
"Sayang cepetan mandinya. Ponselmu bunyi tuh!" Salman mengetuk pintu kamar mandi.
"Siapa sih mas?Pagi-pagi sudah telpon orang." Gerutu Fira sambil.keluar dari kamar mandi dengan tubuh hanya berbalut handuk.
"Wow..seksinya istriku." Salman menarik handuk yang membingkai tubuh Fira.
"Mas! Usil banget deh" Fira reflek memegangi handuknya sebelum lepas.
Salman tergelak sambil berlalu masuk ke kamar mandi.
Fira memeriksa panggilan yang baru masuk ke ponselnya. Panggilan dari Dewi. Fira menghubungi balik Dewi.
"Hallo. Iya Wi. Ada apa?"
"Mau mengingatkan nanti ada meetinh pagi. Takut bu sekcam kesiangan soalnya kan sekarang suka lembur malam." Dewi terkekeh menggoda Fira.
"Nggak penting banget. Garing." Fira langsung menutup telepon tanpa memberi salam karena Dewi beda keyakinan.
Harus pulang dulu nih. Aku nggak bawa baju kerja.
Fira kembali memakai bawahan yang ia pakai kemarin dan jaket Salman sebagai atasannya.
"Mas, aku ada rapat pagi. Cepetan mandinya. Soalnya harus ambil.seragam di rumah dulu." Fira mengetuk pintu kamar mandi.
Salman membalas dengan mengetuk dua kali pintu kamar mandi.
Fira turun dan melihat ke dapur. Dianingin membuatkan Salman teh. Tapi rupanya dapur masih kosong belum terisi apapun. Hanya ada kulkas saja.
"Nanti kita belanja. Kalau urusan perabot dapur kamu saja yang pilih." Salman tiba-tiba sudah berdiri di belakang Fira.
"Mas ngagetin saja deh. Desain dapurnya bagus juga. Aku suka." Fira memandangi dapurnya dengan penuh kekaguman.
"Kalau sama yang mendesainnya, suka nggak?" Salman memeluk Fira dari belakang. Ia berharap Fira bilang suka karena dirinyalah yang mendesain dapur mereka.
"Nggak. Nggak kenal juga." jawab Fira jujur. Ia tidak tahu kalau Salman yang mendesain dapur itu.
Salman langsung melepaskan pelukannya dengan wajah cemberut namun Fira tidak memperhatikan perubahan Salman itu. Salman tahu bukan salah Fira menjawab begitu tapi entah mengapa hatinya terasa mengganjal.
"Ayo mas. Nanti aku telat dan jadi bahan godaan si Dewi." Fira menarik lengan Salman. Fira masih belum ngeh kalau suaminya sedang merajuk.
Salman mengikuti langkah Fira keluar dati rumah bari mereka. Setelah berpesan pada yang menjaganya, mereka meluncur menuju rumah Fira.
Sepanjang perjalanan Salman hanya diam.
"Mas, nanti sepulang kerja kita jemput Ryan ya! Aku dah kangen." Fira sibuk mengetik bahan untuk meeting pagi ini. Semalam ia tidak sempat karena harus ke rumah sakit. Sepulang dari rumah sakit, ia lupa jika akan ada meeting pagi.
"Hemm." Salman mengiyakan dengan deheman.
"Anak itu pasti senang soal rumah baru. Untuk perabot kamarnya, biarkan dia yang memilihnya sendiri boleh Mas?" tanya Fira masih konsentrasi ke laptopnya.
"Hemm." Salman kembali menjawab dengan deheman.
Setelah deheman ketiga kalinya, Fira baru sadar kalau ada yang tidak benar. Ia menoleh melihat wajah Salman.
__ADS_1
"Mas kenapa mukanya? Asam gitu mukanya? Aku berbuat salah ya?" Tangan Fira terulur menyentuh dagu Salman. Salman menepis dengan menggerakkan kepalanya ke samping.
"Mas!" Panggil Fira lembut. Ia menutup.laptopnya.
"Fira minta maaf kalau ada salah. Tapi katakan apa salah Fira?" Masih dengan suara lembut. Disentuhnya lengan Salman lalu tangan Fira beralih mengggegam tangan Salman yang ada pada kemudi.
"Mas nggak kasihan sama Fira? Kalau Mas Salman marah, maka sholat Fira nggak diterima lho." bujuknya.
Salman melirik wajah melas istrinya.
"Ra!"
"Ya."
"Dapur itu aku yang mendesainnya sendiri. Karena aku tahu bagian rumah yang paling kamu suka adalah dapur." ucap Salman.
Fira mengerutkan dahinya.
Dapur?Kenapa malah ngomongin dapur. Oh astaga.
Fira ingat pertanyaan Salman tadi di dapur.
"Mas, tadi aku..aku nggak tahu soal itu." suara Fira terdengar sendu.
"Iya aku tahu. Tapi entahlah, rasanya nggak enak saja." jawab Salman.
"Mas, aku suka dapurnya. Banget. Aku juga sangaaaaaat suka sama yang mendesainnya." Fira menyorongkan tubuhnya ke depan. Dikecupnya pipi Salman.
"Sudah ya! Jangan ngambek. Masa gitu aja ngambek." Fira mencubit pipi Salman.
"Ya udah. Kasih lagi nih." Fira kembali mencium pipi Salman. Namun saat bibirnya mendekat Salman menoleh. Akhirnya bibir mereka saling bertemu.
"Ih..usil deh." Fira melotot.
Salman terkekeh.
"Entahlah. Aku sendiri heran. Kenapa kok rasanya ganjal gitu saat kau bilang tidak suka. Padahal aku bukan tipe pria yang gampang baper." gumam Salman.
"Iti karena kamu sangat mencintaiku mas."
Salman mengacak kepala Fira sebagai tanggapan atas ucapan istrinya itu.
"Sampai."
Fira langsung turun dan membuka pagar rumahnya.
"Ra, siapkan baju ganti. Nanti malam.kita nginap lagi. Sekalian bawa baju Ryan!"
"Mas aku buru-buru. Nanti saja sepulang kerja ya! Kita ke sini dulu ambil pakaian!"
Salman duduk di ranjang memperhatikan istrinya yang sedang berganti pakaian.
"Mas, ngapain lihatin terua?" Fira jengah karena Salman terus menatapnya.
__ADS_1
"Nggak. Hanya saja kamu sepertinya gemukan ya!" Salman bangkit lalu mendekat dan terus meneliti tubuh Fira.
"Masa sih? Perasaan tetap saja deh."
"Bagian sini nih. Lebih berisi. Dan ini lebih besar dan menantang." Salman menunjuk arena panggul dan mencolek dada Fira.
"Mas, sudah deh. Modus aja. Aku keburu-buru nih."
"Jangan terlalu cantik donk yang. Ada Alan lo di kantormu."
"Eh, aku biasanya juga begini dan Mas nggak pernah protes. Kenapa sih kamu hari ini." Fira mencubit hidung Salman.
Salman mendesah. Ia juga bingung kenapa dengan dirinya yang merasa uring-uringan.
"Yang, usia pernikahan kita sudah tiga mingguan ya?"
"Iya! Ayo mas antar aku. Cepetan!" Fira menarik lengan Salman yang entah mengapa hari ini menjadi lelet dan sepertinya tak semangat.
"Makasih sayang. Aku kerja dulu ya! Assalamualaikum." Fira mencium tangan Salman.
Salman mengecup kening Salman kemudian kedua pipi Fira dan terakhir memberi kecupan kilat di bibir Fira.
"Komplit banget" Fira terkekeh. Lalu ia membuka pintu mobil dan keluar.
"Sayang!" Salman melongokkan kepalanya.
"Ya!" Fira berbalik.
"Jangan tebar pesona!" Salman berkata dengan mimik cemberut tak rela.
"Apa sih." Fira malah tertawa menanggapi keposesifan mendadak suaminya. Ia kembali mengayun langkahnya.
"Sayang!!" teriak Salman.
Mata Fira membola. Ia melirik.ke sekitar. Ada beberapa staf yang mendengar teriakan Salman dan mereka cengar cengir.
Fira berbalik dan melangkah kembali ke.mobil Salman.
"Apa Mas! Jangan teriak teriak dong malu di dengar staf tuh."
"Cepat pulang ya!" pinta Salman dengan wajah memelas penuh harap.
"Iya. Nanti kalau waktunya pulang aku akan cepat pulang. Sudah ya..aku kerja dulu. Bentar lagi batas akhir absen pagi."
Fira lalu meninggalkan Salman dengan setengah berlari karena mengejar wakti absen.
"Pagi bu!" ucap beberapa staf yang berpapasan dengannya.
"Pagi." Fira mengangguk dan membalas ucapan mereka.
"Bu, lambat lagi ya. Cepetan absen dan langsung ke ruang meeting. Di tunggu bos karena bentar lagi bos mau menghadiri undangan walikota." Dewi mengingatkan Fira.
Mampus. Kalah pagi sama Alan. Mas Salman sih.
__ADS_1
Fira menuju tempat absen. Ia melakukan absen lalu pergi ke ruang meeting, mengetuk pintu, membukanya kemudian mengucap salam dan masuk. Fira menunduk saat bersitatap dengan Alan.
...****************...