
“Tega sekali kau Kak, Elsa itu sedang sakit. Tapi kau?”
“Ra!” Kak Salman menyelaku. Namun aku terus memberondongnya dengan ungkapan ketidakpuasanku.
“Seharusnya kau menemaninya menjalani hari-harinya. Mendukungnya.”
“RA!!” Suara Kak Salman lebih keras. Aku masih tidak mempedulikannya dan terus nyerocos.
“Bukan malah meninggalkannya menghadapi derita sendirian.”
“FIRA!!!” Kak Salman bersuara keras sambil menekankan telunjuknya ke bibirku. “Bisa diam dan dengarkan aku!” Kak Salman mencondongkan badannya hingga kepala kami saling berdekatan. Tatapan matanya menghujam. Aku menelan ludah sambil mengangguk. Kami masih saling menatap. Kak Salman juga masih membiarkan telunjuknya menekan bibirku. Namun makin lama bukan lagi menekan, telunjuk itu mengusap bibirku.
“Apa sakit?” tanyanya lembut. Aku menggeleng.
“Maksudku saat tadi Andre menyoba memaksamu, apa rasanya sakit? Bibirmu membiru. Apa ini luka?” Kak Salman menatap bibirku dan mengelus bagian yang memang terasa perih.
“Kak!” desahku sambil menarik kepalaku ke belakang.
“Maaf. Aku…” Ucapan Kak Salma menggantung. Ia lalu menarik nafas dan kembali duduk dengan bersandar di sofa. “Aku tidak menceraikan Elsa. Dia yang menuntut cerai. Aku juga tidak tahu mengapa, yang jelas dia mengurus semuanya sendiri tanpa memberitahuku. Bahkan panggilan sidangpun tidak ia berikan padaku. Aku baru tahu saat sidang terakhir untuk pembacaan talak.”
“Dan Kak Salman tidak mencegahnya?Kenapa kau ucapkan talak itu, Kak?”
“Elsa berjanji kalau aku menceraikannya, ia akan mau berobat ke Singapura. Dan jika tidak, ia akan membiarkan penyakitnya menggerogotinya sampai mati. Kau pikir apa aku punya pilihan?”
Aku menunduk.
Sa, sebenarnya apa maumu?
Kami berdua sama-sama diam. Hening.
“Ra! Apakah tidak lebih baik kau ganti semua kunci rumahmu? Aku khawatir Andre akan kembali lagi.” Kata Kak Salman memecah keheningan.
“Iya Kak. Aku juga berpikir begitu.”
“Baguslah. Biar aku yang mengurusnya.” Kak Salman lalu menghubungi seseorang dan meminta orang tersebut datang ke rumahku.
“Habis magrib ia akan datang. Nanti dia yang akan mengganti semua kunci pintu di rumahmu ini.”
“Makasih Kak.”
Kak Salman mengangguk sambil tersenyum. “Ra, boleh aku sholat magrib di sini? Tanggung nih mau kembali ke hotel. Lagipula orang yang akan mengganti kunci rumahmu juga akan datang. Kamu pasti butuh aku, kan?” Kak Salman mengangkat alisnya.
“Baiklah kak. Mau sholat di rumah apa di masjid?”
“Di masjid saja.” Jawab Kak Salman.
Aku jadi teringat saat Alan menginap dan menolak sholat di masjid karena takut ketahuan para warga perumahanku. Tapi Kak Salman malah memilih sholat di masjid.
“Nanti kalau ditanyain warga, kakak jawab apa?” pancingku ingin tahu.
“Ditanyain soal apa?” Kak Salman balik bertanya.
“Ya, mungkin akan ada warga yang bertanya, kan kakak baru di masjid. Pasti akan ada yang tanya.”
“Bilang saja musafir.” Jawab Kak Salman enteng.
Aku tertawa lirih. Nih orang nggak pernah kehabisan akal ya.
“Kau cantik kalau tertawa Ra.” Kata Kak Salman memujiku. Mukaku langsung memanas. Aku menunduk.
“Ya udah.Aku siap-siap ke masjid ya. Jauh nggak?” tanya Kak Salman sambil berdiri saat mendengar bunyi Tarkim.
“Nggak. Kak Salman tinggal belok kanan setelah keluar dari rumah ini lalu lurus dan belok kiri. Atau ikuti saja bapak-bapak yang pergi ke masjid.”
“Nah itu lebih gampang. Aku berangkat ya , sayang.” Kak Salman mengedipkan sebelah matanya sebelum keluar. “Assalamualaikum.” Salamnya saat keluar dari gerbang.
“Dasar.” Omelku. Namun bibirku tersenyum.
Aku meraba dadaku yang berdebar. Beda sekali rasanya jika bersama Alan. Apakah benar aku masih mencintai Kak Salman meski sudah hampir empat belas tahun kami tidak bertemu?
Ini mungkin hanya kenangan lama saja.
Aku masuk dan bersiap untuk sholat karena adzan sudah berkumandang.
Selesai sholat, aku ke dapur dan memeriksa kulkas mencari apa yang bisa aku masak karena sebentar lagi Ryan akan diantar oleh kakakku. Ia pasti lapar. Dan lagi ada Kak Salman. Ia juga pasti belum makan malam.
Aku mulai memasak apa yang kutemukan di kulkas. Saking asyiknya berkutat di dapur, aku tidak menyadari kedatangan Kak Salman.
“Masak apa nih?Enak sekali aromanya.” Kak Salman tiba-tiba sudah berdiri di belakangku membuatku kaget.
“Kak! Kau mengagetkanku.”
“Hehehehe.” Kak Salman malah terkekeh. “Masak apa?” Kak Salman kembali bertanya.
“Kesukaan Ryan.” Jawabku.
“Sayang.Kau nggak masak kesukaanku.” Ucap Kak Salman memasang wajah sedih. Ia berdiri sambil menyandarkan bokongnya pada tepian meja di dekat aku yang sedang memotong sayur.
__ADS_1
“Aku mana tahu kesukaan Kak Salman apa?” jawabku.
“Tanya dong!” balas Kak Salman.
Aku meliriknya,”Kak Salman suka apa?”
“Aku suka kamu.” Jawabnya telak.
“Augh.” Aku kaget hingga tanpa sengaja mengiris jariku.
“Kenapa?” Kak Salman segera meraih tanganku. Aku membayangkan ia akan menghisap darahku dengan mulutnya seperti dalam film-film yang aku tonton. Ternyata enggak. Ia menarikku menuju wastafel dan memencet lukaku hingga darahnya keluar lalu membersihkannya dengan tisu.
“Lain kali hati-hati!” ucap Kak Salman diiringi rasa penyesalan.
“Lain kali jangan menggodaku saat aku memasak.” Jawabku.
Kak Salman menoleh dan menatapku intens. “Apa itu artinya ada lain kali buat kita bersama di dapur seperti sekarang Ra?” bisiknya. Tangannya yang membersihkan jariku kini meremas tanganku.
“Kak.” Aku menarik tanganku dan menjauhi Kak Salman. “Aku mau cari plester dulu.”
Tanpa menunggu jawaban Kak Salman aku bergegas ke kamar untuk mencari plester karena jariku mulai terasa perih. Aku sengaja berlama-lama di kamar untuk menata debaran jantungku. Setelah merasa siap untuk menghadapi Kak Salman lagi, aku baru keluar.
Di luar sudah ada orang yang akan memperbaiki kunci pintu rumahku.
“Ra, ini tukang pintunya sudah datang.” Kata Kak Salman. Aku mengangguk.
“Kakak saja yang menemani mereka. Aku mau melanjutkan memasak. Takut sayurnya terlalu matang.”
Kak Salman mengiyakan permintaanku. Aku kembali melanjutkan memasak.
“Om Salman!” suara nyaring Ryan memanggil Kak Salman. Rupanya Kak Rani, istri dari kakaknya mas Andre, sudah datang.
“Ra!”panggil Kak Rani, “Salman?Siapa dia?” tanyanya langsung begitu ia sampai di dapur.
“Teman Kak. Teman SMA dulu. Temannya Alan juga.” Jawabku sambil mematikan kompor.
“Kok Ryan akrab sekali?”
“Ya iyalah akrab. Kakak ingat saat aku membawanya ke Jakarta. Kak Salman yang menjaga Ryan di sana.”
“Oooo.Cakep juga. Pengganti Andre ya?!” Kak Rani menyenggolku.
“Apaan sih.” Jawabku tersipu.
“Kakak mendukungmu Ra. Kakak juga nggak suka dengan perilaku Andre yang tidak bertanggung jawab.” Ucap Kak Rani.
“Mana berani dia. Sudahlah tenang saja. Biar aku yang bicara dengan yang lain.” Jawab Kak Rani mendukungku.
“Kak, mau makan malam bareng kita ?” tanyaku selesai menyiapkan makan malam di meja.
“Nggak.Takut ganggu keluarga kecil barumu.” Goda Kak Rani.
Aku mencubitnya.
“Duh yang tersipu.”
“Kak,ayolah.”
“Hahahaha. Iya..iya. Ya sudah. Aku pamit. Takut anak-anak ngomel karena telat makan malam.”
“Makasih ya kak.”
Aku mengantar Kak Rani keluar. Kami bertemu Kak Salman yang masih menunggui orang yang mengganti kunci pintu rumah. Ryan berdiri di dekatnya sambil bergelandotan manja di lengan Kak Salman.
“Budhe pulang dulu ya Ryan!” pamit Kak Rani. Ryan mengangguk sedikit cuek.
“Duh, yang dapat ayah baru, budhe dicuekin.” Kata Kak Rani.
“Kak!” tegurku.
Kak Salman hanya tersenyum. Ia lalu mengangguk hormat kepada Kak Rani saat Kak Rani berpamitan.
“Aku suka.” Kata Kak Salman setelah Kak Rani pergi.
“Suka apa?” tanyaku.
“Sebutannya untukku. Ayah baru. Aku suka.” Kak Salman menatapku mesra.
Aku menunduk lalu meninggalkannya.
“Ryan mulai sekarang panggil aku Ayah Salman.”
Aku mendengar permintaan Kak Salman pada Ryan.
“Ok Om. Eh ayah.” Jawab Ryan ceria.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali aku sudah bersiap karena harus mengantarkan Ryan sekolah sebelum berangkat memenuhi panggilan pengadilan agama.
__ADS_1
“Ryan cepat nak! Nanti Bunda terlambat.” Kataku sambil merapikan jilbabku.
“Iya Bunda.Tapi kita berangkat naik apa bun?” tanya Ryan.
Ah iya. Aku lupa. Bukankah motorku dibawa Kak Salman semalam.
“Kita naik taksi online saja.” Jawabku.
“Bunda,Ryan boleh pinjam ponselnya?” tanya Ryan.
“Di meja.” Jawabku.Aku mengira Ryan akan memesan taksi online. Ia bisa melakukannya karena aku mengajarinya. Namun aku salah. Karena ternyata Ryan menelepon Kak Salman.
“Hallo, ayah Salman. Antar Ryan sekolah ya!” pinta Ryan.
“Ryan!” tegurku lalu mengambil ponsel dari Ryan. Aku menaruh benda pipih itu di telingaku. “Hallo!”
Rupanya Kak Salman sudah memutus pembicaraannya dengan Ryan.
“Tadi Ryan beneran bicara sama Om Salman?” tanyaku
Ryan mengangguk. “Ayah Salman. Bukan Om Salman. Ayah akan datang menjemput kita jadi bunda nggak perlu memesan taksi online.” Jawab Ryan lalu masuk ke kamarnya.
Aku menggelengkan kepala sambil menatap sedih anakku itu. Ia harus kehilangan sosok ayah. Ya meski ia bukan anak kandungku dan Mas Andre, tapi dulu kami pernah berjanji untuk merawatnya seperti anak kandung kami sendiri. Siapa sangka, Mas Andre ternyata memendam keinginan memiliki anak kandung.
Tepat pukul enam Kak Salman tiba. Ia membunyikan bel. Ryan dengan semangat membukakan pintu gerbang untuknya.
Aku menunggu mereka di meja makan untuk sarapan.
“Pagi Ra!” sapa Kak Salman membuatku mendongak.
Deg deg deg
Dadaku langsung berdebar melihat penampilan Kak Salman.
Kebiasaan nih orang. Kenapa tidak mengancingkan kemejanya dengan benar sih? Apa dia nggak nyadar penampilannya itu sangat menggoda. Atau memang pikiranku saja yang suka kemana-mana.
“Ra!” Kak Salman menjentikan jarinya. Aku tersentak dan langsung tersipu malu ketahuan bengong.
“Pagi Kak.” Jawabku menghilangkan kecanggungan, “Sarapan Kak.” Lanjutku.
“Ya.” Kak Salman mendudukkan badannya di kursi. Ia membuka piring dan mulai mengambil makanan.
Kami makan dengan tenang dan diam. Selesai makan, Kak Salman mengantar kami. Pertama kami menuju sekolah Ryan.
“Dah Ayah!!”teriak Ryan sambil melambaikan tangan dan masuk ke sekolahannya. Banyak mata memandang kami. Aku dan Kak Salman yang sedang membalas lambaian Ryan.
“Kak, ayo pergi!” ajakku yang mulai jengah dengan tatapan para wali murid yang juga sedang mengantar anak mereka.
Kamipun meluncur menuju pengadilan agama.
“Makasih Kak.” Aku turun dari boncengan Kak Salman. “Kakak bisa meneruskan kegiatan kakak.” Kataku.
“Kegiatanku?Kegiatanku hari ini adalah menemanimu.” Jawab Kak Salman. Ia lalu membawa motorku masuk ke
parkiran pengadilan. Aku mengikutinya.
“Tapi Kak?”
“Nggak ada tapi-tapian. Aku akan menemanimu. Aku khawatir kalau Andre akan berbuat hal-hal yang buruk lagi padamu.” Kata Kak Salman sambil mengambil helm dari tanganku dan menaruhnya di sepeda.
Tidak ada pilihan lain, aku membiarkan Kak Salman menemaniku. Lagipula aku juga membutuhkan teman.
“Alan.” Desisku saat aku melihat mobil Alan melintas di jalan depan pengadilan.
“Alan? Mana?’ tanya Kak Salman.
“Nggak ada.Aku mungkin salah lihat kak.” Jawabku meneruskan langkah menuju ruang tunggu.
Aku duduk menunggu giliran sambil berbincang ringan dengan Kak Salman. Mas Andre belum datang. Bahkan saat nama kami di panggil untuk menjalankan sidang, Mas Andre tidak ada. Karena Mas Andre tidak datang, sidang berjalan lebih cepat.
“Bagaimana?” tanya Kak Salman saat aku keluar dari ruang sidang.
Aku tersenyum kecut. “Bagaimana apa Kak?Kak Salman pikir bagaimana perasaanku saat aku tahu rumah tanggaku akan hancur.” Jawabku.
“Sabar Ra. Dibalik sesuatu yang tidak kita sukai, pasti ada kebaikan yang Dia siapkan buat kita.” Kak Salman berusaha menghibur dan menguatkanku.
“Terima kasih, Kak.” Jawabku.
Seperti ini rasanya menjalani sidang perceraian. Menjalani proses kehancuran rumah tanggaku. Aku jadi ingat Elsa. Bagaimana perasaannya dan mengapa ia mengambil keputusan menggugat cerai Kak Salman? Apakah ia melakukannya agar aku bisa bersama dengan Kak Salman, atau ada tujuan lain. Aku harus meminta penjelasan
pada Elsa.
“Kita langsung pulang Ra?” tanya Kak Salman.
“Aku lapar Kak. Bisa kita makan dulu?’ pintaku.
“Sidang begitu berat ya hingga kau jadi kelaparan?” goda Kak Salman.
__ADS_1
Aku mengangguk sambil mengelus perutku. Kak Salman terkekeh. Kami lalu meninggalkan pengadilan dan mencari warung makan.