
“Mereka sudah tidur?” tanya Salman saat Fira masuk ke kamar.
Fira mengangguk. “Mas, apakah tidak sebaiknya kita bicara dengan Raul? Sampai kapan kita akan kucing-kucingan begini. Bagaimanapun Raul adalah ayah kandung Ardi. Dia punya hak atas anak itu.”
“Sayang, hak apa yang ia punya? Apa kau lupa jika anak yang lahir tanpa pernikahan tidak bisa menjadi ahli waris dari bapaknya?”
“Kasihan sekali Ardi. Bagaimana Elsa bisa sembrono itu?” sesal Fira. Ia lalu membaringkan tubuhnya di sebelah Salman. Salman langsung memeluknya.
“Kau tahu sayang, tiap kali melihat Ardi aku selalu merasa bersalah. Aku tahu Elsa melakukannya karena kecewa terhadapku. Tapi aku bisa apa? Dari awal yang aku cintai adalah kamu. Pernikahan kamipun juga karena tipuannya. Aku bisa bersabar bersama juga tidak mudah bagiku.” Salman mulai menyusupkan tangannya ke balik gaun tidur Fira. Ia mengelus perut Fira.
“Cerita sebenarnya bagaimana sih, Mas?” Fira memiringkan tubuhnya menghadap Salman.
“Mmm, ceritanya panjang.” Balas Salman, Tangannya terus saja bermain-main di tempat-tempat favoritnya.
“Aku punya banyak waktu untuk mendengarkan.” Fira memandang penasaran.
“Tapi aku yang nggak punya waktu.” Desah Salman.
“Memang Mas Salman ada kerjaan?” Dahi Fira berkerut heran.
“Mm.” Salman mengangguk.
“Oh, ya sudah. Kerjakan saja pekerjaan Mas Salman. Ceritanya bisa besok.” Ucap Fira kecewa. Ia kembali mengubah posisi tubuhnya.
“Beneran aku boleh bekerja sekarang?” Salman mengangkat tubuhnya dengan menggunakan tangan kanannya sebagai tumpuan.
“Iya boleh.” Jawab Fira lemah.
“Baiklah, kamu yang ngasih ijin lo ya. Jangan menarik kata-katamu ini.”
“Iya. Iya. Bekerjalah!” seru Fira sedikit kesal.
Salman mengulum senyum. Ia lalu mengelus wajah Fira dan mendaratkan ciuman di bibir istrinya itu. Ciuman yang menuntut.
“Katanya bekerja?” Fira mendorong dada Salman menjauh.
“Ini sedang mulai bekerja. Jadi jangan diganggu ya!” Salman kembali menyerang.
Bodohnya aku, seharusnya aku menyadari apa arti bekerja bagi suamiku ini. Bekerja baginya adalah mengerjaiku.
Fira akhirnya pasrah. Lama-lama ia ikut membantu Salman menyelesaikan pekerjaannya, eh pekerjaan mereka berdua sampai keduanya tumbang kelelahan.
“Mas, kamu terlalu sering menengok anak kita.” Ucap Fira sambil mengatur nafasnya.
“Biar mereka tidak kaget nanti saat melihatku.” Balas Salman asal.
“Tapi kata orang, jika terlalu sering ditengok nanti anaknya akan mirip sama papanya.”
“Dia anakku. Apa salahnya kalau mirip denganku?”
“Kalau anak kita laki-laki, tidak masalah mirip denganmu. Tapi kalau perempuan akan sedikit aneh kalau mirip Mas Salman.”
“Kenapa aneh?” Salman langsung menoleh.
“Aku tampan. Anakku kalau perempuan pasti cantik.”
“Iya kalau wajahnya yang menurun dari Mas Salman, kalau badannya bagaimana? Ia akan tumbuh menjadi wanita yang kekar.” Canda Fira.
“Ck. Kau ini. Jangan aneh-aneh kalau berpikir.” Salman menyentil kening Fira gemas.
__ADS_1
“Mas.”
“Hm.”
“Bekerjanya kan sudah. Jadi sudah bisa ceritakan?” Fira mulai merayu Salman. Ia benar-benar penasaran dengan kisah Salman dan Elsa.
Salman menarik nafas panjang. Ia mengira Fira sudah melupakan keingintahuannya akan kisah masa lalunya dan Elsa.
“Baiklah. Ada baiknya juga aku cerita. Tapi ingat! Semua adalah masa lalu. Jadi jangan membebani pikiranmu!” Salman menunjuk kening Fira dengan jarinya.
“Iya.”
“Janji. Jangan cemburu!”
“Iya. Aku tidak akan cemburu.” Jawab Fira cepat. Ia sudah sangat penasaran.
“Dan jangan dipotong!”
“Iya, iya. Ayolah cepat ceritanya!” Fira menggoyang tubuh Salman saking tidak sabarnya.
Salman tersenyum.
Kesempatan bagus. Sayang kalau dilewatkan.
“Sayang, untuk bercerita itu butuh energi. Apalagi ceritaku ini sangat panjang. Jadi aku butuh energi ekstra.”
“Apa? Mas Salman mau makan? Baik. Akan aku ambilkan.” Fira bangun namun Salman menariknya kembali rebah.
“Kamu tidak usah repot mengambilnya. Makananku dan sumber energiku ada di sini dan di sini.” Salman menunku dada dan bagian inti tubuh Fira.
“Apa?!” Fira tidak percaya akan apa yang Salman mau.
Fira menggelengkan kepalanya.
“Yah mau bagaimana lagi. Sudah nasibku punya suami perhitungan.” Cicit Fira kesal.
Salman tertawa puas. Ucapan Fira adalah lampu hijau buatnya untuk kembali mengisi energi agar bisa bercerita.
Semoga setelah ini kau lelah dan tidur. Jadi malam ini aku bisa menunda cerita.
Salman lalu memulai kegiatannya mengisi daya hingga penuh.
Pria ini benar-benar luar biasa. Meski melakukannya berulang, tenanganya bukannya berkurang malah seperti kian bertambah. Apakah energinya benar-benar terisi lagi setelah melakukan kegiatan ini. Tapi kenapa aku semakin lemas? Apa dia menyedot energiku. Dia seperti makhluk pemburu yang menyedot energi mangsanya. Batin Fira sambil meringkuk lemas dalam pelukan Salman.
“Tidurlah. Kau kelihatan capek sekali.” Salman mengelus punggung halus Fira.
“Aku capek tapi tidak mengantuk. Jadi jangan berharap aku akan tidur sebelum Mas Salman bercerita. Kali ini jangan membodohiku lagi!” Fira mendongak dan menatap tajam Salman.
“Hehehe ketahuan” Salman nyengir.
“Jangan cari akal bulus lagi atau puasa seminggu!” ancam Fira.
“Wow.. kucing liarku mulai mengeluarkan cakarnya. Saya suka, saya suka.”
“Apaan sih, Mas. Ayolah bercerita!” rengek Fira dengan puppy eyesnya.
“Baiklah. Aku mulai darimana ya?” tanya Salman pada dirinya sendiri.
“Mulai saja dari sejak Mas Salman menjauhiku. Kenapa saat itu menjauhiku?”
__ADS_1
“Ya mulai dari situ.Kenapa aku menjauhimu, kau pasti sudah tahu jawabannya karena aku pernah cerita saat Alan memberimu kado cincin. Masih ingat?’
“Hm ya. Aku ingat.”
“Saat aku menjauhimu itulah, Elsa terus mendekatiku. Ia selalu ada kapanpun aku butuh teman. Melihat Elsa aku seperti melihatmu karena kedekatan kalian. Namun cinta di hatiku masih tetap untukmu. Saat Elsa bilang kalau dia mencintaiku, aku menolaknya dengan halus. Kukira Elsa akan menjauh setelah penolakan itu, tapi aku salah. Ia bilang kalau dirinya rela kami berteman dan minta maaf telah lancang mencintaiku. Ia juga berjanji akan mengubur cintanya itu.”
“Lalu bagaimana kalian bisa menikah?” tanya Fira tidak sabar.
“Sudah aku bilang jangan memotong ceritaku!” Salman menjitak pelan kepala Fira yang ada di dadanya.
“Iya, maaf. Lanjutkan!”
“Lanjutkan. Seperti slogan kampanye saja. Lanjutkan!” Salman terkekeh.
“Ah ayo cerita lagi! Jangan bercanda!” Fira memelintir bulatan kecil berwarna coklat gelap yang tumbuh di dada Salman.
“Hei, kondisikan tanganmu. Itu tombol darurat. Sekali pencet energiku akan terkuras. Nanti harus ngecharge lagi. Mau kamu?” hardik Salman sambil menangkap tangan jahil Fira.
“Iya maaf. Ayo cerita lagi.”
“Setelah itu kami berpisah. Seperti yang kau tahu, aku pindah ke Jakarta dan melanjutkan kuliah di sana. Tapi tanpa kusangka ternyata Elsa mengikutiku.”
“Ia punya saudara di Jakarta dan ikut melanjutkan kuliah disana meski kami tidak sekampus. Suatu hari, tanpa terduga kami bertemu saat berada di pesta temanku yang ternyata juga temannya. Malam itulah semua bermula.”
“Saat itu aku tidak tahu apa yang terjadi, tahu-tahu paginya aku bangun dan berada di sebuah kamar. Yang membuatku terkejut, Elsa terbaring di sebelahku dengan tubuh polos.”
“Apa?Kalian melakukannya sebelum menikah?”
Salman kembali menyentil kening Fira. “Jadilah pendengar yang baik!”
“Iya-iya.” Fira meraba keningnya yang sedikit ngilu.
“Aku syok. Aku mencoba mengingat apa yang terjadi namun gagal. Dan yang lebih membuatku kaget, pintu kamar tempat kami berada didobrak orang.”
“Keluarga Elsa datang. Kau tahu, diantara keluarga Elsa yang datang itu ada Raul. Aku mengira Raul juga bagian dari keluarga Elsa. Mereka menangkap basah kami dan memaksaku menikahi Elsa.”
“Mas Salman mau menikahinya begitu saja tanpa berusaha membuktikan kebenaran kejadian itu?”
“Tentu saja aku menyangkal. Namun semua bukti memberatkanku. Banyak tanda merah di tubuh Elsa dan juga ada bekas sisa milik pria di tubuhnya dan anehnya di tubuhku juga.”
“Akhirnya aku menyerah dan berjanji menikahinya setelah kami lulus kuliah.”
“Jadi begitu ceritanya. Lalu Ardi? Bagaimana bisa ada Ardi yang ternyata anak Raul.”
“Sayang ceritanya masih panjang. Dilanjut besok ya! Bateraiku mau habis lagi nih. Kalau masih ingin dengar cerita harus ngecharge dulu. Kalau besok, aku bisa tidur sebagai gantinya agar bateraiku penuh.” Salman mengedipkan sebelah matanya.
Ya Allah, Mas. Kamu benar benar ya. Perhitungan banget. Untung tampan kalau enggak sudah aku bejek-bejek. Bagaimana nih pembaca, ngecharge apa tidur nih? Ah tidur saja. Aku juga capek.
“Baiklah. Tidurlah. Besok saja dilanjut. Aku juga sudah mengantuk. Peluk!” Fira mulai mencari tempat ternyamannya. Salman mengeratkan pelukannya. Merekapun terlelap bersama.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
To Be Continue
Othor dah ngantuk. Daripada typo banyak, tak molor dulu.
jangan lupa tinggalin jejak ya
love you pull readersku
__ADS_1