
Andre pulang dengan raut wajah kusut.
"Mas, berasnya habis. Jadi aku nggak masak." Keluh Ami begitu Andre masuk ke rumah mereka.
"Iya. Nanti aku beli. Aku haus." Andre duduk sambil melepas kaos kakinya.
Ami mengambilkan Andre minum.
"Ini mas!"
"Nggak punya teh hangat? Aku butuh teh hangat."
"Gulanya habis."
Andre menarik nafas panjang. Ia lalu mengeluarkan sebuah kotak dari dalam tas kerjanya.
"Nih!" Disodorkannya kotak itu pada Ami.
"Ini apa?" Ami menerima dan membukanya.
"Mm enak sekali kue ini." Ami menyantap kue yang Andre bawa dari kantor.
"Mik, apa kau sudah telat lagi?"
"Uhuk." Ami tersedak mendengar pertanyaan Andre.
"Telat?"
"Iya. Mungkin kau telat lagi seperti dulu. Mungkin kau hamil lagi."
Ami diam.
Bagaimana ini. Dulu sebenarnya aku telat bukan karena hamil tapi karena masa masa pra menopouse biasa haid tidak normal. Lagian usiaku sudah empat lima. Apa mungkin aku bisa hamil lagi?
"Mik, kenapa diam?"
Ami langsung mendekat dan bergelayut manja di lengan Andre.
"Belum mas. Mas jangan kecewa ya!" Tangan Ami menggenggam telapak tangan Andre.
"Iya. Nggak papa. Mungkin memang belum dikasih." Wajah Andre sedih. Ia semakin yakin kalau dirinyalah yang bermasalah. Penyesalan karena telah meninggalkan Fira semakin dalam.
"Aku mau mandi dulu. Tolong masakin apa saja yang bisa kumakan. Aku lapar." Andre bangun dari duduknya dan melangkah masuk ke kamar mereka.
"Nggak ada mas. Kita makan di luar ya! Sekali-sekali." Ami ikut bangun lalu menggandeng tangan Andre.
"Kita harus berhemat sampai angsuran rumah ini lunas. Masakin apa saja, mie instant juga nggak papa."
"Nggak ada Mas."
Andre menatap tak percaya.
"Bukankah aku baru memberimu uang pesangon dari perusahaan lamaku? Apa kau tidak menggunakannya dengan baik?"
"Mas, aku harus membeli perawatan wajah dan itu mahal. Perawatan wajahku habis, kalau sampai terlambat kulitku bisa kusam lagi. Mas pikir bisa tampil cantik di usiaku sekarang mudah? Butuh biaya mas." cicit Ami.
Andre memijit keningnya. Dia baru tahu kalau kebutuhan wanita itu banyak. Dulu dia tidak pernah memikirkannya karena Fira selalu mencukupi kebutuhannya sendiri.
Andre membuka dompetnya. Ia mengeluarkan selembar uang limapuluh ribuan.
"Belikan aku makanan. Aku benar-benar lapar." Andre memberi penekanan pada suaranya.
"Tuh mas Andre masih nyimpan uang. Jangan pelitlah sama istri. Nanti rejekinya seret baru tau rasa."
Ami menyambar uang dari tangan Andre lalu keluar.
"Astaghfirullah." Andre mengelus dada. "Jika aku tidak sedang berusaha memperbaiki diri dari kesalahanku, aku lebih memilih melepasmu."
***
"Diminum susunya?" Salman memberikan gelas berisi susu ibu hamil pada Fira. Ia lalu menunduk menciumi perut Fira.
__ADS_1
"Mas geli ah." Fira menggelinjang.
Puas menciumi perut Fira, Salman lalu mengelusnya.
"Bagaimana rupa mereka sekarang ya?"
"Belum berbentuk mas. Masih berbentuk gumpalan darah gitu."
Salman masih terus mengusap perut Fira
"Berarti harus dipahat."
"Dipahat?"
"Iya. Seperti sebongkah batu kalau mau dijadikan patung kan harus dipahat duku. Begitupun kayu, harus diukir agar bentuknya jelas."
Fira tertawa. "Analogi yang aneh."
"Nggak aneh sayang. Anak kita masih berbentuk gumpalan darah. Jadi sudah menjadi kewajibanku selaku ayahnya unyuk memahat dan mengukirnya agar bentuknya bagus. Semakin rajin aku mengukir, semakin bagus hasilnya." Salman menaikturunkan alisnya. Tangannya terus mengelus perut Fira dan mulai naik ke bagian dada.
"Modus." Fira beringsut.
"Sayang mau kemana?" Salman menahan tangan Fira.
"Mau ke kamar mandi mas."
"Oh mau bersih bersih dulu. Biar wangi ya?"
"Apa sih? Mesum saja pikirannya. Orang aku mau pipis juga." Fira menjulurkan lidahnya menggoda Salman sambil melesat ke kamar mandi.
"Awas kau ya!" Salman dibuat gemas dengan tingkah Fira.
Salman berbaring di ranjang sbil.menunggu Fira keluar dengan tidak sabar.
"Lama banget sih."
Salman bangun dan berjalan ke depan pintu kamar mandi.
Salman mengetuk pintu kamar mandi.
Tidak ada jawaban dari Fira.
"Sayang!" Salman mulai cemas. Ia berusaha membuka pintu namun dikunci.
"Sayang!" Salman semakin keras memanggil. Tangannya terus mengetuk pintu kamar mandi.
Ceklek
Fira melongokkan kepalanya. "Ada apa mas?"
"Kenapa nggak menjawab. Mas khawatir tahu?!"
"Lha, bukankah orang nggak boleh bicara saat di dalam kamar mandi. Mas lupa ya?"
Salman menggaruk kepalanya.
"Kamu sih. Bikin orang khawatir. Ngapain sih lama banget di kamar mandi. Mas sudah nggak tahan nih." Salman memelas.
"Sabat dikit. Sana kembali ke ranjang. Nanti kalau sudah selesai juga keluar." Fira menarik kepalanya dan menutup pintu.
Salman yang mendongkol karena harus menunggu lagi, dengan lemas berjalan kembali ke ranjang. Ia membanting tubuhnya lalu menutup mukanya dengan bantal.
"Raaa..cepatlah. Aku dah pening nih." rengek Salman seperti anak kecil.
"Mas!"
Salman langsung membuka bantal yang menutupi wajahnya saat mendengar suara lembut Fira.
Matanya melotot sempurna melihat penampilan Fira.
"Kau?! Ini?!" Salman langsung berdiri. Matanya menelanjangi tubuh Fira yang malam itu sangat cantik dengan gaun tidurnya yang seksi.
__ADS_1
"Mas tidak suka?"
"Suka sayang. Suka banget." Salman langsung menarik Fira dan membawanya ke dalam pelukannya.
"Jadi tadi lama untuk mempersiapkan ini?" Salman menatap wajah merona di hadapannya.
Fira mengangguk malu-malu. "Juga sedang membersihkan yang lain." jawabnya pelan.
"Jadi apa Sekarang sudah siap dikunjungi? Kan sudah dibersihkan?"
Fira memberi cubitan di dada Salman sebagi jawaban.
"Malam ini aku akan sangat hati-hati mengukir buah cinta kita sayang."
Salman meraup bibir Fira, mencumbu dengan lembut dan berdua mereka mendaki untuk meraih puncak kenikmatan dunia.
***
Sebulan kemudian.
"Ra, undangan dari Alan." Salman menyodorkan undangan Alan pada Fira begitu Fira masuk mobil.
"Kapan mas bertemu Alan?" Fira membuka undangan itu.
"Tadi dia mampir ke kantor." Salman menyalakan mesin mobil dan melajukan mobil itu dengan kecepatan sedang.
Kenapa Alan memberikannya pada Mas Salman? Bukankah kami sekantor.
"Akhirnya ia menerima Anita. Bu Riya pasti bahagia." Fira tersenyum lega.
"Ya. Semoga Alan dan Anita juga bahagia."
"Amiin."
"Bagaimana kabar anak papa?" Salman mengelus perut Fira.
"Mas, kita belanja yuk. Aku butuh baju baju untuk ibu hamil. Bajuku sudah mulai sesak di bagian perut." Fira melipat undangan Alan dan menaruhnya di dashboard.
"Jangan hanya beli baju hamil beli juga baju baju yang membuatku gila saat melihatmu memakainya!"
"Enggak ah. Malu. Perutku dan mulai tampak meski belum membuncit. Nggak serata dulu." Fira meraba perutnya.
"Tapi aku suka. Beli ya! Untuk menambah koleksimu. Biar aku yang milih nanti."
"Mas ini bagus nggak?" Fira menunjukan baju pilihannya pada Salman.
"Apapun yang kau pakai pasti akan bagus." Salman mengelus kepala Fira.
"Ck. Aku sedang meminta pendapatmu Mas, bukan meminta pujianmu." Bibir Fira mengerucut.
Cup
Fita kaget saat Salman malah menyambar bibirnya.
Mata Fira berputar melihat sekeliling takut ada yang melihat keusilan Salman.
"Mas,.lihat tempat dong!" hardik Fira sambil menyembunyikan wajahnya dari tatapan Salman.
"Makanya jangan memancingku."
Salman tertawa tanpa dosa. Fira melanjutkan kegiatannya memilih baju. Salman menemaninya dengan setia. Keasyikan mereka memilih baju terusik saat mendengar suara yang mereka kenal.
"Ini bagus kan mas?"
"Iya."
Pandangan Fira dan Salman langsung mengarah ke sumber suara.
"Andre! Leana!"
...----------------...
__ADS_1