
Alan kembali ke rumahnya dengan pikiran penuh tanya. Salman yang tidak mau menjelaskan perihal Ardi membuatnya sangat penasaran.
Alan membuka pintu kamarnya perlahan agar tidak mengganggu Anita. Saat ia masuk, matanya membulat melihat pemandangan yang disuguhkan Anita di atas ranjangnya.
Anita yang saat ia berangkat menutup rapat tubuhnya dengan selimut, sekarang selimut itu sudah teronggok di lantai.
Alan menelan ludahnya kasar saat matanya menatap paha mulus Anita yang terekspos begitu saja. Bagaimanpun juga, Alan adalah pria normal. Mendapat suguhan seerotis itu, bagian inti tubuhnya langsung bereaksi.
"Sial!" umpat Alan. Ia lalu membuka pintu dan keluar dari kamarnya. Alan berhenti sejenak untuk menetralkan nafasnya yang memburu.
Ia memutuskan turun dan menuju dapur untuk mengambil air minum.
"Baru pulang?"
Alan tersentak hingga minuman yang ia pegang tumpah.
"Mama. Bikin kaget saja." Alan menaruh gelas ke atas meja dan mengusap pakaiannya yang basah terciprat air.
"Darimana saja kamu? Tengah malam begini baru pulang." Bu Riya menatap marah putra tunggalnya itu.
"Bertemu Salman, Ma." jawab Alan lalu ia menegak air dalam gelas yang tadi sempat tumpah.
"Salman. Salman. Salman. Kenapa sih kamu nggak bisa lepas dari perempuan itu? Kamu menemui Salman pasti ada hubungannya dengan Fira kan?" Bu Riya nyerocos.
"Bukan, Ma. Aku memang ada urusan dengan Salman. Bukan soal Fira." jawab Alan kalem.
"Urusan apa yang sebegitu pentingnya hingga kau tega meninggalkan istrimu tidur sendirian. Ini malam pertama kalian. Ingat, Lan. Jangan bikin malu mama!"
Alan menarik nafas dalam lalu menhembuskannya melalui mulut. Ia memandang Bu Riya.
"Ma. Alan sudah memenuhi keinginan Mama untuk menikahi Anita. Tapi tolong jangan paksa Alan untuk melakukan itu. Alan nggak bisa. Setidaknya sampai Alan benar-benar bisa menerima Anita." suara Alan rendah penuh permohonan.
"Sampai kapan? Sampai kapan kau bisa menerima Anita jika kau saja tidak berusaha?!"
"Alan berusaha, Ma. Tapi cinta tidak bisa dipaksa. Ia akan tumbuh dengan sendirinya. Alan sayang sama Anita. Namun untuk satu hal itu, Alan belum.bisa melakukannya sekarang. Tolong, Mama mengerti." Alan lalu beranjak dari dapur.
Bu Riya hanya memandang putranya yang kembali menuju kamarnya.
Di kamar, Anita terjaga. Ia bangun dan membenahi pakaiannya. Melihat Alan tidak ada, ia berpikir jika Alan belum kembali.
Anita bangun dan turun. Ia mengambil selimut, melipatnya dan menaruhnya ke atas ranjang. Anita lalu ke kamar mandi.
Alan masuk dan tidak melihat Anita. Ia mendengar gemericik air.
"Syukurlah kalau ia bangun
Setidaknya aku tidak perlu melihat pemandangan seperti tadi"
Alan lantas membuka kemejanya. Ia pergi ke walking closed untuk mengambil piyama tidurnya.
__ADS_1
Di kamar mandi, Anita tidak sengaja menyiram gaun tidurnya hingga basah.
"Yah..kok basah sih." Anita mengibas ngibas pakaiannya.
"Lepas saja ah. Bisa masuk angin aku." Anita langsung melepas pakaiannya dan menaruhnya ke keranjang baju kotor.
Ia melangkah ke luar kamar mandi tanpa sehelai benangpun karena berpikir tidak ada orang di kamar.
ceklek
Pintu kamar mandi terbuka. Alan yang saat itu sudah selesai berganti pakaian menoleh. Ia terbelalak sambil terhuyung ke belakang saking kagetnya melihat Anita dalam keadaan polos.
Anita tidak kalah syoknya. Ia sempat tertegun beberapa detik lalu segera berbalik dan masuk kembali ke dalam kamar mandi.
"Aih malunya." Anita menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Bagaimana ini. Aku nggak mungkin kan memakai pakaianku yang sudah aku taruh di ranjang campur sama baju kotor."
Anita gelisah.
Di luar, Alan berkali-kali menarik nafas. Sesuatu yang mendadak bangun melihat Anita tadi kini menuntut untuk dituntaskan.
"Sial. Kenapa sih dia harus keluar tanpa pakaian. Mana dia lama lagi di kamar mandi. Kan aku juga lagi butuh." gumam Alan.
Ia lalu mendekat dan mengetuk pintu kamar mandi.
"Nit, masih lama? Aku juga mau ke kamar mandi."
Alan berlalu dari depan kamar mandi. Ia membuka koper Anita yang belum sempat ditata. Wajah Alan memerah manakala ia mendapati hampir semua isi koper Anita adalah lingerie. Alan mencari pakaian yang menurutnya tertutup namun ia kesulitan. Akhirnya Alan kembali menutup koper Anita. Ia masuk.ke walking closed miliknya. Mengambil sebuah kaos lalu membawanya ke kamar mandi.
"Nit, buka! Nih aku bawain baju." Alan mengetuk pintu.
"Nit!" panggil Alan lagi saat Anita tidak juga membuka pintu. Alan bermaksud mengetuk lagi namun tiba-tiba pintu terbuka.
"Mana kak?" Anita melongokkan kepalanya. Badannya ia sembunyikan di balik pintu.
Alan mengulurkan kaos yang ia bawa.
"Aku nggak menemukan baju di kopermu. Pakai ini saja!"
Anita tanpa banyak bicara menerima kaos Alan.
"Cepat dipakai dan keluar! Aku butuh ke kamar mandi."
Anita menutup pintu sedangkan Alan menunggu di depan kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, Anita langsung memakai kaos Alan. Ia lalu melihat bayangannya di cermin.
Kebesaran, tapi mendinglah daripada telanjang.
__ADS_1
Anita menoleh saat mendengar ketukan di pintu
"Iya, kak. Aku keluar."
Alan menunggu. Saat Anita keluar, ia kembali dibuat kaget. Dalam balutan kaosnya yang nampak kebesaran, Anita justru terlihat sangat seksi. Dadanya menyembul bebas. Kaos yang tidak seberapa panjang itu, tidak mampu menutupi paha mulus Anita.
Anita yang melihat Alan terus menatapnya merasa gugup dan membuat konsentrasinya berkurang hingga membuatnya tidak hati-hati saat berjalan. Kaki Anita tersangkut kain keset yang ada di depan kamar mandi. Tubuhnya terhuyung justru ke arah Alan.
Bruk.
Anita dan Alan jatuh dengan posisi Anita menindih Alan. Mata Alan semakin membesar saat ia merasakan dada Anita menghimpitnya.
"Maaf, kak." Anita hendak bangkit namun tangan Alan menahannya.
Masa bodo dengan cinta atau tidak. Malam ini aku harus menuntaskannya. Jangan salahkan aku, aku sudah berusaha keras menahannya. Namun godaan yang kuterima amat besar.
Alan lalu membalik tubuh Anita. Kini mereka bertukar posisi.
"Kak! Kenapa mmmp."
Alan membungkam Anita dengan bibirnya. Mata Anita membola. Antara percaya dan tidak dengan apa yang terjadi. Perlahan mata Anita meredup seiring ciuman Alan yang kian dalam dan menuntut.
"Kak, kita...."
"Diamlah. Aku mau kamu malam ini." Alan bangkit. Ia lalu menarik Anita agar berdiri. Alan menarik tubuh Anita hingga tiada jarak antara mereka. Ia kembali melahap habis bibir istrinya itu. Anita memukul dada Alan saat ia kehabisan nafas.
"Hosh.Hosh."
Alan yang sudah tidak sabar lalu menggendong Anita dan membawanya ke ranjang.
Alan membuka lepas piyamanya.
Anita gugup melihat Alan kembali mendekat.
"Buka!" perintah Alan dengan suara serak.
"Hah?!" Anita bingung.
"Buka!" Alan menarik kaos yang dipakai Anita. Begitu kaos itu lolos, Alan langsung membuangnya.
Matanya menatap Anita bagai singa lapar melihat mangsa.
"Kak." suara Anita bergetar. Ia benar-benar gugup. Ia memejamkan mata saat tangan Alan mulai menyusuri tubuhnya. ******* halus dan lembut mulai keluar dari celah bibirnya merasakan belaian yang Alan berikan, membuat Alan kian menggila.
"Bersiaplah!" kata Alan lalu mencoba menerobos celah sempit itu.
"Sakitt." Anita memukul dada Alan. Alan langsung menangkap tangan Anita dan menguncinya di atas kepala Anita.
"Tahanlah! Jangan cengeng!" hardik Alan tidak sabar.
__ADS_1
Anita pasrah. Ia memejamkan mata saat bagian bawah tubuhnya serasa diiris. Ia sadar, sesakit apapun, ini adalah kewajibannya memberikan hak Alan suaminya. Anita diam. Tidak lagi berteriak. Ia menahannya meski perih itu masih terasa.