
Selesai jamaah subuh, Andre tidak segera pulang. Ia duduk sambil bersandar pada tiang masjid. Wajahnya ta.pak kuyu. Andre benar-benar pusing memikirkan permintaan Ami.
Kondisi Andre yanag demikian itu menarik perhatian Haji Karim, sang imam masjid.
"Tidak pulang nak?" Pak Haji Karim mendekat dan duduk di sebelah Andre. Andre segera menegakan tubuhnya sebagai bentuk hormatnya pada Haji Karim.
"Belum, Pak Haji. Masih ingin bersantai di sini."
Haji Karim terkekeh mendengar alasan Andre, "Masjid itu tempat ibadah, bukan tempat bersantai." ucapnya lalu melanjutkan tertawanya. "Tapi bagi orang-orang yang punya masalah, masjid memang tempat yang menenangkan." Haji Karim menatap lekat wajah Andre, "Apa kamu sedang ada masalah?"
Andre menunduk.
"Hehehe...rupanya sedang bermasalah." Haji Karim kembali terkekeh. "Apa kamu sedang menyesali keputusan yang pernah kau buat?"
Andre kaget, "Ba...bagaimana Pak Haji tahu?" Andre tergagap.
"Hahaha...." Tawa Haji Romli lebih keras."Aku tidak tahu. Aku hanya menebak. Dan jawabanmu barusan menunjukan kalau tebakanku benar...hehehehe."
Andre kembali menunduk. Ya, Andre mengakui kalau rasa sesal mulai masuk ke dalam hatinya. Setelah tinggal serumah dan tiap hari ketemu, Andre mulai menyadari jika Ami tidak sebaik pertama kali kenal dulu. Sedikit demi sedikit Ami menunjukan sifat aslinya.
"Tak ada kebaikan pada wanita yang mau diajak selingkuh."ucap Haji Romli membuat Andre terhenyak dan langaung mengangkat wajahnya menatap Haji Romli.
"Maksud Pak Haji?"
"Wanita yang rela merendahkan harga dirinya menjadi selingkuhan, menurutmu kebaikan apa yang ada pada wanita semacam itu?"
Andre kembali diam. Ya, sebelum memutuskan menikah, memang ia dan Ami berselingkuh dari Fira. Andre jadi kembali teringat Fira. Selana menjadi istrinya, Fira tidak pernah meminta apa yang tak sanggup ia berikan.
"Terkadang kita tidak menyadari betapa berharganya apa yang menjadi milik kita sampai sesuatu itu hilang dari hidup kita. Itulah sebabnya agama kita selalu mengajari untuk mensyukuri apa yang kita miliki."
Andre semakin tertunduk mendengar tiap kata yang diucapkan Haji Karim.
"Meski penyesalan itu ada, tapi sebagai pria kita harus bertanggungjawab pada apa yang sudah menjadi pilihan kita karena apa yang kita pilih itulah takdir kita."
"Maaf Pak Haji, tadi Pak Haji menyampaikan kalau todak ada kebaikan pada wanita yang mau diajak selingkuh. Kalau misalnya kita terlanjur menikahinya, bagaimana?" Andre memberanikan diri menatap Haji Karim yang juda sedang menatap dengan pandangan tajam ke arahnya membuat Andre kembali menunduk.
"Seperti yang tadi saya bilang. Kita harus bertanggungjawab pada apa yang sudah menjadi pilihan dan keputusan kita. Kau sekarang sudah menjadi suaminya, jadi tugasmu membuat istrimu menjadi baik jika ia belum baik. Buka mencari lagi yang lebih baik. Salah satu tugas suami itu memberi pendidikan terutama pendidikan agama kepada istrinya."
"Tapi ilmu agamanya sudah bagus, Pak Haji." jawab Andre.
"Hahahahaha...."Haji Karim tergelak demi mendengar jawaban Andre. "Bagaimana caramu menilai ilmu agama seseorang?"
Andre diam. Ia tampak bingung menjawab pertanyaan Haji Karim. Akhirnya dengan sedikit ragu ia berkata, "Dia selalu menasehati saya untuk rajin sholat."
"Terus?"
"Pakaiannya tertutup. Saat saya curhat masalah istri saya, ia meminta saya bersabar. Sikapnya membuat saya nyaman."
"Hahahahaha...."
Andre benar-benar dibuat heran dengan sikap Haji Karim. Karena Haji karim selalu tertawa setelah ia menjawab pertanyaannya.
"Kenapa Pak Haji tertawa?" akhirnya Andre memberanikan diri untuk tertawa.
__ADS_1
Haji Karim meliriknya sambil menselonjorkan kakinya. "Aah..begini lebih nyaman. Tulang tua nggak bisa dipakai duduk lama-lama." Haji Karim menggerakkan tubuhnya melakukan stretch agar tulang tulangnya lebih nyaman.
"Kita tidak bisa menilai ilmu agama seseorang hanya dengan apa yang kamu ucapkan barusan. Soal pakaian tertutup itu kewajiban sama seperti sholat. Semua muslimah wajib menggunakan pakaian tertutup. Soal dia selalu menasehatimu untuk rajin sholat, setiap orang juga bisa, soal kamu merasa nyaman curhat padanya, karena ada setan bermain di sana. Ketahuilah, setan selalu menghiasi hal hal yang haram sehingga tampak indah. Sekarang aku tanya, apa dia seindah dahulu saat belum halal bagimu?"
Pak Haji benar, Mia tidak semenarik dulu lagi. Kini aku bahkan lebih merindukan Fira meskipun berada di dekat Mia. Apalagi setelah melihat Fira tambah cantik.
Huff
Andre tersadar dari khayalannya akan Fira saat mendengat Haji Karim menarik nafas dan menghembuskan dengan kuat.
"Kau sudah pernah salah langkah. Jangan mengulanginya lagi. Kau sudah memilihnya jadi tanggungjawabmu membuatnya menjadi lebih baik."
"Maaf Pak Haji, sepertinya Pak Haji tahu banyak tentang masalah saya?"
"Hahahaha....Andre..Andre. Aku bukan orang yang suka menggosip, tapi sayangnya pendengaranku masih tajam. Jadi aku bisa dengar apa yang orang-orang bicarakan meski aku nggak mau dengar sebenarnya. Hahh..." Haji Karim kembali menarik nafas sambil.menggeleng-nggelengkan kepalanya. Mulutnya bergerak gerak mengucap istighfar.
Ya, berita pernikahan siri Andre dengan Mia memang menjadi buah bibir di lingkungan tempat tinggal Mia. Mia yang memang sudah terkenal suka mengambil suamj orang, sekali lagi membuktikan diri kalau omongan tetangganya adalah benar adanya. Namun Andre , semula dia tidak mempercayai semua itu. Bahkan saat ada yang memberitahu jika Mia dahulu berpisah dengan suami pertamanya karena kedapatan selingkuh dengan pria yang selanjutnya menjadi suami keduanya, Andre tidak menggubrisnya. Ia sangat percaya apa yang Mia ucapkan saat itu. Mia bilang kalau dirinya sengaja ditumbalkan untuk membalas hutang-hutang sang suami pertama kepada pria tua kaya yang lalu menjadi suami keduanya.
Kini Andre merasa kepercayaannya pada Ami semakin luntur seiring waktu.
"Pulanglah. Masalah untuk dihadapi bukan ditinggal lari." Haji Karim menepuk bahu Andre. Beliau lalu mencoba berdiri dengan susah payah. Andre membantunya .
"Kau sebenarnya pria baik Nak, hanya sedang tersesat saja. Cepat cari jalan keluar biar kamu busa merasakan indah dan manisnya iman."
Haji Karim meninggalkan Andre yang terus menatapnya hingga beliau menghilang dari pandangan.
...***...
"Wuiihhh...bu sekcam beli mobil baru." ledek Dewi begitu melihat Fira turun dari mobil.
"Hai Pak...kapan nih diajak jalan jalan pakai mobil barunya?"
"Hehe..maaf Wik. Hanya wanitaku yang boleh naik mobil ini." Salman mengerling pada Fira membuat wanita itu menunduk malu.
"Cie..masih suka malu-malu. Sudah halal juga. Eh jangan bilang kalau kalian belum ngapa-ngapain?" Dewi menatap Salman dan Fira bergantian.
"Kau salah. Tiap jam kami melakukannya!" seloroh Salman membuat mata Fira mendelik ke arahnya.
"Wow..!" Dewi melebarkan matanya menatap Fira.
"Jangan didengerin. Sudah sana, Kak Salman katanya ada keperluan. Berangkat sana!" Fira mengambil tangan Salman lalu menciumnya. Salman memegang kepala Fira dan mengecup keningnya.
"Duh mesranya. Jadi kepingin nikah juga."
Salman hanya tertawa menanggapi godaan Dewi. Ia lalu masuk dan melajukan mobilnya setalah sebelumnya melambaikan tangannya.
"Sudah, jangan dilihatin terus. Nanti malam kan ketemu lagi." Kembali Dewi menggoda Fira.
"Apaan sih. Oh ya, aku belum membuat perhitungan denganmu." ancam Fira sambil berjalan memasuki plataran kantor kecamatan tempatnya bekerja.
"Soal apa?" Dewi melirik Fira yang berjalan di sebelahnya.
"Soal mencuri berkas dan mengirimnya ke Kak Salman."
__ADS_1
"Woi..kalau soal itu, mestinya aku yang membuat perhitungan. Bukankah seharusnya sekarang aku mendapat hadiah atau setidaknya ucapan terima kasih?" balas Dewi.
Fira tersenyum. Dalam hati ia membenarkan ucapan Dewi. Seharusnya ia berterimakasih bukan menghukum Dewi.
Obrolan mereka berhenti saat memasuki kantor. Dewi segera bersikap sebagai bawahan Fira dihadapan rekan-rekannya.
"Pagi Bu!" sapa staf di kantor kecamatan saat berpapasan dengan Fira.
"Pagi!" jawab Fira sambil tersenyum.
Fira langsung masuk ke ruangannya. Ia memeriksa pekerjaan yang ada di mejanya.
tok tok tok
"Masuk!"
"Bu Fira. Ibu diminta ke ruangan Pak Alan." seorang staf membuka pintu dan menyampaikan pesan Alan.
"Ya!" Fira bangkit dan berjalan menuju ruangan Alan.
Ia mengetuk pintu dan membukanya.
"Bapak memanggil saya?" tanya Fira
"Iya. Duduklah!"
Fira duduk di sofa depan meja Alan. Alan membuka laci meja dan mengambil sesuatu. Ia lalu mendekat dan duduk di depan Fira.
"Terimalah. Ini kado pernikahan dari aku." Alan meletakkan sebuah kotak kecil di meja. Fira menatap kotak itu.
"Maaf terlambat. Kudoakan kali ini kami menemukan kebahagiaan." Ucap tulus Alan. "Terimalah!" Alan mendorong kotak itu ke arah Fira.
"Ini apa?" tanya Fira sambil terus memindai barang di depannya. Fira khawatir jika yang di dalamnya adalah semacam cincin atau sejenisnya melihat bentuk kotaknya.
"Kau buka saja jika ingin tahu. Oh ya, aku juga punya buat Salman. Tolong kau berikan padanya." Alan mengeluarkan sebuah kotak lagi dati saku bajunya dan meletakan di atas kotak pertama.
Fira mengulurkan tangannya ragu. Namun karena tidak ingin mengecewakan Alan untuk ke sekian kalinya, ia mengambil kedua hadiah dari Alan.
"Terima kasih." Fira lalu berdiri, "Saya kembali ke ruangan saya lagi."
Langkah Fira terhenti saat Alan memanggilnya.
"Ra!"
Fira berbalik.
"Maafkan semua perkataan ibuku yang menyinggungmu." kata Alan menatap Fira lekat.
Fira mengangguk. "Aku sudah memaafkannya."
Fira lalu berbalik dan keluar dari ruangan Alan. Alan menghela nafas.
"Semoga kau menerimanya Ra. Lama aku menyimpannya untuk kuberikan padamu."
__ADS_1
Alan menyandarkan punggungnya. Ia memejamkan mata sambil sesekali menghela nafas panjang untuk mengusir beban berat dalam hatinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...