
Aku sampai di.lobi dan melihat sosok tampan itu duduk santai sambil menatap taman yang ada di depan. Kakinya saling menumpu dengan rapi,tangannya menopang dagu dengan siku berada di atas lengan kursi.
Gadis-gadis magang yang berdiri di meja resepsionis saling berbisik memuji kesempurnaan ciptaan Allah yang satu itu. Aku tersenyum tipis. Kak Salman, dari dulu selalu menjadi buah bibir kaum hawa di manapun dia berada. Nggak yang tua maupun yang muda, begitu Kak Salman muncul, maka mata mereka tidak akan lepas memandangnya. Tak terkecuali aku kayaknya.
"Assalamualaikum, kak!" sapaku.
Kak Salman sedikit kaget mendengar suaraku. Mungkin ia sedang konsentrasi ke hal lain.
"Waalaikumsalam Fir." Kak Salamb mengubah posisinya. Kini ia duduk tegak dan kedua kakinya tidak lagi saling bertumpu. Bibirnya tersenyum dan matanya menatapku.
"Ada perlu apa ya kak?" tanya setelah duduk di kursi seberang Kak Salman.
Alis Kak Salman bertaut,"Emang aku nggak boleh datang kalau nggak ada perlu?" jawabnya.
"Bukan begitu. Tapi selama ini kakak tidak pernah datang, terus tiba-tiba datang, jadi agak mengherankan saja." Aku berdalih.
Kak Salman menanggapi ucapanjh dengan senyum manisnya. Ia lalu mengambil berkas yang ada dalam tas yang tergeletak manis di sampingnya.
"Bacalah!" ia menyodorkan berkas dalam map itu padaku.
"Ini apa?" tanyaku sambil membuka map. "Surat kontrak?!" aku langsung menatao kak Salman begitu tahu apa isi map.
Kak Salman mengangguk,"Karyamu sudah lolos editing. Jadi kami bersiap mencetaknya. So, baca baik baik kontraknya dan kalau ada yang nggak kamu mengerti, silahkan tanya."
Aku memegang kertas berisi kontrak itu dengan tangan bergetar. Ada rasa bahagia memenuhi hatiku. Ada rasa bangga juga. Ya Allah inikah janjimu, bahwa dibalik kesusahan akan ada kemudahan. Dibalik musibah ada berkah.
Bolehkan aku berbangga, meski belum tahu apakah novelku nanti laku dengan laris atau malah tenggelam begitu saja.
"Bagaimana Fir?" tanya Kak Salman membuyarkan angan anganku.
"Aku harus tanda tangan di mana Kak?"
"Di sebelah sini." Kak Salman mengambil kertas kontrak yang aku pegang lalu menunjuk bagian tempat aku harus tanda tangan. Ku ambil bolpoin yang memang biasa aku selipkan di saku baju kerjaku dan membubuhkan tanda tanganku di tempat yang kak Salman tunjuk.
"Di sini lagi!" perintah Kak Salman.
"Di sini juga."
Aku terus membubuhkan tanda tangan di tempat yang ditunjuk Kak Salman tanpa membaca dulu isinya.
"Kamu sembrono sekali Fir. Bayangkan kalau aku punya niat jahat, kamu seenaknya saja memberi tanda tangan tanpa membacanya."kata Kak Salman.
"Karena aku percaya padamu, Kak." jawabku sambil tersenyum.
__ADS_1
"Oh ya?Jadi apakah kamu juga percaya kalau aku bisa membuatmu bahagia?" bisik Kak Salman. Konta aku merasakan wajahku memanas. Aku menunduk tidak berani melihat mata Kak Salman yang memandangku dengan binar yang sama dengan mata Alan.
"Hahahaha...kamu lucu Fir. Pipimu merah kayak tomat." kata Kak Salman tergelak.
Kutangkubkan kedua telapak tanganku di kedua pipiku.
"Masak sih. Mungkin karena hawa yanh panas." kataku salah tingkah.
"Fira, di sini ruangan ber ac. Masak panas?" Kak Salman mengulum senyum.
Aku semakin salah tingkah.
"Hahahaha." kembali tawa Kak Salman membahana.
"Kak!" rajukku yang sudah tidak bisa bersikap dengan baik karena selalu salah tingkah.
"Iya..iya..." Akhirnya kak Salman berhenti juga tertawa. "Jam berapa pulang?"
"Jam lima." jawabku.
"Ok. Nanti aku jemput." Kak Salman lalu bangkit, "Aku pamit dulu karena masih ada urusan."
"Mm nggak mau menemui Alan?" tanyaku mengingat persahabatan mereka.
"Buat apa menemui Alan? Yang ku rindukan itu kamu bukan Alan."
Jawaban Kak Salman langsung membuatku wajahku memanas.
"Hahaha." ia kembali tertawa sambil melenggang pergi. Kuoandangi punggungnya sampai tak terlihat lagi.
"Cakep banget. Siapa mbak Fira?"
"Itu tadi. Kakak kelasku saat SMA dulu. Teman bos Alan juga. Sahabatnya malah." jawabku.
"Gitu ya. Orang cakep sahabatan sama orang cakep juga. Pasti dulu jaman kalian SMA mereka jadi rebutan cewek cewek " kata para anak magang itu.
"Kalau boleh jujur, pesona mereka lebih kuat sekarang daripada dulu." kataku mulai menggoda para anak magang.
"Benarkah mbak?!" tanya mereka penuh rasa ingin tahu.
"Iya. Contohnya bos Alan tuh. Cakep sih. Tapi nggak sekinclong sekarang. Sekarang dia kan bersih, terawat dan..."
"Apa aku dulu dekil dan buluk?"
__ADS_1
Suara Alan mengagetkanku. Aku menoleh dan melihatnya sudah berdiri dengan mata menatap tajam ke arahku. Kedua anak magang yang aku ajak ngerumpi langsung mengkeret ketakutan. Mereka duduk menunduk menyembunyikan diri dibalik tingginya meja resepsionis.
"Pak, sejak kapan bapak di belakang saya?" tanyaku sedikit kikuk.
"Ikut aku!" kata Alan garang lalu meninggalkan lobi.
"Mbak!" kedua anak magang itu keluar darin persembunyiannya dan menatapku cemas.
"Nggak papa. Bos kita kan baik orangnya." aku menenangkan mereka.
*
*
"Jadi dia datang hanya untuk menemuimu?" tanya Alan sinis.
"Maksudmu Kak Salman? Iya. Dia datang untuk memintaku menandatangani perjanjian kontrak. Karena novelku yang kuberi judul Balada Istri Pertama akan ia terbitkan."
"Cih. Apa sekarang jaman primitif, dimana apa apa harus datang? Bukankah bisa di email." sinis Alan lagi.
Aku mulai tidak suka mendengar kesinisan nada suara Alan.
"Kamu kenapa sih Lan?" tanyaku.
"Kenapa kau bilang?!" Alan bangkit dari duduknya dan mendekat ke arahku. Aku mundur namun Alan kian mendekat.
"Alan! Stop!" pekikku saat kurasakan punggungku mentok menatap pintu ruangan Alan.
Alan tidak menghiraukan perintahku. Ia justru mengunci tubuhku ke daun pintu.
"Kau calon istriku. Aku tidak mengijinkanmu menemui pria lain tanpa seijinku. Terutama Salman!" tegas Alan.
Aku tersentak. Belum ada ikatan apapun diantara kami bahkan statusku juga belum resmi bercerai, Alan sudah seposesif ini.
Ku telan air liurku dengan susah payah untuk meredam rasa sesak yang mulai memenuhi dadaku. Ku beranikan diri menatap mata Alan. Aku ingin Alan melihat kemarahanku lewat tatapan mataku.
"Lan! Aku tidak suka sikapmu ini! Aku bukan apa-apa mu. Selama kau belum menghalalkan aku, kita bukan siapa-siapa. Kau tidak berhak atas hidupku begitupun sebaliknya. Aku tidak berhak atas hidupmu. Jadi stop. Hentikan sikap konyolmu ini!" kataku tegas.
Alan terhenyak. Sepertinya ia tidak menduga akan jawaban tegasku. Alan menarik tangannya yang sejak tadi mengunciku.
"Maafkan aku Ra!" katanya penuh penyesalan.
Aku menghela nafas. "Semakin ke sini, semakin nampak ketidakcocokan kita Lan. Jadi mumpung belum terlambat, berobatlah. Jangan jadikan penyakitmu untuk mengancam aku dan ibumu. Ingat Lan, surga di bawah telapak kaki ibu."
__ADS_1
Aku beranjak meninggalkan ruangan Alan selesai mengucapkan perkataan yang mungkin akan menyakiti Alan lagi.
...Maaf Lan...aku benar-benar tidak bisa menerimamu....