
Anita meringkuk dalam kesedihan. Sedangkan Alan, setelah pelepasan yanag membuatnya mengerang nikmat, langsung menjatuhkan diri ke samping dan lelap.
Anita menahan isak tangisnya agar tidak mengganggu tidur Alan.
Bukan seperti ini yang aku harapkan. Aku ingin sentuhan lembut penuh cinta bukan perlakuan beringas penuh birahi. Kak Alan, sebesar itukah cintamu pada mbak Fira? Bahkan saat kau bercinta denganku, namanya yang kau sebut.
Anita mengusap bulir bulir bening yang jatuh satu persatu dari matanya. Ia ingat kejadian beberapa saat yang lalu. Alan yang membentaknya saat dirinya menjerit kesakitan. Alan yang mengatainya cengeng ketika air matanya meleleh menahan perih di area intinya yang bagai disilet dan Alan yang menegang dan mengerang sambil meneriakkan nama Fira saat ia mencapai puncak pelepasannya.
"Firaaa aahhhh, aku mencintaimu aaahh."
Masih terngiang erangan Alan dalam pikiran Anita.
Oh kenapa aku merasa kalau aku ini mirip wanita pemuas yang dijajakan di pinggir jalan. Setelah dipakai, dibiarkan begitu saja. Dia bercinta dengan siapa yang ada di otak dan pikirannya orang yang berbeda.
Anita sudah tidak bisa menahan lagi. Ia ingin meluapkan tangisnya. Perlahan Anita bergerak turun sambil meringis. Ia melangkah tertatih ke kamar mandi.
Di kamar mandi, Anita menyalakan shower dan membiarkan tubuhnya di guyur air dingin dari shower. Kini ia bisa menangis dengan leluasa. Tubuhnya bergetar hebat. Tangannya memukul mukul dinding kamar mandi.
"Apakah aku akan terus merasakan penderitaan ini? Apakah Kak Alan yang merubah sikap dan pandangannya padaku setelah kejadian malam ini?" gumam Anita dalam tangisnya penuh harap. Tubuhnya lalu merosot turun sampai bersimpuh di lantai kamar mandi.
Cukup lama Alan terlelap. Entah kenapa, tiba-tiba ia terbangun. Alan mendudukkan tubuhnya sambil melihat ke samping. Ada bercak merah di atas sprei.
Alan mengusap wajahnya kasar.
Apa yang sudah aku lakukan? Jika begini, selamanya aku akan terikat pada Anita. Aargh sial. Tapi kemana Anita.
Alan bangun dari ranjang. Ia lalu mendekat dan menempelkan telinganya di pintu kamar mandi.
Kenapa hanya suara air gemericik.
Alan penasaran, ia mencoba menekan handle pintu yang ternyata tidak di kunci. Perlahan Alan membuka pintu itu dan matanya kembali terbelalak melihat Anita yang tanpa busa duduk dengan kaki terbuka di lantai kamar mandi. Wajah Anita mendongak menangkap air shower yang jatuh ke wajah cantiknya.
Sial. Kenapa bereaksi lagi.
Alan hendak menutup pintu karena tubuhnya mulai meminta lagi. Gerakan tangannya berhenti saat ia menangkap hal aneh pada diri Anita.
__ADS_1
Kenapa ia tidak bergerak?
Alan lalu masuk ke kamar mendekati Anita.
Apa dia tidur?
Alan menyentuh bahu Anita sambil berusaha mengkondisikan pandangannya agar tidak melihat tubuh Anita yang lain selain wajahnya.
"Nit!" suara Alan pelan dan serak kar menahan hasratnya yang kembali meledak minta penyaluran.
Anita bergeming, ia tidur karena kelelahan menangis. Alan lalu mematikan shower. Ia mengambil handuk dan menyelimuti tubuh Anita dengan handuk. Ia memandangi Anita yang masih terduduk di lantai kamar mandi.
Alan lalu menarik handuk dari tubuh Anita. Ia mengusapkan perlahan handuk itu ke kepala dan badan Anita. Saat mengeringkan badan Anita, tangan Alan menyenggol aset mulus nan kenyal di dada Anita. Tangan itu berhenti dan melepaskan handuk lalu mulai mengelus benda itu.
Alan sudah tidak bisa menahan diri lagi. Kenikmatan yang tadi ia rasakan, ia ingin merasakannya lagi.
Alan mulai meremas, bibirnya juga sudah mendekat dan menjikati nimple berwana pink.
Perbuatan Alan membuat Anita terjaga. Anita mengerjabkan matanya. Ia kaget saat merasakan dadanya diisap. Spontan Anita mendorong tubuh Alan hingga Alan yang tidak siap mendapat serangan mendadak, terjengkang.
"Kak Alan, maaf." Setelah sadar Anita langsung minta maaf. Ia hendak bangun untuk menolong Alan, namun Alan dengan cepat menerkamnya.
"Aku mau lagi." jawab Alan dan langsung melakukan apa yang ia mau.
Anita hanya bisa pasrah menerima kebuasan Alan.
***
Di rumah Salman.
Salman masuk ke kamar sepulang dari pertemuannya dengan Alan. Ia menaruh kunci mobil di nakas sambil menatap Fira yang sudah lelap. Salman mendekat lalu mengecup kening Fira kemudian perut Fira.
"Mas sudah pulang?" Fira terjaga. Ia mengucek matanya sambil bangkit dari tidurnya untuk duduk.
Salman duduk di sebelah Fira, "Aku membangunkanmu ya? Maaf!" Salman mengusap wajah Fira.
__ADS_1
Fira menggeleng, "Aku yang minta maaf karena tertidur tanpa menunggu Mas datang." Fira memegang tangan Salman yang ada di pipinya lalu menggenggamnya.
"Kamu capek ya? Ngantuk?"
"Tadi iya. Tapi sekarang sudah enggak. Kan sudah tidur. Mas ngantuk ya? Kan belum istirahat sama sekali."
Salman mengangguk, "Capek dan ngantuk tapi sayangnya nggak bisa tidur sebelum." Salman menaikturunkan alisnya.
Fira yang sudah tahu apa yang Salman mau menarik tengkuk Salman dan melabuhkan ciuman di bibirnya. Salman girang, ia langsung melanjutkan apa yang sudah Fira mulai.
Malam itu baik Salman maupun Alan, sama-sama mendaki. Salman mendaki dengan lembut dan penuh cinta bersama Fira, sedangkan Alan mendaki dengan Anita yang merasa terseret seret mengikuti langkah Alan hingga badannya sakit semua.
***
Dini hari, di rumah Alan.
Anita sedang berendam di bathtub untuk menyegarkan badannya yang terasa remuk. Wajahnya masih muram meski air mata tidak lagi membasahi wajah cantik itu. Sesekali dia meringis saat merasakan perih di bagian inti tubuhnya.
Beberapa kali Anita menghela nafas panjang untuk meredam rasa sakit dan sesak di dadanya.
Aku tidak boleh menangis lagi. Tangisan tidak akan mengakhiri penderitaan ini. Aku harus tegar dan sabar. Semua ini pasti akan berlalu. Hari indah sedang menungguku di depan sana. Aku hanya perlu untuk maju terus.
Anita berusaha mengukir senyum di wajahnya.
"Ya. Bagus. Senyum Anita. Jangan lagi menangis. Tampakkan kalau kau bahagia. Lawan kebuasan Alan dengan rasa syukur. Tunjukkan padanya kalau kau pantas untuk dicintai dan dipertahankan. Semangat!"
Anita terus memotivasi dirinya sendiri. Lama-lama sugesti positif yang ia gumamkan masuk ke pikirannya membuat hatinya terasa lebih ringan. Anita lalu meneruskan mandi. Rasa perih tidak lagi ia hiraukan.
Anita keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih ceria. Ia mengambil baju ganti dan mukena. Anita membawa baju dan mukenanya itu ke ruang mushola keluarga Alan.
Di rumah Salman.
Fira dan Salman sedang membersihkan diri bersama. Meski Fira menolak karena risih dan malu kalau harus mandi berdua, Salman bersikeras.
"Aku nggak akan macam-macam. Aku tahu di kamar mandi kita nggak boleh begituan. Aku nggak akan melakukan seperti yang di novel-novel. Aku hanya ingin membantumu membersihkan tubuhmu yang sekarang sudah menjadi milikku ini." rayu Salman yang akhirnya membuat Fira luluh. Salman benar-benar membuktikan ucapannya. Ia hanya menggosok punggung dan membantu Fira mencuci rambut panjangnya tanpa melakukan hal aneh lainnya.
__ADS_1
Selesai mandi dan berpakaian, mereka melaksanakan sholat berjamaah. Fira dengan tenang dan bahagia menjadi makmum Salman.
...----------------...