
Aku menoleh saat mendengar suara Alan. Kucoba menyapa namun ia hanya menanggapiku dengan senyum tipisnya. Senyum yang mengandung kebencian sekaligus luka.
Maafkan aku sahabatku. Luka itu juga yang pernah kurasakan bertahun-tahun yang lalu saat kau dengan teganya membiarkan aku salah paham atas hubunganmu dengan Fira. Wanita sederhana yang mampu menggetarkan hatiku. Aku ingat betul saat aku memberi ucapan selamat atas jadian kalian waktu itu, kau hanya menyambutku dengan senyum bahagiamu. Sebenarnya kau bisa bilang kalau antara kalian tidak ada hubungan apa-apa. Tapi kau diam. Hingga akhirnya aku merelakan wanita yang aku cintai yang bahkan sebenarnya juga memcintaiku.
"Hai Doni. Kamu sama tantemu ya? Aku sama papa dan bundaku. Nih mereka." Aku tersenyum saat Ryan mengenalkanku sebagai papanya. Kulihat Alan melengos. Nampak sekali kalau ia tidak suka.
"Pa naik itu yuk!" pinta Ryan.
Bianglala.
Fira pasti berani kalau naik bianglala. Biarlah Fira menemani Ryan agar aku bisa berbincang dengan Alan.
"Sama bunda ya sayang!" bujukku. Aku memandang istriku dan ia mengerti mauku. Fira mengajak Ryan, Doni dan Anita untuk menaiki wahana bianglala.
Ketika mereka berempat sudah pergi, aku memanfaatkan momen yang ada untuk berbicara serius dengan Alan.
Aku menyeret tangan Alan sedikit menjauh dari kerumunan.
"Apa sih!" sergah Alan kesal.
"Kau marah karena pernikahan kami?"
"Ck. Nggak penting banget."
"Kau terluka? Jika iya, luka itu yang dulu pernah kurasakan."
"Maksudmu?!" Alan menatapku.
Aku tersenyum getir. "Kau lupa? Saat aku salah sangka akan hubungan kalian, kenapa kau ngga jujur?" tembakku langsung. "Kau tahu. Gara-gara sikapmu itu, empat belas tahun lebih aku hidup dalam penderitaan. Jika sekarang aku mendapat kebahagiaan, kurasa sudah sepantasnya."
Kulihat Alan menelan ludah. Kukira ia akan meminta maaf dan mengakui kesalahannya. Namun tak satupun kata maaf keluar dari lisannya.
"Kau bekerjasama dengan Elsa untuk memisahkan kami bahkan sebelum kami jadian. Hh.."
Alan masih terdiam.
"Jadi bisakah kau menerima kebersamaan kami sekarang? Kau tahu kalau dihatinya hanya ada aku. Pernikahannya yang dulu pun karena perjodohan. Itupun karena harapannya untuk bisa bersamaku telah kalian pupuskan. Memang semua ini takdir. Namun takdir yang terjadi karena ulah kalian. Kalau ia menderita selama ini, ingat ada andilmu dalam penderitaannya Jadi tolong, jangan buat dia menderita lagi dengan sikap benci yang kau tunjukkan hingga ia dihantui rasa bersalah. Ini yang terbaik Lan. Kau memang mencintainya. Aku tidak meragukan itu. Tapi keluargamu, mereka tidak bisa menerima dirinya."
"Heh, kau tahu apa?Ibuku bahkan sudah meminangnya." bantah Alan masih dengan senyum sinisnya.
"Meminang dengan syarat agar ia mau dipoligami maksudmu? Kau akan membawanya ke jurang penderitaan yang lebih dalam."
"Apa maksudmu?" mata Alan membelalak tidak percaya akan ucapanku.
"Bu Riya, ibumu, dia berkata akan menerima Fira menjadi istrimu dengan catatan Fira harus rela dan membiarkanmu menikahi Anita juga." tandasku.
"Tidak mungkin." Alan menggelengkan kepalanya.
"Tanya saja pada ibumu."
"Pantas dia menolak dan menjauhiku. Kupikir ia melakukan itu karena cintanya padamu." gumam Alan.
"Itu juga benar." Entah mengapa ada rasa bangga saat aku mengucapkan kalimat itu. Ku arahkan pandanganku pada wanita yang berhasil menguasai hati dan jiwaku yang ada di wahana bianglala. Ia juga sedang menatapku. Kulambaikan tangan agar ia tidak khawatir melihatku hanya berdua dengan Alan. Aku tahu, ia pasti cemas.
"Elsa?" tiba - tiba Alan menyebut nama Elsa. "Dia tidak akan menyerah begitu saja. Aku tahu wataknya."
__ADS_1
"Lan! Kau mengkhawatirkan kami?"
"Cih. Aku hanya tidak ingin Fira terluka."
"Terima kasih. Aku berjanji akan menjaganya. Apapun yang terjadi. Apa ini artinya kau sudah menerima pernikahan kami?"
Alan melengos. Namun ia tidak sekaku sebelumnya. Alhamdulillah. Meski tanpa kata, aku tahu ia memahami apa yang aku coba utarakan dan menerima kondisi antara kami sekarang.
"Sedikit saja kau menyakitinya, aku akan mengambilnya."
Aku merangkul Alan lega. Kalimat yang baru saja ia ucapkan sudah membuktikan isi hatinya.
Obrolan kami terhenti saat pujaanku sudah selesai menaiki bianglala dan sekarang sedang melangkah dengan anggunnya ke arahku. Wajah cantik itu dihiasi senyum. Rasanya ingin khilaf dan memeluk lalu menghujaninya dengan ciuman.
"Sudah?!" Aku merangkulnya.
"Hem. Ingat tempat bro!" protes Alan.
Aku terkekeh. Kulihat Fira sudah merona.
"Pa, ke sana yuk!" Ryan menarik lenganku. Kuikuti apa kemauan anak itu. Langkah Ryan membawa kami ke wahana rumah hantu. Dia berhenti dan menatap penuh rasa penasaran.
"Mau masuk?" tanyaku.
"Jangan kak." Fira memegang tanganku. Kulihat tatapan ngeri di wajahnya.
"Om Alan aku mau masuk." teriak Doni.
"Ayo Don, kita masuk!" ajak Ryan penuh semangat.
"Rumah hantu." jawabnya
"Ryan nggak takut?" selidikku.
Dia menggeleng dengan tegas. "Hantu itu kan nggak ada, pa. Kata ustadz hantu itu setan yang masuk ke alam manusia dan malah dia lemah saat di alam manusia." jawab Ryan yakin.
Aku tersenyum, "Ok, kita lihat ya. Ayo masuk!" ajakku. Ryan berlari dulu bersama Doni.
"Kak!" rengek Fira saat tangannya kutarik.
"Ada aku sayang." bujukku. Di otakku penuh dengan ide gila secara di dalam pasti gelap kan..he..he..he.
Ku lirik Anita juga ikut masuk. Di belakang Anita ada Alan. Saat pandanganku dan Anita bertabrakan, ku kedipkan mata memberi kode agar manfaatkan momen ini untuk mengambil hati Alan. Pria yang terluka jika diberi perhatian juga akan luluh. Setidaknya itu yang aku dengar meski aku sendiri tidak bisa luluh oleh perhatian Elsa.
"Kamu di depan!" Aku berpindah posisi. Ku tarik tangan Fira hingga ia berjalan di depanku.
"Kak Aku takut kalau di depan." tolak Fira.
"Kalau di belakang, aku nggak bisa melihatmu. Kalau di depan aku bisa memelukmu dari belakang. Jadi jangan takut." Aku melingkarkan tanganku di pinggang Fira dan membimbingnya masuk. Seperti dugaanku di dalam gelap. Kami berjalan perlahan.
"Aww!" jerik Fira sambil memutar tubuhnya dana bersembunyi di dadaku saat tiba-tiba dari atas turun kepala manusia yang penuh dengan darah. Mata melotot dan lidah menjulur.
Alhamdulillah.
Kesempatan manis tak akan aku sia-siakan. Kepeluk erat pinggang ramping itu. 'Jangan takut. Hanya boneka!" bisikku.
__ADS_1
Fira kemudian menoleh. Kupukul kepala boneka itu. "Kan, boneka."
Fira lalu menenangkan dirinya dan mulai berjalan. Apalagi suara-suara dari belakang meminta kami berjalan. "Apapun yang kau lihat hanya tipuan. Jadi jangan takut dan jangan berhenti jalan!" bisikku. Fira mengangguk. Namun aku bisa merasakan kalau tubuhnya bergetar karena menahan takut.
"Ada satu cara agar takutmu hilang. Mau?"bisikku lagi sambil tersenyum.
Tanpa berpikir Fira mengangguk.
Yess!!
Segera kusibak hijabnya di bagian leher lalu kubenamkan wajahku dan mulai membuat tanda cinta di leher jenjang nan harum itu. Suasana yanag gelap membuatku leluasa mengeksplor leher istriku.
"Kak!" lenguh Fira.
"Nikmati saja. Ku jamin takutmu akan lenyap." bisikku. Dan benar, tubuh Fira tidak lagi bergetar karena takut meski melewati banyak macam hantu hantuan yang ada dalam ruang gelap itu
Aku mengakhiri aktifitasku saat kulihat cahaya. Kami menuju pintu keluar.
"Huf!" Fira bernafas lega.
"Tak ku sangka bukan cuma hantu yang ada di dalam. Vampir juga ada." sindir Alan yang diikuti kekehan Anita.
Aku diam saja menanggapinya namun tidak dengan Fira. Ia menunduk seperti biasa. Membuatku tambah gemas.
Kulirik Alan yang tanpa sadar masih bergandengan tangan dengan Anita. Mungkin selama di dalam dia menggandeng Anita agar wanita itu tidak ketakutan.
"Kau benar Lan, bahkan truk gandeng juga ikutan masuk ke rumah hantu." balasku.
Alan tersadar dan langsung melepaskan genggaman tangannya.
"Masak sih, Pa? Aku kok nggak melihat ada vampir apalagi truk gandeng. Nggak muat lah Pa." kata Ruan polos. Kuusap kepalanya sambil tertawa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bonus
Biar ngehalunya dapat, ini visual mereka ya
Fira
Salman
Alan
Andre
Sengaja cari yang matang karena ceritanya juga mereka sudah matang usianya. Semoga cocok. Untuk yang lain belum nemu yang sesuai karakternya
__ADS_1