tanah.
“Kau?Kenapa kau memukul suamiku?” pekik istri Mas Andre sambil berusaha membantu Mas Andre berdiri. Aku menatap wanita itu. Jadi inilah sosok selingkuhan Mas Andre yang membuat rumah tanggaku berantakan. Penampilannya sih santun. Sangat santun malah. Dengan pakaian yang menutup aurat dengan rapat. Mungkin Mas Andre benar, ilmu agamanya bagus.
“Jaga mulutmu. Fira tidak serendah dirimu, sampah.” Semprot Alan marah. Ia sudah bersiap akan memukul Mas Andre lagi, namun Anita memegangi tangannya.
“Hehehe…jangan sok suci. Kalian saja yang nggak tahu ia wanita seperti apa?Tanya tuh temanmu! Ia pernah melihat tubuh polosnya kan?” ejek Mas Andre.
Plak.
Aku menampar Mas Andre.
“Aku menahan diri, bukan karena takut. Tapi karena aku menghormatimu. Tapi mulutmu sungguh busuk.” Bentakku sambil menunjuk wajah Mas Andre.
Mata Mas Andre melotot ke arahku. Tangannya terangkat hendak memukulku. Kak Salman menarikku kebelakang tubuhnya.
“Kau pukul Fira, ku patahkan tanganmu!” ancam Kak Salman.
“Kalian, ayo pergi! Kita jadi tontonan,” kata Anita mengingatkan kami.
Anita lalu merangkulku dan membawaku pergi diikuti Kak Salman dan Alan.
Aku masih sempat melirik ke arah Mas Andre dan istrinya. Aku melihat bagaimana istrinya berusaha membersihkan darah di bibir Mas Andre namun Mas Andre menepisnya dengan kasar. Mata Mas Andre penuh amarah menatap ke arah kami.
**Haaah
Tarik nafas dulu.....
__ADS_1
Jangan lupa sedekah like komen dan votenya...tips juga alhamdulillah...😄🥰🥰**