Balada Istri Pertama

Balada Istri Pertama
Leana dan Kepala Botak Salman.


__ADS_3

Selepas Isya, Andre dan Leana tiba di rumah Leana.


" Masuk, Mas! Aku panggilkan mama dulu."


Andre mengangguk. Ia masuk dan duduk di ruang tamu. Matanya mengamati sekeliling. Amdre tidak menyadari jika ada sepasang mata yang mengintipnya. Sepasang mata itu buru buru mundur saat Leana mendekatinya.


Leana masuk ke kamar mamanya.


"Lea, siapa dia?" Ucap mamanya Leana begitu putrinya muncul di hadapannya.


"Calon suami Leana, Ma."


"Apa kau nggak salah? Dia sepertinya jauh lebih tua darimu?"


"Mama benar, usianya 48 tahun."


Mamanya Leana kaget karena usia mereka sama.


"Apa?! Lea carilah yang usianya tidak terpaut jauh. Sekarang dia masih tampak kekar dan tampan, tapi dua puluh tahun lagi, saat usiamu sedang matang-matangnya, dia sudah tua." Mamanya Leana gusar mengetahui pilihan Leana.


"Gampang, Ma. Tinggal cari yang lebih muda."


"Lea!!!"


Andre yang menunggu di ruang tamu kaget saat mendengar bentakan mamanya Leana.


"Lea, jangan mempermainkan pernikahan."


"Ma, kalau papa saja bisa melakukannya kenapa aku tidak?"


"Lea, berapa kali mama bilang. Jangan hidup dengan dendam. Kau tidak akan bahagia. Lagipula mama sudah mengikhlaskan."


"Tapi Lea tidak. Lea tidak terima mama diperlakukan seperti ini. Seenaknya saja papa mencari yang lebih muda dan meninggalkan mama begitu saja. Lea akan membalas siapapun yang menyia-nyiakan istri dan keluarganya. Juga wanita-wanita penggoda itu." Mata Leana memerah. Rahangnya mengeras.


"Sadar Lea! Itu tidak baik, Nak. Lanjutkan hidupmu! Jangan menyimpan dendam!"


"Ma, mama tidak usah khawatirkan Lea. Lea akan menjalani hidup Lea dengan baik. Sekarang Lea mohon temui mas Andre. Dia akan melamar Lea."


Mamanya Leana menarik nafas berat. Percuma bicara dengan Leana yang keras kepala itu.Anaknya sangat membenci pria yang tidak setia. Dia juga membenci wanita yang tega merebut suami orang. Semua itu karena suaminya yang tak lain papa Leana. Pria itu pergi meninggalkan mereka karena perempuan lain yang usianya lebih muda. Begitu juga kekasih Leana yang lebih memilih gadis lain yang lebih cantik dan mengkhianati Leana.


Akhirnya, dengan enggan dan berat hati, mamanya Leana keluar untuk menemui Andre.


"Selamat malam, Bu." Andre mengangguk hormat pada mamanya Leana yang usianya sama dengan usia dirinya.


"Selamat malam."


Bagaimana aku memanggilnya? Usai kami sama. Mau memanggil nak, kok ya jadi aneh. Kalau mas, dia pacar Leana.


"Ma, ini Mas Andre. Kami bari dekat dan memutuskan untuk langsung menikah saja. Jadi Mas Andre datang untuk melamar Leana."


Mamanya Leana menelan ludah. Ia tahu jika anaknya sudah punya keinginan sulit baginya untuk melarangnya.


"Benar, Bu. Jika ibu mengijinkan, saya ingin menikahi Leana."


Sungguh, jika bisa mamanya Leana ingin langsung menolak lamaran Andre.

__ADS_1


"Jika boleh jujur, saya keberatan anak saya menikah denhan anda."


"Mama."


"Tapi karena anak saya juga mau, tidak ada yang bisa saya lakukan selain merestui kalian."


"Terima kasih atas restu ibu. Tapi ada yang harus saya jelaskan kalau saya.."


"Mas Andre ini duda, Ma." potong Leana cepat. Matanya memberi kode pada Andre agar tidak mengatakan pada mamanya jika dirinya sudah beristri.


Mamanya Leana kembali menarik nafas.


Lea, kenapa kamu lakukan ini. Mama jadi semakin merasa bersalah. Apa yang terjadi padamu karena kegagalan mama mempertahankan papamu.


"Baiklah. Tapi mama ada syarat. Mama akan merestui asal kalian menikah sah tidak saja dalam agama tapi juga sah secara hukum negara."


Andre memandang Leana. Leana memberi isyarat agar Andre menerima syarat dari mamanya.


Aku tahu, kamu dan istrimu belum.menikah sah secara hukum negara kan mas? Kalian hanya menikah secara siri.


"Baik, Bu." Andre mengangguk meski ragu.


Di waktu yang sama, di rumah Salman.


Fira sedang berada di kamar Ryan. Ia menemani anaknya itu belajar.


"Nah sudah selesai PR nya. Sekarang Ryan siap-siap untuk tidur ya! Biar besok bisa bangun pagi-pagi untuk sholat subuh."


"Iya, Bunda. Ryan rapikan buku-buku Ryan dulu." jawab Ryan sambil menata dan membersihkan meja belajarnya.


"Iya Bunda. Sudah Ryan siapkan kok."


"Anak pintar. Kalau sudah Ryan gosok gigi, ambil wudhu lalu berangkat tidur."


Ryan mengangguk. Ia lalu masuk ke kamar mandi untuk menggosok gigi. Setelah itu ia berwudhu.


"Sudah Bunda."


"Bagus. Sekarang tidur ya!"


Ryan naik ke ranjangnya. Fira menutupi tubuh Ryan dengan selimut.


"Berdoa dulu yuk!"


Ryan mengucapkan doa sebelum tidur.


"Selamat malam, Bunda."


"Selamat malam, sayang." Fira mengecup kening Ryan lalu keluar.


Fira menyusul Salman yang sudah berada di kamar. Salman sedang duduk di ranjang sambil memangku laptop, memeriksa beberapa urusan pekerjaan.


"Mas!" Fira naik ke ranjang dan duduk di samping Salman. Ia memperhatikan apa yang dilakukan oleh suaminya itu.


"Hm." Salman menjawab dengan deheman.

__ADS_1


"Apa mas tidak curiga dengan hubungan antara Mas Andre dan Leana?" Fira menyandarkan kepalanya ke bahu Salman. Sebelah tangannya melingkar di pinggang Salman.


"Aku tidak pernah memperhatikan mereka. Dan juga tidak pernah mendengar gosip tentang mereka. Kenapa?" Salman masih sibuk membaca data pada latopnya


"Bukan apa-apa juha sih, Mas. Mereka mau berhubungan juga bukan urusan mita. Tapi kalau mereka berbuat salah dan kita tahu, bukankah kewajiban kita mengingatkan. Apalagi mereka bekerja di tempatmu. Takut efek perbuatannya ke pekerjaan dan usahamu, Mas."


"Aku paham maksud perkataanmu kemana. Aku akan suruh orang menyelidiki mereka." Salman meraih ponselnya.Ia menelepon bawahannya dan memberi perintah untuk menyelidiki Andre dan Leana.


"Sudah tenang?" Salman menoleh dan mengelus kepala Fira.


Fira mengangguk. "Mas kan tahu, saat ada orang berbuat salah dan kita tidak mengingatkan, maka kita juga ikut bertanggung jawab. Namun jika kita sudah mengingatkan dan mereka tetap melakukannya, maka sudah lepas kewajiban kita. Aku hanya tidak mau kalau mereka sampai bermaksiat di tempat kerja."


"Iya sayang." Salman mematikan laptopnya kemudian menutup dan menyimpannya di atas nakas. Ia lalu memutar tubuhnya menghadap Fira.


" Hai anak papa, bagaimana kabar kalian hari ini? Nggak bandel kan? Nggak nyusahin bunda kan?" Salman mengelus perut Fira dan menciuminya.


"Mas, apa kamu masih sering mual?"


"Kadang, tapi obat dari tante Hana selalu mampu meredakan rasa mualku." Salman merebahkan tubuhnya dan tidur dengan kepala di pangkuan Fira. Wajahnya menghadap ke perut Fira. Dia mengusapkan wajahnya ke perut Fira.


"Mas! Geli tahu." Fira menggelinjang.


"Sayang apa kamu tidak ingin makan sesuatu?" Salman menengadah melihat ke Fira.


"Eng..nggak." Fira menggeleng.


"Kata orang kalau wanita hamil itu akan ngidam. Bahkan ngidamnya bisa aneh-aneh. Kok kamu enggak ya? Kamu kayak biasa saja. Biasa keseharianmu."


"Sebenarnya kadang aku juga punya keinginan, Mas. Namun saat bisa aku tahan ya aku tahan."


"Sayang, jangan menahan apa yang kau inginkan. Katakan padaku dan aku akan berusaha memenuhinya. Ijinkan aku jadi suami yang repot karena istrinya ngidam. Aku ingin merasakannya. Kayak di novel - novel itu, yang istrinya ngidamnya aneh-aneh."


"Eh, sejak kapan Mas baca novel?"


'Kau lupa ya kalau aku ini penerbit. Kadang aku juga melihatlah novel yang akan kami terbitkan. Terus si Juna, asistenku itu, dia cerita kalau wanita hamil suka ngidam yang nggak masuk akal. Bahkan istrinya juga begitu."


"Oh ya? Emang ngidam apa?"


"Mengelus kepala botak."


Fira tergelak.


"Tapi sayang, kamu jangan ngidam yang kayak gitu ya! Cukup kepala botakku saja yang kau elus. Meski ukurannya nggak sebesar kepala beneran tapi kan botak juga. Mau mengelus sekarang?" Salman menaikturunkan alisnya.


"Apa sih? Siapa juga yang mau mengelus kepala botak." Fira geli melihat tingkah Salman yang absurd.


"Ayolah sayang! Elus ya!" Salman bangun dari tidurnya. Ia mendekatkan tubuhnya ke Fira.


"Enggak! Geli ah!" Fira tertawa sambil menjauhkan tubuhnya dari Salman.


"Sayang! Aku yang ngidam pengen dielus. Nanti anak kita ileran lo." Salman ndusel.


Fira tertawa karena merasa lucu dengan alasan suaminya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2